Perfect Woman and Mafia Boss

Perfect Woman and Mafia Boss
Aldevaro winata


"Sialan, anak orang kaya sinting!" makinya lagi.


Felicia melemparkan uang itu keatas meja.


"Jika memang begitu banyak uang kenapa tidak membayar pengasuh saja untuk membesarkan bayinya."katanya.


Felicia membenci dengan kehidupan orang kaya yang seenaknya, jika ingin melakukan s*ke bebas bukankan harus menjaga diri?


Apa mereka tidak iba melihat bayi mungil yang tidak bersalah dan meninggalkannya begitu saja?


Felicia segera bangkit berdiri, padahal dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat. tapi dia tidak menduga ada yang membuang bayi didepan rumahnya.


Felicia masuk kembali kedalam kamarnya dan melihat makhluk kecil yang tertidur dengan pulas diatas ranjangnya.


Wanita itu tersenyum dan segera menuju kamar mandi, badannya sangat lengket dan dia benar-benar sudah tidak tahan untuk membersihkan dirinya.


Dua puluh menit kemudian Felicia keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap rambutnya yang basah.


Dia segera berjalan ke ranjang dan duduk diatas nya. Felicia memiringkan tubuhnya dan melihat bayi laki-laki yang sedang tertidur pulas.


"Bayi yang tampan." bisiknya.


"Harus aku kasih nama apa ya?"


Felicia mulai memikirkan sebuah nama untuk bayi itu, tidak berapa lama dia sudah mendapatkan sebuah nama yang menurut nya sangat cocok untuk bayi tampan itu.


"Aldevaro....mulai sekarang namamu adalah Aldevaro Winata." katanya sambil mengelus pipi bayi itu dengan lembut.


Saat merasakan tangannya bayi kecil itu menggeliat kecil,hal itu membuat Felicia tersenyum bahagia.


"Jika kedua orang tuamu tidak mau mengurusmu, maka mulai sekarang aku yang akan mengurusmu, Al." katanya


Walaupun saat ini dia juga sedang berjuang membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa hidup diluar tanpa bantuan ayahnya, tapi dia tidak akan tega meninggalkan bayi kecil tidak berdosa begitu saja.


Dia akan berjuang membesarkan bayi itu walaupun tidak ada ikatan darah dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya nanti.


Tengah malam Felicia terbangun mendengar tangisan bayi kecil yang sedang berada di sampingnya


Al kecil terus menangis sehingga membuat Felicia panik, dia tidak tahu harus berbuat apa.


Wanita itu segera mengangkat Aldevaro dan menggendongnya untuk menenangkan tangisannya, tapi Aldevaro masih saja menangis.


Felicia mulai panik, dia berlari keluar sambil menggendong Aldevaro dan mengambil kaleng susu yang masih berada di keranjang bayi.


Dengan mata yang masih mengantuk, Felicia berusaha membaca petunjuk yang terdapat dikaleng susu, setelah mengerti Felicia segera kembali kedalam kamar dan meletakkan Aldevaro yang masih menangis diatas ranjang.


Dengan cepat Felicia meraih botol susu dan menuju kedalam dapur, tidak lupa dia juga membawa kaleng susu yang tadi diambilnya.


Setelah mencuci botol susu sisa pakai tadi, Felicia segera membuat susu yang baru.


Setelah jadi Felicia segera kembali kedalam kamarnya dan memberikan susu kepada Al kecil, bayi kecil itu langsung terdiam saat dpt susu menempel di mulutnya.


Felicia merasa lega, dia menguap dengan panjang. dilihatnya jam di dinding baru menunjukkan pukul satu malam.


Felicia sangat mengantuk, tanpa sadar dia tertidur dan botol yang dipegangnya terlepas sehingga terjatuh, Al kecil kembali menangis karena for susu terlepas dari mulut mungilnya.


Felicia begitu kaget dan segera menempelkan botol susu itu kemulut Al kecil lagi.


Sambil menguap menahan kantuk dan mencoba menepuk-nepuk bayi kecil itu agar cepat tidur.


"Tidur ya sayang....Tante...hmm mommy akan menjagamu."katanya disela-sela kantuknya


Tanpa sadar ada perasaan bahagia saat menyebut dirinya "Mommy". setelah memastikan Aldevaro telah tidur Felicia pun memejamkan matanya dan tidur disamping Aldevaro kembali.


Keesokan harinya Felicia terbangun saat mendengar suara kecil disampingnya, Al kecil sudah terbangun dan bergumam kecil.


Felicia tersenyum dan diciumnya pipi lembut Aldevaro.


"Selamat pagi sayang." katanya


Melihat bayi itu membuat hatinya begitu bahagia, Felicia segera bangkit dari tidurnya dan segera berjalan kearah kamar mandi.


Baru saja wanita itu menyalakan air shower dan berdiri dibawahnya tiba-tiba Al kecil menangis.


Felicia langsung panik, dengan cepat wanita itu meraih handuk dan melilitkan handuk ke tubuhnya. dia segera berlari keluar untuk melihat bayi kecilnya.


"Kenapa sayang?" tanyanya khawatir.


Felicia langsung melihat Al kecil menangis dengan kencang, dia sangat bingung apa yang sebenarnya terjadi


Felicia memeriksa dengan teliti dan memegang popok Al yang sudah penuh, pasti karena hal itu yang membuat Al menangis.


Dengan hati-hati Felicia melihat popok itu dan benar saja, sudah full dengan kotoran Al.


Felicia segera bangkit berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Al yang masih menangis.


Dia mengambil sebuah popok yang berada di keranjang bayi dan segera kembali lagi kedalam kamarnya.


Felicia mengambil tisu basah yang berada didalam tasnya dan segera menghampiri Al, untungnya dia selalu menyimpan tisu basah untuk dia gunakan.


Wanita itu menarik nafasnya sebelum membuka popok Al yang sudah penuh, kemudian dia menahan nafasnya saat membuka popok itu.


Felicia merasa sangat jijik tapi dia tidak bisa berlama-lama menahan nafasnya, dengan cepat dia membersihkan kotoran Al dengan tisu basah dan memakaikan popok baru untuk pria kecil itu.


Aldevaro tertawa kecil saat sudah merasa nyaman, Felicia segera menarik nafasnya saat semuanya sudah selesai.


Ini benar-benar pelajaran baru untuknya, dia tidak menyangka menjadi seorang ibu sangat sulit.


Ini hari pertama, apakah dia sanggup untuk membesarkan Aldevaro?


"Aku harus mencari pengasuh bayi." pikirnya dalam hati


Setelah Edward tidak menangis lagu, Felicia kembali kedalam kamar mandi untuk melanjutkan mandinya yang tertunda.


Setelah selesai mandi dan menggunakan pakaian, Felicia segera membaringkan dirinya disamping Al sambil menatap layar ponselnya.