You Are A GHOST!

You Are A GHOST!
4. Soul-Binding Blood


"Mikasa."


Semuanya terlihat gelap namun Mikasa masih mampu mendengar suara seseorang yang memanggilnya lirih, kemudian ia merasakan tangan yang membelai wajahnya dan terasa dingin. Lalu hidungnya mulai mencium bau obat yang menyengat membuat ia berfikir jika sekarang ia berada di rumah sakit karena ia sedikit mengingat kejadian aneh yang dialaminya hari ini.


"Mikasa... Bangunlah."


Suara itu masih sama, serak dan berat. Secara perlahan Mikasa membuka kedua matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah pucat Levi yang terlihat sedih, Mikasa mengerjap saat wajah mereka yang terlalu dekat.


"Apa masih terasa sakit?" Mikasa tak menjawab pertanyaan Levi, ia menoleh kesamping dan mendapati Eren yang tengah tertidur tertelungkup disampingnya dengan menggenggam tangan Mikasa.


"Maafkan aku, yang tak bisa melindungimu." Mikasa terkejut saat merasakan tangan dingin Levi yang membelai pipinya.


"Kau bisa menyentuhku?" Lirih Mikasa dengan suara serak.


"Karena aku menginginkannya." Wajah Levi semakin turun hingga jarak bibir mereka semakin dekat membuat Mikasa terkesiap dan langsung bangkit dari tidurnya menjadi terduduk.


Gerakan tiba-tiba Mikasa membuat Eren terbangun dari tidurnya, pemuda itu terkejut saat mendongak melihat Mikasa  bangun setelah beberapa jam tak sadarkan diri. Eren pun memeluk Mikasa dengan perasaan khawatir yang berlebihan.


"Eren." Mikasa menepuk-nepuk punggung pemuda itu lalu ia melihat Levi yang memalingkan wajahnya seakan tak ingin melihat apa yang tersaji dihadapannya dimana Eren yang memeluk Mikasa sepertinya membuat hantu itu merasa tak nyaman.


"Kau sudah bangun, Mikasa." Armin yang baru memasuki kamar inap Mikasa terlihat senang saat sahabatnya itu telah tersadar ia berjalan mendekati ranjang Mikasa dan menembus tubuh Levi, lalu Eren melepaskan pelukannya dan Mikasa baru menyadari jika saat ini mereka masih menggunakan seragam sekolah.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Pertanyaan Mikasa membuat Eren dan Armin terlihat gelisah antara memberitahukan yang sebenarnya pada Mikasa atau tidak.


"Apa kau tidak mengingatnya Mikasa?"


"Tidak Armin, setelah kepalaku terbentur aku tak ingat apapun lagi." Benar, Mikasa tak tau apapun lagi setelah tubuhnya melayang dan membentur rak buku keras.


"Itu karena kau langsung pingsan." Eren masih terlihat khawatir pada Mikasa.


Lalu tangan Mikasa meraba kepalanya yang diperban, masih terasa sakit dan ia tak mengerti saat melihat Eren dan Armin menatapnya dengan pandangan tak biasa.


"Apa masih sakit?" Pertanyaan Armin dijawab anggukan oleh Mikasa.


"Mikasa, bagaimana bisa tak ada darah setetes pun yang merembes diperbanmu?" Pertanyaan Armin hanya dibalas raut kebingungan diwajah Mikasa. Normalnya jika seseorang terluka dikepalanya maka perban yang digunakan orang tersebut pastilah akan ada darah yang merembes keluar dari celah-celah perban tapi jelas-jelas Mikasa sempat mengeluarkan darah banyak dikepalanya namun kini perbannya benar-benar bersih.


"Apakah dia masih ada disini, Mikasa?" Pertanyaan Eren membuat Mikasa maupun Armin terkejut, lalu Mikasa melihat sosok Levi yang bersandar pada tembok dengan tatapan tajamnya yang masih setia mengawasi setiap pergerakan Mikasa.


"Siapa yang kau maksud, Eren?" Armin tidak mengerti dengan pertanyaan Eren.


"Hantu Levi Ackerman." Entah mengapa setelah Eren mengatakan hal itu suasana terasa semakin mencekam, bahkan mereka mampu merasakan bulu kuduk mereka yang berdiri seakan mengkonfirmasi kehadiran mahluk lain yang berada diantara mereka.


"Aku tidak mengerti." Armin masih belum paham maksud dari Eren tentang hantu itu.


"Akhir-akhir ini sepertinya Mikasa terus diikuti oleh hantu itu." Penuturan Eren membuat Armin bergidik ngeri.


"Benarkah Mikasa?" Armin hanya ingin memastikan jika yang dikatakan Eren bukanlah bualan belaka.


"Dia disana." Mikasa menunjuk dimana posisi Levi saat ini, dan itu membuat Eren dan Armin menoleh kearah yang dimaksud oleh Mikasa.


"Aku... Tak melihat apapun." Komentar Armin.


"Aku juga, tapi tubuhku merasakan kehadirannya." Eren menunjukkan tangannya yang gemetar.


"Itu karena kau takut, Eren."


"Aku tidak takut!"


Levi pun mendecih saat para bocah itu menyinggung tentang dirinya, lalu ia berjalan mendekati mereka membuat Mikasa menatap Levi tajam takut jika si hantu akan menyakiti teman-temannya.


"Dia mendekat." Penuturan Mikasa membuat Eren dan Armin melompat keatas kasur Mikasa dan bersembunyi dibalik punggung gadis itu.


Levi tersenyum saat melihat kelakuan dua bocah yang tengah bersembunyi dibalik punggung Mikasa. Lalu tangan pucat Levi terjulur menyentuh ujung rambut Mikasa dan menciumnya, rambut Mikasa yang bergerak aneh pun tak luput dari penglihatan Eren maupun Armin hingga membuat mereka terbelalak karena tak ada angin didalam ruangan ber AC tersebut yang bisa menggerakkan rambut itu.


.


.


.


.


.


.


*


.


.


.


.


.


  Matahari sudah tenggelam di ufuk barat beberapa menit yang lalu menciptakan suasana magis disaat kegelapan mulai merambati setiap benda yang tak lagi terjangkau sinar dari sang surya, hanya pencahayaan dari milyaran lampu dataran bumi layaknya bintang saat terlihat dalam radius kiloan meter, disandingkan dengan langit gelap gulita tanpa sinar bulan ataupun kemerlip bintang karena langit telah tertutupi oleh gumpalan awan besar hitam yang terlihat seolah akan runtuh kedasar bumi, ribuan kendaraan melintas jalan utama menuju salah satu distrik yang bernama shiganshina dan didalam salah satu kendaraan yang mengikuti arus tersebut terdapat dua remaja yang tengah berfikir keras, kini Armin dan Eren dalam perjalanan pulang, mereka diusir oleh ibu Eren dari kamar rawat Mikasa saat ibu Eren memasuki ruangan tersebut dan mendapati kedua remaja itu malah membuat Mikasa merasa tak nyaman dengan mereka yang malah ikut berada diatas kasur dan bersembunyi dibalik punggung gadis itu.


"Sejak kapan?" Tatapan Armin hanya terpaku pada jalanan yang berada dihadapannya akan tetapi pikirannya masih tersita dengan kejadian diluar nalar yang ia lihat hari ini, mulai dari kekacauan aneh yang terjadi di perpustakaan hingga pengakuan kedua temannya jika Mikasa diikuti oleh sosok mahluk dari dunia lain.


"Entahlah, mungkin sejak pulang dari pemakaman tua itu." Eren masih berusaha berkonsentrasi pada menyetirnya meskipun begitu ia merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Armin, cemas.


"Jadi hantu itu pemilik makam misterius waktu itu? Kenapa dia malah mengikuti Mikasa?"


"Aku tidak tahu."


"Eren, apa hantu itu juga mengikuti kita?" Raut wajah Armin berubah pucat, jika memang hantu itu juga mengikutinya maka akan sangat menyeramkan bukan?


"Sepertinya tidak. Aku tak merasakan kehadirannya dan tubuhku tak merinding ataupun gemetar."


"Kau gemetar karena kau takut."


"Aku tidak takut!"


"Kau takut."


"Armin, sepertinya kau ingin pulang jalan kaki." Eren mulai kesal.


"Kenapa kau begitu sensitif?"


"Kau yang memulai."


"Kita seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar."


"Shit!"


"Kenapa kau tak menanyakan langsung pada Mikasa tentang keanehan darahnya yang menguap?" Aneh, itulah yang dipikirkan Armin setelah ia mendengar hal itu dari Eren, awalnya ia tak mempercayainya tapi kesaksian Jean membuat Armin akhirnya mulai mempercayai bahkan Armin menyaksikan sendiri saat perban Mikasa yang tak ternoda darah setetes pun.


"Apakah tidak ada seseorang yang mampu menjelaskan semua ini?" Tiba-tiba Armin teringat akan seseorang yang akrab dengan dunia mistik.


"Eren, kita putar arah!"


    Carla menyuapi Mikasa dengan telaten, meskipun awalnya Mikasa menolak untuk disuapi namun sifat Carla yang keras kepala membuat Mikasa akhirnya menurut apapun yang wanita itu inginkan, sepertinya sifat keras kepala Carla kini diturunkan kepada putranya, Eren. Sebenarnya Mikasa merasa sangat senang saat Carla menyuapinya dan itu mengingatkan Mikasa tentang ibunya dulu, kehangatan Carla sama persis seperti kehangatan yang dirasakan Mikasa terhadap ibunya, hanya saja saat ini Mikasa merasa tak nyaman dengan adanya hantu Levi yang menempelinya dengan intim, hantu kurang ajar itu sekarang telah berani merengkuh tubuhnya dari belakang bahkan Mikasa bisa merasakan bibir hantu tersebut yang menciumi pundak hingga tengkuk Mikasa disaat Mikasa berkonsentrasi untuk mengunyah makanan yang telah disuapi Carla.


"Ada apa Mikasa? Kau terlihat tegang. Apa kau merasa canggung bila aku menyuapimu?" Carla terlihat bingung dengan ekspresi wajah Mikasa, tubuh gadis itu terlihat kaku dengan semburat merah tipis yang menghiasi wajahnya.


"Tidak Bu, hanya saja... Sepertinya aku sudah kenyang." Tak mungkin jika Mikasa memberitahukan yang sebenarnya kepada Carla jika saat ini ada hantu mesum yang menempelinya, Carla tak melihat wujud Levi dalam penglihatannya dan kemungkinan besar wanita paruh baya yang memiliki paras mirip Eren tersebut tak akan mempercayai kata-kata Mikasa.


"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja makanmu." Bisik Levi saat bibirnya yang dingin menyentuh daun telinga Mikasa membuat gadis itu merasa geli dan Mikasa mencoba menahan diri dengan menggigit bibir bawahnya. Sialnya Mikasa tak berani berontak karena ada Carla didepannya dan bila itu ia lakukan mungkin Carla akan mengira jika Mikasa adalah orang aneh.


Carla membelai wajah cantik Mikasa dengan senyum hangatnya, wanita paruh baya tersebut begitu khawatir saat mendengar jika Mikasa mengalami kecelakaan di sekolahnya, bahkan ia tak segan untuk memarahi Eren karena anaknya tersebut yang lalai dalam menjaga Mikasa.


"Terima kasih Bu..." Dengan senyum tulus Mikasa menyentuh tangan Carla dan menggenggamnya erat.


"Istirahatlah, ibu akan menemanimu." Setelah mendengar hal itu Levi pun dengan berat hati melepaskan tubuh Mikasa.


Carla pun membantu Mikasa membaringkan tubuhnya, lalu dering ponsel milik Carla berbunyi dan wanita itu memberi isyarat pada Mikasa jika ia akan pergi sebentar dan setelah melihat senyum Mikasa wanita paruh baya tersebut meninggalkan Mikasa.


Sepeninggal Carla, Mikasa langsung menoleh tajam kearah Levi sedang hantu itu hanya menyeringai.


"Apa mau mu?" Mendengar pertanyaan Mikasa membuat Levi semakin melebarkan senyumnya.


"Menyentuhmu."


.


.


.


.


.


*


.


.


.


.


.


   Eren dan Armin memperhatikan dekorasi rumah yang saat ini mereka pijaki, banyak sekali ornamen berbau mistis yang memenuhi rumah tersebut yang mampu membuat siapapun tak akan merasa nyaman jika harus berlama-lama dalam rumah itu, mata Eren terpaku pada kepala rusa yang telah diawetkan mendongak dengan sempurna pada dinding bahkan matanya seakan menatap Eren tajam hingga membuat pemuda itu mengeluarkan keringat dingin, sedang tubuh Armin sudah gemetar sejak ia memasuki halaman rumah ini. Lalu muncul seorang gadis berambut blonde dengan membawa nampan yang berisikan teh panas serta kue kering sebagai camilan untuk tamu yang tak diundang dan berkunjung kerumahnya pada saat hari yang semakin gelap.


"Annie, ternyata kau suka sekali dengan benda-benda aneh ya?"  Armin menunjuk rak yang terbuat dari kayu mahoni berpoles coklat tua tersebut, terdapat berbagai macam patung dengan bentuk aneh dengan tampilan mengerikan seakan mereka adalah iblis yang menjelma sebagai patung, juga terdapat berbagai macam topeng yang menyerupai wajah hantu bahkan diantara topeng tersebut terlihat seperti wajah seseorang yang telah hancur hingga membuat Eren maupun Armin merasa mual saat melihatnya.


"Sebenarnya, itu koleksi ayahku. Aku hanya tertarik dengan buku." Annie menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga dan gerakan itu membuat Armin maupun Eren memerah, gadis itu terlihat cantik. Annie memang menyukai buku maka dari itu dia   mudah sekali akrab dengan Armin mengingat mereka memiliki kesenangan yang sama terhadap sebuah buku.


"Apa yang membawa kalian kemari?" Lanjut Annie membuat kedua remaja dihadapannya kembali merasakan sebuah kecemasan yang sedari tadi mengikat hati mereka.


"Ini tentang Mikasa." Ucap Eren dan Annie pun mengangguk paham.


"Aku sudah melihatnya." Penuturan Annie membuat Eren dan Armin menatapnya bingung.


"Hantu yang mengikuti Mikasa bukan?"


"Kau melihatnya?" Eren masih terlihat tak begitu percaya.


"Dia seorang laki-laki dengan tinggi sekitar 160 centi dan dia berpenampilan seperti pria pada abad pertengahan, itu yang kulihat, dia mengikuti kemanapun Mikasa pergi." Penjelasan Annie membuat Armin maupun Eren saling memandang satu sama lain seakan menyatakan jika ternyata apa yang terjadi dan yang dikatakan oleh Mikasa benar adanya.


"Namanya Levi Ackerman." Ucap Eren dan seketika lampu dirumah Annie padam, membuat Armin dan Eren Memekik.


"Sepertinya dia tak ingin disebutkan namanya." Annie menyalahkan lampu senter yang terdapat dalam ponsel miliknya.


"Apa tidak akan jadi masalah jika hantu itu terus bersama Mikasa?" Pertanyaan Armin membuat Annie terdiam beberapa saat.


"Apa telah terjadi sesuatu yang aneh pada Mikasa? Semisal kejadian diluar nalar pada dirinya?" Annie malah berbalik bertanya.


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat darah Mikasa mulai menguap dan lenyap." Penjelasan Eren membuat Annie menekuk alisnya.


"Ini buruk. Hantu itu sudah menjadikan dirinya sebagai inang dari Mikasa. Dan apa yang terjadi pada Mikasa itu adalah simbol jika kini Mikasa telah terjerat pada sebuah ikatan jiwa antara dirinya dengan si hantu tersebut. dengan mengklaim darah serta energi kehidupan Mikasa sebagai sumber kekuatannya." Penjelasan Annie membuat Eren maupun Armin terbelalak.


"Apa yang harus kita lakukan?" Eren terlihat gusar dan cemas secara bersamaan.


"Armin, apa buku yang aku berikan padamu waktu itu masih kau simpan?" Armin hanya mengangguk atas jawaban yang dilontarkan Annie padanya.


Lampu rumah Annie kembali menyala dengan sendirinya membuat kedua pemuda itu bisa sedikit bernafas lega.


"Dibuku itu, banyak sekali pentunjuk apa yang harus kalian lakukan."


.


.


.


.


.


*


.


.


.


.


.


  Mikasa mengerang saat tubuhnya yang tak bisa digerakkan, hantu Levi menindihnya dan Mikasa berusaha mendorong wajah Levi agar tak semakin mendekati bibirnya, Mikasa hanya bungkam tak ingin jika Carla yang tengah tertidur di sofa panjang disampingnya terusik dan hantu brengsek itu mencari sebuah kesempatan dalam kesempitan yang dialami oleh Mikasa.


Mikasa menatap Levi tajam mengusir hantu itu lewat sorot matanya tapi sang hantu malah tersenyum melihat ketidakberdayaan gadis dalam jeratannya tersebut.


"Kau tahu, rasanya bahagia sekali saat bisa menyentuhmu dengan sesuka hatiku." Ucapan Levi membuat Mikasa terbelalak, sepertinya hari-harinya akan menjadi semakin buruk setelah ini.


TBC