THE SECRET CRUSH

THE SECRET CRUSH
16


Han So Hee


Aku hanya berjalan-jalan tanpa tujuan, menikmati hiruk-pikuk pejalan kaki, angin malam yang berhilir menerpa wajah, dengan sinar rembulan yang begitu nampak romantis bersama bintang di langit.


Karena ini akhir pekan, mereka pasti sedang berkencan ya....


Huh, itu juga aku yang jadi penyebabnya! Semoga kamu bahagia yaa, Ji Eun sayangku...


Padahal aku juga sudah bilang suka padanya, tapi dia tetap saja tidak pernah menghubungiku untuk mengajak bertemu lagi setelah kejadian waktu itu.


Tidak ada tempat yang bisa kutuju....


Han So Hee menghentikan langkah kakinya, menundukan kepalanya hanya untuk menyembunyikan wajahnya yang meloloskan air mata terjatuh dari pelupuk matanya begitu saja tanpa aba-aba saat teringat akan sosok Song Kang.


"Kak So Hee?" panggil seseorang yang sudah berdiri tak jauh tepat di depan So Hee yang masih tertunduk disana.


Han So Hee pun sedikit mengangkat wajahnya kala mendengar seseorang memanggil namanya barusan, yang langsung mengenali sosok itu.


"Oh, Ji Sung!" seru So Hee.


Pandangan So Hee langsung menemukan sosok laki-laki ABG berusia 20 tahun yang biasanya selalu bersikap tengil dan yang selalu memproklamirkan bahwa dirinya sudah menjadi pria dewasa tulen.


Namun, yaaahh....


Lee Ji Sung tetaplah Lee Ji Sung, seperti sudah hukum alam seorang anak bungsu di dalam keluarganya akan selalu dan tetap menjadi seorang bocah bagi keluarganya.


Begitupun Lee Ji Sung bagi kedua orang tuanya dan juga Lee Ji Eun, tak terkecuali juga bagi Han So Hee.


Ji Sung berdiri terpaku tepat di depan So Hee berdiri saat ini, laki-laki itu menggunakan jaket kulit berwarna hitam dengan meneteng sebuah helm fullface warna hitamnya.


Namun, yang membuat So Hee berhasil terhipnotis disana bukanlah gaya swag dari seorang Ji Sung, melainkan pias wajah Ji Sung yang sangat sulit diartikan untuknya.


Kedua bola mata So Hee membulat sempurna kala Ji Sung dengan tiba-tiba sudah berada di hadapannya, sedikit menekuk kaki jenjangnya guna mensejajarkan tinggi badannya dengan So Hee, ibu jari tangannya dengan lembut mengusap sisa air mata yang masih membekas di kedua sisi pipi wanita itu.


Laki-laki itu pun sedikit membungkuk guna memeriksa wajah So Hee dengan jarak yang begitu dekat, kepala Ji Sung sibuk menengok kesana kemari di sekitar wajah So Hee.


Mungkin dirasanya cukup, dia tidak menemukan keanehan pada wajah So Hee, takutnya So Hee menangis karena habis dipukul ayahnya.


Ji Sung pun kembali berdiri dengan benar dan diakhiri tepukan lembut dari telapak tangannya yang besar diatas kepala So Hee.


"Kakak dari mana mau kemana?" tanya Ji Sung memamerkan senyumnya.


"Hah, a-anu i-itu aku cuma ingin jalan-jalan saja," jawab So Hee terbata-bata berkat sikap Ji Sung yang kambuh dengan sosok berlaga menjadi pria dewasanya.


"Kamu mau kemana malam-malam begini? Bukannya belajar di rumah!" sambung So Hee yang sudah kembali tenang sembari menepuk lengan Ji Sung seperti seorang kakak yang sedang memergoki adiknya keluyuran malam.


"Tentu saja aku habis mengantar pesanan ayam, kak! Berhenti pukul aku seperti bocah!" ketus Ji Sung tidak terima.


Han So Hee hanya membalas protesan Ji Sung dengan berdecih dan mencibikan bibirnya mengejek.


"Tapi kak, kakak menangis?" tanya Ji Sung.


"Menangis? Si-siapa yang menangis? Ka-kapan aku menangis?" sangkal So Hee membuang asal pandangannya ke lain arah.


Lagi-lagi Ji Sung mendekatkan wajahnya ke wajah So Hee, hembusan nafas Ji Sung yang menerpa pipi So Hee pun membuat wanita itu terkejut dan seketika menoleh hingga hidung mereka berdua saling menempel saking dekatnya jarak wajah di antara keduanya.


"Siapa pria kurang ajar yang sudah buat kakak menangis?" nada suara Ji Sung terdengar cukup menyeramkan di telinga So Hee.


"Memangnya aku ini wanita yang akan menangis karena pria?" ketus So Hee dengan sombong.


"Lalu wanita? Apa orang itu kakakku? Kalau benar, akan aku tepungi Lee Ji Eun dan ku masukan ke dalam frying penggoreng malam ini!" ucap Ji Sung yang sudah bersiap untuk bertempur.


"Huahahaha kamu memang anak penjual ayam yaa.... Kakakmu akan jadi Ji Eun mekdi setelah kamu melakukan itu," tawa So Hee pecah sampai ia memegangi perutnya yang terasa geli mendengar amarah Ji Sung.


"Terima kasih ya, Ji Sungku," ucap So Hee kembali setelah tawanya berhenti, sambil mencubit gemas kedua pipi Ji Sung.


Han So Hee pun dengan cepat meraih lengan Ji Sung menyeretnya berjalan pergi dari sana.


"Gara-gara kamu bahas ayam aku jadi lapar, ayo kita pulang dan tolong masakan pesananku setengah ayam goreng dan setengahnya ayam bumbu pedas kesukaanku yaa, Ji Sungku!" sambung So Hee dengan kepalanya ia sengaja usap-usapkan manja ke lengan Ji Sung.


"Baiklah, akan ku tunjukan keahlianku!" jawab Ji Sung tegas menggambarkan dia sangat dapat di percaya.


"Ngomong-ngomong kak, motorku aku parkir di sebelah sana," sambung Ji Sung menengok ke belakang mengisyaratkan kalau langkah mereka berdua semakin bertolak dari letak motor Ji Sung.


"Aaiiissh! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi!" kesal So Hee karena mereka sudah berjalan lumayan jauh dari tempat awal mereka bertemu tadi.


"Yahahahaha," Ji Sung sangat puas menertawakan So Hee yang nampak seperti orang bodoh.


**


"Lee Ji Eun! Kamu pikir ini jam berapa, haa!"


"Ah, adik So Hee ini kenapa marah-marah di malam minggu yang indah ini sih, kakak Ji Eun sekarang--" ucap Ji Eun dari seberang telepon.


"Berisik! Lihat ke belakang!" ketus So Hee di dalam sambungan telepon.


"Eh, belakang memangnya kena--" kalimat Ji Eun di dalam sambungan telepon terpotong saat dirinya menemukan sosok kembaran beda rahimnya berdiri tak jauh dari pandangannya, nampak juga seperti ada dua tanduk di atas kepala sosok itu.


"Anak gadis macam apa kamu, jam segini baru pulang, haa!" bentak So Hee dengan menjewer salah satu telinga Ji Eun.


"Ampuuun ibu, mohon maafkan putrimu yang cantik jelita ini," rengek Ji Eun seperti bocah.


"Tidak ada ampun untuk anak membangkang seperti kamu, Ji Eun!" ketus So Hee, sekarang ia beralih menyeret lengan Ji Eun pergi entah kemana.


Ingat, saat ini mereka berada di jalan umum dekat rumah Ji Eun. Tentunya belum sampai di depan toko ayamnya juga, menjadi pusat sorot pasang mata disana juga sudah pasti tentunya.


Apa? Malu? Oh, tentu saja tidak.


Mereka berdua selalu bertingkah berlebihan seperti di dalam drama-drama yang tayang di televisi dengan berbagai peran, tergantung situasi yang terjadi pada mereka berdua.


Dan disinilah kisah ibu galak dan anaknya yang dengan sukses diperankan oleh kedua wanita cantik jomblo abadi berusia 26 tahun itu berakhir di salah satu pojjangmacha terdekat.


"Baiklah anak semata wayangku, ibumu ini akan mengampunimu dengan syarat! Traktir ibumu yang sedang gundah galau merana ini alkohol sepuasnya," ujar So Hee yang kini duduk berhadapan dengan Ji Eun di salah satu meja di dalam pojjangmacha tersebut.


"Dengan senang hati, anakmu ini akan melayanimu dengan sangat baik malam ini," ucap Ji Eun menunduk hormat di kursinya pada So Hee.


Kedua wanita itu benar-benar kalap dengan pesanan mereka, beberapa botol soju dan tak lupa juga kudapan pendamping yang cocok untuk menemani kedua oknum patah hati akibat kisah asmara yang masih nampak abu-abu.


...•••THE SECRET CRUSH•••...