
Sinar bulan purnama menerobos melalui celah-celah awan tipis yang menutupi sebagian langit gelap menyinari sebuah area pemakaman tua yang terletak dipinggiran kota, terlihat sunyi bagi manusia awam ketika melintasi jalan raya yang melewati area pemakaman tua tersebut. Namun bagi sebagian manusia yang memiliki kelebihan dalam hal supranatural mereka akan melihat keadaan yang berbeda pada malam yang menyelimuti pemakaman tua itu.
Dua sosok mahluk yang berbeda jenis sedang duduk diatas bangunan Mausoleum yang berdiri disebuah makam disalah satu sudut area pemakaman tua tersebut, wajah pucat mereka terlihat mengerut tak bersemangat dan hanya memperhatikan kerumunan orang-orang mati lainnya yang sedang berinteraksi satu sama lain, mereka selalu diabaikan oleh orang-orang penghuni kuburan tua itu, menganggap mereka tak pernah ada dan tak pernah menjadi bagian dari kompleks pemakaman tua itu, tapi mereka sadar jika mereka pantas mendapatkan pengasingan seperti ini sebagai penebusan dosa dikala mereka masih memiliki nafas.
"Sepertinya malam ini dia juga tidak pulang." Ucap salah satu dari mereka memecah keheningan yang sedari tadi terasa menyebalkan.
"Jika sudah saatnya Levi pasti akan kembali, kau tak perlu terlalu mencemaskannya, Isabel." Wajah pucat pria itu melirik gadis disampingnya, sejak kepergian Levi yang tiba-tiba tanpa mengabari mereka lebih dulu gadis disampingnya ini terlihat tak bersemangat seperti biasanya.
"Farlan, ini terasa tak adil bagiku, bagaimana bisa hanya kak Levi yang bisa meninggalkan tempat menyebalkan ini, dan kita selamanya tak pernah bisa melewati pagar pembatas itu?"
Sebenarnya Farlan juga memikirkan hal yang sama seperti apa yang tengah dipikirkan oleh Isabel, hakikatnya sebagai penghuni makam mereka tak akan bisa meninggalkan area pemakaman ini dan hal itu juga berlaku untuk penghuni makam lainya, namun Levi berbeda, entah apa yang membuatnya berbeda hingga ia bisa leluasa keluar masuk makam sesuka hatinya.
"Dia seperti memiliki keistimewaan, apa berhubungan dengan kematiannya dulu?"
"Entahlah, kita lebih dulu mati daripadanya. Dan dia tak pernah mau memberitahukan bagaimana kematiannya pada kita. Sedang orang-orang yang menyaksikan kematian Levi saat itu tak sudi melihat kita apalagi berbicara dengan kita." Terlihat sedikit raut amarah bercampur kecewa ketika Farlan menjawab dari pertanyaan Isabel.
"Aku berfikir jika kematiannya lebih mengerikan daripada kita."
.
.
.
.
.
*
.
.
.
.
.
Mikasa menatap bingung pada sosok Annie yang kini berada dikamarnya, gadis itu terlihat cuek seperti biasanya dan seperti tak minat untuk berinteraksi dengan Mikasa. Lalu untuk apa dia kemari?
"Aku dengar kau sudah pulang dari rumah sakit, jadi aku datang untuk menjengukmu." Ucap Annie saat melihat raut bingung diwajah Mikasa.
Alasan Annie memang terdengar aneh mengingat ia dengan Mikasa yang tak akrab dan hanya sebatas saling kenal, tapi kini ia merasa bodoh karena menyanggupi permintaan Armin dan Eren waktu itu, ia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang mudah sekali luluh hanya karena melihat wajah melas Armin.
"Hanya itu?" Mikasa masih terlihat ragu, karena memang terlihat aneh.
"Tidak! Sebenarnya aku ditugaskan untuk menjagamu dari dia." Annie menunjuk Levi yang kala itu berada di belakang Mikasa, ia merasa gatal jika tak berbicara jujur. Sedang Levi masih setia dengan ekspresi datarnya.
"Apa Eren dan Armin yang menyuruhmu?"
"Mereka merengek seperti bayi padaku."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan padaku?"
"Menjauhkan hantu itu darimu mungkin?" Annie terlihat agak ragu dengan ucapannya.
"Itu terdengar bagus." Mikasa melirik Levi yang berada dibelakangnya.
"Dia terlalu mesum saat didekatku." Lanjut Mikasa yang membuat Levi mendecih.
"Maaf saja nona-nona, aku tidak berniat untuk menjauh. Jadi urungkan saja niatmu nona!" Levi menatap Annie jengah, dia tak berniat untuk melepaskan Mikasa setelah semua ini, dan takkan semudah itu untuk menyingkirkan dirinya.
"Dia hantu yang keras kepala bukan?" Pertanyaan Mikasa dibalas anggukan oleh Annie.
"Semuanya menjadi lebih rumit saat sesosok hantu jatuh cinta padamu."
"Sebenarnya aku tak mengharapkan hal itu terjadi." Mikasa menyahuti komentar Annie.
Benar, Mikasa tak pernah mengira jika dirinya malah terjebak dalam hal gaib seperti ini, andai saja waktu bisa diulang Mikasa tak ingin berurusan dengan makam Levi jika tahu akan begini jadinya.
Bersandar pada kusen jendela dikamarnya, Mikasa menatap kepergian Annie dengan Eren yang menawarkan diri untuk mengantarnya. Annie berbalik dan melihat Mikasa yang juga sedang memperhatikannya, Mikasa tak mengerti dengan tatapan Annie padanya seolah merasa kasihan dan itu membuat Mikasa merasa tak nyaman. Lalu Annie berbalik dan memasuki pintu mobil bersama Eren meninggalkan halaman rumah kediaman Jaeger.
"Aku takkan meninggalkanmu." Mikasa tersentak saat suara Levi begitu dekat dengan telinganya.
"Kau hantu! Lebih baik cari hantu wanita sana!" Kata-kata Mikasa membuat Levi terkekeh.
"Bagaimana kalau kau yang aku jadikan hantu wanitaku?" Levi bersedekap dada dengan mata mengerling pada Mikasa.
"Dalam mimpimu!" Gadis itu beranjak meninggalkan Levi dan keluar dari kamarnya, meninggalkan Levi dengan seringaian dibibir tipisnya.
"Aku serius." Gumam Levi dengan kornea matanya yang berubah menjadi semerah darah.
.
.
.
.
.
*
.
.
.
.
.
Pagi itu Mikasa tersenyum saat dirinya tengah dibonceng Eren dengan sepeda anginnya, awalnya Mikasa yang akan membonceng Eren namun Carla langsung memarahi pemuda itu dan tak lupa menjewer kupingnya. Udara pagi yang terasa segar ditambah langit pagi yang terlihat lebih cerah daripada kemarin membuat Eren memperlambat laju sepedanya, menikmati setiap momen yang terasa hangat saat dirinya bersama dengan Mikasa. Iya, Eren begitu menyayangi Mikasa layaknya saudara kandungnya, karena mereka tumbuh bersama sejak kecil hingga kini membuat suatu ikatan benang merah antara dirinya dengan Mikasa, tentu ia akan begitu cemas saat mengetahui jika Mikasa bermasalah dengan sesuatu yang diluar nalar.
"Eren, mengapa kau semakin memperlambat laju sepedanya? Kita bisa terlambat." Mikasa melirik jam dipergelangan tangannya, beberapa menit lagi bel sekolah akan berbunyi, mereka memang berangkat sedikit terlambat untuk hari ini.
"Berapa berat badanmu? Kau berat sekali." Eren malah meledek Mikasa jika ini karena salah gadis itu yang terlalu berat, dan dibalas Mikasa dengan memukul punggung Eren membuat pemuda itu terkekeh.
"Hei Mikasa! Apa hantu Levi masih mengikutimu?"
"Menurutmu?" Mikasa malah balik bertanya pada Eren.
"Apa dia melayang disampingmu?" Mikasa kembali menyunggingkan senyum lalu ekor matanya melirik kearah Levi yang berada disampingnya, hantu itu terlihat masam dengan wajah pucatnya yang mengerut.
"Sesuai dugaanmu, Eren."
"Owh... Sampai kapan dia akan mengikutimu?"
"Kau tak takut, Eren?"
Mikasa terkejut saat ia memasuki kelas dan teman-temannya langsung mengerumuninya bertanya berbagai hal padanya yang berhubungan dengan kejadian diperpustakaan tempo hari, hal yang masih terlihat menarik untuk dibahas.
"Jadi kau tak melihat semuanya?" Mikasa hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Sasha.
"Bahkan kau tak tahu apa yang terjadi setelahnya?"
"Tidak Sasha, aku tak ingat apapun setelahnya."
"Saat itu kembali terjadi hal aneh setelah semua yang terluka dievakusi dari perpustakaan, dalam perpustakaan tersebut terdengar suara-suara aneh dan benda-benda berbenturan yang terdengar keras. Kau bisa bertanya pada Reiner, dia merekam semuanya saat rak, buku dan segala yang berada dalam perpustakaan tersebut melayang lalu saling berbenturan. Setelah kejadian itu sekolah dipulangkan lebih awal." Penjelasan Sasha membuat Mikasa terkejut lalu ia menoleh kearah Levi dengan wajah terbelalak.
"Hanya duel kecil." Jawab Levi seperti mengerti apa yang akan ditanyakan oleh gadis itu.
Dan bel pun berbunyi.
Mr Erwin memasuki kelas dengan tas hitam juga beberapa buku tebal yang berada ditangannya. Mata pelajaran sejarah adalah mata pelajaran yang membuat bosan untuk beberapa siswa, mereka selalu mengantuk saat pelajaran berlangsung, karena pembahasan sejarah menjelma layaknya dongeng penghantar tidur.
Entah sudah keberapa kalinya Eren menguap, saat Mr Erwin mulai mendongeng tentang sejarah paradise dan asal usul distrik shiganshina yang telah terjadi seratus tahun lalu membuat mata Eren memberat. Lalu ia melirik Armin yang duduk di bangku sampingnya, tak seperti dirinya Armin begitu menekuni pelajaran tersebut, ia memang murid yang rajin. Lalu Eren melihat Mikasa yang duduk di bangku depannya gadis itu seperti menggumamkan sesuatu dan Eren mendengarnya seperti kata 'jangan ganggu aku!' sepertinya gadis itu sedang berinteraksi dengan hantu Levi dan itu membuat Eren merasa tak nyaman saat tubuhnya kembali merasakan efeknya.
"Aku tak menyangka jika sejarah kini telah banyak dirombak hingga tak sesuai dengan cerita aslinya." Komentar Levi saat ia ikut memperhatikan penjelasan Erwin.
Mikasa menuliskan sesuatu dibuku tulisnya dan menunjukkannya pada Levi.
"Bagaimana bisa kau tahu jika sejarah telah diubah?" Levi membaca tulisan Mikasa.
"Karena aku hidup di jaman itu, jadi aku lebih tau banyak kebenaran daripada gurumu yang beralis tebal itu."
"Pantas kau terlihat kuno." Levi kembali membaca tulisan Mikasa.
Levi tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Mikasa membuat gadis itu terbelalak dengan wajah bersemu, dengan jarak sedekat ini Mikasa bisa melihat wajah Levi yang begitu tampan meskipun pucat dan ia tak mengerti ketika detak jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya juga debaran aneh yang mengiringinya, ditambah ia merasakan sesuatu yang merayap menyebar didalam perutnya, membuat ia merasa aneh sekaligus menyenangkan.
"Kau terpesona denganku, hm?" Ucapan Levi membuat Mikasa menunduk, entah mengapa ia merasa malu saat ini.
Gadis itu tak berani menjawab pertanyaan Levi ataupun bertindak aneh didalam kelas disaat ia dikelilingi banyak orang yang tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Pernah berciuman?"
Terkejut, Mikasa langsung mendongak dan menatap Levi yang kini semakin menunduk kearahnya dan hal selanjutnya yang Mikasa rasakan adalah bibir Levi yang menempel pada bibirnya. Mikasa mematung, bahkan saat Levi mulai menggerakkan bibirnya gadis itu hanya bisa mencengkeram pinggiran meja disaat ia mulai tak bisa mengendalikan detak jantungnya yang semakin cepat hingga semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
*
.
.
.
.
.
Mikasa mengerjap saat sinar matahari dari jendela yang terasa silau dikala ia membuka mata, ia memegang kepalanya yang berdenyut, sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, perlahan ia mulai mengingat saat Levi menciumnya didalam kelas dan ia pingsan? Astaga, hantu Levi memang kurang ajar! Dia mencium Mikasa dihadapan banyak orang dan beruntungnya sosok Levi yang tak terlihat membuat orang-orang yang berada dikelas tersebut tak ada yang menyadari apa yang terjadi pada Mikasa.
"Oh, sudah bangun."
Mikasa menoleh kearah samping dan mendapati Annie yang tengah duduk di kursi tunggu dengan buku tebal ditangannya. Lalu mata Mikasa mengitari setiap sudut ruang klinik sekolah dan ia tak mendapati sosok Levi disekitarnya, aneh sekali.
"Apa yang terjadi?"
"Kau pingsan dikelas." Ucap Annie sembari membuka halaman selanjutnya dari buku yang tengah ia baca.
"Bukan itu, maksudku dimana Levi?"
Annie menghentikan kegiatan membacanya dan menatap Mikasa lekat.
"Hantu itu? Dia diluar, untuk sementara dia tak bisa mendekatimu karena pelindung yang aku berikan padamu." Annie menunjuk tangan Mikasa yang terdapat sebuah gelang dari biji bidara.
"Begitu ya..." Mikasa memperhatikan gelang tersebut.
"Dan kenapa kau yang disini?" Lanjut Mikasa tidak mengerti, wajarnya Eren atau Armin yang menungguinya mengingat kedua orang itu sahabat terbaik Mikasa namun kini malah Annie yang menungguinya.
Annie memutar bola matanya mendengar pertanyaan Mikasa, bukankah ia sudah menjelaskan jika ia bertugas melindungi gadis bersurai raven tersebut.
"Aku melihat Mr Erwin membopongmu seperti pengantin menuju kemari, lalu Eren memberikan catatan ini padaku." Annie menunjukkan tulisan Mikasa saat ia berkomunikasi dengan Levi dikelas tadi.
"Annie, Apa kau bolos pelajaran?"
"Tidak juga, kelasku sedang dalam jam kosong saat ini."
.
.
.
.
.
*
.
.
.
.
.
Sore itu langit begitu gelap karena tertutupi oleh awan hitam tebal yang terhampar luas sejauh mata memandang, gerumbulan awan itu terlihat mengerikan dengan kilatan yang saling bersahutan serta suara gemuruh membuat suasana terasa semakin mencekam, lalu langit mulai meneteskan milyaran air dari dalam tubuhnya membasahi dataran bumi dan membuat udara semakin terasa dingin menusuk.
Mikasa memperhatikan derasnya hujan melalui jendela kamarnya, udara yang mendingin membuat ia mengeratkan sweter yang ia kenakan, hatinya gamang merasakan jika ada sesuatu yang kurang didalam hidupnya, lalu ia menatap gelang yang masih melingkari tangannya, sejak Mikasa memakai gelang itu ia tak pernah lagi melihat sosok Levi disekitarnya, lalu ia menghela nafas panjang saat ia merasakan dadanya yang semakin menyempit membuat saluran pernafasannya menjadi lebih berat.
Hujan juga tengah mengguyur pemakaman tua tersebut, menyisakan kepedihan bagi pemilik nisan yang terdapat setangkai mawar kering diatasnya, sudah beberapa hari ia tak bisa mendekati belahan jiwanya karena terhalang oleh suatu dinding tak kasat mata yang membatasi mereka, memberikan jarak bagi dirinya walaupun hanya beberapa meter saja, Levi hanya sesekali mengawasi gadisnya disaat Levi tak bisa mendekati ataupun menyentuhnya membuat ia merasa tersiksa, ini lebih mengerikan dari ditenggelamkan kedalam danau yang memiliki air dingin atau terbakar api yang membara dan itu semua tak sebanding dengan rasa yang menyiksa dalam hatinya saat ini, bahkan ia tak mengerti meskipun ia telah mati ia masih merasakan hatinya yang berfungsi seperti saat ia masih bisa merasakan dinginnya udara atau panasnya sinar matahari yang membakar kulit.
Farlan dan Isabel hanya menatap prihatin pada sosok Levi yang berdiri diatas makamnya dengan menunduk menatap mawar kering yang tak berganti posisi sejak mawar itu diletakkan seorang gadis yang mampu meremas hatinya, meskipun hujan hanya menembus tubuhnya namun kini Levi bisa merasakan dingin yang merambati dada hingga untuk pertama kalinya menyesali jika dirinya telah mati, dan mulai berandai-andai jika ia hidup dimasa ini ia akan melakukan apapun untuk tetap bisa berada disisi Mikasa.
"Sampai kapan penyiksaan ini akan berlanjut?" Gumamnya, lalu ia mendongak menatap langit yang menangis.
TBC