Perfect Woman and Mafia Boss

Perfect Woman and Mafia Boss
Menjaga Aldevaro


"Tadi waktu aku membawanya kemari badan Al sangat panas." jelas wanita itu dengan nada khawatir.


Wajah Felicia langsung pucat dan kakinya terasa lemas, dia segera mendudukkan dirinya di atas kursi.


Tadi pagi sebelum dia berangkat bekerja Al tampak baik-baik saja dan ceria, tapi kenapa tiba-tiba kondisinya bisa seperti itu.


Felicia dan Anna menunggu dengan perasaan cemas disana.


Felicia memejamkan matanya dan berdoa dalam hati. dia berharap Al dalam keadaan baik-baik saja.


Tidak berapa lama pintu ruangan itu terbuka tampak seorang dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan itu.


Felicia dan Anna serempak berdiri bersamaan saat melihat dokter itu.


"Dok, bagaimana dengan keadaan anak saya?" tanya Felicia dengan tidak sabaran.


"Anda ibunya?" tanya dokter itu.


Felicia mengangguk dengan cepat.


"Anak anda terkena radang paru-paru." jelas dokter itu.


Felicia begitu kaget mendengarnya, Al masih bayi bagaimana bisa terkena penyakit seperti itu.


"Tapi nyonya tidak perlu khawatir, beruntung anak anda cepat dibawa kemari. jadi anak anda cukup dirawat beberapa hari disini." jelas dokter itu lagi.


Felicia bernafas dengan lega.


"Terima kasih dok, boleh kah aku melihat pria kecilku?" tanya nya.


Dokter spesialis itu mengangguk.


Felicia langsung menerobos masuk kedalam ruangan itu setelah mengucapkan terima kasih kepada dokter spesialis itu.


Dia benar-benar tidak sabar untuk melihat malaikat kecilnya.


Diatas ranjang tampak Al kecil sedang tidur dengan tidak berdaya.


Felicia menangis melihat pria kecil itu, tanpa kehangatan kedua orang tuanya. anak sekecil itu harus menderita seperti itu.


Andai saja malam itu dia tidak menemukan Al, entah apa yang telah terjadi pada bayi mungil itu.


Felicia menghapus air matanya dan segera mendekati Al. wanita itu mencium pipi mungil pria kecil itu.


"Hai...sayang. apa kabarmu hari ini?" bisiknya pelan ditelinga Al.


"Jangan khawatir Fel, dokter bilang Al akan baik-baik saja."


Kata wanita itu berusaha menghibur Felicia.


Dia sedikit iba melihat wanita itu yang berjuang sendiri membesarkan anaknya tanpa kehadiran sang suami.


"Entah kemana perginya ayah Al." pikir Anna dalam hati.


Wanita itu selalu bertanya-tanya didalam hati, apa kah Felicia telah menikah?


Sedangkan dirumah nya tidak didapati barang-barang seorang pria atau foto pria.


Jika memang suaminya bekerja diluar kota bukankah harusnya ada pakaian atau foto kebersamaan mereka.


Anna benar-benar curiga dibuatnya, ingin rasanya dia bertanya tapi dia takut menyakiti hati wanita itu.


Bagaimana jika Felicia hamil diluar nikah? Anna benar-benar penasaran.


"Bibi Ann, apakah kau membawa barang-barang Al?" tanya Felicia yang membuyarkan lamunannya.


"Oh...ya.. aku membawanya." jawabnya sambil menunjuk barang-barang yang dia letakkan di atas lantai tadi.


"Baiklah bibi Ann, aku akan menjaga Al, sebaiknya bibi segera pulang sebelum hari gelap."


"Apa kau tidak apa-apa menjaga Al sendirian?"


Felicia mengangguk, dia sudah banyak belajar dari wanita paruh baya itu dan sekarang dia mulai mengerti untuk mengurus Al.


"Baiklah, besok aku akan datang lagi."


"Terima kasih bibi sudah membawa Al kemari."


"Jangan sungkan, itu tugas ku."


"Apa kau mau aku bawakan sesuatu besok?" tanya Anna lagi.


Tidak...jika perlengkapan Al telah lengkap bibi tidak perlu lagi membawakan apa-apa."


"Besok setelah bibi datang aku akan pulang."


Anna mengangguk.


"Baiklah Fel, aku akan pulang. besok aku akan datang lebih awal.