
Arjuna menengok ke arah kanan dan kiri tidak ada seorangpun di sana. Juna berlari ke arah pintu saat di liat ke sekeliling, nihil. Semua orang sepertinya sudah pulang.
Arjuna langsung berjalan lagi dan berusaha menyadarkan Nisa kembali, tetapi Nisa tidak kunjung sadar. Juna melihat ke arah wajah Nisa, beberapa keringat sudah membasahi dahi muridnya itu.
"Sepertinya aku harus membawanya ke rumah sakit," gumam Arjuna.
Arjuna pun mengangkat tubuh Nisa dan berjalan ke arah parkiran dimana mobilnya di simpan di pojok parkiran. Kebetulan di sana ada satpam.
"Pa, ma'af tolong bukakan pintu mobil saya!" ucap Juna pada seorang satpam.
Satpam itu, dengan sigap mengambil pintu mobil itu, saat mengambil kunci mobil Juna, satpam itu melihat ke arah siswi yang ada di pangkuan Arjuna.
"Non Nisa?" ucap satpam itu mengkerutkan dahinya.
"Kenapa dia pak Juna?" tanya satpam itu tidak sabar.
"Bukakan dulu pintu mobil saya, berat ini!"
Satpam itu dengan sigap langsung membukakan pintu mobil Arjuna, pa satpam membuka pintu mobil depan Arjuna dengan lebar. Setelah pintu terbuka, Arjuna menidurkan Nisa dan membuat kursinya ke belakang, sehingga Nisa sekarang sudah dalam keadaan setengah berbaring.
Setelah memposisikan Nisa, Arjuna menghampiri pak satpam yang sedari tadi penasaran tentang apa yang terjadi pada Nisa.
"Pa, kenapa Nisa?"
"Saya juga kurang tahu, dia pingsan dan tak sadarkan diri."
"Terus bapa mau membawanya kemana?" tanya satpam.
"Ke rumah sakit. Saya pergi dulu," Juna berjalan cepat ke arah pintu mobil dan duduk di bangku kemudi. Setelah masuk ke dalam mobil, Juna langsung menstarter mobilnya dan melanjukan mobilnya ke arah rumah sakit.
Saat di perjalanan ke rumah sakit, Arjuna menelpon seseorang. Tidak lama kemudian dia menyimpan kembali Hp nya.
Arjuna memperhatikan wajah Nisa semakin memucat.
"Apa yang terjadi pada kamu Nisa, kamu membuat susah saya saja!" wajah Arjuna kesal.
15 meit kemudian, mobil sudah masuk ke area rumah sakit. Saat mobil Arjuna sudah ada di depan pintu rumah sakit, di sana sudah ada blangkar. Sepertinya pihak rumah sakit sudah tahu kedatangan Arjuna dan Nisa.
Di sisi balangkar sudah itu ada 2 orang perawat lelaki yang siap mendorong pasien.
Arjuna langsung keluar dari mobil. Satpam yang tidak jauh dari sana mendekati mobil Arjuna dan membukakan pintu mobil Arjuna, Juna langsung mengangkat tubuh Nisa dan memindahkannya ke blangkar.
Saat tubuh Nisa sudah terbaring dengan sempurna, Arjuna melemparkan kunci mobilnya kepada satpam yang membukakan pintu mobil.
"Parkirkan mobil saya di tempat biasa!" Perintah Arjuna.
Blangkar sudah di dorong oleh kedua perawat dan di ikuti oleh Arjuna dibelakangnya, Arjuna berjalan cepat ke arah UGD mengikuti laju blangkar.
Saat belangkar yang dinaiki Nisa datangx seorang lelaki seusia Arjuna menghampiri Arjuna dan mengikuti belangkatbitu sampai masuk IGD. Satu suster ada di pintu masuk UGD langsung memakaikan jas dokter di tubuh dokter muda itu. Suster itu juga memberikan stetoskop kepada dokter.
Dua orang perawat itu sudah memposisikan blngkar Nisa dan dokter muda itu mulai mendekatinya.
Dokter mulai memeriksa Nisa. Matanya terlihat serius, satu orang perawat memasang jarum infus di tangan kanan Nisa. Satu orang lagi memegang papan jalan dengan kertas menempel di atasnya, perawat itu memegang pulpen siap menuliskan apa yang akan di katakan dokter.
Setelah di rasa cukup memeriksa, dokter pergi meninggalkan Nisa di ruangan itu setelah memerintahkan dua orang perawat lelaki untuk memindahkan Nisa ke ruangan VVIP.
Arjuna mengikuti dokter itu keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan muridku?" Arjuna berjalan mengekori dokter itu.
"Oh itu muridmu bro!" dokter itu menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Arjuna.
"Loe kira siapa?"
"Pacar loe," dokter itu menepuk pundak Arjuna.
"Dia bukan tipe gue, sorry!" ucap Arjuna sinis.
Dokter muda itu menggelengkan kepalanya dan mulai masuk ke ruangan kerjanya diikuti oleh Arjuna.
***
Di tempat lain ayah Nisa yang sedang di luar kota untuk menemui clientnya terpaksa membatalkan jadwal pertemuannya karena menerima kabar bahwa putri semata wayangnya masuk ke rumah sakit.
Mata ayah Nisa terlihat cemas memikirkan apa yang terjadi pada putrinya.
Dert.. Dert..
Getaran hp dari saku jasnya terdengar dan langsung di ambil oleh ayah Nisa.
"Iya ma," ucap ayah Dicky Airlangga ayah Nisa.
"Papa sudah di perjalanan menuju rumah sakit," jawab Pa Dicky.
"Mama ga usah khawatir, mama tahu kan siapa yang menangani Nisa di rumah sakit?"
Tasya Tsania menganggukan kepalanya walau dia tahu suaminya tidak mungkin tau gerakannya.
"Iya mama tahu, tapi mama tetap khawatir pa. Mama ga bisa pulang ke indo hari ini. hiks" Tasya terdengar menangis di ujung telepon.
Tasya Tsania sedang ada pertemuan dengan rekan bisnisnya di luar negeri, dia tidak bisa membatalkannya karena pertemuannya sedang berlangsung.
Semoga Nisa baik-baik saja. pikir Tasya.
"Ma, nanti papa kabari lagi ya!"
"Iya."
Panggilanpun terputus.
***
Ruangan dokter.
Arjuna sedang berbincang dengan Arsen, dokter muda yang memeriksa Nisa. Arsenio Mahendra, adalah sepupu dari Arjuna.
Saat mereka sedang mengobrol, telepon di meja Arsen berbunyi sangat nyaring. Arsen segera berjalan ke arah meja kerjanya dan mengangkat panggilan itu.
"Pa, Nisa sudah sadar." terdengar suara seorang perawat wanita dari sebrang telepon.
"iya, saya akan segera ke sana!"
"Loe mau ikut ga bro!" tanya Arsen yang masih sibuk meminum minumannya di atas sofa dengan santai.
"Ga, loe aja yang periksa dan bereskan semuanya," ucap Arjuna.
Arsen menggelengkan kepalanya dan segera berlalu dari sana.
Untunglah ruangan VVIP dekat dengan ruanganku, pikir Arsen.
Nisa sudah mendudukan tubuhnya di atas blangkar perawatan.
"Kenapa aku di sini? Siapa yang membawaku ke sini?" ucap Nisa.
Ceklek. Pintu terbuka.
Arsen masuk ke dalam ruangan dan menutup kembali pintu kamar tersebut.
"Nisa, apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Hallo..." sapa Arsenio sambil melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah Nisa yang terlihat terpesona melihat wajahnya.
"Oh iya pak dokter, ma'af."
"Apa yang kamu rasakan sekarang Nisa?" tanya Arsenio sambil mengecek cairan infus yang mengalir ke tangan Nisa.
"Tadi perut saya terasa panas dok," jawab Nisa jujur.
"Eh ko dokter tahu nama saya?"
Arsenio tersenyum melihat ke arah Nisa, Nisa yang melihat senyum Arsen merasa senang dan malu sendiri. Nisa segera menundukan wajahnya karena takut ketahuan.
"Dari kartu pelajar yang ada di tasmu," jawab Arsenio sekenanya. Karena sebenarnya dia tidak pernah melihat kartu pelajar milik Nisa.
"Beristirahatlah, maag kamu kambuh. Saya ingatkan kamu jangan terlalu banyak makan pedas ya."
Nisa mengangguk mendengarkan pesan dokternya.
"Saya permisi," pamit Arsenio.
"Terimakasih dokter," Nisa tersenyum.
Arsenio mengangguk dan meninggalkan Nisa di ruangannya untuk menemui Arjuna.
Sedangkan di kamar perawatan, Nisa tersenyum ke arah pintu.
"Tampan sekali dokternya, ya ampun... senyumnya itu loh membuatku meleleh," Nisa memanyunkan bibirnya namun matanya tersenyum mengingat wajah dokter yang menanyakan keadaannya.
"Dia benar-benar mirip dengan pa Arjuna, ah andai pa Arjuna juga bisa senyum seperti itu." pikir Nisa.
[]