Andia

Andia
episode 12


Nirwan tak bosan menatap gadis yang ada didepannya.Tak ada kalimat apapun yang terucap dari mulut Nirwan.Ia terlihat sekali menikmati sarapannya dengan sesekali tersenyum memandang ke wajah Dia.


"Apa tak bosan terus menatapku seperti itu?"


tanya Dia tanpa mengalihkan pandangannya dari Hp yang ada ditangannya.


"Tau saja aku sedang memandangmu.. bukannya kau sedang asik dengan Hp mu" jawab Nirwan sekenanya.


Yang dapat serangan balik tak menjawab apapun.


"Dia.."Panggil Nirwan pelan ketika ia sudah menghabiskan makanannya.


"Apa kau punya kekasih?" pertanyaan Nirwan yang tiba-tiba cukup membuat Dia terkejut.


Sesaat Dia menatap Nirwan.


Namun kemudian


"Menurutmu?"Dia balik bertanya


Suara dan tatapan Dia sama-sama tajam.


Nirwan menatap Dia.Dipandangnya gadis yang ada didepannya .


Dia menangkap ada gurat kesedihan di wajah Nirwan.Namun segera ditepisnya pikiran itu.


Ia menatap Nirwan dingin seperti biasanya.


"Maukah kau menjadi kekasihku Dia?"


pinta Nirwan.


"Aku tak ingin jauh darimu.Aku ingin lebih sering bersamamu.Aku yaman bersamamu.


Aku mencintaimu Andia"


Terdengar suara Nirwan lagi.


Tak ada jawaban apapun dari Dia.


Dia menarik nafasnya pelan sekali, seakan tak ingin pria didepannya itu tahu kalau ia tengah resah.


"Dia.. kumohon" pinta Nirwan lagi.


Diraihnya jemari tangan Dia, digenggamnya hangat.


"Kau ingin aku jadi kekasihmu.. padahal aku tak tahu apapun tentangmu, tentang kehidupanmu..


Sekarang katakan padaku, menurutmu aku harus bagaimana?"


Kalimat Andia begitu menusuk , seperti halnya tatapan matanya saat ini.


"Aku.. aku minta maaf untuk itu.. " Kalimat itu terdengar pelan dari mulut Nirwan


"Setelah aku menceritakan tentang hidupku, apakah kau masih akan bersamaku Andia ?"


tanya Nirwan


Andia mengalihkan pandangannya ke arah pantai.


"Aku sedang menunggu ceritamu" ucap Dia


" Aku.. tiga bersaudara.Aku memiliki seorang kakak perempuan ... dan seorang adik.. Kau sudah melihatnya kan.. dia Kania... "


Hening


Nirwan menarik nafas dan mencoba kembali bercerita.


"Kami lahir dan besar di luar Pulau Jawa. Kami hidup dengan kerja keras.Saat aku lulus kuliah , abang Hasto mengajakku ikut dengannya . Aku merantau selama bertahun-tahun. "


Masih suara Nirwan.


"Hingga suatu malam..Terjadi petaka di rumah kami..Rumah kami dimasuki kawanan perampok..


Dan.."Suara nirwan terdengar mulai berat dan bergetar.


Berkali-kali ia menarik nafas dan membuangnya dengan kasar


"Sudah.. tidak usah dilanjutkan lagi"


Kata Andia kemudian


"Tidak Andia. Kau harus tahu semuanya.


Aku tak mau kalau kau beranggapan aku menyembunyikan kehidupanku darimu." Nirwan bersikeras.


"Aku bilang sudah abang.." Kalimat itu begitu saja keluar dari bibir Andia.


Seketika Nirwan menatap dalam ke manik mata Andia.


"Apa aku tak salah dengar tadi?" Nirwan mencoba memastikan.


Diraihnya wajah Dia agar tetap menghadap kearahnya.


"Dia.." pelan suara Nirwam


Perlahan Andia meraih lengan Nirwan.


"Aku sudah tahu tentang kehidupanmu ..


tentang orang tuamu.. tentang kania yang mengalami depresi.."Ucap Andia pelan


"juga tentang Kak Yania yang mengalami kondisi tak jauh beda dengan kania.Bahkan saat ini ia harus menjalani perawatan..aku tahu tentang itu.. Pak Hasto datang kerumah waktu itu.. Beliau memintaku melihat keadaanmu.


Beliau sangat menghawatirkanmu.."


Lanjut Dia lagi.


"lalu ?" Nirwan tak sabar menunggu


"Akan ada perempuan yang lebih pantas mendampingimu abang.. Yang lebih dewasa.. yang bisa dengan sabar menemanimu.."


Dia tampak berhenti sejenak


"Bukan aku abang.. aku masih sering kekanak-kanakan.Aku masih butuh tempat bermanja. Aku belum siap menghadapi kerasnya hidup bang.


Aku masih ingin bebas menjalani kehidupanku saat ini." Dia menghela nafas


"Kau tau aku bisa memanjakanmu kan.. gadis kecilku.."Nirwan mulai usil.Dia mencolek ujung hidung Andia sambil tersenyum


"Kau selalu memaksakan kehendakmu"


protes Dia


"Aku hanya ingin ada bersamamu" jawab Nirwan membela diri


"Tapi kau sering membuatku seperti orang plin plan yang tak punya ketegasan" protes Dia lagi


"Kau bisa katakan tidak jika memang tidak ingin bukan"sahut Nirwan pelan


"Aku tak ingin abang kehilangan harga diri didepan orang lain. Di depan teman-teman ku sekalipun..Tapi aku tak suka dipaksa seperti itu"


Kania mulai bersungut.


Nirwan tersenyum.


Dia bangkit mendekat ke arah Andia dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Andia.


"Jangan berada dibawahku abang"


Kania mencegah Nirwan


Nirwan tersenyum lembut sekali.Pelan ia meraih tubuh Kania dan memeluknya hangat.


Kania tak menolaknya namun juga tak membalas pelukan Nirwan.


"Trimakasih sudah ikut memikirkan harga diriku.. " bisik Nirwan