Annisa Zunaira

Annisa Zunaira
Menjadi Orang Sederhana


Nisa mendudukan tubuhnya di atas ranjang perawatan, dia sungguh sangat merasa pegal terus berbaring di sana. Tidak lama kemudian Bayu datang dengan dokter Galvin di sampingnya.


"Dokter, apa saja baik-baik saja?" tanya Nisa saat dokter sudah ada disampingnya.


"Baik, tapi kamu belum boleh pulang ya Nisa. Kamu harus bisa menyesuaikan diru dulu, belajar berjalan di sini."


"Belajar jalan?" Nisa mengkerutkan keningnya.


Sekarang sudah tidak ada peralatan medis yang menempel di tubuh Annisa. Dia belum tahu keadaan dia sebenarnya selama ini.


"Kamu sudah koma, kamu baru sadar selama 2 bulan," ucap dokter.


Bayu mendekati Nisa.


"Apa itu benar?" tanya Nisa melihat ke arah Bayu, Bayu mengangguk.


"Ya Allah, Alhamdulilah Engkau masih memberi kesempatan hidup kedua untukku." Nisa mengusap wajahnya pelan.


Setelah memberi penjelasan, dokter Galvin kembali ke ruangannya. Bayi masih ada di ruangan Nisa. Dia harus mulai terbiasa berperan menjadi ayah dari nona mudanya sendiri.


Di tempat lain


Dicky sedang mengontrol sebuah rumah yang akan dibeli untuk Annisa tinggali. Bayu meminta rumah yang sederhana, karena dulu Nisa pernah berkata ingin mencoba menjadi orang yang sederhana. Dicky menuruti apa yang dikatakan supir peribadi anaknya itu, bagaimanapun Bayu sudah menjadi sulir Nisa sejak Nisa duduk di Taman Kanak-kanak.


Setelah mengecek seluruh ruangan, Dicky jadi membeli rumah itu. Listrik, air dan lingkungannya aman untuk anaknya. Rumahnya sederhana namun sangat terawat. Ruamh itu memang baru beberapa hari ditinggal pemiliknya karena pindah rumah ke luar kota.


Dicky menyuruh orangnya untuk mengisi perabotan untuk anaknya, di temani oleh istri Bayu. Istri Bayu bernama Dalilah. Dia akan lebih tahu barang apa saja yang cocok untuk ditempatkan di rumah itu, di rumah yang akan mereka tinggali.


Bayu dan Dalilah mempunyai seorang putri yang masih duduk di sekolah dasar, anak bayi dan Dalillah bernama Hasna. Hasna juga akan tinggal bersama Annisa sebagai adiknya. Hasna adalah anak pintar dan cerdas, saat dia diberi tahu apa yang terjadi pada Annisa, dia langsung paham dan mengerti apa yang harus dia lakukan nanti.


Dalilah sibuk mengatur rumah baru yang akan keluarga dan Annisa tempati. Dia harus menciptakan suasana rumah nyaman untuk nona muda suaminya itu.


Di Rumah Sakit


Bayu bicara begitu meyakinkan, karena saat di ruangan dokter dia terus berlatih dan mengucapkan apapun yang tidak jauh Annisa akan tanyakan padanya. Dan benar saja, Annisa menanyakan perihal keberadaan ibunya.


"Oh jadi aku punya adik pa?" tanya Nisa Antusias.


"Ya, namanya Hasna."


Nisa tersenyum.


"Tapi mengapa Nisa tidak mengingat apapun ya pa?" tanya Annisa mulai menerawang.


"Apa aku amnesia? Hilang ingatan?"


Bayu mengangguk membenarkan perkataan Nisa.


"Siapa nama lengkapku pa?"


"Annisa Zunaira," ucap Bayu.


"Annisa Zunaira?" ucap Nisa pelan.


Nisa mecoba mengingat tentang namanya, dia berharap mengingat sesuatu. Tapi, semakin dia mengingat, semakin sakit kepalanya.


Nisa memegang kepalanya karena merasa sakit.


"Nisa, sudah. Jangan memaksa mengingat, nanti juga kamu akan mengingatnya. Bapa tidak akan memaksa kamu akan mengingat semuanya. Karena itu tidak baik untukmu."


Nisa diam, hening. Tidak ada suara apapun di ruangan itu.


[]


Like 👍 dan komemtarnya jangan lupa sayang-sayangku 😍