You Are A GHOST!

You Are A GHOST!
6. Hollow


Sambil menopang dagu dengan pandangan kosong menatap keluar jendela kelasnya, tak menghiraukan suara berisik teman-teman sekelasnya yang menikmati jam pelajaran kosong dari sang guru yang tengah absen tak membuat Mikasa tertarik bergabung dengan teman-teman perempuannya yang sedang berkumpul untuk menggosip atau sekedar pamer khas remaja perempuan pada umumnya, kini Mikasa hanya terdiam dengan sesekali menghela nafas berat saat ia merasakan sesuatu yang aneh menghinggapi dada dan kepalanya. Ia merasa hampa, itulah yang ia rasakan akhir-akhir ini dan entah mengapa setelah tak melihat kehadiran Levi disekitarnya ia merasakan kekosongan dan seakan ada rongga didalam dadanya yang tak terisi. Atau mungkinkah Mikasa sudah terbiasa dengan kehadiran sosok Levi disekitarnya hingga ia merasakan kehilangan saat ini? Kembali ia menatap susunan gelang biji bidara yang melingkari tangannya, sempat ia terfikir untuk melepaskan gelang tersebut namun ia urungkan, disaat hatinya seakan mencari sebuah kepastian dan ia berusaha untuk sabar menunggu jika memang apa yang diucapkan oleh hantu Levi saat itu bukanlah bualan belaka.


"Maaf saja nona-nona, aku tidak berniat untuk menjauh. Jadi urungkan saja niatmu nona!"


Ucapan Levi kala itu masih terngiang dikepala Mikasa, jikalau memang hantu itu tak berniat untuk menjauh dari Mikasa seharusnya ia bisa lebih gigih untuk tetap berada disamping Mikasa apapun itu bentuk rintangannya. Lalu Mikasa memijat pelipisnya pelan saat ia menyadari jika ia seperti seseorang yang tengah menguji kesetiaan kekasihnya dan sayangnya yang diuji Mikasa disini bukanlah kekasihnya melainkan sesosok hantu yang beberapa waktu lalu terus menempelinya dan juga yang telah merebut ciuman pertamanya. Mikasa pun tak menyadari ketika Eren menghampirinya dan memilih duduk di bangku menghadap gadis itu.


"Kau melamun lagi?"


Mikasa tersentak, gadis itu baru menyadari kehadiran Eren setelah pemuda itu bertanya kepadanya. Eren menatap Mikasa dengan lembut dan tersirat rasa khawatir diwajah tampannya.


"Maaf." Mikasa meminta maaf atas kesalahannya hingga membuat Eren mengkhawatirkan dirinya.


"Tak perlu meminta maaf atas hal yang bukan kesalahanmu. Dan aku sudah mendengarnya dari Annie jika hantu itu sudah tak mengikutimu lagi. Bukankah itu hal yang bagus?" Mikasa hanya tersenyum miring menanggapi perkataan Eren dan entah mengapa ia tak merasakan yang dikatakan Eren 'hal yang bagus' itu.


"Setelah ini kau bisa hidup normal seperti sedia kala." Eren mengacak rambut Mikasa sayang.


"Aku tak melihat Armin?" Mendengar pertanyaan Mikasa membuat Eren merengut, wajah pemuda itu langsung terlihat suram.


"Dia sedang bersenang-senang dengan Annie." Mikasa tertawa kecil saat melihat Eren yang tengah merajuk seperti seorang anak yang telah diambil mainannya.


"Annie lebih tertarik pada Armin daripada denganmu, eh?"


"Itu karena mereka memilik hobi yang sama saja! Hobi yang membosankan."


Perbincangan keduanya mengalir dengan alami membuat semua yang melihat mereka akan berpendapat jika mereka begitu akrab dan dekat, namun tak ada yang menyadari saat disalah satu atap kelas berdiri sesosok mahluk yang menatap sedih kearah Mikasa dan Eren.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


   Menjadi penguntit dan hanya bisa melihat dari jarak jauh itu memang menyebalkan, akan tetapi Levi rela melakukan itu asalkan ia masih bisa melihat gadis pujaannya. Namun dikala ia tak kuat membendung hasratnya untuk lebih mendekati Mikasa maka ia lebih memilih menjauh dan kembali kemakam untuk meredam gejolak yang bergelora didadanya, karena akan lebih terasa menyakitkan saat ia hanya bisa melihat namun tak bisa menyentuh.


Malam ini bulan purnama yang tak tertutupi awan terlihat sempurna dan begitu indah menggantung di langit pemakaman tua, cahayanya yang remang menyinari setiap sudut makam yang tak tertutupi oleh rindangnya pohon maupun Mausoleum yang menjulang tinggi. Para penghuni pemakaman tua melakukan kegiatan seperti biasa yang mereka lakukan setiap malamnya, saling berinteraksi satu sama lain dan saling berkunjung kemakam lain untuk sekedar menghibur diri agar mereka tak merasa kesepian didunia yang hanya dibatasi tembok berlumut juga besi berkarat yang mengelilingi area perkuburan tua. Levi melangkah melewati beberapa makam yang berpenghuni arwah lainnya, mereka ada yang bergerombol namun tak sedikit juga yang hanya duduk sendiri diatas makam memperhatikan area sekitarnya, namun satu hal yang Levi tahu mereka yang selalu menatap dirinya dengan tatapan yang sama, merendahkan dan seolah Levi adalah wabah penyakit yang harus mereka hindari, akan tetapi ia tak pernah memperdulikan hal itu karena disini yang ia pedulikan hanya kedua rekannya yaitu Isabel dan Farlan. Kemudian langkah Levi berhenti disalah satu makam keluarga dan seperti makam lainnya disitu terdapat dua arwah laki-laki dan perempuan yang selama ini menempati makam tersebut, Levi mendekati kedua arwah tersebut yang juga tengah menatapnya bingung lalu Levi melihat tulisan kedua makam yang tersemat nama Ackerman disana.


"Apa kalian orang tua Mikasa?" Pertanyaan Levi membuat kedua arwah itu terkejut.


"Bagaimana kau tahu tentang Mikasa?" Ucap laki-laki berambut terang yang Levi bisa menebak jika orang itu adalah ayah Mikasa.


"Karena aku mencintainya." Ucap Levi sebelum ia beranjak dari hadapan kedua arwah orang tua Mikasa tersebut.


Kembali kedua orang tua Mikasa dibuat terkejut oleh ucapan Levi kepada mereka, bahkan ibu Mikasa sampai terduduk lemas disamping makamnya ketika ia merasa khawatir dengan nasib anak semata wayangnya.


Dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya Levi kembali berjalan melintasi jalan setapak yang mengarah ke makamnya, hatinya nelangsa saat ingatannya kembali memutar scene dimana Mikasa yang tengah tersenyum bersama Eren dan juga momen saat Eren mengacak rambut Mikasa membuat Levi merasakan hampa didadanya dan entah mengapa kini ia berharap bisa hidup kembali.


"Kakak." Levi mendongak melihat Isabel yang melambai kearahnya dan juga Farlan yang tersenyum menyambut kedatangannya membuat hati Levi bisa sedikit terobati.


Kini ketiga arwah itu tengah berbaring diatas rerumputan dengan menatap sang bulan purnama yang agung, Levi yang berada ditengah antara Isabel dan Farlan hanya terdiam sambil menikmati keindahan bulan serta gugusan bintang yang tersebar luas di angkasa membuat ia teringat saat masih hidup dulu ia sering mengira saat ia mati kelak ia bisa terbang ke langit dan mencapai bulan maupun bintang namun kenyataannya tidak seperti apa yang ia ekspektasikan, bahkan setelah ia mati bukannya ia merasa bebas malah semakin merasakan kekosongan sebelum ia melihat gadis itu, Mikasa Ackerman.


Sejak saat Mikasa menuruni mobil hitam dan memasuki area pemakaman waktu itu, Levi telah memperhatikan kedatangannya. Bak magnet gadis itu begitu menarik untuk Levi perhatikan, selama ini tak pernah sekalipun Levi peduli kepada orang hidup yang memasuki area pemakaman ini namun Mikasa berbeda, seperti ada sesuatu yang membuat Levi begitu terpaku kepadanya. Ia mengikuti kemana arah Mikasa dengan kedua sahabatnya melangkah dan Levi berusaha untuk memperlihatkan wujudnya kepada sang gadis akan tetapi bukan gadis itu yang menyadari keberadaannya namun sosok pemuda berambut cokelat dengan mata hijau itulah yang menyadari kehadiranya, dan Levi pun menggiring pemuda itu untuk mengikutinya dan sampai dimakam miliknya. Lalu semua berjalan sesuai dengan apa yang Levi inginkan, Mikasa juga datang kemakamnya saat gadis itu mencari sosok temannya dan apa yang diharapkan Levi pun terkabul gadis itu menaruhkan mawar merah diatas nisannya, dan mawar itulah penghubung antara dirinya dengan sang gadis dan melalui media mawar itu ia bisa menjerat jiwa Mikasa. Namun kini ia harus dihadapkan dengan rintangan lain setelah gadis itu mengenakan gelang laknat itu Levi tak bisa lagi mendekatinya dan itu membuatnya frustasi.


"Levi, kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Gadis itu masih hidup dan kau sudah mati. Bukankah itu tidak mungkin?" Kini Farlan sudah mengetahui semua alasan mengapa Levi selalu menghilang dari pemakaman dan itu untuk mengejar gadis yang tak bisa dijangkaunya.


"Aku mengerti, tapi aku tak bisa menghindari perasaan ini." Jawaban Levi membuat Farlan tak merasa puas.


"Dia masih hidup. Kalian tak mungkin bisa bersama kecuali gadis itu mati." Ucapan Farlan membuat Isabel terbelalak, ia yang sedari tadi hanya mendengar kini mulai merasa harus ikut andil.


"Mana boleh seperti itu! Biarpun kakak mencintainya kakak harus bisa menjaga kehidupannya, dia masih muda pasti masih banyak hal yang ingin ia lakukan sebelum ia mati. Karena jika sudah mati ia tak akan lagi bisa meraih mimpinya seperti kita dan orang-orang penghuni kuburan ini." Isabel merasa dongkol disini, ia paham dengan semua itu karena ia juga mati diusia muda.


"Pasti ada cara lain. Pasti ada!" Gumam Levi meyakinkan dirinya sendiri.


DEG


Tiba-tiba Levi terperanjat lalu terbangun menjadi posisi duduk saat jantungnya mulai berdetak cepat, ia merasa berdebar. Levi meraba dadanya dan ia terperangah.


"Ada apa?" Farlan bingung dan ikut bangun dari pembaringannya.


"Kenapa jantungku bisa kembali berdetak?"


"Eh?" Baik Farlan maupun Isabel keduanya sama-sama terkejut. Tak mungkin orang mati jantungnya kembali berfungsi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mikasa mengeluarkan darah yang menetes dari jarinya yang tersayat pisau saat ia membantu Carla memotong sayuran di dapur untuk makan malam, namun Mikasa terkejut saat melihat darahnya yang menguap dan mulai hilang. Eren yang kala itu tengah mengambil minuman dingin dikulkas menghampiri Mikasa yang mematung seraya memandangi jarinya yang tersayat.


"Kau tersayat?" Eren langsung menyambar tangan Mikasa dan mengamati jari gadis itu yang tersayat cukup dalam namun darah yang keluar selalu menguap tertelan oleh udara membuat Eren menatap Mikasa penuh kekhawatiran.


"Darahmu masih menguap?" Pertanyaan Eren membuat Mikasa bingung.


"Masih? Apakah sebelumnya juga pernah terjadi seperti ini? Dan mengapa darahku bisa menguap?" Ternyata dugaan Eren benar jika Mikasa tak tahu apapun.


Tak menjawab pertanyaan Mikasa, Eren justru membawa jari gadis itu kedalam mulutnya lalu menghisap luka Mikasa hingga membuat wajah gadis itu bersemu.


"Bahkan aku tak merasakan darahnya." Gumam Eren setelah melepas jari Mikasa dari mulutnya.


"Apa ibu tahu tentang ini?" Mikasa melirik Carla yang tengah menata meja makan.


"Sepertinya ibu tidak tahu tentang hal ini, jika dia tahu mungkin saat ini dia yang paling heboh dan membuat gempar." Mikasa hanya tersenyum mendengar penuturan Eren, ia sadar akan hal itu betapa keluarga ini begitu menyayangi dirinya.


    Makan malam telah berlalu beberapa jam yang lalu, kini Mikasa menghabiskan malamnya dengan membaca sebuah buku yang Armin pinjamkan kepadanya. Itu adalah buku dimana saat Armin memamerkan buku itu padanya dan Eren waktu itu, buku pemberian Annie. Buku itu berisi hal-hal yang berbau mistis dan supranatural, perhatian Mikasa pun tertuju pada satu halaman yang mengupas tentang penyihir.


"Jadi penyihir itu benar-benar ada?" Gumam Mikasa pada dirinya sendiri.


Awalnya Mikasa tak mempercayai apapun itu yang berhubungan dengan hantu maupun dunia lain, namun setelah kemunculan Levi didalam hidupnya kini Mikasa mempercayai pada hal-hal semacam itu. Kembali hatinya merasa seakan diremas ketika ia teringat sosok hantu Levi yang sudah beberapa hari ini tak nampak dimatanya.


"Levi." Gumam Mikasa seraya mengganti posisi dari tidur tengkurap menjadi terlentang diatas kasurnya.


Tak dipungkiri jika Mikasa memang merindukan sosok Levi disekitarnya namun sepertinya ia harus memendam dalam-dalam perasaan itu, karena mereka berada didalam dunia yang berbeda. Mikasa tersentak saat tekanan udara disekitarnya semakin rendah membuat ia merasakan sesak hingga ia tak mampu bergerak walau hanya menggerakkan kaki, kemudian ia terbelalak ketika gelang biji Bidara yang ia kenakan terputus dan setiap butiran bijinya bercerai-berai terlempar ke segala arah lalu Mikasa merasakan sesuatu yang tak terlihat mulai menindih tubuhnya kemudian ia melihat gumpalan kabut asap diatas tubuhnya membentuk sosok  manusia dan semakin lama menjadi lebih padat membentuk tubuh solid yang Mikasa kenal hingga membuat gadis itu menahan nafas.


"Kau memanggilku?" Levi menatap Mikasa yang terbelalak dibawahnya dengan sorot mata penuh kerinduan serta mendamba.


Mikasa masih begitu terkejut dengan kemunculan Levi secara tiba-tiba, ia mengerjap memastikan jika ia tak salah lihat ataupun bermimpi, namun tekanan tubuh Levi yang menindihnya terasa begitu nyata dan detik berikutnya ia kembali terkejut saat ia merasakan bibir Levi yang menekan bibirnya kuat. Mikasa mengerang saat ia merasakan ciuman Levi yang semakin dalam, ******* bibirnya dengan kasar bahkan lidahnya menerobos masuk dan mengabsen segala yang ada didalam mulut Mikasa yang terasa manis, menyalurkan hormon testosteron lewat Saliva yang membuat tubuh Mikasa semakin memanas dikala darah mengalir deras didalam tubuhnya menciptakan ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perut dan membuat jantungnya berpacu lebih cepat, anehnya Mikasa merasakan bahagia saat ini. Secara naluriah tangan Mikasa terjulur meremas rambut hitam Levi menyalurkan perasaan serta hasratnya lewat remasan dirambut itu yang semakin menguat, Levi melepaskan pagutannya lalu menatap wajah Mikasa yang sudah merona dengan begitu cantiknya.


Ciuman Levi bagaikan candu membuat Mikasa begitu terobsesi hingga ia menarik kepala Levi dan kembali menyatukan bibir mereka, saling ******* dengan lembut mengecap setiap rasa manis dari bibir masing-masing memunculkan hasrat seksualitas yang menggebu, Mikasa melingkarkan kakinya pada pinggang Levi membuat pahanya yang mulus terekspos dikala dress putih yang ia kenakan tersingkap dan tangan Levi yang dingin tak menyia-nyiakannya dengan mengelus serta meremasnya hingga paha putih itu memerah.


Levi tersenyum diantara ciuman panas mereka, ia tak menyangka jika kehadirannya disambut dengan begitu hangat oleh Mikasa dan gadis itu secara terang-terangan juga menunjukkan jika dirinya menginginkan Levi seperti Levi menginginkannya, bibir Levi meninggalkan bibir ranum Mikasa yang sedikit membengkak akibat ciuman yang ia gencarkan, kini Levi mulai menjelajahi leher putih gadis itu menjilat lalu menghisap  meninggalkan ruam merah dibeberapa tempat dan ia merasakan cengkraman tangan Mikasa pada rambutnya semakin menguat.


Sebuah getaran ponsel membuat Mikasa yang semula terpejam menikmati sentuhan Levi mulai membuka matanya lalu melirik Levi yang masih berkutat pada pundak Mikasa dan juga tulang selangka gadis itu. Levi mengerang saat getaran ponsel itu mengganggu aktivitas panasnya dan dalam hati ia mengutuk adanya setan gepeng yang menyesatkan manusia tersebut, bahkan kini setan gepeng itu juga telah mengganggunya, Siapa yang menciptakan benda bodoh itu?


Mikasa meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera diposel pintar miliknya, lalu ia menggeser layar untuk mengangkat telpon tersebut dan mulai mengabaikan Levi yang masih menjelajahi area lehernya.


"Ya, Annie?" Mikasa menyahuti sapaan telpon diseberang.


"Ah, iya. Gelang itu putus dengan sendirinya." Mikasa menjawab pertanyaan Annie.


"Hantu itu? Dia... Sekarang tengah menindihku dan menciumi leherku." Jawaban Mikasa atas pertanyaan Annie membuat Levi menghentikan aktivitasnya lalu menatap Mikasa dengan tatapan tak percaya. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh gadis ini?


"Kau akan memberiku benda penangkal hantu lainya?"


Sekarang Levi merasa kepalanya seperti dihantam sesuatu yang keras.


"Tak perlu, jika dia macam-macam aku akan membuatnya mati untuk kedua kalinya." Mikasa menatap Levi dengan seringaian yang entah mengapa membuat Levi merasa takut padanya.


Mikasa memutuskan sambungan telpon dari Annie dan melempar ponselnya disamping, tangannya pun kembali meraih tengkuk Levi mendekatkan wajahnya kearah telinganya.


"Apa kau ingin memasukiku?" Bisik Mikasa hingga membuat tubuh Levi merinding. Hantu itu menghilang dari lilitan Mikasa membuat Mikasa mendecak saat ia memeluk udara kosong.


"Kenapa kau jadi begitu liar?" Mikasa melirik Levi yang sudah duduk diatas meja belajar miliknya.


"Karena kau yang mengajariku. Kau terlihat sangat berpengalaman saat menyentuhku apa saat masih hidup dulu kau itu maniak wanita?" Pertanyaan Mikasa membuat Levi mendengus.


"Aku tak pernah menyentuh wanita manapun selain ibuku dan Isabel."


"Isabel? Kekasihmu?"


"Bagaimana kalau kau bertemu langsung dengannya? Dia ingin sekali bertemu denganmu."


"Benarkah? Sekarang dimana dia?"


"Dipemakaman tua." Levi beranjak dari tempatnya menghampiri Mikasa dan mengulurkan tangannya, dengan ragu gadis itu menyambut uluran tangan Levi.


"Apa kau siap?" Pertanyaan Levi membuat Mikasa berfikir sejenak lalu kemudian ia mengangguk sebagai tanda setuju.


Senyuman terukir diwajah tampan Levi, lalu ia membawa Mikasa dalam rengkuhannya menenggelamkan kepala gadis itu dalam dada bidangnya. Mikasa merasakan tubuhnya  mengambang diantara udara kosong lalu beberapa saat kemudian ia merasakan lututnya yang semula berada diatas kasur empuknya kini ia merasakan sakit seakan menindih kerikil-kerikil kecil, Levi melepaskan dekapannya membuat Mikasa mengernyit saat ia mendapati kegelapan malam dan tiupan angin dingin menerpa tubuhnya yang kala itu hanya mengenakan dress putih tanpa lengan membuat ia menggigil. Namun Mikasa terbelalak saat menyadari kini dirinya telah berpindah tempat dengan cepat didepan gerbang pemakaman tua.


"Selamat datang didunia kami." Ucap Levi seraya membantu Mikasa berdiri.


TBC