
Park Seo Joon
Sebelum kencan buta.
Perusahaan Seo UN Group.
Di dalam ruangan Direktur Utama, nampak seorang pria yang duduk di balik meja kerjanya dan sibuk dengan kegiatannya saat itu. Dia adalah Park Seo Joon, Direktur Utama perusahaan Seo UN Group yang baru.
Seperti hari-hari biasanya, aku disibukan dengan pekerjaanku. Dan seperti biasanya, aku juga dengan setia mengabdi pada pekerjaanku.
"Pak Direktur..."
Pria berumur lebih muda satu tahun dariku yang barusan memanggilku ini adalah Sekretaris ku. Pria berkacamata, dengan tubuh yang sedikit lebih kurus dariku, tatanan rambut yang sedikit dibiarkan berantakan dengan poninya yang jatuh sehingga memperlihatkan sedikit keningnya, dan juga memiliki tinggi badan sekitar 185 cm.
Pria pemilik senyum secerah mentari terbit di pagi hari itu, bernama Jae Park dan dia sudah bekerja denganku sejak SMA. Pelakunya adalah kakek ku, yang mengambilnya dari sebuah yayasan panti asuhan. Kemudian menyekolahkannya dan melatihnya belajar tentang perusahaan keluarga kami.
"Mulai hari ini dia adalah kakak mu. Bantu dia mulai sekarang dan untuk seterusnya, ya!"
Itu adalah kalimat pertama dari kakekku saat beliau mempertemukan kami. Dan setelahnya Song Kang yang terus mengekoriku mulai saat itu, bahkan sampai sekarang karena dia sudah menjadi Sekretarisku.
"P-pak Direktur..."
Panggilnya kembali karena aku belum meresponnya dan masih sibuk dengan berkas-berkas perusahaan di hadapanku.
"Apa?" tanyaku tanpa melihatnya dan masih fokus dengan lembaran-lembaran kertas itu.
"Pak Presdir datang dan ada di luar sekarang," jelas Song Kang.
"Baik..." ucapku tak berniat tentang itu.
"Beliau sudah menunggu selama 5 menit di luar. Pak Direktur kapan mengijinkan beliau untuk masuk?" ujarnya.
Braakk
Pintu ruanganku dibanting dengan kasar oleh seseorang ketika membukanya. Dan ku sadari Song Kang sampai terlonjak karena kaget.
"ANAK KURANG AJAR! MAU MEMBUATKU MENUNGGU BERAPA LAMA, HAH?! BERANINYA KAU MENGABAIKANKU!"
Suara teriakan nyaring yang barusan memenuhi ruanganku adalah milik kakekku. Presiden Direktur dari perusahaan Seo UN Group.
Kini aku menatapnya kesal karena telah mengganggu waktu kerjaku. Aku menghembuskan nafas jengah melihat kakek yang sering kali bersikap seperti ini setiap waktu.
"Mana mungkin? Saya tidak tahu kalau Presdir datang," jawabku malas sembari membaca proposal bisnis.
"KAMU TIDAK MELAPOR KALAU AKU DATANG?!" tanya kakek pada Song Kang.
Song Kang yang sudah gelagapan, bolak-balik melempar pandangannya padaku dan kakek. Kedua tangannya melambai-lambai mengisyaratkan 'itu tidak benar' yang membuat kakek kini melotot tajam padaku.
"Tapi aku tidak dengar," ucapku yang membuat kakek mendengus kesal dan Song Kang yang sudah pasrah.
"Ada keperluan apa anda datang kesini?" tanyaku setelah selesai menandatangi beberapa proposal yang sudah ku periksa sebelumnya.
"Cucu kurang ajar! Kakeknya datang tapi tidak dipersilahkan duduk dan malah langsung menanyakan intinya!" ujar kakek dengan nada bicara kesal khas orang tua.
"Anda kan sudah duduk. Saya sedang sibuk, jadi cepat katakan saja," jawabku tidak ingin membuang-buang waktu.
"Ckck menyedihkan sekali diriku, diabaikan oleh cucuku satu-satunya..." ucapnya mengeluh.
"Cepat katakan sebelum saya mulai bekerja lagi," ujarku sedingin mungkin.
"Ikutlah perjodohan."
"Saya sibuk!" jawabku ketus.
"Kamu saja belum tahu kapan! Bagaimana bisa kamu bilang sibuk?!"
"Memangnya kapan?" tanyaku sembari melipat tanganku di dada.
"2 jam lagi ya? Saya masih sibuk," jawabku mulai kembali membuka berkas yang baru.
"Begitu ya...? Kalau begitu aku akan tetap disini sampai kamu tidak sibuk sambil menonton drama," ujar kakek mulai menyalakan televisi dan mencari siaran drama kesukaannya.
Kedua kalinya aku menghembuskan nafas jengah, kali ini lebih panjang. Aku pun juga memijit ujung pangkal hidungku karena mulai terasa pening.
Kalau seperti ini aku tidak akan bisa fokus bekerja, aku butuh ketenangan. Kakek setiap menonton drama pasti selalu berisik, selain dari pengeras suara televisi tetapi juga dari mulut kakek sendiri yang sangat gemar berkomentar tentang adegan di drama itu.
"Dimana-lokasinya?" tanyaku dengan nada bicara menekan karena geram.
"Kitchen & lounge World Hotel."
"Saya pergi dulu ke perjodohan, kali ini saya juga tidak bisa menjamin hasilnya," ucapku sembari berkemas untuk meninggalkan kantor.
"Dasar anak ini! Bersikap baiklah, yang penting kamu menikah! Toh, di kehidupan ini mustahil kamu menikah dengan orang yang kamu cintai. Kamu kan cuma mencintai pekerjaanmu saja!" ujar kakek yang masih sibuk menonton dramanya.
"Kalau sudah tahu, harusnya anda bantu saya agar bisa fokus bekerja saja," jawabku dengan nada bicara dingin sebelum benar-benar pergi dari sana.
**
30 menit sebelum perjodohan.
Brooom
Aku sedang di dalam perjalanan menuju ke tempat kencan buta, dengan Song Kang yang duduk di balik kemudinya. Sedangkan aku duduk di kursi penumpang di belakang, sibuk dengan iPad di tanganku. Tapi tetap saja aku tidak bisa fokus bekerja kalau di mobil seperti ini, dan juga ketika di restoran nanti.
Dasar pria tua licik!
Mengenal tentang Park Seo Joon, dia adalah seorang penggila kerja sehingga ia sangat kesal ketika sang kakek terus mengatur kencan buta untuknya dan menyuruhnya untuk segera menikah.
Sebenarnya apasih maksudnya menikah, saat di Amerika kakek juga begitu. Apalagi sekarang aku sudah kembali, pasti kakek akan terus menyerang ku dengan perjodohan!
Padahal waktuku untuk bekerja saja masih kurang, alih-alih waktuku habis untuk kencan buta lebih baik di pakai untuk bekerja.
"Aku harus menikah," gumamku memantapkan diri.
"Maaf, barusan anda bilang apa?" tanya Song Kang yang sedikit menoleh ke belakang menatapku sekilas dan kembali fokus menyetir.
"Di perjodohan kali ini aku harus menikah," ulangku.
Ckiiiitt
"Bahaya tahu!" ketusku kesal karena Song Kang tiba-tiba sempat oleng dan hampir lepas kendali masuk ke trotoar jalan.
"BA-BARUSAN ANDA BILANG APA? ME-MENIKAH? BA-BAPAK?" teriak Song Kang memenuhi seisi ruang mobil.
Membuat telingaku sedikit pengang, kedua tanganku memeriksa kedua telingaku dengan menekan-nekannya pelan dengan telapak tangan -meredakan dengung di telinga ku.
"Kenapa?" tanyaku datar.
"Tidak, ta-tapi katanya anda benci menikah karena waktu kerja anda akan terampas," ujarnya sangat hati-hati di balik kemudi mobil.
"Tidak menikah pun waktuku juga sudah terampas karena kakek dan ide perjodohannya itu. Makanya kali ini harus jadi yang terakhir untukku," jelasku pada Song Kang yang manggut-manggut mengerti apa maksud dari ucapanku.
Siapa pun wanita itu, ini adalah perjodohan terakhirku!
...•••THE SECRET CRUSH•••...
Song Kang
Tinggi Badan 185 cm