You Are A GHOST!

You Are A GHOST!
2. Terror of red roses


Didalam kegelapan sebuah siluet sesosok bayangan yang terlihat samar mengulurkan tangannya kearah Mikasa, bayangan itu semakin mendekat kearah Mikasa yang terlilit tangkai mawar berduri menjalari tubuhnya hingga membuat ia tak mampu bergerak, setiap duri dari tangkai mawar tersebut menusuk kulit putihnya menciptakan aliran darah yang merembes menuruni setiap inci dari tubuh Mikasa tapi ia tak mampu merasakan sakitnya, sosok itu semakin mendekatinya dengan tangan pucat yang terjulur hendak menyentuh wajah Mikasa hingga membuat gadis itu tersentak dalam tidurnya. Mikasa bangun dengan nafas tersengal, hanya sebuah mimpi tapi terasa begitu nyata, tenggorokannya terasa kering ia beranjak mengambil air putih dinakas tapi gelasnya telah kosong membuatnya mencebik karena harus turun kedapur untuk mengisi gelasnya yang telah kosong.


Eren memekik saat dirinya baru keluar dari dapur mendapati Mikasa dengan wajah datarnya yang berjalan menuruni tangga, Eren mengumpat saat mengetahui jika sesosok wanita yang ia kira adalah hantu tersebut ternyata Mikasa yang mengenakan dress putih dengan rambut berantakan efek dari bangun tidurnya.


"Kau.. sial." Umpat Eren seraya memegang dadanya yang berdegup kencang, seketika ia merasa lemas.


"Kau belum tidur, Eren?" Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan pemuda itu masih terjaga, apa yang ia lakukan sampai lewat tengah malam begini?


"Hanya bermain game. Tapi kau itu hobi sekali membuatku jantungan!" Kesal Eren sebab Mikasa terus saja membuat spot jantungnya melonjak tajam.


"Eren, apa kau yang menaruh mawar merah diatas meja belajarku?"


"Apa lagi ini? Kau jangan menakut-nakutiku lagi, itu tidaklah lucu." Eren beranjak meninggalkan Mikasa dan kembali ke kamarnya, sedang Mikasa hanya menatap kepergian Eren dengan bingung. Jika bukan Eren lalu siapa?


Mikasa menuangkan air dari teko kedalam gelas kosong miliknya lalu ia meneguknya secara perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, tapi entah mengapa Mikasa merasa seperti ada yang mengawasinya hingga pandangannya menyusuri setiap sudut dapur yang gelap dan tak menemukan apapun, ia pun beranjak meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya.


Setelah menaruh air putih yang telah penuh ke nakas Mikasa menuju meja belajarnya dan matanya meneliti setangkai mawar merah yang masih dalam posisi semula. Mikasa tak menyentuh mawar itu sama sekali karena dia merasa ada yang janggal saat mendapati mawar itu tiba-tiba sudah berada diatas meja belajarnya dan mawar itu terlihat tak asing baginya. Ia pun meraba tengkuknya yang tiba-tiba meremang lalu matanya terbelalak saat ia merasakan tiupan lembut menerpa tengkuknya dan saat itu juga tubuhnya merinding, ia menoleh kebelakang namun kembali tak mendapati siapapun hanya udara kosong dalam sinar remang penerangan lampu kamarnya.


Mikasa mengepalkan tangannya entah mengapa ia mulai sedikit emosi disini, jika memang hantu itu ada Mikasa tak ingin berurusan dengan mereka. Lalu Mikasa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, sepertinya dia sudah didoktrin oleh Eren tentang hantu.


.


.


.


.


.


*


.


.


.


.


.


Pagi itu awan hitam tebal menyelimuti langit hingga membuat awal hari menjadi terasa suram, tak ada hujan hanya mendung gelap yang menutupi sinar matahari.


Mengawali pagi dengan sarapan tak membuat perasaan jengkel pada Mikasa berkurang saat melihat pemuda dihadapannya yang masih mendiaminya, alisnya bertaut dan bibirnya mengerucut membuat tampang kesal Eren terlihat menyebalkan dimata Mikasa.


"Aku kan sudah meminta maaf." Rayuan Mikasa tak meluluhkan hati Eren.


"Aku tidak tahu kalau kau begitu ketakutan." Eren langsung menoleh cepat kearah Mikasa pertanda ia tak terima dengan perkataan Mikasa terhadapnya.


"Aku tidak takut, hanya saja aku benci jika dikagetkan dengan sosok para hantu itu yang menyeramkan." Eren membela diri, dia tak mau martabatnya sampai jatuh dan dibilang pengecut karena takut hantu.


"Ya, terserah." Mikasa hanya memutar bola matanya.


Carla tersenyum saat melihat interaksi anaknya dengan Mikasa, sejak Mikasa tinggal dirumah ini kehidupan keluarga ini menjadi lebih lengkap, gadis itu tak segan turun tangan untuk membantu apapun pekerjaan rumah dan itu membuat Carla merasa sangat terbantu dan juga Carla begitu menyayangi Mikasa seperti anak perempuannya. Ia teringat saat pertama kali Mikasa menginjakkan kaki dirumah ini, waktu itu gadis itu masih kecil dan terlihat menyedihkan setelah musibah yang menimpa keluarganya beruntung saat itu suaminya dan Eren membawanya pulang dan sejak saat itu Mikasa menjadi bagian dari keluarga ini.


"Ibu, kami berangkat."


"Hati-hati dan jangan menyusahkan Mikasa, Eren."


"Aku tahu Bu."


Mikasa mengayuh sepedanya dengan santai sambil membonceng Eren yang terlihat asik dengan ponselnya, gadis itu tak terlihat lelah maupun keberatan jika harus membonceng Eren setiap hari.


"Apanya yang tidak menyusahkan? Kau sendiri yang membuatku menyusahkan mu." Mikasa hanya tersenyum mendengar gerutuan Eren dibelakangnya, memang benar jika selama ini Mikasa selalu memaksa agar ia bisa membantu Eren apapun itu dan ia tidak merasa keberatan sama sekali dan karena hal itu membuat Eren dibenci banyak teman laki-lakinya yang merasa tertarik dengan Mikasa, gadis itu mempunyai paras yang cantik dan tubuh yang menarik tentu banyak kaum Adam yang meliriknya.


Kembali sebuah angin berhembus kencang menerpa mereka dan saat itu pula Mikasa menghentikan laju sepedanya ketika matanya menangkap sosok yang terlihat samar menghalangi jalannya, kemudian sosok itu memudar dan lenyap membuat Mikasa mengerjapkan matanya.


"Ada apa?" Eren bingung dengan Mikasa yang tiba-tiba menghentikan laju sepedanya.


"Mungkin hanya ilusi." Gumam Mikasa tapi Eren tak mampu mendengarnya.


"Kenapa tiba-tiba aku merasa merinding ya?" Eren meraba tengkuknya, sepertinya pemuda itu memiliki sensitivitas yang tinggi.


"Kau terlihat begitu senang." Komentar Eren yang melihat wajah Armin yang berseri.


"Lihatlah!" Armin menunjukkan bukunya kepada Eren dan Mikasa, tapi mereka berdua hanya menatap tak minat dengan buku tersebut.


"Buku ini pemberian Annie." Ucap Armin dengan hati yang berbunga-bunga.


"Wooaaaahhh...." Kali ini Eren menjadi tertarik dengan buku tersebut.


"Bikin iri saja!" Komentar Eren seraya mengambil buku tersebut dari tangan Armin, lalu membuka halaman dari buku tersebut satu persatu dan ekspresi Eren seketika berubah saat mengetahui isi dari buku tersebut.


Tak memperdulikan kedua temannya Mikasa lebih memilih memasuki kelasnya lebih dulu, ia menaruh tas miliknya dibangku lalu membuka tas tersebut untuk mengambil buku mata pelajaran setelah ini, dia ingin mempelajari bab selanjutnya guna menghabiskan waktu sebelum bel pelajaran dimulai.


"Aw..."


Mikasa tersentak saat jarinya tertusuk sesuatu dari dalam tasnya, ia pun menarik kembali tangannya dari dalam tas dan mendapati jarinya mengeluarkan darah, lalu ia membuka lebar tasnya dan mendapati setangkai mawar merah yang sama persis dengan mawar yang berada diatas meja belajarnya hingga membuatnya bingung, bagaimana mawar tersebut bisa berada dalam tasnya sedang Mikasa tak menyentuh mawar itu sekalipun?


"Mikasa!"


Mikasa menoleh ke asal suara yang memanggilnya dan mendapati salah seorang siswa, secara refleks Mikasa menyembunyikan tangannya yang terluka kebelakang punggungnya dan darah dari jari Mikasa menetes dilantai kelas.


"Mr. Erwin memanggilmu." Lanjut siswa tersebut dan dibalas anggukan oleh Mikasa. Lalu siswa tersebut pergi dan disusul oleh Mikasa dibelakangnya.


Kelas pagi itu terasa ramai dengan para siswa yang mulai berdatangan dan diantara para siswa tersebut tak ada satupun yang menyadari jika terdapat setetes darah yang mengotori lantai namun perlahan darah tersebut mulai menguap dan hilang tanpa bekas.


.


.


.


.


.


*


.


.


.


.


.


Sore ini Mikasa pulang sendiri tanpa Eren disisinya, pemuda itu lebih memilih pergi bersama para teman lelakinya untuk menghabiskan waktu bersama daripada pulang lebih awal dan merasa bosan dirumah. Langit sore yang berwarna jingga keunguan terlihat memukau meskipun terdapat beberapa awan tebal yang menggantung menutupi langit ditambah hawa sejuk sisa hujan kemarin terasa damai dalam sanubari dan pada sebuah jembatan Mikasa menghentikan laju sepedanya lalu ia membuka kembali tas miliknya mengambil mawar tersebut dengan hati-hati takut jika mawar itu kembali melukai tangannya, Mikasa kembali mengamati mawar tersebut dan setelah ia merasa yakin akhirnya ia melempar mawar tersebut kedalam sungai yang mengalir deras, mata kelamnya menatap sang mawar yang terbawa arus sungai yang menjauhinya, entah mengapa ia tak ingin melihat mawar itu lagi.


Mikasa membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali, ia menyalakan lampu kamar dan meletakkan tas sekolahnya pada tempatnya. Ingin segera ia berendam dalam bak mandi saat tubuhnya yang terasa lengket akibat aktivitas yang dikerjakannya seharian lalu ia mulai melucuti pakaiannya.


"Jangan dibuka semuanya." Sebuah suara asing menginterupsi membuat Mikasa terkejut dan secara refleks ia mengambil kembali seragam atasannya dan menutupi tubuhnya yang hanya tertutupi pakaian dalam.


Mata Mikasa memicing saat melihat sesosok laki-laki asing yang berada dalam kamarnya tapi anehnya laki-laki itu terlihat pucat dibalik wajah tampannya dan penampilan laki-laki tersebut seperti seorang pria yang hidup di jaman abad pertengahan. Tapi yang paling menjadi pertanyaan besar Mikasa adalah bagaimana bisa orang itu memasuki kamarnya yang terkunci?


"Siapa?"


Orang itu tak menjawab pertanyaan Mikasa dan hanya terdiam dengan pandangan lurus kearah Mikasa, tapi hal selanjutnya membuat Mikasa terbelalak saat sosok orang itu mulai terlihat samar dan memudar lalu hilang tanpa bekas.


Takut? Mikasa memang sedikit merasakannya tapi rasa penasarannya lebih mendominasi. Dengan sedikit memaksa tubuhnya lalu ia bergerak menuju kamar mandi namun Mikasa kembali dibuat terkejut dan bingung saat kamar mandi didalam kamarnya yang penuh dengan kelopak mawar merah.


Dengan ditemani ribuan kelopak mawar yang memenuhi seisi kamar mandinya Mikasa merendamkan tubuhnya dalam bak mandi yang juga tak luput dari sebaran kelopak mawar tersebut, perasaannya menjadi lebih tenang saat harum semerbak dari ribuan mawar tersebut memanjakan hidung mancungnya namun otaknya masih berfikir atas kejadian-kejadian ganjal yang ia alami setelah pulang dari pemakaman tua kemarin lalu Mikasa mengingat tentang kuburan misterius.


"Levi Ackerman." Gumam Mikasa menyebutkan nama yang tertera dalam batu nisan pada kuburan misterius.


Mikasa kembali memicing saat matanya menangkap setitik orb didepannya, lalu orb tersebut semakin melebar dan menjadi terbentuk dalam wujud manusia. Mikasa menahan nafas saat sosok orang misterius tadi kembali dihadapannya.


"Kau memanggilku?" Pertanyaan mahkluk astral tersebut membuat Mikasa mulai mengerti, jika sosok dihadapannya saat ini adalah hantu dari Levi Ackerman.


TBC