
Keesokan harinya Nisa diperbolekan pulang oleh dokter dengan beberapa catatan penting, tidak boleh melewatkan sarapan pagi, jangan terlalu banyak makan pedas, hindari asam cuka dan makanan junk food.
Setelah mendapat penjelasan dari dokter yang kemarin memeriksanya, Nisa keluar dari ruangan dokter itu. Nisa memakai sweeter hoody berwarna navy.
"Ah untunglah aku cepat bisa pulang, kesal sekali ada di rumah sakit walaupun fasilitasnya lengkap," gumam Nisa.
Nisa berjalan sendiri, tidak ada yang menjemput kepulangannya.
"Sedih banget sih jadi aku, pacarpun tak punya. Tidak yang perhatian, Mama sama papa sangat sibuk, aku merasa aku harus punya pacar." batin Nisa
"Pa Bayu kemana lagi aku telponin ga angkat terus, papa juga udah tau aku pulang hari ini malah ke luar kota. Menyebalkan!" ucap Nisa
Nisa berjalan santai sambil memainkan ponselnya. Nisa sedang chatting dengan temannya Alifa. Saking asiknya bertukar pesan, Nisa yang tidak memperhatikan jalan bertabrakan dengan seseorang.
Bugh
"Aduh!" Nisa memegang kepalanya karena merasa kesakitan.
Perlahan Nisa menundukan wajahnya dan mulai melihat dari ujung kaki yang menabraknya.
"Sepatunya kayanya mahal nih!" Batin Nisa.
Nisa melihat sepatu Sport bermerk yang lelaki itu pakai, beralih pada celana jeansnya, lelaki itu memakai kaos berwarna navy.
"Eh bajunya warna sama seperti yang aku pakai. Harusnya sih orangnya ganteng ya!" Batin Nisa.
Nisa melihat sampai dadanya dan kepalanya sudah tegak lurus
"Widih tinggi amat nih orang, aku harus tau nih wajahnya. kalo cowo ganteng nih, mayan jadi pacar. Kalo kaya di sinetron, habis ini pacaran deh aku ama dia!" Batin Nisa.
Nisa tersenyum dan mengangkat kepalanya perlahan dan dia begitu kaget setelah mengetahui siapa yang menabraknya.
"Kamu, kalo jalan itu pakai mata dong!"
"Idih, jalan pake kaki kali pak!" ucap Nisa keceplosan dan dia langsung menutup mulutnya.
"Oalah! apa yang baru saja aku katakan!" batin Nisa
Tanpa berpikir panjang lelaki itu mengangkat kupluk yang menempel di sweeter Nisa dan dia berjalan, sehingga Nisa otomatis berjalan mengikuti langkahnya.
"Pa Juna," ucap Nisa.
"Pa Arjuna. Berhenti!" ucap Nisa lagi, kali ini ucapan Nisa membuat Arjuna berhenti.
"Ayo ikut saya!" perintah Arjuna dan Nisa mengikutinya.
"Kenapa tiba-tiba ada pa Arjuna di sini? Oh ya aku mau bertanya apa dia yang bawa aku ke sini?" pikit Nisa.
Arjuna berjalan menuju parkiran rumah sakit dan Nisa hanya celangak celinguk memperhatikan keadaan sekitar.
Setelah beberapa menit berjalan akhirnya Arjuna menghentikan langkahnya. Nisa yang tidak memperhatikan kembali menabrak Arjuna.
"Aduh!" ucap Nisa dan nyengir kuda melihat ke arah Arjuna.
"Kayanya kamu seneng banget ya nabrak badan saja," Juna mengangkat satu sudut bibirnya.
"Ge'er!" Nisa membuang mukanya ke sembarang arah.
"Eh... Bapa ngapain bawa saya ke sini?" tanya Nisa sambil melihat ke sekeliling yang penuh dengan mobil-mobil.
"Jemput kamu! Ayo masuk!"
Arjuna memencet kunci mobilnya dan lampu mobilnya menyala. Arjuna berjalan ke arah pintu mobil.
"Eh eh... tunggu!" ucap Nisa.
Juna yang sudah siap membuka pintu mobilnya mengurungkan niatnya dan menatap wajah Nisa kesal.
"Kenapa bapa yang jemput?!" Nisa mengkerutkan dahinya.
Arjuna menghembuskan nafasnya kasar.
"Huh"
"Karena saya yang membawamu ke sini. Sudah jelas?" tanya Juna.
"Hm.."
"Ayo masuk!" perintah Arjuna.
Nisa yang masih bingung menuruti saja apa kata gurunya yang dia kenal killer dan suka menghukumnya.
Sekarang Nisa dan Juna berada dalam mobil. Hening, tidak ada yang brani memulai orbolan, sampai akhirnya.
"Nisa."
"Pak."
Annisa dan Arjuna saling pandang beberapa detik, setelah itu Nisa menundukan pandangannya dan Juna kembali fokus pada jalanan.
"Bapa dulu," ucap Nisa.
"Lebih baik kamu dulu," Arjuna melirik ke arah Nisa dengan ekor matanya.
"Ehm... Bapa terimakasih sudah mengantar saya ke rumah sakit, sebelumnya saya tidak pernah lingsan loh pak. Terus ko bapa tau saya pulang hari ini? Eh bapa emang ga ngajar ya?" ucap Nisa.
Nisa menungggu jawaban Juna tapi gurunya itu tidak kunjung bersuara.
"Pak, jawab dong. Diem-diem bae," ucap Nisa kesal.
"Iya saya yang mengantar kamu. Kamu pulang hari ini, saya tau aja. Saya izin, hari ini jadi tidak mengajar."
"Ooooh," mulut Nisa membentuk huruf o.
"Terus sekarang giliran bapa, apa yang ingin bapa sampaikan?" Nisa melirik ke arah Arjuna.
"Saya ingin mengajak kerja sama dengan kamu," ucap Arjuna.
"Maksudnya? Kerja sama? Kerja sama apa ya?" tanya Nisa penasaran.
Nisa mengubah posisi duduknya hingga melihat dengan jelas wajah gurunya itu.
"Wih, ternyata guru aku yang killer ini ganteng juga, .... " batin Nisa.
Nisa menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk kepalanya.
puk puk puk
"Kenapa kamu?" tanya Arjuna.
"Ah ga apa-apa ko pak, hehe.. " Nisa tertawa pelan.
"Eh tadi maksud bapa kerja sama apa ya?"
"Lebih baik kita bicarakan di restoran saja ya, kita ke restoran dulu sebelum saya antarkan kamu ke rumah."
Nisa menggguk setuju.
"Oke baiklah."
Tidak lama kemudian mobil Arjuna sampai ke sebuah restoran, Arjuna turun diikuti oleh Annisa.
"Sebenarnya apa sih yang mau pa Juna bicarakan aku jadi curiga," batin Nisa.
Kini Arjuna dan Annisa duduk berhadapan, minuman sudah menemani mereka.
"Apa yang mau bapa bicarakan?" ucap Nisa.
"Orang tua kita ingin kita menikah," ucap Arjuna pelan tapi masih dapat terdengar oleh Nisa.
"APA?!"
Brak
Nisa memukul meja dan melototkan kedua matanya.
"Kamu ga mau kan?" tanya Arjuna sambil tersenyum.
Annisa hanya diam tidak menanggapi ucapan Arjuna. Juna memperhatikan wajah Nisa yang sulit dia artikan.
"Kamu ga setuju kan?" tanya Arjuna lagi.
"Hmm, bapa antrerin aku pulang aja ya!" ucap Nisa setelah meminum jus alpukatnya.
Nisa meninggalkan Arjuna sendirian.
"Kenapa dia ga jawan pertanyaanku!" ucap Arjuna kesal.
Arjuna meninggalkan restoran setelah membayar minumannya dan minuman Nisa.
Nisa berdiri di samping mobil Arjuna. Setelah Arjuna memencet kunci mobilnya Nisa masuk ke dalam mobil.
Setelah di dalam mobil Nisa memainkan ponselnya. Arjuna fokus mengemudi.
"Nisa, saya minta kerja samanya agat kita tidak jadi menikah. Karena...." Arjuna menggantung kalimatnya.
"Karena saya sudah menyukai orang lain."
Nisa tidak menanggapi ucapan Arjuna dia semakin asik dengan ponselnya.
"Anak ini lagi apa sih, di ajak bicara malah asik sama dunianya sendiri. Benar-benar tidak sopan," bati Juna.
Tidak lama kemudian mobil Arjuna masuk ke dalam gerbang rumah cukup besar. Setelaj mobil berhenti, Nisa membuka pintu mobil.
"Mau masuk dulu pak?" tawar Nisa.
"Tidak, terimakasih."
"Saya permisi," ucap Juna.
Nisa mengangguk.
"Terimakasih pak!"
Arjuna mengangguk tanpa senyum sedikitpun.
Setelah mobil Arjuna keluar dari gerbang, Nisa memasuki rumahnya dengan langkah malas.
[]