Annisa Zunaira

Annisa Zunaira
Kehidupan baru


Annisa Pov


Aku adalah seorang pasien di Sebuah rumah sakit cukup besar di kota ini. Saat aku terbangun ada seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan di sampingku.


Saat lelaki itu mengetahui kesadaranku, dia langsung berlari ke luar dari ruangan. Aku merasa bingung sendiri. Sungguh aku tidak mengingat apapun. Aku melihat sekeliling, banyak alat yang ada di samping ranjang yang aku tempati. Aku sakit apa? pikirku.


Tidak lama kemudian seorang dokter muda datang dengan dua perawat di sampingnya, sementara bapa yang tadi ada disampingky berdiri di paling belakang.


Dokter yang memeriksa itu sangat tampan, aku menyukainya. Aku menggelengkan kepalaku cepat. Dokter itu melihat tingkahku dan terlihat sangat khawatir.


"Apa kamu merasakan sakit di kepalamu?" tanya dokter itu panik.


Hatiku yang terasa sakit om dokter, batinku.


Aku menggeleng mencoba menormalkan perasaanku.


Dokter itu tersenyum padaku. Rasanya hatiku langsung melayang-layang di buatnya.


"Om dokter," ucapku pelan.


"Ya," jawabnya pelan.


"Apa itu adalah orang tuaku?" Aku menunjuk lelaki yang berlari dari ruangan saat tahu kesadaranku.


Dokter itu mengkerutkan dahinya.


"Nanti saya jelaskan ya, lebih baik kamu beristirahat dulu. Duduklah jika kamu merasa pegal, saya permisi."


Dokter itu menganggukan kepalanya dan keluar bersama kedua perawat yang mengikutinya sejak tadi dan lelaki itu juga mengikuti dokter itu.


Aku benar-benar tidak mengingat apapun! apa yang terjadi padaku, aku siapa mengapa aku sampai ada di tempat ini.


"Aaaaa..."


Aku memegang kepalaku, kepalaku benar-benar sangat sakit saat aku memaksa untuk mengingat semuanya.


Author Pov


Setelah memeriksa keadaan Nisa, dokter memerintahkan Bayu untuk menelpon ayah dan ibu Annisa.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Tasya dan Dicky sampai di ruangan dokter itu.


Dokter Galvin, dokter yang menangani Nisa menjelaskan dengan detail keadaan Nisa saat ini. Dokter Galvin menerangkan bahwa Annisa Zunaira saat ini mengalami amnesia dan tidak mengingat apapun. Saat Tasya dan Dicky mengatakan bahwa mereka akan mengaku sebagai orang tuanya, Galvin dengan tegas melarangnya.


Galvin mengatakan bahwa hal itu terjadi, Nisa akan berusaha mengingat dan itu tidak baik untuk otaknya.


Tasya menangis dipelukan Dicky, hatinya merasa hancur mendengar keadaan anak semata wayangnya. Selama ini dia telah menyia-nyaiakan waktunya. Tasya baru dua bulan merasa dekat dengan anaknya dan sekarang anaknya telah melupakan semuanya.


Dicky berusaha menenangkan istrinya. Sementara Bayu, masih setia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ma'af pak Dicky," ucap Galvin sopan.


Dicky langsung melihat ke arah Galvin.


"Nisa mengira bahwa pak Bayu adalah orang tuanya."


"Apa?!" Dicky merasa kaget.


Galvin pun menceritakan bagaimana awalnya Nisa menganggap Bayu adalah orang tuanya. Setelah menerima penjelasan, Dicky pun mengerti dan menyetujui Bayu untuk sementara akan berperan sebagai ayah dari Nisa, anak kandungnya sendiri.


Galvin pun meninggalkan ruangannya karena ada pasien yang membutuhkan penanganannya.


Setelah Galvin meninggalkan ruangannya, Dicky berbicara dengan Bayu di sofa ruangan itu. Dicky menitipkan anaknya pada Bayu. Bayu di berikan sebuah rumah untuk ditempati olehnya dan Nisa juga istri Bayu. Dicky tidak mungkin membiarkan Nisa hanya satu rumah dengan Bayu.


Bayu menerimanya dan akan menjadi ayah sementara bagi Nisa. Bayu sudah menyayangi Nisa seperti anaknya sendiri.


"Saya akan melihat dan memantau saja, kamu lakukan saja peranmu. Tuntun Nisa untuk mengingat semuanya, tapi jangan dipaksa. Biarkan dia mengingatnya sendiri," ucap Dicky.


Bayu mengangguk.


Kehidupan baru Nisa di mulai.


***