
Felicia menjawab sambil tersenyum manis.
"Lebih baik aku ambil beberapa untuk stok nanti." katanya dalam hati.
Felicia mengambil dua bungkus besar pempres itu dan menaruh nya didalam troli belanja.
"Sekarang aku harus membeli baju untuk Al."
Wanita itu segera mencari pakaian untuk bayi, untunglah supermarket itu sangat lengkap sehingga dia tidak perlu mencari toko pakaian khusus untuk bayi.
Tidak lupa dia juga membeli susu untuk bayi, kaus kaki, dan beberapa keperluan bayi lainnya.
Setelah merasa semua yang dicatat oleh Anne sudah lengkap wanita itu segera menuju kearah kasir.
Belanjaannya begitu banyak, dengan terpaksa dia harus memanggil taksi untuk pulang kerumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam setelah dia selesai membayar belanjaannya.
Felicia telah memberitahukan kepada Anna Jika dia akan pulang terlambat untuk membeli barang-barang untuk Al.
Dia akan membayar lebih diluar jam kerja Anna.
Saat Felicia sedang sibuk membawa bawang belanjaannya untuk keluar dari supermarket itu, seorang pria memakai jas hitam yang berjalan dari belakangnya dengan terburu-buru menabrak dirinya hingga barang-barang bawaannya dan benda yang dipegang pria itu terjatuh keatas lantai.
"Apa kau buta?" maki pria itu.
Felicia menatap pria itu dengan heran, bukankah dia yang seharusnya marah?
"Apa tidak salah?" tanya Felicia
"Lihat, barang bos ku sampai terjatuh." maki pria itu lagi.
"Hei tuan, kau yang tidak punya mata. bukan hanya barang bosmu tapi barang-barangku juga terjatuh." katanya dengan kesal.
"Dasar wanita j*lang." maki pria itu lagi dengan kasar.
Felicia mengepalkan tangnnya, entah apa salahnya sampai pria itu mengatainya wanita j*lang.
Pria itu segera memunguti barangnya yang adalah sekotak rokok, tanpa merasa bersalah pria itu ingin melangkah pergi meninggalkannya.
Panggil Felicia menghentikan langkah pria itu.
Pria yang menabraknya itu membalikkan badannya, tapi sebelum pria itu bisa melihat Felicia, wanita itu telah memutar tubuhnya dan melayangkan tendangannya tepat kearah wajah pria itu.
Pria itu terjungkal kelantai dan barang bawaannya pun terjatuh dari tangannya.
Felicia segera menginjak bungkus rokok itu hingga menjadi penyik dibawah High heels yang dipakainya.
"Brengsek, mau mati hah! apa kau tidak tahu siapa bos ku?" teriak pria itu.
Felicia menyimpangkan kedua tangannya didepan dada, wanita itu tersenyum dengan angkuh mendengar perkataan pria itu.
"Memang siapa bos mu?"
"Panggil kemari, aku tidak takut." tantangnya.
Pria itu mengepalkan tangannya menahan amarah.
Felicia mengacungkan jari tengahnya didepan wajah pria itu dan segera berbalik memunguti barang-barangnya.
Dia tidak punya banyak waktu untuk meladeni pria itu, dia sudah harus cepat pulang karena hari sudah malam.
Sedangjan disebuah mobil mewah yang terparkir tidak jauh darinya, seorang pria tampan dengan mata elangnya sedang menatap tajam kearah mereka.
Pria itu Adalah Jhon Anderson seorang ketua mafia di kota itu.
Jhon melihat dengan jelas perbuatan anak buahnya.
tadinya dia memerintahkan anak buahnya untuk membeli sebungkus rokok di supermarket itu tapi dia tidak menyangka akan melihat pemandangan yang menarik.
Melihat tendangan wanita itu sudah bisa dia simpulkan jika wanita itu sangat menguasai karate.
Sangat jarang ada wanita yang bisa bela diri menguasai ilmu bela diri.
Jhon menyunggingkan bibirnya, asisten pribadinya menatap heran pria dingin dan kejam itu.
Apa begitu menarik melihat anak buahnya dihajar oleh seorang wanita?