
Lee Ji Eun
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 KST.
Akhirnya, aku benar-benar melakukan ini. Aku duduk disalah satu meja di kitchen & lounge World Hotel.
Tentu saja, dihadapanku saat ini sudah ada seorang pria yang sedari tadi hanya diam dan sesekali dia meneguk secangkir kopinya sembari terus fokus dengan Ipad-nya.
Tanganku ku lipat di dada, kedua netraku tidak bisa lepas untuk berhenti memandangnya. Setelan jas yang sangat terlihat mewah, jam tangan branded yang ku yakini dengan pasti harganya bisa mencapai ratusan juta won, dan yang lebih utama dari itu semua adalah...
Proporsi tubuhnya yang menawan dan wajahnya yang sangat tampan!
Tinggi badan sekitar 180 cm, berat badan ideal sekitar 68 kg, dadanya yang bidang, sangat cocok dikenakan setelan jas mewah.
Mata yang runcing tanpa lipatan kelopak mata, kulit yang seputih susu, hidung yang mancung, dan juga gaya rambut yang tertata rapih.
Apa aku menikah dengannya saja ya?
Seluruh isi kepalaku beradu monolog. Baiklah, sepertinya sudah waktunya aku membuka obrolan terlebih dulu. Sebelum pikiranku benar-benar menjadi gila. Aku harus segera menuntaskan misi malam ini, lalu pulang dan cepat tidur.
"Ehem! Anda terlambat datang, dan sekarang mendiamkan saya. Saya ini sangat sibuk, barusan saya juga habis bermain dengan pria, jadi sekarang saya sangat lelah. Mari percepat saja."
Sangat jauh di luar perkiraanku, dia tidak meresponku sama sekali. Tetapi setidaknya sekarang dia sudah menatapku.
Ayo lanjutkan, Ji Eun!
"Apa anda tidak suka wanita yang suka bermain? Apa anda ingin kita lebih baik naik ke atas saja? Kamar di hotel ini bagus, tempat tidurnya juga sangat nyaman," ujarku lagi dengan tingkah menggoda yang lebih dari sebelumnya.
Lee Ji Eun terus berupaya keras untuk membuat pria di hadapannya itu bosan dan muak akan sikapnya, dan membuat perjodohan ini batal.
Pria itu meletakan Ipad-nya, sekarang fokusnya benar-benar hanya pada Ji Eun.
Apakah kamu berhasil, Ji Eun?
Di dalam pikiranku masih terus sibuk dengan monolog-monologku. Semua yang bisa ku lakukan sudah ku gencarkan semua, tetapi kenapa pria di depanku sama sekali belum juga membuka mulutnya!
Sebentar! Apa seleranya berbeda, jangan-jangan...?
Sepertinya aku sudah menyerah, pria ini sama sekali tidak tertarik dengan wanita. Iya, pasti begitu!
"Nama saya Park Seo Joon," ucap pria di depanku tiba-tiba setelah tanpa suara terlalu lama.
"Apa?" ucapku seadanya karena terkejut.
"Sepertinya anda tidak tahu nama saya, daritadi anda terus bilang 'anda'," ujarnya lagi menjelaskan.
Park Seo Joon... Sepertinya aku pernah dengar nama itu, dimana ya?
"Saya berkerja di Seo UN Group," ucap kembali pria itu menyadarkan lamunanku.
"Ah! Saya tahu sekali perusahaan itu! Karena--"
Itu kantorku! Sial, hampir saja keceplosan!
Pantas saja aku merasa sangat familiar dengan namanya. Karyawan baru? Bukan, dia kelihatan sudah agak berumur. Dari penampilannya yang seperti ini pasti executive perusahaan, tapi kenapa aku belum pernah melihatnya di kantor ya....
"DIREKTUR?" ucapku keceplosan.
Aku sampai berdiri tiba-tiba karena terlalu terkejut menyadarinya, aku juga membelalakan kedua mataku dan langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku, yang sudah menganga lebar tak terkontrol saat itu.
"Benar, saya Direktur Seo UN," jawabnya masih dengan sikap tenang, matanya menatapku yang masih berdiri kaku di depannya.
Bagaimana bisa aku bersama dengan Direktur perusahaanku untuk kencan buta. Jadi, pria ini adalah si pasien rumah sakit jiwa yang sering digosipkan itu! Di lihat dari sikapnya bersamaku saat ini yang terus memasang wajah datar dan nada bicara yang dingin, aku mempercayai gosip itu sekarang.
Ma-mati aku! Pekerjaanku, pinjamanku, toko ayam orang tuaku! Bagaimana nasipnya nanti...
Bibirku terasa kelu, sepertinya kerongkonganku pun kering sampai tidak mampu untuk mengeluarkan suaraku. Tubuhku bergetar hebat.
"Apa ada masalah?" tanyanya.
Sepertinya dia menyadari, kalau ada yang salah denganku.
Lee Ji Eun berhasil menenangkan dirinya yang sudah terlalu cemas. Dia meyakinkan diri bahwa dia tidak akan bisa ketahuan saat di kantor nanti, toh dia hanya karyawan kecil pikirnya.
Berkat penampilannya yang sekarang full make up lengkap dengan softlens, perhiasan dan juga wig berwarna pink, dipadukan dengan mini dress berwarna hitam, serta sepatu heels dengan hak 5 cm berwarna merah, sudah membuatnya cukup percaya diri.
Karena saat ini Lee Ji Eun adalah orang yang sangat berbeda.
Sekalian aja berbuat lebih liar lagi dan cepat keluar dari tempat ini!
"Tadi saya bilang sebelum bertemu anda saya habis bermain dengan pria lain, anda tidak marah?" tanyaku berharap dia muak padaku lalu meninggalkanku.
"Saya tidak marah. Boleh tolong ponsel anda?" ujarnya.
"Apa? Kenapa tiba-tiba?" jawabku bingung.
"Berikan saja," ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya.
Aku mati kutu dibuatnya, kenapa aura intimidasinya sangat kuat. Apa karena dia seorang Direktur, jadi damagenya bukan main. Dengan sedikit ragu aku tetap memberikan ponselku padanya.
"Apa anda sedang bertukar nomor dengan saya?" tanyaku, melihatnya sedang mengotak-atik ponselku.
Dia hanya menjawab pertanyaanku dengan anggukan kecil.
"Menikahlah dengan saya," ucapnya tiba-tiba saat mengembalikan ponselku.
"Apa?" tanyaku takut salah dengar.
"Ayo kita menikah," jawabnya lugas.
Barusan dia melamar seorang wanita dengan air muka datar dan nada bicara yang sangat dingin. Aku mempertanyakan sesuatu, mana ada pria yang sedang melamar wanita dengan bersikap seperti itu. Terlebih lagi, ini adalah pertemuan pertama kami.
"Maaf, Itu... Anda barusan bilang apa?"
"Saya mengajak anda untuk menikah. Berapa kali saya harus mengatakannya?" jawabnya dengan wajah seperti ingin memarahiku.
"Hahaha apa maksudnya menikah? Dengar berapa kali pun, ini sangat mengejutkan. Terlebih anda tiba-tiba melamar saya di pertemuan pertama kita," jelasku dengan canggung.
Jujur saja aku malah ketakutan padahal sedang dilamar. Iyakan, barusan yang terjadi padaku ini termasuk lamaran kan?
"Begitu ya...."
Pria itu menggantung kalimatnya, entah apa yang sedang ia pikirkan. Bahkan, aku sama sekali tidak dapat menerka-nerka dengan ekspresinya yang masih sama dinginnya.
Sempat terpikir olehku, apa mungkin cara kerja otak seorang 'pebisnis' selalu sedemikian rupa.
Aku hanya diam tak meresponnya, masih sangat sulit untuk diriku menahan ketawa yang sangat keras saat ini. Entah, tapi perasaanku rasanya sangat ingin diluapkan.
Pria itu tiba-tiba mendekatkan tubuhnya padaku, jarak wajah kami sangat dekat. Mungkin kurang dari 5 cm saja, mata kami bertaut begitu dalam.
"Saya masih ingin berbincang, tapi ada hal penting yang perlu saya selesaikan. Akan saya telepon nanti, maaf tidak bisa mengantar anda. Tunggulah disini, Sekretaris saya yang akan mengantar anda," ucapnya tepat di depan wajahku hingga membuatku lupa cara untuk bernafas untuk sesaat.
Setelah mengucapkan hal itu, pria itupun berbalik dan pergi sembari menelepon, meninggalkanku yang masih sulit mengatur nafas disana.
"Apa aku berhasil? Di-dia kaburkan?" gumamku melihat punggung lebarnya yang semakin menjauh.
...•••THE SECRET CRUSH•••...
Park Seo Joon
Tinggi Badan 185 cm