
Setelah perjodohan di batalkan, Annisa kembali beraktifitas seperti biasa. Ayah dan ibunya kini lebih banyak di rumah dan meluangkan waktunya untu Nisa. Karena sebenarnya mereka juga sebenarnya sudah tahu, bahwa Arjuna pergi ke luar negeri untuk menghindari perjodohan dengan Annisa.
Pagi itu, keluarga Annisa sudah siap untuk sarapan. Ayah dan ibunya sudah ada di meja makan, jam sudah menunjukan pukul enam pagi tapi Nisa belum juga dari kamarnya.
"Bi, tolong panggilkan Nisa," pinta Dicky.
"Baik tuan," Ningsih mundur dan melangkah ke arah tangga.
Tidak lama kemudian, Ningsih sudah berada di depan pintu kamar Nisa. Ningsih langsung mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
Tidak ada sahutan. Beberapa kali Ningsig mengetuk pintu, tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam. Karena penasaran, Ningsih masuk ke dalam kamar.
Saat pintu kamar terbuka, Ningsih kaget karena Nisa belum bangun sedangkan jam sudah menunjukkan pukul enam pagi lebih.
Ningsih langsung menghampiri Nisa.
"Non, bangun... sudah pagi"
Tidak ada reaksi, Ningsih memegang tangan Nisa perlahan.
"Non bangun, sudah siang. Apa sekolah non Libur?" ucap Ningsih lumayan keras.
"Apa?!"
Nisa langsung bangun dari tidurnya dan melihat ke arah jam. Tanpa ba bi bu Nisa langsung berlari ke arah kamar mandi.
"Hati-hati non!"
Setelah melihat Nisa masuk ke kamar mandi Ningsih kembali turun untuk menemui tuan dan nyonya mudanya yang sudah dua bulan terakhir ini sudah ada di rumah.
Sesampainya di ruang makan. Dicky bertanya keberadaan Nisa, Ningsih menjelaskan kepada Tuannya bahwa Nisa baru bangun dan sekarang sedang mandi.
"Ya Sudah, bibi kembali saja," ucap Dicky.
Ningsih mundur dan kembali ke dapur.
"Kita makan duluan Ma," ucap Dicky pada Tasya, istrinya.
Tasya langsung mengambilkan roti bakar dan diberi selai kacang lalu diletakan di piring suaminya.
Tasya gatal ingin membahas Arjuna pada suaminya.
Mumpung Nisa belum turun, aku tanyakan sekarang saja, pikir Tasya.
Dicky mulai melahap roti bakarnya. Sementara Tasya masih sibuk mengolehkan slai coklat ke dalam rotinya.
"Pa, sebenarnya Juna kemana sih?" bisik Tasya.
Dicky melirik ke arah tangga dan langsung meneguk susu yang ada di gelas.
"Kenapa mama nanyain dia, gimana kalau Nisa dengar?"
"Mama hanya ingin tahu saja pa."
"Dia ke luar negeri, biarlah. Jangan bahas dia lagi, Nisa juga masa depannya masih panjang."
Tidak lama kemudian Nisa datang dengan berlari-lari.
"Ma, roti ma!"
Tasya langsung menyodorkan roti yang sudah dia siapkan untuk Nisa.
"Ma, sepertinya Nisa akan terlambat jika sarapan di sini. Nisa berangkat sekarang saja ya!" ucap Nisa.
"Minum dulu sususnya!" perintah Dicky.
Nisa langsung meneguk susu yang ada di dekatnya hingga tidak tersisa.
"Nisa pergi dulu!" Nisa pergi setelah mencium kening ibu dan ayahnya.
Tasya tersenyum melihat tingkah anaknya yang sebentar lagi akan menginjak kelas 3 SMA.
Nisa berlari ke luar rumah, Bayu sudah membuka pintu untuk nona mudanya. Setelah Nisa masuk, Bayu langsung berlari ke kursi pengemudi. Bayu sudah tahu Nisa kesiangan.
Tasya tidak sengaja menyenggol gelas di sampingnya.
PRAAAANG
"Ma, hati-hati dong," ucap Dicky.
"Pa, apa jangan-jangan ini petanda tidak baik ya?" ucap Tasya dengan khawatir.
"Ah mama jangan mikir macam-macam!"
Tanpa di beri aba-aba, Bayu langsung melajukan mobilnya.
"Pa, pakai jalan alternatif saja ya biar cepat sampai."
"Baik non," ucap Bayu.
Saat menyetir bayu tersenyum. Bayu merasa senang karena sudah dua bulan terakhir ini Nisa terlihat sangat bahagia karena orang tuanya selalu ada di rumah. Sejal kecil Nisa memang kekurangan kasih sayang orang tua karena orang tua Nisa sibuk bekerja. Bayu yang sudah bekerja sejak Nisa duduk dibangku TK sudah tahu bagaimana Nisa sering kesepian. Kadang dulu Nisa juga mengakui bahwa Bayu adalah ayahnya kepada teman-temannya, karena Nisa di ejek tidak punya ayah.
Mobilpun melaju ke arah jalan alternatif.
Sesuai perkiraan, mobil sampai lebih cepat daripada menggunakan jalan raya. Tapi Nisa harus menyebrang jalan.
"Non, mau saya bantu menyebrang?" tanya Bayu sebelum Nisa membuka pintu mobil.
Bayu tahu, sejak kecil Nisa paling tidak bisa menyebrang jalan. Dia harus ditemani, tidak bisa sendiri.
"Ga usah pak, saya kan sudah besar!" Nisa memanyunkan bibirnya lalu menutup pintu mobilnya.
Saat keluar mobil, Nisa melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sebentar lagi masuk!" ucap Nisa.
Nisa langsung berlati menyebrang tanpa melihat kanan dan kiri.
BRAAAAAK
Tubuh Nisa terpental cukup jauh, sebuah mobil pick up telah menabraknya.
"NON NISAAAAA!!!" Bayu yang masih ada di sana langsung ke luar dari mobil dan langsung berlari ke arah Nisa.
Siswa yang masih berada di luar gerbang ikut mengerubungi Nisa, sementara dua satpam sekolah langsung mendekati mobil pick up yang menabrak Nisa. Mereka takut supir itu kabur.
Bayu langsung berlari ke arah Nisa, kerudung putih yang nisa kenakan sudah berubah menjadi warna merah karena darah. Bayu duduk dan memeluk nona mudanya itu.
"Non, bangun! Non Bangun!" ucap Bayu sambil berteriak dan menangis.
Dia menyesal tidak membantu Nisa menyebrang.
"Non, bangun!"
Semua siswa menatap Nisa sedih.
Tidak lama kemudian datang Vania, Alifa dan Ferdy. Mereka bertiga menerobos kumpulan siswa.
Alifa dan Vania ikut mendekati Nisa dan menangis di sana.
Ferdy tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung menelpon Ambulans. Ferdy tahu Bayu tidak akan bisa menyetir saat itu, Ferdy pun sama. Setelah menelpon Ambulan Ferdy menelpon Dicky.
Tidak lama kemudian, Ambulan datang dan dua orang perawat langsung mengangkat Nisa dan memasukkannya ke dalam ambulan.
"Siapa yang ikut?" tanya perawat itu.
"Saya saja Pak!" ucap Ferdy.
"Pa Bayu bawa mobil saja ya, hati-hati! Biar Saya yang ikut mobil Ambulan."
Bayu mengangguk.
Mobil Ambulan melaju dengan sangat cepat meninggalkan TKP. Setelah Nisa di bawa oleh ambulan, satu satpam menggiring seluruh siswa untuk masuk ke dalam kelas.
Setelah menggiring siswa, satpam itu langsung mengajak orang yang menabrak Nisa ke dalam pos satpam sekolah.
"Pa bagaimana dengan yang menabrak?" tanya Satpam yang bernama Arga.
"Nanti urusannya dengan majikan saya saja pa, tolong tahan dulu KTP nya ya pak. Saya harus ke rumah sakit menyusul Non Nisa," ucap Bayu.
Setelah bicara dengan satpam sekolah, Bayu langsung masuk ke dalam mobilnya.
Bayu masih menangis, dia sangat hancur melihat Nisa tertabrak mobil dengan cukup keras, Dia takut nona mudanya kenapa-kenapa. Dia sungguh akan sangat merasa bersalah jika terjadi sesuatu yang buruk pada nona mudanya.
"Semoga Non Nisa baik-baik saja," Bayu meneteskan air matanya.
Setelah mengatur nafasnya beberapa kali Bayu melajukan mobilnya perlahan untul pergi ke rumah sakit.
Di sepanjang jalan, Bayu tidak henti-hentinya berdo'a untuk Nisa. Nona Mudanya.
[]
Jangan lupa, Like dan komentarnya ya sayangku 😘
Uni lanjutkan kisah Annisa ke novel terbaru uni ya, judulnya Om Dokter 😊