
Nisa bangkit dari duduknya dan mulai berjalan ke luar kelas. Saat di ambang pintu, ada seseorang yang memegang pundaknya dari belakang.
"Hei!!!" Ucap Alifa mengangetkan.
Nisa langsung menoleh dan menyentil dahi sahabatnya karena kesal.
"Mengagetkan saja!" Nisa melototkan matanya penuh kekesalan pada Alifa. Sedangkan Alifa mengusap-ngusap dahinya yang merasakan sakit akibat ulah Nisa.
"Ayo, cepatlah kita ke kantin. Aku sudah lapar sekali," Nisa mulai berjalan ke arah kantin di ikuti oleh Alifa sahabatnya.
Tidak lama kemudian Nisa dan Alifa sudah ada di area kantin. Siang itu suasana kantin cukup ramai, Nisa menengok kanan kiri melihat sekitar untuk mencari bangku yang kosong. Lain halnya dengan Alifa, mata sahabat Nisa yang doyan makan itu malah sibuk mencari menu makanan baru yang sekiranya akan dia pesan. Setelah matanya menyapu seluruh area kantin, Nisa menemukan bangku yang masih kosong.
"Kita duduk di sana saja!" ucap Nisa. Tapi, Nisa tidak mendapatkan respon dari Alifa membuat dia menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Ya Ampun Alifa!" bentak Nisa.
"Kenapa?" Alifa menoleh dan bertanya santai, karena dia tau jika sahabatnya ini sukanya ngebentak-bentak jika bersuara.
"Malah liatin makanan!"
Alifa nyengir kuda.
"Ya sudah kamu duduk saja, nanti aku pesankan makanan kamu Ra," ucap Alifa.
Nisa mengangguk.
"Pesananku seperti biasa ya!, aku duduk di sana," Nisa menunjuk bangku kosong yang ada dipojok ruangan area kantin sekolah.
"Oke!" Ucap Alifa, dia berlalu ke stand stand makanan kantin. Sedangkan Nisa melenggang ke arah bangku kosong yang sudah dia pilih.
Saat Nisa akan duduk dia bertabrakan dengan seseorang.
BUGH
Nisa dengan orang itu langsung saling berpandangan. Dan orang itu langsung menoyor kepala Nisa.
"Kalau jalan pake mata Ra!" bentak orang itu sambil mendudukan tubuhnya di kursi Nisa tuju.
"Menyebalkan!" Nisa mendudukan tubuhnya di samping Kaka sepupunya Ferdy Satria Putra.
"Pindah sana, aku sudah ingin duduk di sini hanya berdua dengan Alifa!" Nisa mengusir Ferdy sambil mengibaskan tangannya.
"Enggak lah! Ingat ya aku kaka sepupumu!" Ucap Ferdy sambil mengangkat satu sudut bibirnya.
Nisa cemberut melihat ke arah wajah Ferdy.
Ferdy Satria Putra, anak dari kaka ibu Nisa. Dia adalah siswa kelas XII yang sebentar lagi akan lulus sama dengan Nisa. Ferdy merupakan siswa populer di sekolahnya, banyak siswi yang mengincarnya. Dia player, suka bergonta ganti pacar semaunya. Ferdy paling lama berpacaran hanya dalam 2 bulan.
Tidak lama kemudian Alifa datang dengan membawa nampan berisi makanan untuknya dan Alifa terkesima ada Ferdy di sana, lelaki yang di sukai diam-diam.
"Sini Alifa!" Nisa melambaikan tangannya ke arah Alifa.
Alifa mendekat ke arah Nisa dan duduk dihadapan Nisa. Alifa mencoba mengontrol perasaannya agar tidak terlihat salah tingkah dihadapan lelaki yang dia sukai.
"Ini pesananmu," Alifa menyerahkan semangkok Bakso mercon ke hadapan Nisa dengan segelas jus sirsak.
Nisa mendekatkan mangkok dan gelasnya kehadapannya. Sedangkan Ferdy diam-diam melihat gerakan yang dilakukan Alifa dengan sudut ekor matanya. Alifa mulai mendekatkan mangkok baksonya dan jus green tea ke hadapannya.
"Fer!" teriak teman-teman Ferdy.
Ferdy yang mendengar namanya di panggil seketika menengok ke arah sumber suara.
"Aku pergi dulu!" Ferdy berdiri dan memakan bakso Nisa yang kecil sebanyak 3 biji. Membuat si empunya bakso melotot dibuatnya, belum puas dengan memakan bakso milik Nisa. Ferdy pun menyeruput jus sirsak milik sepupunya itu.
"Pergilah sana yang jauh!" Nisa memukul kaki sepupunya dan Ferdy pun berlari meninggalkan Nisa dan Alifa.
Alifa yang sudah tahu Nisa dan Ferdy saudara dan jarang akur tidak berkomentar apapun.
"Dasar memang menyebalkan dia itu!" gerutu Nisa.
"Aku heran mengapa banyak wanita yang menyukainya, dia jahil, sangat merepotkan juga menyebalkan!" Nisa mulai mengambil sambal dan menuangkannya ke mangkuk baksonya. Alifa yang melihat Nisa menggelengkan kepalanya.
"Raaaaa," ucap Alifa.
"Kenapa?" Nisa melihat ke arah Alifa setelah menyimpan botol sambal ke tempat semula.
"Itu bakso mercon Ra, kamu tambah sambal segitu banyaknya? itu di dalam bakso juga isinya cabe," jelas Alifa.
"Biarlah, aku pusing memikirkan Pa Juna galak," Nisa mulai mengaduk baksonya.
"Aku gatau apa yang akan dilakukannya padaku."
"Dia bilang dia akan memberikan hukuman spesial," ucap Nisa dengan lemas.
"Memang kamu berbuat masalah apalagi sih Ra,"
"Ketahuan nyalin tugas di kelas," Nisa terkekeh.
"Gilaaaaaaa, ada ada saja kamu Ra! ayo kita makan dulu saja!"
Nisa dan Alifa memakan bakso mereka dengan lahap, Nisa dengan bakso mercon lengkap dengan sambalnya yang penuh berbanding terbalik dengan mangkok bakso Alifa yang bening tanpa sambal sedikitpun.
Setelah selesai makan, mereka langsung kembali ke kelas masing-masing.
Nisa dan Alifa sebenarnya teman sebangku sejak mereka TK tapi saat SMA mereka berbeda kelas. Walaupun begitu Nisa hanya bisa dekat dengan Alifa, karena hanya Alifa yang tahu kekurangannya. Nisa tidak ingin orang lain tahu kekurangannya.
Setelah bel masuk berbunyi Nisa mengikuti pelajaran dengan kurang konsentrasi karena perutnya merasa panas akibat makan bakso terlalu pedas. Beberapa kali Nisa izin keluar untuk ke toilet.
Nisa menahan rasa sakit di perutnya sampai bel pulang berbunyi.
TEEEET TEEEEEET
Satu persatu siswa keluar dari kelasnya.
Hanya tinggal Nisa di kelas. Nisa merasa lemas dan setelah di rasa perutnya mulai tidak terlalu sakit, dia berjalan perlahan keluar kelas.
Sekolah mulai sepi karena hampir semua siswa telah meninggalkan lingkungan sekolah.
Nisa yang masih ingat di perintahkan untuk menemui pa Arjuna berjalan menuju ruang guru dengan keringat bercucuran.
Di tempat lain
Arjuna sedang menunggu Nisa di ruangannya.
"Kemana anak itu, mengapa sampai sekarang belum datang juga kesini!" Arjuna mulai bangun dari duduknya dan mondar mandir di dekat mejanya.
10 menit kemudian
"Pa...," ucap Nisa lemah saat sudah ada di ambang pintu.
Arjuna langsung menoleh ke sumber suara.
Arjuna yang melihat kondisi Nisa yang buruk langsung menghampirinya dengan setengah berlari.
"Kamu kenapa?" tanya Juna khawatir.
"Ga apa-apa pak," jawab Nisa datar.
"Apa hukuman yang akan bapa berikan? cepatlah," tanya Nisa tidak sabar.
"Lebih baik kamu duduk saja dulu!" perintah Arjuna kepada Nisa.
Nisa pun dituntun ke arah sofa di ruangan guru oleh Arjuna, Nisa tidak mampu menolak karena saat itu dia mulai merasa kondisi tubuhnya drop dan tidak bertenaga.
Setengah jam lalu semua guru sudah membubarkan diri kecuali Arjuna yang sudah menyiapkan hukuman spesial untuk muridnya yang selalu membuatnya kesal. Annisa Zunaira.
Dimata Arjuna Annisa adalah murid yang tidak menarik, jauh dari kata wanita idamannya.
Saat Nisa akan mendudukan tubuhnya di sofa.
BUGH...
Nisa jatuh pingsan ke lantai.
"Ya Ampun, kenapa aku merasa aku yang di hukum olehnya!" batin Arjuna
"Menyusahkan!" gerutu Arjuna.
[]