Perfect Woman and Mafia Boss

Perfect Woman and Mafia Boss
Kekhawatiran Felicia


Sejak kejadian malam itu dia benar-benar tertarik dengan Felicia, bahkan dia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu disana.


"Benar-benar wanita yang menarik." kata pria itu dalam hati.


Felicia menggerutu kesal, untung lah para pria disana mau melepaskannya, kalau tidak dia akan menghajar orang-orang disana satu persatu sampai babak belur.


Mereka terlalu meremehkan wanita, itulah sebabnya dia mempelajari karate untuk melindungi dirinya.


"Fel...ponselmu berbunyi sedari tadi."


Cindy memberitahukannya saat wanita itu sudah berada dibawah.


"Terima kasih." jawabnya.


Felicia deger mengambil ponselnya yang dia letakkan dipacu untuk para karyawan di Cafe itu.


Wanita itu segera menghubungi orang yang menghubunginya yang orang itu adalah bibi Anna pengasuh Al.


"Bibi Ann, ada apa?" tanyanya saat sambungan ponselnya telah dijawab oleh Anna.


"Fel....segeralah pulang." terdengar suara Anna yang begitu khawatir.


"Ada apa?." tanyanya dengan perasaan cemas .


"Fel...Al...badan Al begitu panas, aku sangat khawatir dengan nya."


Felicia langsung kaget mendengarnya.


"Bibi Ann, tolong bawa Al kerumah sakit. aku akan segera menyusul." pintanya dengan cepat.


Setelah sambungan ponselnya telah dimatikan, Felicia segera berlari keatas untuk menemui manager di Cafe itu.


Dia harus meminta ijin pada managernya untuk pulang lebih cepat.


Dia melewati para pria yang berada di ruangan tadi yang hendak pergi dari Cafe itu. dia berlari dengan terburu-buru tanpa memperdulikan mereka.


Jhon Smith yang melihat Felicia berlari dengan terburu-buru menghentikan langkahnya untuk melihat wanita itu sejenak.


"Ada apa tuan?" tanya asisten pribadinya.


Tidak biasanya pria itu harus menghentikan langkahnya untuk melihat seorang perempuan.


Jhon hanya diam saja, pria itu kembali melangkah untuk meninggalkan tempat itu.


Felicia berlari kecil memasuki sebuah rumah sakit khusus untuk ibu dan anak.


Setelah mendapat ijin dari managernya dan mengetahui alamat rumah sakit itu dari pengasuh Al, Felicia segera menuju rumah sakit itu tanpa membuang-buang waktunya.


Dia sangat khawatir dengan keadaan Al, walaupun anak itu bukan darah dagingnya tapi dia sangat sayang pada pria kecil itu.


Semenjak menemukan Al, Felicia merasa bahagia. bahkan dia lupa dengan perseteruan dengan ayahnya.


"Bisa kau beri tahu akan ruangan Aldevaro Winata berada?"


Felicia bertanya pada resepsionis yang dia lewati.


"Bayi yang baru dibawa?" tanya resepsionis itu.


Felicia mengangguk dengan cepat, dia sudah tidak sabar untuk melihat pria kecil nya.


"Ruang nomor dua puluh tiga lantai lima, nona." kata resepsionis itu.


"Terima kasih."


Setelah berkata demikian, Felicia segera berlalu pergi dan menuju kearah lift.


Setelah pintu lift yang membawanya kelantai lima terbuka, Felicia segera menerobos orang-orang yang berada didalam lift itu.


Dia tidak peduli orang-orang didalam lift yang memakinya, yang sangat dia khawatirkan adalah Al kecilnya.


Wanita itu mengedarkan pandangannya untuk mencari ruangan nomor dua puluh tiga.


Felicia melihat nomor setiap ruangan yang dia temui, saat berbelok keruangan lain tampaklah pengasuh Al sedang duduk didepan ruangan itu.


Felicia segera berlari untuk menghampirinya, tampak wajah Anna yang terlihat khawatir dan itu membuatnya takut.


Dia mulai takut terjadi sesuatu yang gawat dengan Al.


"Bagaimana keadaan Al?"


Tanyanya dengan tidak sabar saat dirinya sudah sampai didepan ruangan tempat Anna menunggu.


Anna menggeleng.


"Aku tidak tahu. Al sedang ditangani dokter dan aku dilarang masuk."