THE SECRET CRUSH

THE SECRET CRUSH
13


Lee Ji Eun


"Hoam...." Ji Eun menguap sembari menggeliatkan tubuhnya.


Tidurku sangat nyenyak, padahal semalam aku minum alkohol banyak sekali, tapi kok badanku bisa segar begini, bahkan merasakan sakit kepala dan pusing karena mabuk saja tidak. 


Ji Eun mengernyipkan kedua matanya sesekali guna mengusir sisa rasa kantuknya, ia bangun dan berjalan ke arah jendela kamarnya, membuka tirai yang langsung disambut sinar hangat matahari pagi. Masih tertegun disana menikmati indahnya pagi.


Ngomong-ngomong tentang semalam, bagaimana aku bisa pulang ke rumah ya?


Aku tidak ingat sama sekali, aku tidak berbuat hal-hal bodoh dan melakukan kesalahan kan?


Ji Eun menggelengkan kepalanya cepat seakan mengusir pikiran buruk yang kemungkinan terjadi tadi malam. Ia pun menepuk kedua sisi pipinya pelan guna menyadarkan lamunannya.


Sejurus kemudian ia beralih menuju ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor, entah apa yang menarik pada dirinya hingga membuatnya langsung berhenti ditempat kala melewati sebuah standing mirror yang terletak di dalam kamarnya. Cukup membuang waktu untuk dia berdiri di depan cermin itu, melihat wujud sosoknya sendiri, entah apa maksudnya ia sengaja bergaya bermacam pose seperti itu.


Eh, sebentar!


Apa ini.... Kenapa perasaanku aneh?


Muncul ingatan yang samar.... Sepertinya ada sesuatu yang lembut menempel di bibirku cukup lama, lalu ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutku, perasaan geli dan sangat mendebarkan, sampai rasanya masih terasa sangat nyata hingga sekarang.


Apakah di dalam tidurku aku bermimpi tentang.... Ciuman?


"Sebentar! CIUMAN?!" ucap Ji Eun nyaring yang tak kuasa mengatasi pikirannya sendiri.


Pasti hanya mimpi, IYA! PASTI MIMPI!


"TAPI RASANYA BEGITU NYATA!" lagi-lagi Ji Eun histeris.


Tapi sepertinya aku juga merasakan nafas hangat menerpa wajahku....


Kenapa mimpi bisa terasa sangat begitu nyata, kalaupun bukan mimpi..... Masa.... Aku benar-benar melakukan ciuman?


Ji Eun pun berakhir dengan melamun sembari bersiap diri di pagi itu, bahkan hingga kakinya melangkah ke dalam kantor kesadarannya masih belum pulih sepenuhnya, ia masih terus saja disibukan dengan pikirannya sendiri.


Masih saja merasa ada yang janggal, meski kini ia sudah duduk dibalik meja kerjanya dan fokus pada layar komputernya, jari-jemarinya pun masih bisa digunakannya untuk mengetik diatas keyboardnya.


Sampai tiba-tiba ada lagi secuil potongan tentang ingatan samar-samar kejadian tadi malam.


Kalau saja ini benar-mimpi, aku masih ingat dengan betul bagaimana rasanya. Aku ingat betul siluetnya, berpelukan.... Dan kemudian bangg! Ini benar-benar seperti sebuah ciuman panas.


Ti-tidak mungkin! Aku sudah berciuman? Lalu dengan siapa aku melakukannya?


Ji Eun menghentikan kegiatannya sejenak dan berpikir keras untuk bisa mengingatnya, "PAK DIREKTUR?!"


"Hah mana?! Dimana?! Dimana Pak Direktur?" kompak beberapa teman satu Divisinya nampak panik mendengar teriakan Ji Eun yang tiba-tiba.


"Aahh.... Leganya.... Aku pikir benar-benar ada Pak Direktur," ujar salah satu seniornya yang sedari-tadi celingak-celinguk namun tetap tak menemukan bos besarnya disana.


"LEE JI EUN! Berhenti membuat keributan dan cepat selesaikan pekerjaanmu!" tegur Ibu Kepala Divisi.


"Hehehe maaf, maaf, maaf, maafkan saya. Silahkan kembali bekerja teman-teman," ucap Ji Eun yang bangkit berdiri dari kursinya untuk meminta maaf secara formal dengan sedikit membungkukan badannya memberi hormat ke penjuru ruang Divisinya.


"Hehehehe bukan begitu kok...." sangkal Ji Eun sungkan untuk menanggapinya.


**


Pada akhirnya setiap akhir pekan pun aku harus terus bertemu dengan Direktur, sebagai ganti rugi karena telah tidak jujur perihal kejadian kencan buta waktu itu. Kalau begitu.... Apa aku akan terus menghabiskan akhir pekanku bersamanya? Bukannya kondisi seperti itu hanya dilakukan oleh pasangan kekasih saja?


A-apa jangan-jangan sebenarnya kita berdua ini sedang simulasi berkencan?


Tanpa disadari pandangan mataku terus tertuju pada bibir Pak Direktur, entah seberapa kuat kesadaranku untuk mengalihkan pandanganku, pada akhirnya aku terus berbalik guna memandang bibir merah muda itu kembali. Saat ini kami sedang duduk di salah satu meja kedai tteokbokki, dan kita duduk berhadapan satu sama lain.


"Nenek, biar saya bantu menyajikan makanannya yaa...." seru Ji Eun bangkit dari mejanya, menuju dapur kedai tersebut.


Aku perlu mengalihkan diri, agar pikiranku tetap waras. Kalau aku terus duduk berhadapan dengannya disana, aku takut kalau-kalau kewarasanku bisa jadi benar-benar hilang dan langsung menerkam bibir yang seakan terus menggoda itu.


"Waaahh... Harumnya enak sekali. Nenek, apa boleh saya minta bumbu kuahnya yang banyak?" tanya Ji Eup sopan dengan memamerkan senyum hangatnya sembari membantu sang pemilik kedai.


"Ya, tentu saja, ambilah sesukamu," jawab si nenek pemilik kedai.


"Terima kasih banyak, nek," lagi-lagi Ji Eun menunjukan senyum cantiknya.


Nenek pemilik kedai yang sudah nampak akrab dengan Ji Eun, sebagai pelanggan setianya semenjak dari wanita itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar pun kini berjalan mendekat. Mengikis jarak antara tempat mereka berdiri disana, mengerjakan pekerjaan masing-masing yang menyiapkan pesanan makanan.


"Ngomong-ngomong sepertinya pria yang datang bersamamu saat ini bukan pria manis yang sering kesini denganmu, apa dia pacar barumu?" tanya si nenek pemilik kedai membuka obrolan.


"Bu-bukan seperti itu, nek!" sangkal Ji Eun gugup tak sadar sedikit menaikan konotasinya.


"Se-sepertinya saya harus kembali ke meja kami. Sa-saya bawa semua pesanan saya ya, nek," lanjut Ji Eun setelah merasa cukup sedikit membantu pekerjaan si nenek pemilik kedai.


Karena memang nampaknya beliau sudah tidak terlalu kerepotan untuk menyiapkan pesanan makanan dari pelanggan. Kebetulan waktu yang tepat bagi Ji Eun untuk kabur dari si nenek pemilik kedai yang sudah nampak kepo dengan sosok Park Seo Joon.


"Cepat makan lalu cepat berpisah juga," gumam Ji Eun membawa nampan berisi pesanannya menuju mejanya tadi.


Praaangg


Mungkin karena Ji Eun terlalu bersemangat sehingga kurang memperhatikan jalannya, sampai ia bisa tersandung sendiri dan jatuh menghantam lantai begitu saja. Tentu saja kini penampilannya sudah sangat nampak kacau dengan pakaiannya yang terkena noda makanan.


"Di-direktur.... Sa-saya pantas untuk mati," cicit Ji Eun menengadahkan kepalanya guna melihat sosok dihadapannya yang turut terkena soal akibat ulahnya.


Pasti biaya laundry dan penatu sepatunya sangat mahal, daripada memikirkan itu, memangnya bagi seorang konglomerat seperti Pak Direktur akan tetap memakai kemeja dan sepatu yang telah tersiram kuah tteokbokki lagi, meskipun sudah dibersihkan di penatu?


"Apa anda terluka?" ucap Seo Joon diluar perkiraan.


Bahkan, saat menanyakan itu Seo Joon sudah melepas jasnya yang kemudian ia kenakan untuk Ji Eun dan kemudian membantu wanita malang itu bangkit berdiri dari atas lantai yang sudah bersimpah kuah merah pedas dan beberapa jenis makanan kudapan yang berserakan disana.


"Lee Ji Eun?" panggil seseorang yang nampaknya baru saja tiba ke kedai tersebut, disebelahnya nampak ada seorang wanita yang merangkul mesra lengan kekarnya.


Seo Joon dan Ji Eun melempar fokus mereka kepada sosok tersebut secara bersamaan.


Berkat seseorang yang memanggil namanya, Ji Eun menghentikan langkahnya dengan kedua tangan Seo Joon yang tetap berada di pundaknya, menuntunnya berjalan dengan hati-hati menjaga jas miliknya tetap bertengger di badan mungil Ji Eun dengan benar.


...•••THE SECRET CRUSH•••...