
ia baru pertamakali ini, berada di sini
hotel Ritz hotel yg bayaran nya fantastis bayar satu malam saja bisa mencapai 20 ribu dolar lebih, seperti nya aku merasa pernah melihat nya , DUARRRR suara Guntur seperti nya mau hujan membuat ke dua nya kaget
setelah selesai memesan makanan Ferdinand duduk di sofa membaca pesan dari Radit ia tak bisa ke hotel Ritz di karnakan hujan
Ainsley menghampiri Ferdinand ikut duduk
" kita kan terus di sini ga bisa pulang di luar kan hujan "
Ferdinand di jawab dengan deheum man dengan pasang wajah mengerenyit
sedangkan Ainsley menggembungkan pipi wajah nya seperti anak kecil lagi merajut, membuat Ferdinand gemas
" kau suka minum " tanya Ferdinand
" tidak terlalu kalo hatiku tak menyenangkan wine lah yg menenangkan ku "
" itu artinya hatimu sekarang tak menyenangkan?"
" iya"
" apa kau seorang model ?"
" iya aku seorang model !"
tok tok suara pintu, pesanan makanan sudah datang,pelayan itu mengantarkan dua piring steak, Ferdinand membawa makanan itu lalu menyodorkan nya
" makanlah" Ainsley pun memulai makan bareng Ferdinand , tak ada pembicaraan di antara mereka sampai selesai makan
" jika kamu mau istirahat , istirahat lah di kasur biar aku di sofa, baru beberapa jam bersama Ferdinand ia sedikit kagum, cowok Asia tingkah laku nya sungguh baik
" iya nanti kalo aku sudah ngantuk" Ainsley beranjak dari duduk nya, berdiri menghadap jendela mengamati hujan di malam hari
Ainsley sangat kecewa bener- bener kecewa terhadap anston , membiarkan ia tengelam
" apa kamu sedang ada masalah"
" hanya urusan pribadi"
entah mengapa melihat Ainsley dengan raut wajah sangat sedih ingin menenangkan gadis itu, Ferdinand bukan cowok yg suka ikut campur
urusan pribadi orang lain, tapi dengan Ainsley ia ingin tau apa yg terjadi dengan gadis itu, tapi ia orang lain tak ada hak tuk ikut campur
Ainsley membalikan badan melihat Ferdinand
" apa yg membuat mu Fatah hati"Ferdinand tanyakan balik, rasa ingin tau dari tadi menyelimuti nya
ada apa dengan gadis bule ini.
sesak dalam dada membuat mata nya berkaca kaca, tanpa sadar air mengalir di pipinya yg tirus
" aku butuh minum" Ainsley mendatangi rak minuman berakhohol mengambil satu botol wine menuangkan nya dalam gelas dalam satu tegukan gelas kosong seketika
melihat tingkah laku Ainsley Ferdinand mendekatinya, mencekal tangan kanannya yg lagi memegang gelas tuk meminum nya, agar ia tak terus terusan meminum nya yg kan membuat ia mabuk
ia menatap Ainsley dalam diam
mereka saling menatap, mata gadis ini indah , terlihat sendu karna menangis
" jawab dulu pertanyaan ku" Ainsley melepaskan tangan Ferdinand kemudian duduk di ujung kasur
" dari mana aku harus cerita , dan mungkin ini hal yg bodoh, bahkan sangat sangat bodoh aku menyukai lelaki yg tak pernah mengerti perasaan ku semula memperlihatkan perasaan yg sama nyata nya cuman harapan palsu, aku benci itu"
" apa yg kan kamu lakukan sekarang, kamu kan jadi seseorang yg terus terusan terbelenggu dalam perasaan yg kan membuat hidup mu sia sia "
" entahlah"
Ferdinand geram kesal wanita selalu lemah dalam perasaan
" yah kamu benar benar bodoh bahkan terlalu bodoh "
" apa maksud mu" aneh dengan perkataan cowok ini
" kalo kamu sudah tau dia hanya mempermainkan mu, untuk apa kamu seperti ini! apa kan mempertontonkan bahwa kamu rapuh , biar dia mengasihi mu dan lari memeluk mu, masih bagus ia seperti itu, jika ia tak peduli padamu, kamu kan berpikir hidup ini ga ada gunanya mungkin aja kau berniat kan mengakhiri hidup mu itu artinya kau tak menghargai dengan hidup mu sendiri mementingkan perasaan yg membuat mu tak berarti
dengar penjelasan Ferdinand Ainsley hanya diam menunduk dengan raut wajah sedih memendung perasaan benar apa yg di katakan pria ini.
Ferdinand mendekatkan dirinya di samping gadis itu yg terlihat begitu murung ia tak sampai hati melihat seorang wanita seperti itu , Ainsley
menatap nya dengan air mata berlinang membasahi wajah nya
" jadi apa yg harus aku lakukan"
Ferdinand membelai pipinya menghapus air matanya, Ainsley sedikit tersentuh dengan perilaku pria ini, inilah sosok lelaki yg di idamkanya sama seperti mendiang ayah nya penuh kasih sayang , semenjak ayah nya meninggal ia tak pernah merasakan kelembutan kasih sayang
"jadilah dirimu yg sebenarnya nya, apa ada nya, nikmati kehidupan mu yg sekarang kamu jalani"
Ferdinand memberi petuah ini agar gadis ini tak larut dalam sakit hati mengingat apa yg terjadi dengan sang kakak tercinta akibat patah hati ia sempat tak sadarkan diri