
Mikasa menatap suasana dibalik gerbang pembatas yang memisahkan pemakaman tua tersebut dengan dunia luar. Terlihat gelap, sepi dan menyeramkan.
"Apa kau melihat sesuatu?" Pertanyaan Levi membuat Mikasa menggeleng.
Lalu Levi menautkan jari-jari tangannya pada jemari Mikasa, menggenggam telapak tangan gadis itu erat.
"Apa sekarang kau bisa melihatnya?" Tangan Levi menunjuk kearah pemakaman.
Secara perlahan Mikasa bisa melihat siluet beberapa sosok yang menyerupai manusia dan semakin lama ia bisa semakin jelas melihat bentuk mereka para penghuni perkuburan tua itu yang kini tengah menatap dirinya dan juga Levi dengan tatapan menyelidik. Tentu pemandangan diluar nalar tersebut mengagetkan Mikasa, dia tak pernah sekalipun melihat mahkluk astral lain selain Levi.
"Apakah mereka arwah?" Levi mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Mikasa.
"Apakah ayah dan ibuku..."
"Mereka pasti akan merasa senang saat bertemu denganmu." Jawaban Levi membuat mata Mikasa berbinar senang.
Levi menuntun Mikasa memasuki area pemakaman tua tersebut dengan melewati gerbang besi berkarat yang tak pernah terkunci dan ketika Mikasa mendorong gerbang tersebut menimbulkan bunyi deritan hingga membuat semua mata penghuni perkuburan tua itu mengarah pada mereka, entah mengapa tatapan mereka membuat Mikasa merasa tak nyaman. Melewati jalanan setapak yang diterangi remangnya sinar rembulan dan berusaha mengabaikan bisik-bisik para arwah yang setia memperhatikan setiap pergerakannya, ia meremas tangan dingin Levi yang masih setia menggenggamnya.
"Astaga, gadis itu orang hidup."
"Bagaimana bisa dia bersama Levi?"
"Dia hidup."
"Apa yang dia lakukan disini?"
Itulah sebagian kalimat yang terdengar sampai ketelinga Mikasa, para arwah itu terlihat begitu terkejut dengan kehadiran Mikasa, ia tak menyangka jika area pemakaman tua ini begitu ramai dimalam hari dan tentu saja bukan para manusia hidup yang meramaikannya melainkan para arwah atau hantu penghuni perkuburan tua ini. Mikasa mempercepat langkahnya saat ia semakin dekat dengan makam kedua orangtuanya, ia berkaca-kaca saat melihat arwah ayah dan ibunya yang juga terlihat begitu terkejut dengan kedatangan Mikasa.
"Mikasa!" Ayah dan ibu Mikasa menatap tak percaya jika kini mereka bisa melihat sosok Mikasa yang telah tumbuh dewasa.
"Ayah! Ibu!" Saking senangnya Mikasa bisa melihat kedua orangtuanya membuat ia melepaskan genggaman tangan Levi padanya, namun ia terkejut setelahnya karena sosok kedua orangtuanya kembali menghilang dari pandangannya.
"Apa yang terjadi?" Mikasa mematung setelah ia kembali merasakan kesunyian malam ditengah-tengah area pemakaman itu.
"Levi!" Mikasa menoleh kearah Levi yang berdiri dibelakangnya, sedang Levi hanya menatapnya lembut lalu ia melangkah mendekati Mikasa dan kembali menautkan jemari mereka menggenggam tangan hangat Mikasa dengan erat.
"Jangan dilepas."
Mendengar perintah Levi membuat Mikasa mengangguk, kini ia paham ia tak akan bisa melihat dunia lain tanpa adanya kontak fisik antara dirinya dan Levi. Lalu pandangan Mikasa kembali pada makam kedua orangtuanya dan perlahan Mikasa bisa melihat kembali wujud arwah ayah dan ibunya yang menatapnya haru. Mikasa berlari kecil dengan menarik Levi mengikuti langkahnya mendekati ayah dan ibunya.
"Ayah... Ibu..." Mikasa hendak memeluk kedua orangtuanya namun ia hanya menembus tubuh mereka dan perasaan kecewa langsung menghinggapi hatinya, begitu juga dengan kedua orangtuanya yang nampak kecewa saat tak bisa menyentuh putri semata wayangnya setelah lama tak berjumpa.
"Bagaimana bisa? Aku bisa menyentuh Levi tapi mengapa aku tak bisa menyentuh kalian?" Terdengar nada frustasi disana.
Ayah dan ibu Mikasa tak bisa menjawab keluhan anaknya sebab mereka juga tidak mengerti, sedang Levi hanya terdiam tak berniat menjelaskan. Mikasa mulai terisak membuat kedua orangtuanya menatapnya pilu.
"Mikasa, meskipun kami tak bisa memelukmu dan membelaimu tapi kami bahagia bisa melihatmu lagi." Ibu Mikasa mencoba untuk menenangkan anaknya, Mikasa menatap ibunya yang tersenyum lembut.
"Benar, kami sangat bersyukur untuk saat ini. Dan maafkan kami yang tak bisa mendampingimu saat kau tumbuh juga telah meninggalkanmu sendirian. Tiada hari tanpa kami memikirkanmu dan mencemaskan keadaanmu." Penuturan ayahnya membuat Mikasa menghentikan tangisnya.
"Aku rindu kalian, benar-benar rindu, sangat rindu..." Gumam Mikasa lalu ia merasakan genggaman tangan Levi yang semakin mengerat seakan memberikan dukungan untuk menguatkan hati Mikasa.
"Kau tahu? Ibumu sangat senang saat kau memberinya mawar." Ayah Mikasa menunjuk sebuket mawar kering didepan nisan istrinya. Mikasa pun tersenyum ia tak menyangka jika mawar itu masih ada disana setelah ia meletakkannya waktu itu.
"Hiduplah dengan baik, kami menyayangimu."
.
.
.
.
.
*
.
.
.
.
.
Setelah puas menemui kedua orang tua Mikasa kini Levi menggiring Mikasa ketempat Farlan dan Isabel biasa menghabiskan waktu, dari jauh terlihat Isabel yang melambaikan tangannya kearah Levi dan Mikasa dengan penuh semangat sedang Farlan hanya tersenyum menyambut kedatangan tamu yang dibawa Levi.
"Kau Mikasa? Kau cantik sekali!" Seru Isabel penuh kekaguman saat ia memutari dan mengamati sosok Mikasa.
"Hoi kakak! Kau pintar sekali memilih gadis!" Isabel mengerling pada Levi dan hanya dibalas senyum simpul.
Isabel hendak meraih tangan Mikasa namun tangannya hanya menembus tangan Mikasa membuat Isabel mendesah kecewa.
"Ini tidak adil! Bagaimana mungkin hanya kak Levi yang bisa menyentuhmu? Padahal aku ingin bersalaman denganmu." Gerutu Isabel hingga membuat Mikasa tersenyum.
"Tak apa, bisa melihatmu saja rasanya sudah senang." Tangan Mikasa terjulur kewajah Isabel seakan membelai pipi gadis itu yang terlihat pucat, tentu perlakuan Mikasa membuat Isabel merasa senang.
"Aku menyukainya, kakak!" Ucap Isabel pada Levi dengan mata berbinar.
"Aku juga menyukainya! Dia cantik." Farlan menyahuti dengan mengedipkan sebelah matanya pada Mikasa hingga sukses membuat Levi mengernyit tak suka.
"Jangan menggodanya!" Peringatan Levi membuat Farlan mengangkat kedua tangannya dengan cengiran pertanda ia mengalah.
"Aku ingin sekali mengajakmu berkeliling." Pinta Isabel dengan penuh harap.
"Tidak Isabel, Mikasa harus istirahat." Levi menolaknya membuat Isabel cemberut.
"Tak apa, aku juga ingin melihat seperti apa suasana malam hari disini." Ucap Mikasa membuat Isabel bersorak kegirangan.
"Apa kau pikir sedang study tour?"
"Levi, ayolah! Jarang-jarang kami bisa sesemangat ini. Apalagi bisa melihat gadis secantik Mikasa terlalu singkat benar-benar tak menguntungkan." Farlan menyahuti.
"Apa maksudmu?" Levi memasang wajah curiga pada sosok Farlan yang nyengir.
Sejak saat itu setiap malamnya Mikasa dengan ditemani Levi selalu mengunjungi pemakaman tua tersebut. Levi melihat perubahan didalam diri Mikasa, gadis itu terlihat lebih ceria setelah setiap malam ia bisa kembali bercengkrama dengan kedua orangtuanya juga Isabel dan Farlan.
"Hei Levi, kenapa aku merasa semakin lama tanganmu semakin terasa hangat ya?" Mikasa mengangkat tangan mereka yang masih bertaut seperti biasa ketika berada diarea pemakaman.
"Benarkah? Aku pikir panas tubuhmu yang menular padaku." Jawab Levi seraya mengecup punggung tangan Mikasa yang masih dalam genggamannya.
"Hei kalian! Jangan membuat kami iri." Komentar Farlan yang menoleh kebelakang memperhatikan kedua sejoli beda dunia tersebut.
Saat ini mereka mengikuti langkah Isabel menaiki bukit yang terdapat diarea pemakaman tersebut, Mikasa terkagum saat melihat pemandangan yang begitu indah saat ia telah sampai pada bukit yang selalu dielu-elukan oleh Isabel, dan ternyata benar adanya bukit itu sangat indah dengan dihiasi lampu perkotaan juga milyaran bintang yang berkedip-kedip di langit. Isabel merebahkan tubuhnya beralaskan rerumputan tangannya terjulur kelangit seakan hendak menggapai bintang.
"Mikasa, apa saat ini udaranya terasa dingin? Sudah lama sekali kami tak merasakan apapun. Kami yang telah mati tak lagi merasakan dinginnya udara dan panasnya matahari. Ketika aku melihatmu entah mengapa aku merasa iri, ingin rasanya kembali merasakan itu semua." Masih dengan tangan terjulur kelangit Isabel mengatakan isi hatinya pada Mikasa yang duduk disebelahnya.
Mendengar penuturan Isabel membuat Mikasa menoleh kearah Levi, namun hantu itu hanya terdiam.
"Levi, bukankah kau merasakan hangat pada tubuhku?" Pertanyaan Mikasa membuat semua mata tertuju pada Levi.
"Jadi apa kau juga merasakan hangat atau dinginnya udara?" Lanjut Mikasa.
"Aku tak merasakannya, akan tetapi ketika aku menyentuhmu aku bisa merasakan semua itu." Jawaban Levi membuat mereka mengernyit.
"Terkadang aku berfikir jika kau itu masih hidup."
"Apa maksudmu, Farlan?" Entah mengapa Mikasa begitu tertarik dengan pembahasan ini.
"Aku dan Isabel tak pernah melihat kematian Levi."
"Eh?" Mikasa cukup terkejut.
"Dulu semasa hidup kami adalah kriminal yang suka merampok dan mencuri. Levi adalah ketua kami dan pada akhirnya kami tertangkap lalu dieksekusi." Penjelasan Farlan membuat Mikasa terbelalak.
"Kau takut pada kami?" Pertanyaan Farlan tak dijawab oleh Mikasa.
"Mengapa kalian melakukan itu?" Mikasa meremas genggaman tangan Levi padanya.
"Keadaan yang membuat kami melakukannya." Levi menatap lurus kemata Mikasa yang menyiratkan sebuah kekecewaan.
"Kami tak menyesalinya." Kini Isabel turut memberikan suaranya.
"Dan setelah itu kalian menebusnya dengan kematian!"
"Ugh.. bahkan masih teringat jelas rasa sakitnya ketika kepalaku terpisah dari tubuhku." Isabel memegang lehernya dengan mengeluarkan ekspresi kesakitan.
"Kalian dipenggal?" Mikasa terbelalak tak percaya.
"Untuk kami tapi tidak untuk Levi. Entah mengapa saat kepala Levi dipenggal pedang algojo itu tak mampu menembus lehernya."
"Apa maksudmu?" Mikasa tak mengerti dengan penjelasan Farlan.
"Karena Levi adalah ketua kami maka ia yang dieksekusi lebih dulu namun sepertinya Levi kebal terhadap benda tajam, dan setelahnya kami yang merasakan pedang besar yang begitu tajam itu. Bahkan aku masih mengingat pantulan cahaya matahari dari pedang itu yang menerpa wajahku." Farlan meringis saat mengingat kematiannya dulu.
"Tapi kami tak tahu bagaimana cara kak Levi mati setelah itu, dan kami penasaran." Ucap isabel.
"Jadi, bagaimana cara kau mati?" Pertanyaan Farlan membuat Levi merengut.
"Apakah itu penting?" Levi enggan untuk membahas kematiannya.
"Itu penting untuk menjawab rasa penasaran kami, lihatlah Mikasa sepertinya juga ikut penasaran!" Mendengar penuturan Farlan membuat Levi menatap Mikasa yang juga tengah menatapnya penasaran.
"Setelah saat itu mereka mengikatku pada sebuah tiang diatas tumpukan kayu kering lalu membakar tubuhku hidup-hidup."
"Dan kau mati?" Isabel memotong penjelasan Levi.
"Belum. Aku tak mati setelah dibakar, kemudian mereka mengikatku pada sebuah kursi kayu dan menenggelamkanku kedalam danau dan aku masih belum mati."
"Apa saat itu kau manusia?" Pertanyaan Mikasa membuat Levi terkekeh.
"Tentu saja aku manusia! Akupun juga tidak mengerti mengapa saat itu aku tak bisa mati."
"Lalu bagaimana kau bisa mati?" Farlan begitu penasaran hingga ia merubah posisi dari rebahan menjadi duduk hanya untuk memperjelas pendengarannya.
"Mereka menyiapkan makam khusus untukku. Kedua tangan dan kakiku dibelenggu rantai dan mereka menguburku hidup-hidup. Didalam makam gelap aku merasa dingin dan haus yang teramat sangat juga kelaparan, aku berharap agar bisa mati untuk mengakhiri penderitaanku saat itu. Dan setelah sekian lama menunggu aku terbangun dan sudah berada diatas makamku menjadi arwah." Penjelasan Levi membuat semua terkejut.
"Kak, kau pasti begitu menderita. Dan rasa sakit atas semua kejadian yang kau alami bukankah semua terasa nyata?" Pertanyaan Isabel membuat Levi mengangguk.
Levi terkejut saat tiba-tiba Mikasa mendekapnya erat, gadis itu menangisi Levi seakan ikut merasakan rasa sakit yang saat itu Levi alami.
.
.
.
.
.
*
.
.
.
.
.
Pagi itu matahari sudah bersinar terik namun Mikasa masih setia bergulung dalam selimutnya ditambah rengkuhan sosok hantu yang setiap malam menemaninya tidur membuatnya semakin nyenyak.
"Mikasa." Levi mencoba membangunkan gadis itu namun Mikasa tak bergeming.
"Kau harus sekolah." Tak mempan, gadis itu hanya melenguh.
"Mikasa." Levi menepuk-nepuk pipi Mikasa, dan masih tak mampu membangunkan putri tidur tersebut.
"Kau ingin aku bangunkan dengan cara lain?"
Baru saja Levi ingin menyentuh Mikasa namun pintu kamar gadis itu lebih dulu didobrak oleh Eren hingga membuat Mikasa tersentak dalam tidurnya.
"MIKASA! BANGUN! KAU HARUS LIHAT INI!" Eren menarik selimut Mikasa tapi disaat itu dress tidur Mikasa ikut tersingkap hingga memperlihatkan celana dalam gadis itu.
"KYAAAAAAAA!" Teriak Eren sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangannya hingga buku yang saat itu ia bawa terjatuh.
"Bocah ini!" Geram Levi dengan urat kepala yang menonjol dipelipisnya.
Mikasa yang sedikit linglung efek dari bangun tidur tak menyadari jika celana dalamnya masih terekspos menatap bingung Eren yang menutup rapat matanya juga Levi yang sudah mengambil ancang-ancang untuk menerjang Eren.
"Ada apa ini?" Gumam Mikasa bingung.
Eren dan Mikasa melewatkan sarapan mereka karena buru-buru berangkat ke sekolah, mereka terlambat! Eren mengayuh sepedanya dengan ngebut sedang Mikasa yang diboncengnya sibuk membaca buku yang ditunjukkan Eren tadi pagi padanya setelah scene celana dalamnya itu, dahi Mikasa mengernyit saat melihat nama Levi tertera dibuku tersebut.
"Apa kau yakin jika Levi yang berada dibuku ini adalah Levi Ackerman?"
"Annie bilang begitu, kau tau kan jika Annie itu bisa melihatnya. Jadi kemungkinan besar itu benar." Jawab Eren dengan nafas tersengal, ia mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi.
Mikasa tidak mengerti, jika memang didalam buku tersebut adalah Levi tapi mengapa apa yang tertulis di buku itu tak sama dengan apa yang ia dengar langsung dari sumber aslinya. Lalu Mikasa menatap Levi yang terbang melayang disampingnya, hantu itu hanya terdiam tak memberi komentar apapun tentang namanya yang tertera pada sebuah buku sejarah tersebut.
"Darimana Annie mendapatkan buku ini?"
"Entahlah, kau bisa bertanya pada Annie langsung."
.
.
.
.
.
.
*
.
.
.
.
.
Taman dibelakang gedung sekolah adalah tempat yang cocok untuk beristirahat, pepohonan rindang yang terdapat ditaman tersebut begitu teduh dan nyaman maka dari itu Annie selalu menghabiskan waktu istirahatnya ditaman ini dengan membaca buku favoritnya. Namun kali ini Annie tak sendiri ada Mikasa dan si hantu yang selalu mengekori kemanapun gadis itu pergi.
"Jadi begitu, Levi itu hanya perampok bukan pemberontak pemerintahan. Jadi dia dikambing hitamkan?" Ucap Annie setelah ia mendengar penjelasan dari Mikasa.
"Itu sudah lama berlalu dan aku tak memperdulikannya." Ucap Levi yang saat ini tengah duduk pada dahan pohon diatas kepala Mikasa.
"Biarpun begitu nama baikmu tercemar." Mikasa terlihat tidak menerima dengan keadaan ini.
"Sedari awal aku memang tak memiliki nama baik."
"Tapi kau membawa nama Ackerman dibelakang namamu! Dan itu juga namaku!" Mikasa bersungut-sungut.
"Aku rasa ada seseorang yang bisa menjelaskan secara rinci." Ucap Annie seraya kembali membuka buku yang tadi sempat ia baca.
"Siapa yang kau maksud?" Pertanyaan Mikasa tak langsung dijawab oleh Annie, gadis pirang itu sedikit berfikir lalu ia mendongak menatap hantu Levi.
"Apa kau mengenal Ymir Fritz?" Levi terdiam mendengar pertanyaan Annie, kepalanya mengingat sesosok gadis kecil berambut pirang pada masa lampau yang pernah berinteraksi dengan dirinya dikala ia masih menjadi buronan.
"Ah... Dia seorang penyihir kecil." Jawaban Levi membuat Mikasa mengernyit.
"Jika kau percaya, aku masih memiliki darah keturunan darinya." Ucap Annie membuat Levi terbelalak.
"Mikasa, dan untuk sejarah palsu itu kau bisa menanyakannya kepada Mr Erwin." Lanjut Annie membuat Mikasa semakin bingung.
"Mr Erwin?"
"Ya! Dan jika dugaanku benar, maka kita akan melakukan ritual kebangkitan secepatnya." Annie kembali menenggelamkan dirinya pada halaman buku yang berada ditangannya.
TBC