
"Tampan sekali dokternya, ya ampun... senyumnya itu loh membuatku meleleh," Nisa memanyunkan bibirnya namun matanya tersenyum mengingat wajah dokter yang menanyakan keadaannya.
"Siapa ya namanya?" mata Nisa melihat ke arah jendela.
Sedangkan di depan rumah sakit telah tiba ayah Nisa.
Mobil dibukakan oleh seorang satpam, tanpa berkata apa-apa ayah Nisa masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan menuju lift. Setelah Lift terbuka, Ayah Nisa masuk ke dalam diikuti oleh Bayu. Supir pribadi Nisa.
Setelah keduanya masuk kedalam alat angkut berbentuk persegi itu, Bayu menekan tombol 3. Ya, di lantai 3 ruang perawatan Annisa berada.
"Bagaimana kamu ini, Nisa masuk rumah sakit sampai tidak tahu?!" Bayu hanya menunduk karena dia memang bersalah tidak tahu nona mudanya masuk ke rumah sakit. Tidak lama kemudian pintu lift terbuka dan Dicky langsung keluar diikuti oleh Bayu di belakangnya.
"Nisa ada di ruangan mana?" tanya Dicky tanpa melihat ke arah Bayu.
"Kamar Tujuh belas tuan," ucap Bayu.
"Kamarnya sebelah sana," Bayu menunjukan pintu kamar.
Tidak membuang waktu lama, Dicky langsung berjalan ke arah kamar yang ditunjukan oleh supir anaknya.
KLEK
Pintu terbuka dan Dicky langsung menghampiri Nisa yang sedang beristrirahat. Sedangkan Bayu menunggu di luar.
"Dia sedang tidur," Dicky mengambil sebuah kursi dan duduk di samping Nisa.
"Nak, apa kamu baik-baik saja?" gumam Dicky mengusap puncak kepala putri semata wayangnya dengan sayang.
Karena merasa ada sentuhan di kepalanya, Nisa membuka matanya perlahan dan mendapati ayahnya yang sudah ada di sampingnya.
"Ayah?!" Nisa mengkerutkan dahinya dan mengucek matanya, merasa mimpi ayahnya ada di sana, karena setahu Nisa ayahnya seharusnya sekarang sedang ada di luar kota.
Dicky mengangguk seraya berkata, "Iya ini ayah."
"Ko ayah di sini?" tanya Nisa heran.
"Ayah mengkhawatirkanmu, memangnya tidak boleh apa ayah di sini?," ucap Dicky sambil memanyunkan bibirnya.
Ya, begitulah hubungan anak dan ayah yang satu ini, seperti bukan anak dan ayah. Gaya mereka terkadang seperti seorang teman sebaya.
Sementara di luar kamar, Bayu berjalan untuk mencari informasi siapa yang membawa nona mudanya ke rumah sakit.
Di dalam kamar Perawatan Nisa.
"Apa dokternya sudah ke sini?" tanya Dicky melihat ke arah Nisa.
"Tadi sih sudah yah, belum ke sini lagi."
"Itu dokter keluarga kita."
"Sungguh ayah?" tanya Nisa berbinar.
"Mengapa kamu memasang wajah seperti itu?!" tanya Dicky heran melihat wajah anaknya yang antusias.
"Hehe," Nisa tersenyum.
Tidak lama kemudian pintu terbuka.
KLEK
Setelah pintu terbuka di sana menampilkan seorang dokter lelaki.
Sementara Bayu terus bertanya pada petugas UGD untuk mengetahui keberadaan orang yang membawa Nisa. Setelah beberapa kali bertanya pada orang yang tidak tahu, akhirnya Bayu menemukan jawaban yang dia cari.
Di kamar Nisa.
"Itu kan dokter yang menanganimu, dokter keluarga kita," Dicky menunjuk dokter yang usianya sebaya dengan ayahnya.
"Loh ko dokternya udah tua gini sih?" batin Nisa.
Dokter itu mendekati ranjang Nisa dan menyalami Dicky.
"Apa kabar orang sibuk!" dokter itu memeluk Dicky layaknya seorang teman yang sudah lama tidak bertemu.
"Haha... aku tidak sibuk," Dicky tersenyum.
"Kalo anakmu tidak masuk rumah sakit, aku yakin kamu tidak akan bertemu denganku!" ucap dokter itu.
"Kemana dokter ganteng tadi? apa aku hanya bermimpi?" pikir Nisa.
"Nisa?!" panggil Dicky.
"Iya Ada apa?!" ucap Nisa kaget.
"Kamu mikirin apa sih?" tanya Dicky kesal.
"Pangeran. hehe," Nisa nyengir tanpa ada rasa malu.
"Anakmu ini lucu ****!" ucap dokter.
"Memang sepertiku, lucu."
"Eh sekarang Nisa udah suka makan nasi belum?" tanya dokter seperti sudah mengenal lama Nisa.
"Belum, entahlah udah gede gini masih takut sama nasi. Heran aku! gimana nanti kalau punya suami." ucap Dicky sambil melirik ke arah Nisa sedangkan Nisa melototkan matanya.
"Sudah jangan perang dulu, aku akan periksa Nisa dulu!" dokter itu mendekati Nisa.
"Nisa, diperiksa dulu ya."
Nisa mengangguk. Dokter mulai memeriksa kondisi Nisa sambil bertanya sesuatu yang membuat Nisa berpikir keras.
Nisa membisu, ayah Nisa mengulang pertanyaan sang dokter.
"Iya, siapa yang membawamu ke sini Nisa?" tanya Dicky penasaran.
Hening.
"Ya, dia malah diam."
"Apa seorang pangeran yang membawamu ke sini" tanya Dicky sambil melihat ke arah mata Nisa dengan tajam.
"Terakhir kali aku sih melihat wajah Pa Arjuna sesaat sebelum pingsan."
"ARJUNA?!" tanya Dicky dan dokter itu berbarengan.
"Iya, pa Arjuna, guru Nisa di sekolah. kenapa ayah dan dokter pasang wajah kaget gitu?"
"Ah, tidak apa-apa," ucap ayah Nisa berusaha bersikap biasa saja.
Dokter lelaki itu hanya tersenyum.
"Dicky, Nisa sudah mulai membaik, tadi maag dia kambuh. Dia sepertinya makan makanan yang sangat pedas."
"Nisa, jaga kesehatanmu ya! saya permisi dulu," pamit dokter itu.
Nisa mengangguk mengizinkan.
"Ayo ke ruanganku dulu biarkan Nisa istirahat!" dokter itu berjalan ke arah pintu.
KLEK
Pintu terbuka dan dokter menghilang di balik pintu itu.
"Nisa ayah ikut ke ruangan dokter dulu ya, kamu tidak apa-apa sendiri?"
"Tak apa, pergilah."
"Hm.. anak ini!"
Dicky pun meninggalkan Nisa sendirian di kamarnya.
"Apa pa Arjuna yang membawaku ke sini?"
"Dan mengapa aku merasa dokter tampan itu nyata, dia seperti ada. Bukan mimpi. Bukan!"
Di lain tempat, Arjuna sedang beristirahat di mobilnya yang dia parkirkan di basement rumah sakit. Setelah kepergian Arsenio ke apartemennya dia memilih ke luar ruangan Arsenio.
Saat Arjuna memejamkan matanya ada yang mengetuk pintu mobilnya. Arjuna langsung membuka matanya dan membuka kaca jendela mobilnya.
"Apakah anda pa Arjuna guru dari Annisa Zunaira?"
Arjuna keluar dari mobilnya dan berdiri berhadapan dengan Bayu.
"Iya benar, ma'af anda siapa ya?"
"Saya supir dari nona Annisa."
"Oh iya, ada apa ya Pak. Oh ya, sebelumnya ma'af tadi saya langsung membawa Nisa ke rumah sakit ini," Ucap Arjuna.
"Oh ya tidak apa-apa pak, sekarang ayahnya nona Nisa sudah ada di sini. Apa bapa ingin bertemu dengannya terlebih dahulu?"
Dert.. dert...
Hp Arjuna bergetar di sakunya.
"Saya izin angkat telpon dulu ya pak?"
Bayu mengangguk memberi izin.
Arjuna menjauhi Bayu dan mulai mengangkat panggilan. Hpnya dia letakan di telinga kanan.
"Iya,..." ucap Arjuna terputus.
"......"
"Terus, saya harus ke sana sekarang?"
"...."
"Oke baiklah," Ucap Arjuna mengakhiri panggilannya.
Setelah panggilan berakhir, Arjuna kembali mendekati Bayu yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Ma'af ya, saya harus pergi karena ada perlu."
"Anda tidak mau bertemu dahulu dengan ayah Nona Nisa pak?" tanya pa Bayu.
"Sepertinya tidak bisa pak."
"Tolong sampaikan permohonan ma'af saya, sekarang saya harus segera pergi," ucap Arjuna kemudian.
"Baiklah pa, akan saya sampaikan."
"Terimakasih," Arjuna memasuki mobilnya dan menstrater mobil lalu meninggalkan parkiran itu.
Bayu melihat ke arah mobil Arjuna dengan penuh curiga.
[]