
"Semuanya berpasang-pasangan ya?" ujar Lee Ji Eun melihat ke sekeliling.
"Iya juga ya," jawab Han So Hee seadanya.
"Iya juga ya? Memangnya kamu tidak iri apa?" ucap Ji Eun tak terima dengan tanggapan So Hee yang begitu dingin.
"Tidak terlalu sih, karena aku sedang menunggu," jawab So Hee santai.
"Siapa?"
"Siapa lagi? Sudah pasti jodohku!"
"Maksudku, suatu saat nanti akan ada pria yang datang padaku, 'Oh, ternyata dialah jodohku!' pokoknya begitu," sambung Han So Hee menjelaskan.
"Apa orang seperti itu akan benar-benar muncul?" tanya Ji Eun yang polos.
"Temanku, percayalah akan ada pria tampan yang datang menjemput kita untuk ke pelaminan suatu saat!" ujar So Hee meyakinkan Ji Eun dengan menggenggam kedua tangan Ji Eun bertumpu di dalam genggamannya.
"Saya percaya kepada Suhu!" tegas Ji Eun memantapkan diri, keduanya saling menatap lekat penuh semangat.
"Nanti saat jodoh kita sudah datang, kita harus double date dan pergi pacaran bersama terus ya! Untuk ke pelaminan dan pesta pernikahan kita juga harus bersama! Pokoknya kalau bisa soal hamil pun kita harus janjian untuk bisa hamil bersama! Oke, kawan?" ujar So Hee panjang lebar tentang rancangan masa depan mereka.
"Janji!" mereka berdua pun serentak mengucap kata janji bersamaan dengan saling bertaut jari kelingking.
Kembali pada malam galau di pojjangmacha, sungguh agaknya malam yang sangat panjang.
"Sudah begitu kau malah pergi kencan dan double date dengan Tao duluan!" bentak So Hee meletakan gelasnya ke meja dengan kasar.
"Kamu masih ingat obrolan kita waktu itu? Itu kan sudah lewat dari 10 tahun lebih loh," ucap Ji Eun bangga dengan daya ingat sahabatnya yang sungguh tajam.
Bahkan, Ji Eun sampai menggelengkan kepalanya dengan raut wajah tak menyangka sembari bertepuk tangan dengan gerakan lamban slow motion.
"Kita kan sudah sampai saling melingkarkan jari kelingking! Dasar pengkhianat!" keluh So Hee tidak terima.
"Bu-bukan begitu, aku kan tidak sengaja bertemu Tao saat sedang bersama Direktur!" ketus Ji Eun menyangkal.
Lee Ji Eun membuang nafas jengahnya, kemudian meneguk beberapa teguk langsung alkoholnya dari botolnya.
Mereka pun bertukar cerita tentang banyak kejadian yang terjadi kepada masing-masing mereka akhir-akhir ini.
Mari ingatkan lagi, ini adalah ritual wajib yang mereka berdua lakukan sejak dahulu kala.
Bukan karena tidak ada hal privasi di antara keduanya, namun karena mereka sudah saling mengisi satu sama lain dalam waktu yang lama jadi mereka sudah terbiasa untuk bergantung, berbagi, dan ber-ber yang lainnya.
"Ah, tidak tahulah! Pokoknya semuanya gara-gara alkohol musuh sialan ini," ucap Ji Eun frustasi, mengangkat botol sojunya menunjukan bahwa 'dia' lah musuh terbesarnya.
"Benar! Alkohol itu musuh terbesar kita!" setuju So Hee menggebrak mejanya dan langsung merampas botol soju di depannya, memaki sebentar botol itu dan kemudian di minumnya.
Dua-duanya berteriak karena sama-sama 'menyerang' duluan sehabis minum alkohol.
**
Song Kang
"Anda akhir-akhir ini hanya menghabiskan waktu makan siang di ruang kerja saja. Jadi saya membawakan bento, tolong cepat di makan sebelum dingin."
Song Kang yang baru saja memasuki ruangan tersebut, dan langsung duduk di sofa, disana ia meletakan kotak bento Seo Joon disisi lain, kemudian membuka kotak bento miliknya sendiri untuk segera disantapnya.
"Karena sepertinya akan sedikit susah untuk bekerja saat malam hari," ucap Seo Joon yang masih fokus pada pekerjaan di mejanya.
"Aku kan sudah minum kopi," ucap Seo Joon yang sekarang sedang meneguk secangkir kopinya.
"Itu kan bukan nasi!" bentak Song Kang kesal.
"Latte kan ada susunya," ucap Seo Joon dengan santainya sembari meletakan cangkir kopinya di mejanya.
Baangg
Song Kang menaruh sumpitnya di meja dengan sangat kasar sampai turut menggebrak meja. Sepertinya porsi kesabarannya terus terkuras sampai kering, karena terus bersama Seo Joon adalah cobaan terberat manusia, apalagi ia yang sudah bersama dengan pria itu semenjak remaja.
Ia pun langsung menuang hokben miliknya ke dalam kotak hokben yang satunya, yang diperuntukan untuk makan siang Seo Joon. Dua box hokben itupun dijadikan satu.
Song Kang berjalan menghampiri Seo Joon, dan duduk di tepi meja kerja Seo Joon yang sedikit kosong.
"Buka mulut!" ketus Song Kang yang langsung dilakukan Seo Joon tanpa penolakan.
Pemandangan yang sangat ambigu, namun juga nampak sangat hangat.
Kakak beradik itu menikmati makan siang bersama dengan cara yang sama setiap Seo Joon terlalu fokus belajar untuk ujiannya ketika masa SMA ataupun kuliah.
Menikmati makanan dalam satu piring berdua, dengan Song Kang yang sangat telaten menyuapi Seo Joon dan untuk dirinya sendiri secara bergantian hingga makanan di wadah itu habis dilahap mereka berdua.
Sedangkan Seo Joon hanya perlu membuka mulutnya, mengunyah dan menelan makanan yang telah disuapi Song Kang sembari tetap terfokus pada kegiatannya, biasanya disaat Seo Joon sedang gila kerja ataupun belajar.
"Direk--" panggil Song Kang ketika Seo Joon tiba-tiba mematung dengan mulutnya yang terbuka, namun tak kunjung menerima suapan darinya.
Song Kang pun mengikuti arah pandangan Seo Joon tertuju.
"--Tur, selamat siang Ketua," sambung Song Kang yang langsung bangkit berdiri dan meletakan kotak hokbennya di atas meja.
"Jadi, ini alasan kalian masih jomblo sampai di umur segini?" ujar kakek Park.
"Kakek ada perlu apa kesini?" tanya Seo Joon malas menanggapi kalimat kakeknya barusan.
"Bukankah kalian harus bersikap baik padaku, agar memberikan restu untuk hubungan terlarang kalian itu?" ujar kakek Park yang langsung duduk di sofa dan menyalakan televisi.
"Kakeknya datang bukannya disambut untuk dipersilahkan duduk dan menyuguhkan teh, syukur-syukur kalau ada kudapan yang enak juga, ini malah asik bermesraan berduaan pakai suap-suapan. Cih, dasar cucu-cucu yang tidak berperasaan," sambung kakek Park kembali yang sepertinya moodnya sedang tidak baik.
"Anda kan sudah duduk," ucap Song Kang polos.
"Teh dan kudapan untuk menemaniku menonton drama kan belum ada!" kesal kakek Park.
"Saya sedang sangat sibuk bekerja, tolong jangan buat keributan di ruangan saya," ujar Seo Joon semakin tak tahu diri.
"Sudahlah, memangnya apa yang bisa aku harapkan dari dua cucuku yang sudah saling jatuh cinta ini! Kakeknya datang pun dianggap mengganggu," kesal kakek Park kembali.
"Kakek, kalau pun saya gay, pria seperti Direktur adalah orang yang sangat harus dihindari," ucap Song Kang melirik sinis ke arah Seo Joon.
"Hahaha benarkah?" kakek Park cukup terhibur, menistakan cucu kesayangannya itupun sudah terwakilkan.
"Maksud kamu apa? Memangnya ada yang salah denganku? Aku Park Seo Joon, si pria jenius di dalam segala hal ini, bisa-bisanya kau menolaknya?" pekik Seo Joon tidak terima atas ucapan Song Kang.
"Kakek.... Apa ada yang perlu saya bantu?" kali ini Song Kang tak meladeni Seo Joon dan malah beralih pada kakek Park.
"Kalau kalian masih jadi pria normal, segeralah bawa calon dan kenalkan padaku. Kalau kalian tidak bisa, kakek tua ini dengan senang hati mengatur perjodohan untuk kalian," tutur kakek Park tanpa ada kesan bercanda lagi dalam kalimatnya.
...•••THE SECRET CRUSH•••...