Not as Beautiful as Dreams

Not as Beautiful as Dreams
16


dengan senang dan semangat aku nelpon papah.. dan saat telpon sudah diangkat.


"paaahhhh... aku peringkat 1 lagi.. dan bahkan peringkat dalam pararelku juga meningkaatt.. "


"e... maaf... pak direktur sedang sibuk."


"ha?"


"apakah ada yang ingin anda sampaikan kepada direktur?? dan kalau tidak salah apakah anda anak beliau??."


"tolong berikan telponnya pada papahku!"


"direktur se. . ."


"AKU BILANG SERAHKAN TELPONNYA KE PAPAHKU!!!" ucapku mulai emosi..


"nona. . "


"kamu siapa berani sekali membantahku.. dan menunda perintahku.. aku anak dari direkturmu.. dan sekarang juga serahkan telpon ini ke papahku."


"ba. . . baiklah. . . tunggu sebentar.."


siapa dia berani sekali seperti itu padaku.. dan dimana kak Arnold.. bukankah kak Arnold selalu ada disamping papah.


tak lama kemudian pegawai papahku yang tadi menangkat telpon kembali bicara.


"maaf nona.. katanya sebentar lagi beliau akan menelpon nona.. dan mohon untuk sementara jangan mengganggu beliau sedang sibuk.. sekali lagi aku mohon maaf nona."


ttutt..tutt...tutt.. (sambungan telpon dimatikan)


papah sedang sibuk... bahkan selalu sibuk setiap ku telpon.. kenapa aku gak boleh nelpon papah.. dan selalu saja yang menerima telponnya adalah pegawai atau sekretarisnya papah... aku hanya berharap papah.. mengangkat dan menerima telpon dariku... sebenarnya sudah 2 tahun lalu sejak terakhir aku menelponnya... dan dengan alasan yang sama aku selalu mendengar beliau sedang sibuk.. direktur sedang tidak bisa diganggu... selalu saja.. kalimat itu yang ku dengar setiap aku menelpon papah duluan.. aku selalu diminta untuk menunggu telpon dari papahku tanpa harus menelponnya lebih dulu..


ini menyakitiku pah.. aku hanya ingin mendengar suara papah.. apa aku tidak boleh merindukan papahku sendiri... sebenarnya pah... sebenarnya.. aku sangat sedih dan kesepiaann... aku juga ingn menghabiskan waktu bersama dengan papah.. dengan keluarga... dengan kedua orang tuaku... rasanya sakit pah selalu diabaikan.. bahkan kali ini setelah 2 tahun lamanya aku gak pernah telpon papah lagi.. dan malah dikasih atau di beri jawaban yang sama.. apa aku tidak lebih penting dari pekerjaan papah?


apakah kali ini aku juga harus menyerah untuk menghubungi papah... sakitku tak terbendung.. aku selalu di acuhkan papah.. aku dilihat jika aku menggapai suatu keberhasilan.. dan jika tidak aku selalu diacuhkan... diabaikan... dan mungkin di lupakan.. meski mamah selalu bilang


"sayang papahmu bukan lupa dan mengabaikanmu.. hanya saja.. papahmu memang benar benar terpaksa melakukannya.. kamu mengertikan sayang.. papahmu tidak bermaksud begitu.. dan jangan pernah berfikir papahmu tidak menyayangimu.. papahmu sangat sangat menyayangimu".


ucap mamah dengan lembut.. dan sebenarnya kalau papah memang tidak ingin mengabaikanku papah tidak akan pernh mengacuhkan telponku selama ini.. aku tau mamah mencoba membela papah dan meyakinkanku agar aku tidak membenci papah.. tenang saja mah.. aku gak mungkin benci sama papah.. namun tetap saja.. aku tetap sakit dan sedih..


sudah jam berapa ya??


aku pun langsung melihat ke layar handphoneku setelah tertidur lelap habis menangis. sudah jam 3.20 pm ya...


228 pesan dari kak William dan 1 panggilan tak terjawab dari papah di jam 11.00 am


"hemh.." aku pun hanya dapat tersenyum kecut melihat layar handphone ku... tapi ya sudahlah dari pada tidak sama sekali... setidaknya ini sedikit membuatku lebih baik...


setelah melihat semuanya aku langsung membalas pesan dari kak William.. dan memberitahukan pada mamah bahwa papah sempat menelponku saat aku ketiduran tadi...


hm.. sudah jam 6 sore.. lebih baik aku coba coba bikin eksperimen resep kue kering yang baru ku pelajari saja.. dari pada terus mengharapkan hal yang tidak jelas...


"fyuh... selesa sudah... okeh aku cek dulu... mandi sudah... beli masker sudah... bikin kue sudah.. oke.. sekarang tinggal rebahan dan main handhpone.."


*jam 8 malam.


tok..tok..tok... (seseorang me**ngetuk pintu)


"siapa?"


" nona...ini saya... nyonya meminta ada turun..." kata seorang pengurus rumah.


"baiklah beritahu sebentar lagi aku turun."


"baik nona."


tumben mamah minta pengurus rumah untuk memanggilku.


tak. . . . tak. . . . tak. . . .(menuruni tangga)


"Kaylie habis maskeran ya?" tanya seseorang dengan ramah saat melihatku.


". . . . ."


"papah sejak kapan pulangnya?".


"tidak lama... baru 40 menit." jawab papah dengan tersenyun...


"kenapa Kaylie tidak di beritahu saat papah datang?".


"itu karena papah ingin memberi kejutan Kaylie... makanya sebelum papah datang papah sudah meminta semua orang untuk tidak memberitahukannya pada Kaylie... ayo cepat duduk sini." pinta papah dengan senang..


aku pun duduk disamping papah.. dan membuka bungkus dari kado pemberian papah..


"Kaylie papah hebat.. dapat menjadi peringkat pertama di pararel.. luar biasa.. lain kali papah ingin mendengar Kaylie mendapatkan juara umum dan beasiswa.. Kaylie pasti bisakan?? tentu saja.. Kaylienya papah adalah gadis luar biasa yang pernah ada.." ucap papah dengan sangat bangga terhadapku..


meski terlihat biasa biasa saja dan dengan maksud tertentu.. namun sangat membuatku senang..


"hm... iya pah.. aku akan lebih berusaha lagi untuk mendapatkannya(tersenyum senang)"


"bagus bagus... kalau begitu ayo siap siap kita akan makan malam di luar."


"hem..(tersenyum senang)"


aku sangat senang dengan ajakan papah... dan aku pun juga membagi rasa senangku kepada kak William... aku memberi tahunya bahwa kami akan makan malam di restoran itali.


*aku pergi makan malam bersama orang tua ke restoran itali*


*benarkah??restoran yang ada dimana??*


*iya.. yang di XX jalan XXX*


*aku juga kesana dengan kakek.*


*sedang apa??*


*tidak ada hanya makan malam biasa dengan rekan bisnis kakek.*


*wah.. berarti akan ketemu disana... kamu juga akan ketemu dengan oran tuaku..*


*iya semoga saja... sudah dulu ya kakek memanggilku.. bye honey😙*


*😁bye*


aku pun juga langsung turun ke bawah.. dan berangkat ke tempat tujuan.


*restoran.


setelah sampai kami langsung menuju meja yang telah kami pesan..


"hari ini Kaylie harus makan banyak... untuk merayakan keberhasilan Kaylie." ucap papah dengan bangga.


aku pun tersenyum senang mendengarnya.. banyak makanan yang di pesan papah untukku.. namun tak masalah.. karena papah yang mengajak dan memilihkannya aku akan menghabiskan semuanya untuk papah...


saat makan.. aku coba melihat sekitar... kedua mataku mencoba mencari sosok yang sangat familiar bagi mataku.. yups.. itu kak William.. tak perlu waktu lama bagi mataku untuk mencarinya.. dan ku dapati ia dengan kakek dan 2 orang lainnya.. yang mungkin itu adalah rekan kakeknya seperti yang dia bilang...


sesekali mata kami saling bertemu dan membuatku tersenyum sambil menggarpu daging yang ada di piringku.


"sayang.. kenapa senyum terus dari tadi??"


"hehe.... a."


" uuppsss.. jangan dijawab... mamah tau.. kamu pasti senang karena makan malam ini kan.. dan karena papah pulangkan.. hayo.. benar tidak." goda mamah.


"hehe.. iya mah.. aku senang karena itu.. tapi ada juga yang bikin aku jadi lebih senang lagi.."


"benarkah??" tanya papah..


"iya pah.." ucapku dengan tersenyum manis..


mamah pun langsung melihatku dengan seksama.. dan mamah langsung menyadarinya..


"apakah sayangku ini sedang melihat seseorang??" tanya mamah dengan nada menggoda.


"hem. . ." mata mamah memang tajam.. mamah dapat melihat mataku yang sedang melirik ini meski kepalaku sedang tertunduk..