
Sebuah mobil sedan hitam membelah jalanan dengan kecepatan sedang menuju sebuah pemakaman tua yang terdapat dipinggiran kota, mobil tersebut berhenti tepat didepan gerbang pemakaman yang terbuat dari besi dan telah berkarat termakan oleh waktu. Seorang gadis dengan berpakaian serba hitam keluar dari pintu mobil dan disusul oleh dua orang lainnya, mata kelam gadis itu menyusuri setiap sudut pemakaman yang sedikit berubah setelah sekian tahun dia tak pernah lagi mengunjungi pemakaman tersebut membuatnya terseret dalam ingatan kejadian yang selama ini terpaku dalam memori otaknya, ketika ia menyaksikan ayah dan ibunya dimakamkan ditempat ini setelah sebuah musibah yang merenggut nyawa mereka.
Ia melangkah menuju gerbang, ditangannya terdapat satu buket mawar merah favorit ibunya dulu membuatnya teringat kenangan akan masa kecilnya dikala halaman rumahnya dipenuhi tumbuhan mawar merah hasil jerih payah ibunya dan sedikit bantuannya. Sayangnya semuanya telah musnah, hangus terbakar bersama dengan kedua orangtuanya.
Salah satu temannya membuka pintu gerbang tersebut membuat deritan besi berkarat yang terdengar menyayat hati, ia melangkah melewati gerbang tersebut dan diikuti kedua temannya yang setia menjaga dan mengawasinya dari belakang.
Sore itu gumpalan awan hitam menutupi area pemakaman menghalangi sinar matahari menyinari jalanan setapak yang dikelilingi rumput liar dan ilalang yang menyembunyikan ratusan makam yang tak terawat, suasana terasa mencekam saat seekor burung hantu terbang diatas kepala memekikkan suara khasnya yang terdengar menyeramkan. Langkah kaki gadis itu terhenti disebuah makam keluarga, kedua makam dihadapannya juga sama seperti makam yang lain kotor dan tak terawat membuatnya tersenyum miris betapa selama ini ia begitu melalaikan kewajiban sebagai seorang anak walau hanya sekedar membersihkan makam orang tuanya.
Dengan bantuan kedua temannya ia mulai membersihkan kedua makam tersebut, mencabuti rumput liar dan menyingkirkan dedaunan kering yang menutupi makam. Lalu ia memberikan sebuket mawar merah tersebut kemakam ibunya dan ia memejamkan mata memanjatkan doa untuk kedua orangtuanya yang telah mendahuluinya meninggalkan dunia ini.
"Mikasa." Gadis itu menoleh saat salah satu dari temannya memanggil, ia mendapati wajah temannya yang terlihat cemas.
"Aku tak melihat Eren." Gadis itu terbelalak saat menyadari satu dari mereka tak terlihat lagi.
"Kita akan mencarinya dan jangan jauh-jauh dariku, Armin."
Mikasa mengambil satu tangkai mawar merah dalam buket tersebut ia hanya ingin sedikit bernostalgia bersama setangkai mawar itu, lalu ia beranjak meninggalkan makam kedua orang tuanya untuk mencari salah satu temannya yang hilang diantara kabut yang menyelimuti tanah pemakaman.
Mata hijau zamrud itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat ia berpijak saat ini, ia tersesat dan tak menemukan kedua temannya. Ia meruntuki kebodohannya saat ia tanpa pikir panjang mengejar siluet hitam yang tertangkap oleh indra penglihatannya tapi kini ia sadar jika tak ada siapapun manusia yang masih bernafas di area pemakaman ini selain dirinya dan kedua temannya, ia meraba tengkuk lehernya yang meremang saat merasakan seperti ada sesuatu yang tengah mengawasi setiap gerak-geriknya dan itu membuatnya takut ia ingin mencari keberadaan kedua temannya secepatnya tapi entah mengapa area perkuburan tua ini seakan menjadi sebuah labirin untuknya. Ia terperosok saat tanpa sengaja kakinya tersandung sebuah batu yang ukurannya tak terlalu besar dan hanya memiliki lebar sebatas buku tulis, ia merasa buruk setelah mengetahui batu itu memiliki sebuah tulisan dengan nama seseorang tertera disana, tulisan itu tak tampak jelas akibat tertutup butiran tanah, itu bukanlah batu biasa melainkan sebuah nisan.
Pemuda itu terkejut saat seseorang meremas pundaknya lalu ia menoleh takut-takut dan setelahnya ia bernafas lega saat sosok Mikasa dan Armin sudah berada disampingnya.
"Kau baik-baik saja, Eren?" Mikasa menatapnya dengan penuh kekawatiran.
"Agak buruk." Jawab Eren seraya menyambut uluran tangan Armin untuk membantunya kembali bangkit.
"Apa yang membuatmu hingga sampai kesini?"
"Entahlah Armin, aku hanya melihat sesosok bayangan dan aku mengikutinya hingga aku tersandung nisan ini." Eren menunjuk batu nisan yang membuatnya tersandung tadi membuat perhatian Mikasa dan Armin tertuju pada nisan tersebut.
Tak seperti batu nisan pada umumnya, nisan ini hanya berupa bongkahan batu dan terdapat sebuah nama yang kurang jelas tertera disana. Naluri Mikasa terpanggil untuk membersihkan batu nisan tersebut dari kotoran tanah yang menempel hingga nama yang tertera pada nisan tersebut bisa terbaca lebih jelas.
"Levi Ackerman." Mikasa mengeja tulisan dibatu nisan tersebut, membuatnya mengernyit saat menyebutkan marga sang pemilik makam.
"Ackerman?" Pertanyaan keluar dari bibir Eren untuk memastikan jika ia tidaklah salah dengar.
"Mikasa, sepertinya pemilik makam ini masih kerabatmu." Spekulasi Armin menyadarkan Mikasa.
"Sepertinya kau benar, Armin."
Karena mengetahui bahwa pemilik makam misterius ini adalah salah satu kerabatnya Mikasa pun berinisiatif untuk membersihkan makam tersebut dan dibantu oleh Eren serta Armin, lalu Mikasa meninggalkan setangkai mawar merah yang ia bawa tadi diatas batu nisan tersebut dan ia dengan rela hati memanjatkan doa untuk pemilik makam agar mendapatkan tempat yang terbaik.
Hari yang semakin gelap membuat ketiga remaja tersebut memutuskan untuk segera meninggalkan area pemakaman tua tersebut, untuk terakhir kalinya Mikasa menoleh kearah makam misterius lalu ia kembali mengikuti langkah teman-temannya disaat gerimis mulai membasahi tanah perkuburan tua tersebut.
Dibawah rintik gerimis terlihat sesosok laki-laki yang duduk diatas batu nisan yang terdapat setangkai mawar merah disana, dan anehnya mawar itu tak berubah bentuk dan tetap segar meskipun tengah tertindih. Sorot mata tajam laki-laki itu mengarah ke gerbang pemakaman dimana terdapat tiga orang remaja yang tengah memasuki sebuah mobil hitam dan meninggalkan kompleks pemakaman tua tersebut, sebuah senyuman terukir dibibir laki-laki itu saat matanya kembali menatap mawar merah diatas batu nisannya.
*
Malam itu udara terasa dingin dan lembab setelah hujan deras mengguyur membasahi bumi, menciptakan sebuah aura negatif tatkala suasana semakin sunyi disalah satu distrik pinggiran kota membuat para manusia penghuni distrik tersebut lebih memilih untuk berdiam diri dirumah daripada harus keluar dikala gerimis kecil masih melakukan kodratnya. Mikasa menatap genangan air hujan yang terpantul cahaya lampu taman dari balik jendela kamarnya membuat ia kembali menghela nafas saat pikirannya melayang kemasalalu saat ia masih menempati rumah lamanya bersama dengan kedua orangtuanya, entah mengapa setelah berkunjung kemakam orangtuanya membuat Mikasa menjadi terbayang-bayang akan masa lalu. Sebuah ketukan pintu menyadarkan Mikasa dari angan-angan kosong yang sedari tadi mengitari otaknya, terdengar suara Eren agar Mikasa membukakan pintu kamar untuknya.
"Apa kau sudah mengerjakannya? Boleh aku pinjam PR mu?" Eren memasuki kamar Mikasa setelah gadis itu membukakan pintu untuknya, lalu ia menuju meja belajar gadis itu dan disusul Mikasa yang mengekorinya.
"Tapi kau tak boleh menjiplaknya sama persis." Meskipun begitu Mikasa selalu menuruti keinginan Eren, karena Eren lah kini Mikasa kembali memiliki keluarga.
"Ini terasa sulit sekali." Eren menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia hanya terlalu malas untuk berfikir dan menghitung.
Tiba-tiba angin berhembus kencang melalui jendela kamar Mikasa membuat tirai jendela tersebut berkibar membelai tubuh Mikasa tapi yang membuat gadis itu tersentak adalah saat ia merasakan sebuah sentuhan lain dipipinya, terasa dingin. Eren mengumpat saat angin tersebut menerbangkan kertas-kertas yang sebelumnya tersusun rapi dimeja belajar Mikasa, ia memungutinya dan kembali merapikannya dimeja gadis itu lalu Eren menoleh kearah Mikasa yang hanya diam mematung.
"Oi Mikasa, kenapa hanya diam saja?" Eren merasa sedikit kesal saat gadis itu tak membantunya.
"Aku merasakan seseorang menyentuhku."
"Ha? Kau bercanda? Disini tak ada orang lain selain kita dan aku tidak menyentuhmu."
"Sentuhan itu terasa seperti ini." Mikasa menarik tangan Eren dan membawanya ke pipi putihnya.
"Dan terasa dingin." Lanjut Mikasa hingga membuat Eren berjenggit lalu menarik tangannya kembali dari pipi Mikasa.
"Kau jangan menakut-nakutiku! Mungkin saja itu hanya perasaanmu." Meskipun begitu Eren merasakan bulu kuduknya meremang.
"Eren, apa yang ada dibelakangmu itu?" Dengan mata nanar Mikasa menunjuk belakang tubuh Eren hingga membuat pemuda itu terlonjak.
"Aku tidak mau lihat! Aku tidak mau lihat! Aku tidak mau lihat!" Dengan menutup kedua matanya rapat Eren berlari meninggalkan kamar Mikasa dan melupakan PR nya.
Mikasa tersenyum, mudah sekali membodohi Eren membuat hiburan tersendiri untuknya. Akan tetapi sentuhan dipipinya itu Mikasa benar-benar merasakannya tapi ia tak mau ambil pusing toh didunia ini tak ada yang namanya hantu seperti yang selalu Eren ceritakan. Karena tak tega akhirnya Mikasa menyusul Eren dengan membawa buku PR miliknya, tapi setelah Mikasa meninggalkan kamarnya tiba-tiba setangkai mawar merah terjatuh diatas meja belajarnya.
TBC