
Malam yang lembab setelah guyuran hujan lebat membuat udara dipemakaman tua tersebut terasa semakin dingin, namun rasa dingin itu seolah tak tersampaikan kepada para penghuni makam yang kala itu tengah berkerumun disalah satu sudut pemakaman tua, sedang mereka para arwah itu tengah melihat tontonan yang jarang sekali terjadi. Mereka saling berbisik melihat situasi dan kondisi makam dari Levi Ackerman juga persetegangan orang hidup yang kini menjadi tamu dari pemakaman tua.
"Mikasa, kau gila?" Eren merebut pisau kecil dari tangan Mikasa saat gadis itu hendak menyayat tangannya.
"Kau jangan menghalangi!" Annie menatap Eren tajam dengan aura membunuh yang melingkupi seluruh tubuhnya.
"Oi, Oi..." Erwin mencoba untuk melerai namun ketegangan masih menyelimuti mereka.
Annie pun kembali mengambil pisau kecil didalam tas miliknya, ia berjalan kearah Mikasa dengan pandangan kosong dan menuntut agar Mikasa mau mengorbankan dirinya demi membangkitkan Levi. Mengetahui hal itu Eren bergerak menghadang jalan Annie dengan merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Mikasa yang berada dibelakangnya.
"Minggir!" Mata Annie memicing menatap Eren benci.
"Tak akan aku biarkan kau mengorbankan Mikasa!" Wajah Eren mengeras, ia takkan membiarkan Mikasa menjadi tumbal.
"Hentikan Annie! Mengapa kau bersikeras ingin membangkitkan Levi biarpun harus mengorbankan nyawa Mikasa?" Armin mencekal kedua lengan Annie dari belakang untuk menghentikan langkah gadis itu. Annie melirik Armin dalam lalu ia tersenyum diiringi dengan decihan.
"Aku adalah keturunan Ymir Fritz! Penyihir yang mengutuk Levi agar ia tak bisa mati. Dan aku dilahirkan ke dunia demi saat ini! Membangkitkan kembali Levi Ackerman, untuk itulah aku ada!" Ucapan Annie membuat semua terbelalak begitu pula dengan arwah Isabel juga Farlan.
"Astaga, dia keturunan Ymir Fritz?"
"Penguasa yang hilang, dia keturunan raja kita."
"Dan dia penyihir?"
"Apa itu artinya Ymir penyihir?"
Para penghuni arwah yang hidup dimasa lampau terkejut mendengar pengakuan Annie, mereka tak menyangka jika akan melihat Annie sebagai garis keturunan raja mereka dahulu dan sayangnya sang raja ataupun permaisuri tak dimakamkan ditempat ini hingga mereka tak bisa melihat semua kejadian ini.
"Tidak mungkin." Gumam Isabel tak percaya, lalu pandangan Isabel jatuh pada Mikasa yang sedari tadi menunduk, saat ini Isabel tahu jika Mikasa tak bisa melihatnya maka percuma jika Isabel atau Farlan mengatakan sesuatu tentang Ymir Fritz pada Mikasa.
Mata Mikasa melirik pisau kecil yang berada ditangan Eren lalu tangannya terjulur dan meremas mata pisau tersebut hingga mengoyak telapak tangannya, darah Mikasa langsung merembes keluar namun menguap setelahnya. Eren dan Armin yang melihat hal itu langsung terbelalak, Eren mencoba melepaskan genggaman tangan Mikasa dari pisau kecil ditangannya namun jika ia menariknya paksa maka luka Mikasa akan semakin dalam.
Benang emas yang mengelilingi tubuh Levi mulai bersinar terang menyilaukan, lalu cahaya itu merambat menyatu dengan tubuh Levi. Tentu hal itu membuat semua terheran kemudian Annie merapalkan mantra pembangkit.
"Hentikan Mikasa!" Eren mencoba menyadarkan gadis yang sedari kecil telah tumbuh bersama dirinya, Mikasa adalah keluarga yang berharga untuknya dan ia tak akan membiarkan Mikasa celaka.
"Khuhk"
Erwin terhenyak ketika mendengar suara nafas tersendat dari tubuh Levi, ia pun menghampiri tubuh yang terbaring diatas tanah basah itu dan memeriksanya. Mata Erwin terbelalak terkejut saat mendapati dada kiri Levi yang berdetak lemah menandakan kinerja jantungnya mulai aktif dan secara perlahan Levi mulai bernafas namun masih begitu lemah.
"Dia kembali hidup." Penuturan Erwin membuat semua terkejut begitu pun para arwah penghuni pemakaman.
Armin yang masih mengunci pergerakan Annie kini mulai bisa menyimpulkan jika darah Mikasa yang keluar dari tubuhnya menguap itu artinya darah tersebut akan berpindah pada tubuh Levi secara gaib. Dan itu berarti sumber kehidupan Levi berasal dari darah Mikasa, dan jika Levi akan dibangkitkan dengan sepenuhnya maka ia memerlukan banyak darah sedang darah satu-satunya yang diserap oleh Levi adalah darah Mikasa, jika dilanjutkan Mikasa bisa mati karena kehabisan darah.
Eren yang terkejut dengan Levi yang kembali hidup membuatnya lengah dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Mikasa, gadis itu langsung merebut pisau kecil itu dari tangan Eren lalu menggores lengannya panjang dan dalam hingga luka menganga ia dapatkan, darahnya pun kembali menguap meninggalkan daging merah segar dari sobekan dikulit putihnya. Wajah Mikasa sudah memucat akibat kehilangan banyak darah juga menahan rasa sakit akibat sayatan-sayatan yang ia buat pada tubuhnya.
"MIKASA!" Eren berteriak dengan tangan terjulur kearah Mikasa saat gadis itu menancapkan pisau kecil itu kepaha dan merobek dagingnya.
*
*Pada seratus tahun yang lalu, dikala itu langit begitu cerah juga tak ada awan yang menghalangi sinar terik matahari hingga menerpa langsung permukaan bumi, udara terasa panas menyengat kulit membuat banyak orang mengeluh saat merasakan gerah ketika suhu tubuh mereka yang mulai meninggi. Seorang gadis kecil duduk disamping jembatan sungai yang dilalui banyak orang namun tak ada satupun dari mereka menghiraukan kehadirannya dan tak memperdulikan keadaan gadis kecil itu yang kepanasan dibawah sinar matahari langsung, tudung berwarna abu gelap menutupi rambut pirang si gadis kecil juga menutupi sebagian wajahnya hingga menyamarkan jati dirinya. Ia meraba leher saat ia merasakan haus setelah pelarian panjang yang ia lakukan, kabur dari istana yang selama ini membelenggunya, namun kenyataan lah yang menyakitinya ketika dengan kedua matanya ia menyaksikan sang ayah yang kala itu menjabat sebagai seorang raja membunuh ibunya yakni sang permaisuri saat identitasnya sebagai penyihir yang selama ini disimpan rapat oleh ibunya dan dirinya kini telah tercium oleh sang ayah hingga membuat sang ayah murka dan menghabisi nyawa ibunya. Dan saat melihat sang ibu tergeletak bersimbah darah dengan luka menganga dileher akibat tebasan pedang sang ayah si gadis kecil itu begitu terpukul, dan ketika sang ayah mengayunkan pedang untuk menebasnya si gadis kecil pun mengucapkan mantra terlarang yang pernah diajarkan oleh ibunya hingga membuat sang ayah merasakan tubuhnya terbakar hingga merenggang nyawa. Setelah itu si gadis kecil kabur dari istana dan berakhir ditempat ini, dan yang sekarang ia rasakan adalah rasa lapar juga kehausan yang menyiksa, ia tak pernah diajarkan meminta sesuatu pada orang lain selain kepada ayah dan ibunya hingga kini ia tersiksa saat tak tahu caranya meminta bantuan kepada orang lain.
"Apa yang kau lakukan disini bocah?" Sebuah suara asing menegurnya hingga ia mendongak untuk melihat sosok siapa yang kini sudi berbicara dengannya. Laki-laki itu memiliki pandangan yang tak ramah namun ia tahu jika laki-laki itu orang yang peduli.
"Levi, siapa gadis itu?" Seorang lainnya datang menghampiri laki-laki yang gadis kecil tahu bernama Levi.
"Aku tak tahu, tapi sepertinya ia butuh pertolongan." Ucap Levi pada Farlan, lalu mereka membawa si gadis kecil kekelompok mereka yang kini tengah bersembunyi disalah satu gudang teh untuk menghindari pengejaran polisi militer, mereka memberi gadis itu makanan dan minuman juga kehidupan baru.
"Siapa namamu?" Pertanyaan Isabel membuat si gadis tertunduk bingung antara berbohong atau jujur.
"Ymir." Ucap si gadis.
"Kau Ymir Fritz?" Pertanyaan Levi membuat Ymir mengangguk, tak heran jika Levi tau dirinya sebab sosok dirinya yang menghilang dari kerajaan kini telah terdengar seantero negeri.
Awalnya Ymir mengira karena ia keturunan kerajaan ia tak akan diterima dikelompok ini, namun dugaannya salah saat kehadirannya malah disambut meriah oleh kelompok tersebut.
Sejak saat itu si gadis memiliki keluarga baru bersama kelompok kriminal yang dipimpin oleh Levi, mereka saling menyayangi hingga suatu saat kabar buruk itu datang dikala Isabel tertangkap oleh polisi militer, mendengar Isabel yang tertangkap membuat kelompok mereka dilema ditambah kini kelompok mereka dituduh memberontak dengan menculik sang pewaris tahta kerajaan hingga Levi memilih menyerahkan diri tanpa memberitahukan keberadaan Ymir diantara kelompok mereka.
"Levi!"
Saat Levi akan berangkat kekerajaan untuk menyerahkan dirinya bersama Farlan demi menebus Isabel sebagai tawanan Ymir pun menghadangnya. Ymir memberikan Levi apel yang telah ia mantrai dengan sebuah mantra terlarang dan mengambil resiko memperpendek umurnya tiga belas tahun mendatang, Ymir menyuruh Levi untuk langsung memakan apel tersebut, setelah Levi memakan habis apel tersebut Ymir pun membisikkan sesuatu pada Levi hingga membuat Levi terkejut.
"Aku adalah seorang penyihir, dan apel yang kau makan itu adalah hadiah dariku atas rasa terimakasih ku padamu. Aku bisa melihat masa depanmu dan kau tak akan mati sebelum gadis Ackerman yang kau cintai itu mati."
Namun pada akhirnya Ymir berdiri diantara para penduduk yang menyaksikan pengeksekusian Levi juga beberapa rekannya termasuk Isabel dan Farlan, pemerintah mengingkari janjinya disaat mereka tak juga membebaskan Isabel meskipun Levi telah menyerahkan diri. Tudung abu-abu menutupi sebagian wajah Ymir menyamarkan identitasnya sebagai pewaris tahta kerajaan, ia memejamkan mata erat menahan rasa sakit saat melihat kepala teman-temannya terpisah dari tubuh namun yang paling membuatnya sakit adalah saat ia melihat ekspresi wajah Levi yang begitu marah ketika melihat para bawahannya merenggang nyawa dengan mengenaskan.
"Astaga, apa dia itu penyihir? Dia tak bisa mati!"
"Aneh sekali, tubuhnya kebal dengan pedang tajam itu."
"Dia pasti penyihir!"
Itulah bisik-bisik masyarakat yang kala itu menyaksikan pemenggalan kepala Levi yang gagal, lalu para polisi militer tersebut menyeret Levi dan mengikatnya pada tiang kayu diatas tumpukan kayu bakar lalu mereka membakar tubuh Levi hidup-hidup dan setiap orang yang menyaksikannya merasa iba ketika mereka mendengar raungan kesakitan Levi ketika ia merasakan panas yang membakar tubuhnya saat api besar menyelimuti sekujur tubuhnya. Namun keajaiban kembali terjadi, setelah api padam Levi hanya meringkuk diantara arang kayu dan abu disekelilingnya tubuh serta pakainya utuh namun ia memberikan ekspresi kesakitan yang luar biasa. Benar, dia merasakan sakit panas api yang membakar tubuhnya.
Setelah pembakaran Levi gagal kemudian pemerintah menitahkan untuk mengikat Levi pada sebuah kursi kayu, mereka akan menenggelamkan Levi kedasar danau namun sebelum itu terjadi keadaan menjadi ricuh saat masyarakat pro Levi datang dan ingin Levi dibebaskan bahkan kekisruhan tersebut hingga memakan beberapa korban penduduk miskin, melihat hal itu Levi mengambil keputusan untuk menyerahkan nyawanya pada pemerintah dengan syarat melepaskan mereka para penduduk miskin yang kini menatap Levi penuh kesedihan. Dan Levi pun ditenggelamkan kedasar danau dalam beberapa jam lamanya, akan tetapi masih juga ada masyarakat pro Levi yang nekat menjeburkan dirinya kedanau demi menyelamatkan Levi dan melihat hal itu membuat pemerintah memutuskan untuk mengubur Levi hidup-hidup.
"Rasa sakit yang kini kau rasakan kelak akan menjadi sebuah rasa manis yang akan kau dapatkan. Bersabarlah untuk hari itu, hari dimana seorang gadis yang memiliki darah dari leluhurmu datang dengan ikatan jiwamu yang membelenggunya dalam sebuah tetesan darah." Ucap Ymir saat melihat dari jarak jauh peti mati Levi yang mulai diturunkan kedalam liang lahat.
Dan mereka juga tak memberikan nisan yang layak untuk Levi beserta kawanannya, hanya sebuah bongkahan batu yang tertulis nama mereka sebagai tanda makam*.
*
Levi membuka matanya saat merasakan sebuah sentuhan didahinya, ia mengerjap mendapati Erwin yang terbelalak saat kepergok memegang dahi Levi hingga pria beralis tebal itu gelagapan.
"Aku hanya ingin mengecek suhu tubuhmu! Sebaiknya kau jangan berfikir yang bukan-bukan." Ucap Erwin salah tingkah.
Tak menghiraukan Erwin saat ini Levi tengah mengamati tubuhnya yang utuh dan ia menghirup udara dalam-dalam setelah sekian lama ia tak merasakannya, ia kembali hidup. Lalu pandangan Levi bergulir pada selang infus yang menancap dipergelangan tangannya yang kini tak sekurus saat pertama kali ia dikeluarkan dari peti mati.
"Kau terlihat lebih baik daripada saat pertama kali aku melihatmu." Ucap Erwin mencoba untuk berinteraksi dengan Levi.
"Dimana Mikasa?" Levi menatap Erwin dengan raut wajah cemas, ketika ia teringat dengan gadis yang ia cintai seketika perasaan khawatir melanda hatinya hingga menjadi terasa menyesakkan.
Mendengar pertanyaan Levi membuat Erwin menghela nafas dalam, dan memandang Levi penuh simpati.
"Aku harap kau bisa menguatkan hatimu." Ucap Erwin dengan nada menyesal.
Didepan ruang ICU Eren hanya mondar-mandir dengan diliputi perasaan cemas, Carla menangis sesenggukan dipelukan suaminya Grisha tak menyangka jika nasib malang menimpa sang putri angkat mereka sedang Armin dan Annie hanya terdiam menunggu kabar kondisi gadis Ackerman tersebut.
"Annie, apa kau tak memiliki mantra untuk menyembuhkan?" Armin berbisik dengan nada pelan namun masih bisa terdengar oleh Annie yang duduk disampingnya.
"Aku bukan tabib." Jawab Annie dengan menyandarkan kepalanya didinding rumah sakit. Jikalah Annie memiliki mantra seperti itu maka Mikasa tak perlu dibawa keruang ICU.
Sejak awal Annie sudah mengetahuinya dan ia juga telah memperkirakan hal ini akan terjadi, namun ia tak bisa mengelak dengan takdirnya yang mendapat mandat langsung dari sang nenek buyut dalam dunia mimpi, jika dirinya lah yang akan membantu membangkitkan Levi Ackerman dengan darah dari gadis Ackerman yaitu Mikasa. Dan ia tak berniat menyesalinya.
Dengan dipapah Erwin kini Levi berjalan menuju ruang dimana Mikasa dirawat membuat semua mata tertuju padanya begitu juga dengan orang tua Eren, mereka sudah mendengarnya dari Eren juga Armin biarpun awalnya mereka sangsi namun mereka harus mempercayainya setelah bukti yang mereka lihat.
Melihat Levi emosi Eren kembali naik, ia berjalan cepat menuju Levi dan langsung mencengkeram kerah baju pasien rumah sakit yang kini dikenakan Levi. Eren menatap Levi sengit namun hanya dibalas wajah datar dari Levi.
"Semua ini karenamu! Jika saja kau tak melibatkan Mikasa kejadian buruk ini takkan menimpanya!" Geram Eren menatap tajam laki-laki yang lebih pendek darinya itu.
"Oi, hentikan Eren!" Armin dan lainnya mencoba melarai.
"Tak apa, semua memang salahku. Aku tak pernah mengira jika semua akan jadi seperti ini, akan lebih baik jika aku tak pernah hidup daripada melihat Mikasa berkorban untukku." Pandangan Levi berubah mengayun dan berkaca-kaca.
"Sial!" Eren melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Levi, lalu ia menendang udara untuk melampiaskan emosi.
Seorang dokter keluar dari ruang ICU dimana Mikasa dirawat, lalu dokter memberitahu jika Mikasa sudah melewati masa kritis dan semua menjadi lega saat mendengarnya.
Setahun telah berlalu, kini Levi telah hidup layaknya manusia normal pada era ini. Mendapatkan pekerjaan yang layak dari bantuan Erwin menjadi seorang ahli sejarah dengan bayaran yang lumayan besar membuatnya hidup makmur dengan membeli sebuah apartemen kelas menengah yang berada disalah satu gedung tinggi di kota shiganshina. Levi begitu banyak berhutang budi pada Erwin yang kala itu mau menampungnya dan mencarikan pekerjaan untuknya sebelum Levi menjadi seorang yang mandiri dijaman ini.
"Cepatlah datang, aku benar-benar merindukanmu." Ucap Levi pada seseorang diseberang telpon, seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya, seseorang yang menjadi alasannya untuk tetap hidup dan seseorang yang begitu ia cintai hingga ia takkan sanggup hidup tanpanya.
Setelah mendengar jawaban dari seberang telpon Levi pun mematikan ponselnya, lalu tangannya terjulur membuka tirai jendela yang menampilkan sinar cahaya matahari sore, mata obsidian itu menatap kebawah melalui kaca jendela apartemen miliknya melihat seorang gadis yang keluar dari sebuah mobil sedan hitam yang begitu ia kenali bersama seorang pemuda berambut cokelat yang akhir-akhir ini membuatnya sering merasakan cemburu, ia mendecih saat melihat pemuda itu mengacak rambut gadisnya gemas.
Setelah berpisah dengan Eren didepan lobby apartemen, Mikasa segera melangkahkan kakinya menuju apartemen kekasihnya dilantai enam. Ia menggerutu saat kekasihnya itu berubah menjadi seseorang yang begitu posesif terhadap dirinya. Karena jadwal sekolahnya yang padat saat mendekati ujian kelulusan ia jadi jarang menemui sang kekasih karena terbentur waktu sedang ayah dan ibu angkat Mikasa melarangnya untuk keluar malam setelah kejadian waktu itu. Setelah sampai didepan pintu apartemen kekasihnya Mikasa menghela nafas dalam sedikit merasa bersalah telah mengabaikan keinginan kekasihnya untuk bertemu dalam beberapa hari ini
karena Mikasa benar-benar sibuk dengan agenda sekolahnya, ia menekan kode password untuk membuka pintu apartemen kekasihnya lalu ia membuka pintu dan menutupnya setelah ia memasuki apartemen tersebut namun ia terkejut saat merasakan seseorang menubruk punggungnya dan memeluknya erat.
"Aku merindukanmu." Ucap Levi di antara lekukan leher Mikasa, tangannya bergerak membuka kancing seragam sekolah Mikasa satu persatu.
"Waktu kita hanya dua jam, dan setelah itu Eren akan kembali datang menjemputku. Ayah pulang dari Marley dan kami sekeluarga akan makan malam bersama untuk merayakannya." Mendengar hal itu membuat Levi mendecak sebal, padahal baru saja ia bertemu kekasihnya setelah berhari-hari mereka tak bisa bertemu karena kesibukan masing-masing dan dalam dua jam lagi mereka akan kembali berpisah.
"Oh astaga Mikasa, semua ini benar-benar menyiksaku!" Levi menghadapkan Mikasa kearahnya, meremas kedua bahu gadis itu lembut menyalurkan rasa kasihnya yang dalam.
"Tinggallah bersamaku." Permintaan Levi membuat Mikasa tersenyum, sudah sering kekasihnya itu menginginkan mereka tinggal satu atap setelah sang kekasih memiliki apartemen sendiri namun Mikasa selalu menolaknya.
"Aku akan tinggal bersamamu jika kita sudah menikah."
"Kalau begitu kita menikah besok."
"Aku masih ingin kuliah."
"Kita buat anak lebih dulu."
"....?"
"Aku serius. Jadi kali ini boleh aku memasukimu?"
"Tidak!"
Levi merasakan kekecewaan untuk kesekian kalinya, sejak Levi kembali hidup Mikasa selalu menolak saat ia menginginkan hal itu dengan dalih jika gadis itu akan mempertahankan keperawanannya sampai mereka menikah kelak, jadi selama ini mereka hanya bercinta tanpa **** dan lagi-lagi Levi harus bersabar dengan itu. Bukankah semua itu memang sangat menyiksanya?
Melihat wajah kekasihnya yang bermuram durja membuat Mikasa kembali merasa bersalah, gadis itu menarik dagu Levi lalu mengecup bibirnya sekilas dan itu cukup membuat perasaan Levi kembali menghangat. Disore yang cerah mereka saling memadu kasih dengan kecupan juga pagutan menyalurkan kerinduan yang membuncah dan menghantarkan mereka pada suatu perasaan yang membuat hati terpenuhi kebahagiaan.
*
Pagi itu sebuah mobil sedan berwarna biru ultramarine terparkir di depan gerbang pemakaman tua, dan didalam pemakaman terlihat sesosok laki-laki yang berdiri didepan makam para sahabatnya yang kini tak mampu lagi ia lihat sosok mereka sejak ia kembali memiliki nafas, ia memandang nisan para sahabatnya yang kini telah diganti dengan nisan yang lebih layak bukan lagi bongkahan batu yang menandai makam mereka.
Seorang gadis dengan pakaian middle dress berwarna putih gading menghampiri lalu menggenggam tangan laki-laki itu dan menautkan jemari mereka, hal yang dulu sering mereka lakukan setiap berkunjung ke pemakaman tua ini dimalam hari, namun kini semua telah berubah menjadi sesuatu yang lebih normal, mereka tak lagi mampu melihat mahluk tak kasat mata juga tak ada lagi keanehan yang lainnya. Kini mereka hidup sebagai manusia normal seperti manusia lainnya, namun yang Levi dan Mikasa sesali adalah mereka yang tak sempat berpamitan kepada orang tua Mikasa juga Isabel dan Farlan.
"Apa mereka melihat kita?"
"Kurasa tidak, para arwah terbangun saat matahari tenggelam dan akan kembali tertidur saat matahari terbit." Ucap Levi menjawab pertanyaan Mikasa.
"Tapi kenapa kau saat itu tak melakukan hal yang sama seperti arwah lainnya?"
"Mungkin karena aku sudah tidur terlalu lama."
Mikasa menarik tangan Levi untuk mengikuti langkahnya keluar dari area pemakaman.
"Mumpung ini hari libur, ayo kita kencan!"
Mendengar keinginan Mikasa membuat Levi tersenyum bahagia, ia begitu menikmati kehidupannya yang kedua. Dan semua akan menjadi lebih sempurna saat mereka menikah kelak.
The End.
A/N: Terima kasih banyak yang udah mengikuti fiksi ini dari awal hingga akhir. Jika berminat membaca Levi x Mikasa versi saya lebih banyak ada ******* dengan nama akun yang sama.
see yaa~