Andia

Andia
episode 17


Andia berkunjung ke rumah Nirwan.


Beberapa hari belakangan ia sudah akrab dengan rumah itu.Ia berusaha menyempatkan waktu menemani Kania adik Nirwan.


Kania pun sudah mulai terbiasa dengan Andia.


Ia sudah tak malu-malu lagi dengan Andia.


Kania juga slalu terlihat ceria saat Andia menemaninya.


Andia dan Kania seumuran. Usia mereka hanya terpaut beberapa bulan.


Andia sering berbagi cerita.


Dan saat mereka menonton TV, Andia selalu menanggapi apapun yang ditanyakan oleh Kania. Kania mulai lebih sering berbicara.


Komunikasinya sudah lebih baik dari sebelumnya.


Beberapa kali Andia menginap di rumah Nirwan, seperti permintaan laki-laki itu.Dia pun senang sekali bisa menjadi teman bercerita bagi Kania.


Kania bungsu dari Nirwan bersaudara. Diusianya remajanya, ia menjadi korban pemerkosaan dirumah orang tuanya yang dirampok saat itu. Ayah Nirwan terbunuh saat melakukan perlawanan. Dan sang ibu tak sanggup menghadapi cobaan yang dialami keluarga mereka. Ibu Nirwan meninggal beberapa hari setelah kejadian itu.


Yania, kakak perempuan Nirwan mengalami nasib tak jauh berbeda dengan Kania.


Yania bahkan diceraikan suaminya setelah mengalami kejadian itu.


Yania mengalami depresi hebat hingga ia sering menangis tiba-tiba dan berteriak-teriak .


Nirwan tak sanggup melihat itu semua. Dan dengan berat hati Nirwan mengijinkan Yania untuk dirawat di tempat rehabilitasi.


Itu juga lah yang awalnya membuat Andia tak tega untuk mengecewakan Nirwan.


Ya, Andia ikut merasakan kesedihan yang dialami Nirwan.


Dia tak memiliki pilihan lain karena ternyata selama ini Nirwan juga sudah begitu baik dengan ibunya .Nirwan begitu perduli dengan bu siti dan yang lainnya saat mereka membutuhkan bantuan.


Andia memiliki kunci duplikat pagar rumah Nirwan.Dia memasuki halaman rumah Nirwan. Dan seperti biasa Andia masuk lewat pintu samping.Tidak terlihat si bibik. Andia ke kamar Kania, dilihatnya Kania masih lelap dalam tidurnya.Ya Andia memang berkunjung lebih awal dari biasanya,Karena kebetulan ada mata kuliahnya yang kosong.


Andia tak tau harus apa di rumah sedang ia kunjungi.Ia menuju kamar Nirwan, dibukanya perlahan pintu kamar itu.


Dadanya tiba-tiba berdebar kencang.


Andia tersenyum.


Pelan ia kembali menutup pintu kamar itu.


Dia mendekat kearah ranjang berseprei biru itu.


Perlahan ia duduk dipinggir ranjang itu.


Dia tersenyum-senyum sendiri.


"Sayang..! kamu disini ?"


Nirwan ,si pemilik alarm terbangun.


Tak hanya suara alarm yang mengagetkan dia.


Namun gadis yang kini sedang duduk disampingnya juga ikut membuatnya kaget.


Andia tak bersuara, ia justru terlihat kesal.


"Kenapa ?.. " tanya Nirwan bingung


"Suara alarmmu mengagetkanku.." sungut Dia


Nirwan tersenyum.


Dia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.


"maaf.. aku sengaja memasangnya.. Rencananya mau ngasih kejutan dengan menjemputmu pulang kuliah nanti"Nirwan meraih tubuh Andia.


Dipeluknya Andia.


"Aku sangat merindukanmu.. Apa kau tak rindu padaku ?" tanya Nirwan


"kenapa tidak kasih kabar kalau sudah pulang.?"Andia menjawab pertanyaan Nirwan dengan balik bertanya. Ia terdengar merajuk.


"Pekerjaanku selesai lebih cepat. Aku sudah sangat ingin pulang.Aku ingin memberimu kejutan" jawab Nirwan


"Apa kau tak senang aku pulang ..hemm ?"


Nirwan menatap wajah Andia, lembut seperti biasanya.


Dia tak menjawab.Dia hanya kembali menyusupkan wajahnya di dada Nirwan. Dia menggeser-geserkan hidungnya di dada Nirwan yang terbalut kaos tipis.


Nirwan mengacak sayang rambut Andia.


"Kalau kamu seperti itu, aku kawatir tak akan membiarkanmu lepas dari pelukanku"


bisik Nirwan


"aku suka wangimu abang.. kau baru bangun tidur, tapi kau wangi.."Andia tampak sedikit tersipu


"Aku mandi dulu tadi, biar sedikit hilang penatku. Baru kemudian aku tidur"


Jawab Nirwan . Ia tampak bahagia sekali melihat Andia seperti itu.


"Kau tahu.. aku senang sekali.. begitu aku membuka mata, dirimu yang pertama kali kulihat" Nirwan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Andia..