
Annisa memasuki rumahnya yang cukup besar. Tidak ada ayah dan ibunya, hanya ada beberapa pekerja di sana. Dia memasuki kamarnya. Setelah pintu kamar tertutup dengan sempurna, Nisa menengkurapkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran cukup besar.
Annisa merasa mulai kesepian, di usianya yang mulai memasuki usia 17 tahun Annisa merasa membutuhkam seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Mendengar keluh kesahnya. Setelah beberapa saat Annisa bangun dari posisinya. Dia menegakan duduknya. Dia memikirkan guru geografinya.
Dia berpikir, apa dia bermimpi diantar oleh gurunya dan mengatakan bahwa dia dijodohkan dengannya. Walau Annisa sedikit tidak percaya, tapi entah mengapa rasanya dia seperti senang melihat gurunya berpenampilan santai. Walau begitu sikap Arjuna tetap dingin.
"Apa benar pa Arjuna dijodohkan denganku?" tanya Annisa pada dirinya sendiri.
"Tapi pa Arjuna bilang dia sudah menyukai seseorang, hm... " Nisa memutus kalimatnya dan tersenyum.
Annisa tidak berniat untuk membatalkan perjodohannya jika itu benar, dia ingin tahu dan ingin mengenal lebih dekat gurunya itu. Entah kenapa dia merasa penasaran dengan sosok guru itu. Annisa mulai membayangkan bagaimana jika jadinya nanti dia menikah dengan Arjuna. Dia membayangkan Arjuna akan kalah olehnya dan tunduk padanya.
Annisa tersenyum sendiri dikamarnya.
Keesokan harinya
Annisa seperti biasa berangkat ke sekolah diantar oleh supirnya, Bayu. Bayu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melihat ke arah kaca yang ada di atas kepalanya.
Bayu ingin menanyakan hal yang diamanatkan oleh Dicky, ayah Annisa, Majikannya.
"Non,.." ucap Bayu ragu.
Annisa yang semula melihat ke arah jalanan seketika langsung menatap Bayu yang ada di bangku kemudi.
"Iya pak," ucap Nisa.
"Apa non Nisa tadi sudah sarapan?" tanyanya ragu.
Bayu bertugas memastikan apakah Nona mudanya sudah sarapan atau belum oleh Dicky, tuannya yang super sibuk.
"Sudah pak," jawab Nisa singkat.
Nisa kesal, mengapa bukan ayah atau ibunya yang bertanya hal semacam itu. Nisa sekarang sudah beranjak dewasa, namun di hatinya dia sangat kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Karena terkalu sibuk berkerja, Annisa pun sangat jarang berkunjung ke rumah saudaranya. Dia hanya dekat dengan saudaranya yaitu Ferdy. Itupun dia kurang akur dengannya.
Nisa menikmati perjalanan menuju sekolahnya, dia berniat akan menjadi anak yang baik agar menarik perhatian Arjuna. Nisa sudah mengerjakan tugas geografi agar tidak mendapat hukuman dari Arjuna. Nisa akan memperkecil interaksi dengan gurunya yang sudah menolak perjodohan dengannya.
30 menit kemudian, mobil Annisa sudah berhenti tepat di depan gerbang sekolahnya.
"Pa, tidak usah jemput saya ya. Hari ini saya ada kerja kelompok dulu di rumah teman, nanti Rara hubungi kalo pulang."
Bayu menganggukan kepalanya tanda mengerti perintah nona mudanya. Setelah itu, Nisa langsung turun dari mobilnya setelah berbicara pada supirnya.
Dia berpenampilan seperti biasanya. Nisa berjalan melewati deretan kelas sampai menaiki tangga untuk dapat sampai ke kelasnya. Setelah berjalan cukup melelahkan, akhirnya Nisa sampai di depan pintu kelas. Wajah jutek Nisa kini berubah dengan wajah ceria, semua anak laki-laki terheran-heran dibuatnya.
"Apa dia amnesia ya, jadi tingkahnya aneh gitu. Dia kemaren izin karna masuk rumah sakit kan?"
"Kalau menurut gue sih ya Kayanya sih dia lagi naksir cowo diantara kita."
"Sembaranga loe!"
"Kenapa? gue mau kalo jadi cewenya, dia tuh kaya bro! Anak tunggal juga, ah indahnya dunia," bisik seorang lelaki pada temannya.
"Dasar cowo matre lu!"
Begitulah gunjingan para anak siswa laki-laki di kelas Nisa yang melihat wajah Nisa yang beda dari sebelumnya.
Nisa berjalan ke arah bangkunya dan duduk bersebelahan dengan Vania. Walaupun Vania adalah teman sebangkunya, Nisa tidak begitu dekat dengan Vania. Sahabat Nisa hanya Alifa. Nisa kurang supel sehingga dia sulit mendapatkan sahabat.
Walau sedikit ragu, Nisa memberanikan diri untuk mengobrol dengan Vania. Awalnya Vania merasa aneh, tapi Vania yang supel merasa senang Nisa mengajaknya mengobrol. Mereka berdua mulai akrab dan Nisa memintanya agar menjafi sahabatnya.
Vania Lestari adalah siswa yang berasal dari keluarga sederhana, walaupun dia supel. Tapi dia merasa kurang percaya diri ketika ingin mengobrol dengan teman satu bangkunya, Annisa Zunaira. Vania terkadang merasa bahwa Nisa hanya ingin dekat dengan kalangannya saja. Tetapi setelah Vania mengobrol dengan Nisa, Vania menjadi lebih jernih pikirannya. Dia merasa Nisa tidak seperti orang yang begitu, Nisa sepertinya orangnya introvert. Vania ingat bahwa di sekolah Nisa hanya bersahabat dengab Alifa saja, sedangkan dengan teman sekelasnya yang sederajat dengan Nisa tidak.
15 menit setelah Nisa duduk di bangkunya dan mengobrol banyak dengan sahabat barunya, Vania. Guru datang dan memulai pembelajaran di kelas. Nisa mengikuti proses pembelajaran dengan fokus.
Seminggu kemudian
Nisa sedang bersiap untul pergi ke sekolah dengan semangat. Kali ini dia lebih semangat dari hari-hari sebelumnya, dia merasa bahagia entah mengapa. Apa karna ini hari dimana ada pelajaran geografi? apa Nisa senang akan bertemu dengan Arjuna?
Nisa kini sedang bercermin, dia merasa hal yang aneh dalam hatinya. Merasa bimbang dan merasa takut jika nanti bertemu dengan guru killernya. Pikiran Nisa melayang ke masa dimana saat dia baru masuk ke bangku SMS, Arjuna datang dengan suara sepatunya yang khas. Nisa tersenyum, saat-saat mengingat dirinya sering sekalu dihukum oleh guru itu.
"Apa pak Arjuna illfeel ya sama aku? makanya dia tidak mau di jodohkan denganku?" pikir Nisa.
Nisa awalnya memang takut oleh Arjuna, tapi setelah dipikir-pikir Arjuna bukan killer tapi tegas. Nisa tersenyum saat sadar bahwa dirinya terus memikirkan Arjuna. Dia merasa masa bodo walau Arjuna bilang dia sudah punya orang yang dia suka. Nisa tertarik untuk membuat Arjuna menyukainya bahkan lebih dari itu. Walau dia sedikit ragu, tapi rasa penasaran akan sosok lelaki itu lebih besar daripada rasa ragunya.
Setelah puas bercermin, Nisa melihat jam di pergelangan tangannya. Nisa melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Nisa buru-buru keluar dari kamar yang masih terlihat berantakan. Itu hal yang biasa, nanti kamarnya akan ada bibi, pembantunya yang bertugas merapikan kamarnya.
Nisa menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan. Nisa menyimpan tasnya di kursi lalu mendudukan tubuhnya di sana. Nisa sarapan hanya sendiri. Begitulah Nisa, semakin hari ayah dan ibunya semakin sibuk. Nisa merasa kesal dia menginginkan kasih sayang dari orang tuanya, tapi dia tidak mendapatkannya. Dia ingin bercerita soal Arjuna, tapi jangankan bercerita, bertemu dengan orang tuanya juga adalah hal yang sangat langka sekali.
Nisa bernafas kasar. Dia tidak mungkin menceritakan bahwa dia tertarik dengan Arjuna pada Alifa dan Vania. Nisa merasa malu.
Tidak lama kemudian, Nisa selesai sarapan dan meninggalkan meja makan. Dia langsung berjalan keluar. Di depan sudah ada Bayu yang menunggunya. Seperti biasa mengantar nona mudanya berangkat ke sekolah.
[]