Perfect Woman and Mafia Boss

Perfect Woman and Mafia Boss
Tangisan bayi


"Hyaaaaattt......"terdengar suara teriakan wanita disebuah sekolah dojo kecil yang ada ditengah-tengah kota.


Setelah pergi meninggalkan rumahnya,Felicia mulai menetap disebuah kota kecil didekat pantai California.


Dia bekerja sebagai pelatih karate disebuah Dojo, dia sudah menekuni ini sejak lama sebelum pergi dari rumah orang tuanya.


Sejak menduduki sekolah dasar Felicia sangat tertarik dengan karate,walaupun ditentang oleh ayahnya tapi Felicia tetap mempelajari karate dengan diam-diam.


Baginya Seorang wanita harus bisa menjaga diri sendiri dari pria hidung belang, apalagi ditempat itu masih banyak penjahat sexual berkeliaran dimana-mana.


Felicia menyeka keringatnya yang mengalir dari dahinya,dikota kecil itu dia berusaha membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa hidup dengan baik tanpa bantuan orang tuanya.


Dia mengambil dua pekerjaan sekaligus, setelah mengajar karate kepada anak-anak disekolah dojo itu,Felicia masih harus bekerja ditempat lain.


Dia memilih menjadi sebagai seorang pegawai cafe dipinggir pantai,disana banyak turis yang datang untuk berselancar dan diving karena pantai itu sangat indah.


Ombak yang deras dan pemandangan bawah lautnya yang indah membuat pantai itu tidak pernah sepi dari pengunjung.


Dengan gaji yang lumayan dia dapatkan,Felicia tidak perlu khawatir dengan biaya hidupnya.setidaknya dia bisa hidup dengan baik.


Dengan Keahliannya pula dia dapat menghajar pria-pria hidung belang yang berani kurang ajar terhadapnya.


"Baiklah anak-anak.waktu latihan sudah selesai."teriaknya.


Anak-anak kecil yang berjumlah hampir dua puluhan itu berlari kecil dan bercanda dengan teman-teman mereka.


Felicia tersenyum melihat tingkah anak-anak itu yang begitu menggemaskan.


Salah seorang anak laki-laki menghampirinya dan memegang sabuknya.


"Mrs..apakah aku bisa menjadi kuat seperti mu?" tanya anak itu dengan lugu.


Felicia berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan anak kecil itu,dia tersenyum dan mengelus kepala pria kecil itu dengan lembut.


"Tentu saja,kau bisa menjadi kuat.sampai saat itu tiba kau harus banyak berlatih."katanya dengan lembut.


"Benarkah?"tanya anak itu dengan mata yang berbinar-binar.


"Of course." jawab Felicia dengan cepat.


Anak itu sangat senang,pria kecil itu segera memeluk Felicia.Felicia memejamkan matanya sejenak untuk merasakan tangan kecil dipunggungnya.


"Apa setelah aku besar bisa mengalahkanmu?" tanya anak itu yang masih berada didalam pelukannya.


Felicia terkekeh pelan,"anak-anak memang lugu."pikirnya dalam hati.


"Tentu,setelah kamu besar,carilah aku.kita akan bertanding siapa diantara kita yang paling kuat."katanya.


Anak itu tersenyum bahagia,"terima kasih."terdengar suara mungilnya yang begitu bahagia.


"Baiklah,sepertinya ibumu sudah datang."bisik Felicia dengan lembut.


Pria kecil itu melepaskan pelukannya dan segera berlari kearah ibunya.


Felicia sangat senang melihat anak-anak yang begitu gembira melihat orang tua mereka datang menjemput.


Satu persatu anak-anak muridnya mulai berpamitan padanya.


"Sampai bertemu besok,sayang."teriaknya pada anak-anak muridnya sambil melambaikan tangannya.


Felicia sangat senang dengan anak-anak.dia punya impian menikah dengan orang yang dia cintai dan memiliki beberapa anak nantinya.


Setelah anak muridnya pergi, Felicia segera mengganti pakaiannya, dia harus segera berangkat ke Cafe pinggir pantai tempatnya bekerja.


Disana dia bekerja hingga malam,karena Cafe itu dekat dengan resort sehingga tempat itu tidak pernah sepi pengunjung.


Bahkan Cafe itu hampir buka dua puluh empat jam, dengan jam kerja yang digilir para karyawannya bisa tiga kali ganti setiap harinya.


Setelah mengajar anak-anak dia bisa langsung pergi ke Cafe itu untuk bekerja.suasana sore hari dan pemandangan pantai yang indah saat sore hari sangat dia sukai.


Tentu saja dia tidak sendiri,dia bekerja bersama dua orang wanita yang baru dikenal nya dikota itu.


Felicia meraih tasnya dan keluar dari Dojo itu saat sudah mengganti pakaiannya,dengan cepat wanita itu menaiki sebuah bus untuk sampai di pantai itu.


Setelah tiba, Felicia sudah ditunggu oleh sahabatnya.


"Kau lama sekali?"tanya teman wanita nya yang bernama Cindy.


"Hei...aku hanya terlambat lima menit."jawab Felicia


Sahabatnya itu terkekeh "Bagiku lima menit sudah seperti lima jam."katanya


Felicia memajukan bibirnya,walaupun mereka belum alama berteman tapi menurutnya Cindy adalah gadis yang baik.


"Fel...disana ada pelanggan yang sedang mabuk dan tidak mau membayar."kata manager Cafe itu.


"Seperti biasa,hajar dia Fel."kata Cindy sambil terkekeh.


"Kau kira aku tukang pukul?"kata Felicia sedikit merajuk yang dibuat-buat.


"Siapa yang tidak tau kamu?semenjak kamu bekerja disini sudah berapa orang yang kau hajar?"kata temannya lagi.


Felicia menarik nafasnya dengan panjang,dia kembali teringat kejadian dimana dia menghajar seorang pria hidung belang yang berani menyentuh tubuhnya.


Saat itu dia sangat marah sehingga dia memukul dan membanting pria hidung belang itu keatas lantai.


Semua orang terpana melihat nya dan mulai saat itu manager nya meminta Felicia untuk menghajar para tamu yang tidak tau diri.


Tentu saja manager nya menaikan gajinya sehingga Felicia tidak menolak.


Felicia kembali menarik nafasnya,wanita itu kemudian melangkah menemui tamu yang tidak mau membayar itu.


Tidak berapa lama tamu pria itu sudah tergeletak diatas lantai karena dibanting oleh Felicia.


Tentu saja dia tidak langsung melakukannya,jika tamu itu masih tidak mau membayar dan sulit diajak negoisasi barulah Felicia akan memukul tamu itu.


"Lagu-lagu aku harus memukul orang hari ini."keluh nya


Setelah menyelesaikan tamu itu dan akhirnya tamu itu mau membayar Felicia mulai melakukan pekerjaannya jadi pelayan.


Bisa dibilang dia menjadi pelayan sekaligus tukang pukul diCafe itu.setelah memukul tentu saja ada yang membawa polisi,tapi manager Cafe itu menjamin sehingga tidak perlu berurusan dengan pihak yang berwajib


Tidak terasa jam kerjanya sudah selesai, Felicia bersiap-siap untuk pulang saat penggantinya datang.


Wanita itu segera meraih tasnya dan minta ijin dengan managernya.untuk sampai kerumahnya dia hanya perlu menaiki bus satu kali.


Felicia menyewa sebuah rumah yang kecil sesuai kemampuannya.walaupun dia tumbuh dilingkungan yang serba ada tapi wanita itu bisa beradaptasi di tempat itu


Bagaimanapun dia sudah tidak mau bergantung dengan orang tuanya,bahkan semua kartunya diblokir oleh ayahnya.


Karena ayahnya yakin Felicia tidak bisa hidup diluar tanpa fasilitas darinya dan akan segera kembali kerumah untuk memohon padanya.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumahnya,saat bus yang dia tumpangi tiba di gang rumahnya Felicia segera turun dari bus itu.


Felicia berjalan kaki sebentar untuk sampai dirumahnya, tapi sebelum itu dia mendengar tangisa bayi.


Suasana begitu sepi dan jalanan yang temaram karena hanya diterangi oleh lampu jalan,rumah-rumah disekitarnya sudah tampak sepi padahal waktu baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


Felicia tidak menaruh curiga karena dia pikir ada yang memiliki bayi disekitar rumahnya itu, tapi semakin dia mendekat dirumahnya semakin jelas dua mendengar tangisan bayi.


Saat dia sudah tidak jauh dari rumahnya,Felicia menelan ludahnya saat melihat keranjang mungil berada didepan rumahnya.