Annisa Zunaira

Annisa Zunaira
Annisa Zunaira


Annisa Zunaira, seorang anak tunggal dari keluarga Airlangga. Ayahnya Dicky Airlangga seorang pengusaha sukses dibidang Properti dan ibunya adalah Tasya Tsania seorang Desainer ternama di kotanya.


Annisa Zunaira, tumbuh menjadi anak yang cerdas walau sedikit ceroboh. Dia bergaya tomboy, pemberani dan dia cenderung galak.


Annisa mempunyai badan tidak terlalu tinggi, tingginya 150 cm, hidungnya tidak terlalu mancung, berkulit sawo matang. Dia cuek soal penampilan. Jika teman-temannya suka berdandan, lain halnya dengan Annisa. Annisa yang lebih akrab di panggil Nisa tidak suka berdandan.


Walaupun Ayah ibunya sibuk, Nisa tidak pernah mempermasalahkannya. Karena seminggu sekali ayah ibunya selalu meluangkan waktu untuk bersamanya sejak kecil. Ayahnya memberi Nisa seorang supir sedari dia sekolah TK, supir itu setia pada keluarga Airlangga yaitu pa Bayu.


Pak Bayu, menjadi supir Annisa Zunaira sejak usianya 25 tahun ketika itu mulai masuk TK yaitu saat usia 5 tahun. Pak Bayu sudah Fathia anggap sebagai pamannya sendiri.


šŸšŸšŸ


Pak Bayu, membuka pintu mobil penumpang untuk nona mudanya Aniisa Zunaira.


Nisa masuk dengan pakaian khas anak SMA, memakai baju putih rok abu abu panjang dan tas Ransel yang hanya di sampirkan ke satu bahunya. Tangan Nisa memegang sandwich untuk sarapan karena hari ini dia bangun kesiangan.


"Terima kasih pa," Nisa tersenyum pada pa Bayu dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Pa Bayu menutup pintu mobil dan berputar menuju kursi kemudi.


Langit berwarna biru, cerah. Nisa menggigit sandwich di tangannya sambil melihat ke luarĀ  jendela.


"Ya ampun! hari ini kan ada tugas guru super killer! aku lupa ga ngerjain tugasnya. bagaimana ini?," batin Nisa


Nisa gelisah di dalam mobil, dia ingin segera sampai ke kelasnya dan mencari jawaban dari teman yang lain. Dia tidak sanggup jika harus dihukum oleh guru super killer itu.


"Pa, tolong cepat ya! Aira lupa belum ngerjain tugas guru Geografi!," Nisa menepuk bahu supirnya.


Aira adalah panggilan Nisa di rumahnya, mulai dari ayah, ibu, pak supir sampai semua pekerja di rumahnya memanggilnya Aira.


"Iya non," pa Bayu mengangguk dan langsung meningkatkan kecepatan mobilnya. Karena, suasana masih pagi, jadi kendaraan di jalan raya belum terlalu ramai.


"Ah si non ini, hampir setiap hari tugas lupa di kerjakan," batin pa Bayu.


Tidak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Nisa berhenti tepat didepan gerbang sekolahnya. Nisa langsungĀ  keluar dari mobil dan berlari menuju kelasnya yang berada di lantai dua.


"Ah kenapa coba sekolah segede gini ga ada lift. aku kan jadi harus lari-lari naik tangga," gerutu Nisa.


Nisa melirik jam di tangannya. Jam sudah menunjukan pukul 06.35.


"25 menit lagi bel masuk. haduh... alamat aku akan dihukum ini!," batin Nisa.


Nisa masuk ke dalam kelas dan dia melihat hampir semua temannya sudah hadir dengan keramaian menyalin tugas sang guru killer yang ditakutkan siswa kelas dua belas itu.


Nisa menghampiri orang terpintar di kelasnya.


"Pinjam buku tugas geografimu!," Nisa memandang Moreno, sang rengking 1 di kelas saingan Nisa.


"Ada di Adit," Moreno menunjuk adit yang sedang sibuk mencatat tugas itu


Nisa berjalan ke bangku yang di duduk oleh aditya, setelah Nisa ada di depan Adit, Nisa dmengambil buku Moreno di meja Adit dengan cepat.


"Aku dulu yang nyalin!," Nisa berlalu duduk di bangkunya dan langsung menyalin tugas geografinya.


"Dasar Preman kelas, padahal aku cuma sedikit lagi sudah main rebut. Menyebalkan! Kalo aku memprotes keinginannya, bisa-bisa aku dipukul olehnya," batin Adit.


Nisa langsung bergegas pergi ke tempat duduknya. Dia langsung menyalin tugas geografi dibukunya dari buku Reno. Nisa sangat fokus dengan apa yang dilakukannya, sampai-sampai dia tidak menyadari keadaan kelas yang semua ramai menjadi sunyi.


"Ah masa bodo, aku harus selesaikan tugas ini biar ga di hukum lagi sama guru nyebelin itu. pa Juna, kali ini aku tak akan menerima hukuman darimu," Nisa tersenyum.


Arjuna adalah guru baru geografi di sekolahnya. Saat Nisa naik kelas ke kelas dua belas, Arjuna hadir dengan sikap ketegasannya.


Bermacam hukuman telah di terimanya. Mulai dari berdiri di depan kelas, lari mengelilingi lapang sampai membawakan buku tugas seluruh siswa dikelasnya ke meja Pa Arjuna.


"Hadeuh! Apa jadinya kalo aku sekarang tidak menegerjakan tugas lagi!,"Ā  bisik Nisa sambil menepok jidatnya pelan.


Nisa tidak menyadari guru yang ditakutinya sudah ada dibelakangnya.


Siswa yang lain hanya bisa duduk diam tanpa bergerak sedikitpun, Nisa masih sibuk denganĀ  kegiatannya.


"Ah, Satu nomor lagi. Sepertinya kali ini aku akan selamat dari hukuman," batin Nisa


Baru saja Nisa menulis nomor, suara deheman mengagetkannya


"Ehm!,"Ā  Pa Juna melihat kegiatan yang dilakukan Nisa.


"Loh ko. itu kaya suara pa Juna nyebelin ya. perasaan dari tadi Bel tanda masuk belum terdengar," pikir Nisa.


Nisa melirik jam di pergelangan tangannya.


"Mati aku! kenapa aku tidak menyadari sekarang sudah jam 07.05!," Nisa menepok jodatnya kesal.


Nisa perlahan melirik ke arah belakang, dan dia refleks tersenyum pada pak Juna.


"Eh... bapa," Nisa nyengir pada Juna dan tangannya menutup buku Moreno dan buku dirinya.


"Sedang apa kamu? Menyalin tugas?" Juna mengambil buku di meja Nisa dan membuka-buka 2 buku itu.


"Kamu!," jari telunjuk Juna menunjuk wajah Nisa.


"Ke ruang guru sepulang sekolah, temui saya. Saya akan memberikan hukuman spesial untukmu!," Juna maju ke depan kelas dan menyiapkan segala sesuatu untuk dia mengajar di kelas Nisa.


Sementara Nisa bengong di kursinya sambil memandang gerak gerik guru geografinya. Arjuna.


"Hukuman spesial? ko aku jadi takut ya? apa yang akan dia lakukan padaku? Biasanya kan kalo memberi hukuman langsung. Apa jangan-jangan karena aku selalu tidak mengerjakan tugasnya, lalu dia kesal dan akan membunuhku? Tidak Tidak! Apa aku akan dia jadikan pembantu?? Aaaaaaah aku tidak mau!," batin Nisa.


Nisa memegang kepalanya. Nisa merasa begitu pusing memikirkan apa hukuman yang akan gurunya berikan.


"Kumpulkan tugas kalian di depan!," Arjuna memberi perintah.


Saat Arjuna menunduk ke bawah meja karena pulpennya terjatuh. Nisa melemparkan buku Moreno kepada sang Pemilik.


Semua siswa mengumpulkan tugas geografi ke meja Arjuna, kecuali Nisa.


Nisa melototkan matanya kepada Marcel karena Marcel menjulurkan lidahnya pada Nisa, tanda meledek.


TET... TET... TEEEEET


Bell istirahat berbunyi.


Marcel langsung lari keluar kelas, takut di terkam oleh preman kelas. Annisa Zunaira.


sementara Nisa enggan keluar kelas, dirinya merasa gelisah.


"Apa hukuman yang akan diberikan guru Killer itu padaku?," pikir Nisa.


[]