Andia

Andia
episode 27


"Malam itu.. aku sudah dirumah.


Dan kemudian ada seorang kawan yang tiba-tiba menghubungiku. Dia mengundangku untuk datang di acara kumpul bareng , saat itu ada kawan yang berulang tahun.."


Nirwan mulai bercerita dengan pelan.


Dia berhenti sejenak, ditatapnya gadis yang tak sedikitpun merespon ceritanya itu.


Nirwan menarik nafas pelan, dia berdiri dan bersandar di balik pintu agar lebih dekat menghadap gadis itu.


"Saat itu aku sudah menolaknya. Karena saat itu aku merasa lelah sekali, Aku katakan aku sedang kurang enak badan.


Aku juga sudah katakan kalo aku ingin istirahat dirumah. Tapi tak lama kemudian dua orang kawanku sudah ada dirumah. Mereka terus berharap aku untuk bisa kumpul-kumpul dengan mereka. Karena aku memang sudah lama sekali tidak bergabung dengan mereka. Sejak aku mulai tertarik denganmu. Itu bahkan sebelum kita bertemu.."


Nirwan kembali berhenti.


Dan kembali ditatapnya gadis yang diam seribu bahasa itu.


"Apakah kau mendengar yang aku katakan barusan .Kau masih mendengarkan ceritaku?"


Nirwan bertanya hati-hati.


Masih belum juga ada jawaban.


Hening sesaat.


"Aku sudah coba menolak juga.. Tapi ternyata.. aku memang bodoh. Aku tetap pergi dengan mereka. Maafkan aku.. Aku tak mengindahkan kata-katamu. Dan semua terjadi begitu saja. Diluar kendaliku..


Dan tentang perempuan itu.. itu tak benar.


Aku ribut bukan karena merebutkannya.


Justru aku berusaha menolak perempuan yang terus merayuku itu. Aku berusaha tetap menolaknya dalam keadaanku yang sudah mulai terpengaruh alkohol. Hingga ada yang tidak terima ketika aku mulai kasar dengan perempuan yang terus merayuku itu.


Itu kejadian yang sebenarnya sayang.


Please.. maafkan aku.."


Nirwan memeluk Andia dari belakang.


Disembunyikannya wajahnya dipunggung Andia.


"Marahlah.. Maki aku sepuasmu.


Kau bahkan boleh memukulku, menamparku.


Tapi kumohon, jangan diam seperti itu.


Jangan acuhkan aku.


Maafkan aku..


Kumohon maafkan aku.."


Nirwan terus memohon.


"Kumohon pergilah. Jangan ganggu aku"


Mulai terdengar suara Andia. Begitu dingin.


"Maafkan aku.. Please.."


keluh Nirwan


Dia berjongkok, masih memeluk Andia.


Diciuminya Andia yang masih tak bergeming dari posisi duduknya. Tak ada penolakan, namun juga tak ada respon balik dari Andia


Ia begitu takut Andia tak memaafkannya.


Ia tak ingin kehilangan Andia dari hidupnya.


"Sayang.. bicaralah.."


Nirwan mencoba meraih wajah Andia.


"Kamu menangis..?


Maafkan aku.. maaf .. Aku benar-benar menyesal. Sungguh aku sangat menyesal"


Diraihnya wajah Andia , dihapusnya air mata di wajah gadis itu. Dikecupnya mata itu bertubi-tubi. Tidak terdengar isak tangis dari Andia.


Hanya air mata yang terus mengalir dari kedua mata redup itu.


Mata yang biasanya memancarkan semangat .


Kini mata itu terlihat begitu rapuh.


Nirwan bangkit dan meraih Andia dalam pelukannya.


Dibenamkannya wajah gadis itu dalam hangat pelukannya.


Kembali tidak ada penolakan dari Andia. Namun tidak ada balasan dari gadis itu. Andia menahan pelukan Nirwan dengan kedua tangannya diantara tubuh mereka Nirwan.


"Maafkan aku sudah membuatmu menangis.


Maafkan tentang bodohnya aku.


Maaf tentang aku yang sudah menghianati kepercayaanmu. Maaf"


Nirwan membelai lembut rambut Andia sambil sesekali mengecup pucuk kepala gadis yang sangat dicintainya itu.


"Pergilah.." Terdengar pelan suara Andia.


"Kenapa sayang "tanya Nirwan pelan


"Kumohon pergilah.." hanya itu yang kembali diucapkan Andia.


"Apakah aku belum benar-benar mendapatkan maafmu ? "tanya Nirwan hati-hati


"Pergilah.. biarkan aku sendiri." Suara Andia hampir tak terdengar.


"Aku masih ingin memelukmu.. Aku sangat merindukanmu." pelan suara Nirwan


Andia mulai menarik tubuhnya dari dekapan Nirwan.


Ditatapnya wajah lelaki ganteng dihadapannya itu. Dia menarik nafas pelan.


"Pergilah.." Dan lagi-lagi, kembali hanya itu yang diucapkan Andia.


Sesaat Nirwan menatap ke langit-langit kamar Andia. Dan kemudian menarik nafas panjang..


Ditatapnya kembali wajah gadis pujaannya itu.


Dibelainya rambut gadis itu.


Perlahan dikecupnya pipi gadis itu. Bergantian kanan dan kiri. Dan dikecupnya kening Andia, untuk beberapa saat. Terlihat Andia memejamkan mata menikmati kecupan sayang itu. Namun kemudian ia mendorong laki-laki itu. Andia menjauh dan memalingkan wajahnya.


"Aku akan pergi. Tapi tidak dari hidupmu.


Aku akan terus menunggu maafmu. Dan terus menunggumu.."