Perfect Woman and Mafia Boss

Perfect Woman and Mafia Boss
Jhon Smith


Saat anak buahnya tadi kembali membawa sebungkus rokok yang baru padanya Jhon berkata:


"Potong jarinya, dan sumpah mulutnya dengan rokok itu."


Mendengar itu anak buahnya langsung bergetar ketakutan.


"Bos...Ma..maafkan aku..."


anak buahnya berlutut dan meminta maaf padanya.


"Jadi kau tahu kau salah?" tanya nya dengan dingin


Anak buahnya berkeringat dingin, seharusnya dia tidak memakai wanita tadi.


"Seret dia kemarkas dan potong jari-jari tangannya."


Pria itu memerintahkan anak buah lain yang sedang berdiri disamping mobilnya.


Aneka buah tadi memohon padanya tapi dia tidak perduli.


Asisten pribadi yang sedang duduk didekat supir bergidik ngeri.


"Sungguh pria berdarah dingin." pikirnya.


Siapapun yamg melakukan kesalahan maka akan menerima hukuman yang mengerikan dari pria itu.


Jhon telah lama menjadi ketua mafia, karena kekayaan yang dia punya dan kekejamannya sehingga dia ditakuti dan disegani oleh semua pengusaha.


Siapa pun yang berani membuatnya tersinggung maka dia akan menghancurkan perusaahan itu sampai hancur.


Tapi walaupun terkenal kejam pria itu memiliki banyak musuh yang ingin mengincar nyawanya.


Banyak pengusaha yang sakit hati karena perbuatan pria itu, bahkan banyak pula yang berusaha ingin membunuhnya.


"Pulang kerumah." perintah pria itu.


Sipir pribadi nya segera menjalankan mobilnya, dia tidak berani membantah atasannya jika masih sayang dengan nyawanya.


Jhon menyeringai memperhatikan kota yang mereka lalui, wanita tadi entah kenapa sangat berkesan dimatanya.


************************


"Fel, tolong kau antarkan minuman ini untuk ruangan nomor lima belas." pinta sahabatnya Amber.


Felicia mengangguk dan segera meraih nampan yang berisi botol minuman yang disodorkan oleh Amber.


DiCafe itu tersedia ruang private yang menghadap kearah laut agar para tamu dapat menikmati matahari tenggelam.


Tidak hanya para turis yang datang ketempat itu tapi kadang-kadang para pengusaha juga datang kesana untuk melakukan transaksi.


Felicia menaiki anak tangga dengan hati-hati, dia tidak ingin beberapa botol minuman yang dibawanya jatuh dan membuatnya harus malu dan ganti rugi.


Dia berjalan melewati ruangan yang terasa sunyi untuk sampai dituangkan nomor lima belas.


Ruang Privat itu dirancang kedap suara agar tidak ada yang bisa menguping dari luar pembicaraan orang yang berada didalamnya.


Didepan ruangan nomor tiga itu tampak dua orang pria memakai jas, hitam kacamata hitam sedang berdiri tegak menjaga pintu ruangan itu.


"Ada perlu apa nona?" tanya penjaga itu.


"Aku pegawai Cafe ingin mengantar minuman." jawabnya.


"Periksa dia!" perintah salah seorang dari pria itu.


"Tolong ya, jangan mempersulit saya, saya cuma ingin mengantar minuman ini."


Kata Felicia sambil menyodorkan beberapa botol minuman yang dibawanya didepan kedua pria itu.


"Cihh...orang gila mana yang memakai penjaga didepan pintu." pikirnya.


Felicia masuk kedalam ruangan itu, tampak para pria disana tertawa dan menikmati minuman yang sudah tersedia terlebih dahulu.


Tanpa banyak bicara wanita itu meletakkan minuman yang dibawanya diatas meja.


"Silahkan nikmati minuman tuan-tuan." katanya singkat.


Setelah itu dia hendak berbalik meninggalkan ruangan itu tapi seorang pria menahannya.


"Nona, bagaimana jika menemani kami minum?" pinta pria yang menahan tangannya tadi.


"Maaf tuan. ini hanya Cafe, bukan Club' malam." jawabnya dengan tegas.


Pria itu terkekeh


"Pelayan Cafe juga bisa menemani kami."


"Kau sangat cantik, aku akan membayarmy dua kali lipat dari gajimy." kata pria itu lagi.


Felicia mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia memukul pria itu tapi dia harus menahannya.


"Terima kasih atas kebaikan tuan."


"Tapi percayalah. tidak semua wanita bisa dibeli dengan uang."


"Silahkan simpan uang tuan baik-baik."


Felicia berusaha berkata sesopan mungkin.


"Jangan munafik nona, semua wanita pasti suka dengan uang." kata pria itu lagi.


Felicia menarik nafasnya untuk menahan emosinya.


"Tuan, memang semua orang sangat suka dengan uang. jujur saya juga suka dengan uang, tapi saya mendapatkannya tidak dengan cara seperti yang tuan kira."


Jhon Smith yang sedang duduk membelakangi pria itu langsung tertarik mendengarnya, pria itu memutar kursinya dan begitu kaget melihat wanita yang sedang berusaha menolak permintaan anak buahnya.


Tidak dia sangka wanita uang dia lihat malam itu bekerja di Cafe itu.


"Karena itu nona, layanilah kamu maka kami akan memberikanmu uang yang banyak " kata salah seorang pria disana.


Felicia mengepalkan tangannya.


"Saya sudah berusaha sopan dengan anda tuan. jadi jangan salahkan saya jika sampai berbuat tidak sopan." katanya sambil berusaha menahan emosinya.


Para pria disana tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Felicia.


"Lepaskan dia..."


Terdengar suara pria yang sedari tadi menatap tajam kearahnya.


Pria yang sedang memegang tangan Felicia langsung melepaskan tangannya.


Pria itu langsung Patih dan tidak ada yang berani bersuara didalam ruangan itu.


Felicia merasa heran, hanya dengan satu kalimat dari pria itu saja sudah membuat orang yang berada disana kelihatan ketakutan.


Tapi itu bukan menjadi urusannya.


"Terima kasih atas kebaikan tuan." katanya dengan sopan. Felicia segera keluar dari ruangan itu.


Jhon menyunggingkan bibirnya.