
Nisa sudah sampai di kelasnya, dia hari ini begitu antusias karena pelajaran pertama adalah pelajaran geografi. Sebenarnya Nisa bukan menunggu pelajarannya, melainkan gurunya yang killer itu. Dia bertekad tidak akan lagi membuat masalah yang berhubungan dengan Arjuna, yang dia ketahui dia akan di jodohkan dengan Arjuna.
Nisa akan berusaha menjadi seorang gadis manis dan akan mencari perhatian Arjuna, Nisa tahu Arjuna berusaha membujuknya untuk membatalkan perjodohan itu. Tapi hati Nisa tidak mau. Arjuna bilang bahwa dia telah menyukai wanita lain, itu yang membuat Nisa merubah sikap dan penampilannya. Itu hanya untuk Arjuna.
Hampir semua orang terheran-heran melihat perubahan pada diri Nisa seminggu terakhir ini. Tapi mereka tidak mau bertanya, mereka hanya diam. Asalnya Nisa bersikap kasar, bergaya sedikit tomboy dan seenaknya sekarang dia lebih menjaga sikapnya.
Mungkin pa Arjuna menolakku karena dia tahu sikapku dan sifatku selama ini, batin Nisa.
Arjuna sebenarnya baru mengajar di sekolah Nisa sejak Nisa duduk di kelas dua belas.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, bel masuk berbunyi dengan sangat nyaring.
Siswa siswi yang ada di luar kelas segera masuk ke dalam kelas, sementara Nisa sudah duduk di bangkunya 15 menit yang lalu di samping Vania sahabat barunya. Nisa sudah tidak canggung mengobrol dengan Vania, begitupun sebaliknya. Hampir semua hal Nisa ceritakan, kecuali masalah perjodohannya dengan Arjuna, guru geografi mereka.
Tidak lama kemudian pintu kelas terbuka dan masuk seorang guru perempuan ke dalam kelas dengan menenteng tas file ditangan kanannya.
"Selamat pagi semua," Ucapnya sambil berjalan ke arah meja.
"Pagi..." Jawab semua siswa serempak, tapi tidak dengan Nisa, dia heran mengapa bukan Arjuna yang masuk ke dalam kelas.
Apa jadwalnya sekarang dirubah? Atau jangan-jangan?, pikir Nisa.
"Saya guru geografi kalian sekarang, semoga kalian bisa bekerja sama dengan saya."
Semuanya terbengong, hampir semuanya tidak percaya. Guru killer mereka sungguh tidak ada sekarang, pikir mereka.
Guru perempuan itu langsung duduk di kursinya, dan mengeluarkan beberapa buku ajar. Salah seorang siswa membranikan diri mengacungkan tangannya.
"Ijin bertanya bu," ucapnya
"Iya, boleh. Silahkan, tanyakan apapun yang kalian ingin tahu nanti saya akan jawab." jawab guru itu mantap.
"Nama ibu siapa? Ko Ibu menggantikan pa Arjuna?" tanya siswa itu.
"Saya Friska, sebenarnya saya memang guru geografi di sekolah ini sebelum pa Arjuna. Karena saya melanjutkan kuliah di luar kota dan tidak memungkinkan mengajar di sini, Pa Arjuna meminta untuk mengajar di sini."
"Terus pa Arjuna sekarang kemana bu?" tanya seorang siswi penasaran.
"Oh kalo tidak salah pa Arjuna ke luar negeri sekarang."
"Kerja?" tanya Nisa membranikan diri bertanya kerena dia sangat penasaran.
"Sepertinya tidak," Friska menggelengkan kepalanya dan menatap Nisa.
"Pa Arjuna ke luar negeri karena lari dari perjodohan," Friska berdiri dari duduknya dan tersenyum.
deg
Nisa merasa sesak, usahanya sia-sia dan percuma. Hatinya bergemuruh dan matanya sudah berkaca-kaca, tapi dia menguatkan diri
"Sekarang kita langsung belajar saja ya!" ucap Friska tidak lagi memberi kesempatan siswa yang lain untuk bertanya.
Nisa merasa kacau dan tidak fokus saat belajar, pikirannya kemana-mana.
Setelah pulang sekolah, Nisa langsung pulang ke rumah. Seperti biasa, dia di jemput oleh supirnya. Nisa masuk ke dalam mobil tergesa-gesa, dia ingin segera sampai ke rumah dan menenggelamkan wajahnya di kasur.
Setelah Nisa masuk, Bayu langsung melajukan mobilnya. Dia melihat wajah nona mudanya dari spion terlihat muram, berbeda dengan pagi saat berangkat. Bayu yang penasaran brani tidak bertanya pada Nisa.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, mobil yang ditumpangi Nisa masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
BRAK
Nisa langsung masuk ke dalam rumah, seperti biasa tidak ada orang di rumah. Dia punya orang tua tapi merasa menjadi seorang yatim piatu. Nisa berlari naik ke atas tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Bayu langsung memarkirkan mobilnya dekat garasi dan masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Ningsih ART di rumah Nisa langsung melihat ke arah pintu belakang, melihat kedatangan Bayu.
"Yu, kenapa Nona muda?" tanya Ningsih penasaran.
"Ga tau?!" Bayu langsung duduk dan mengambil air putih yang ada di meja lalu meneguknya kasar.
"Mungkin si non putus dengan pacarnya," ucap Bayu asal.
"Memang nona muda punya pacar?!" tanya Ningsih mengkerutkan keningnya.
Bayu menggelengkan kepalanya karena selama ini dia tidak pernah melihat Nisa dekat apalagi membawa seorang laki-laki ke rumah.
"Sudahlah jangan kepo, uruskan urusanmu sendiri!" Bayu langsung pergi meninggalkan Ningsih di dapur.
Di kamar Nisa.
Nisa masuk ke dalam kamar dan segera mengambil ponsel dari sakunya, tas yang dia bawa dia lempar ke sembarang arah.
Dia menghubungi sesorang, pada dering pertama panggilan itu langsung di angkat.
"Pa.... Batalkan perjodohan itu, aku tidak mau!"
"Kenapa Nisa?" ucap Dicky penasaran.
"Pokonya aku tidak mau, aku ga mau tau ya pak pokonya batalkan perjodohan itu!" Nisa meninggikan nada suaranya membuat Dicky kaget di buatnya.
"Oke.. oke. baik! Akan papa batalkan," ucap Dicky yang menyadari Nisa sedang dalam mode marah.
Nisa mematikan panggilan itu dan melempar ponsel itu dengan keras.
PRANG
Tangis Nisa pecah, sedari tadi dia menahan tangisnya. Dia merasa sangat sakit hati Arjuan pergi karena lari dari perjodohan itu. Selama ini Nisa belum pernah menyukai seorang laki-laki, dan sekarang saat dia jatuh cinta pada pandangan pertama laki-laki itu menghindarinya seperti membeci dirinya.
Perasaanku bertepuk sebelah tangan?, pikir Nisa dalam sela-sela tangisnya.
Nisa kembali mengingat bagaimana Arjuna selalu memberi hukuman padanya setiap dia tidak mengerjakan tugas, Nisa tersenyum. Dia mengingat galaknya Arjuna ketika membentaknya, ketika Arjuna menarik lengannya dan segala hal tentang Arjuna.
Apa aku sejak dulu tertarik padanya, makanya aku tidak ingin menolak perjodohan itu? Nisa.
Nisa mengingat saat dia stres akan menerim hukuman spesial dari Arjuna yang ternyata berakhir di rumah sakit, Arjuna pula yang membawanya ke rumah sakit.
Nisa mengingat ketika dia bertabrakan dengan Arjuna dan Nisa terpana melihat penampilan Arjuna saat itu. Ternyata itu haru terakhir mereka bertemu.
Sekarang aku tidak tahu pa Arjuna dimana? bisakah aku melupakannya? pikir Nisa.
"Pa Arjuna telah menolakku dan aku harus menerima, jangan sampai ayah tau dia menolakku. Akupun sekarang sudah menolak dan meminta membatalkan perjodohan itu," Nisa menghapus air matanya.
"Aku tidak mau lagi mengingatmu PAK AR JU NA!" Nisa bangkit dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi.
[]