You Are A GHOST!

You Are A GHOST!
8. Unveil the veil


Sebuah ruangan yang penuh dengan berbagai macam jenis buku terlihat begitu suram dengan pencahayaan minimalis yang hanya terpancar dari salah satu lampu penerangan didalam perpustakaan tua tersebut, Armin mengusap sampul buku tebal yang dipenuhi debu lalu meniupnya namun ia terbatuk saat butiran debu itu masuk kedalam saluran pernafasannya, dan agak jauh dari posisi Armin berdiri Eren dengan menggunakan senter kecilnya masih sibuk menyusuri deretan buku yang tertata rapi juga berdebu menandakan jika buku-buku itu jarang dijamah tangan manusia. Aura magis dari perpustakaan seolah sedang mencengkeram tubuh mereka membuat perasaan cemas berbaur menjadi satu dengan penasaran juga keterpaksaan, terdengar langkah sepatu yang menggesek ubin lantai menggema dilorong yang menuju kedalam perpustakaan tua, Eren dan Armin memusatkan perhatian saat pintu perpustakaan terbuka dan menampilkan sosok yang mereka kenal. Laki-laki berambut pirang klimis itu menghampiri Armin yang telah membuka beberapa halaman pada buku tebal bersampul coklat hickory, pemuda itu menutup kembali bukunya dan menunduk hormat pada sang pengajar diikuti Eren yang kini telah berada beberapa centi disampingnya.


"Masih belum menemukannya?" Pertanyaan Erwin membuat kedua anak didiknya menggeleng.


"Aku tak yakin dengan ingatanku sendiri, saat itu aku membaca buku itu dikala aku masih menduduki bangku sekolah dasar. Dan aku melupakannya! Tapi setelah tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan kalian bersama Annie menyinggung nama Levi Ackerman membuat segelintir ingatanku mulai timbul kepermukaan." Lanjut Erwin dengan mata kembali menyusuri setiap buku di perpustakaan pribadi keluarganya.


"Jika saja anda lebih mengingat spesifik buku itu mungkin pencarian ini akan lebih mudah."


"Kau benar Armin, salahkan usiaku yang tak muda lagi. Dan aku merasa tak masuk akal dengan cerita kalian tentang hantu Levi Ackerman." Ucap Erwin diiringi kekehan yang keluar dari bibirnya.


Eren mengambil ponsel dari sakunya yang bergetar, sebuah pesan singkat dari Mikasa membuatnya menatap Erwin.


"Sir, Mikasa dan hantu Levi akan datang kemari."


Gumpalan awan hitam cumulonimbus menutupi langit dikala senja membuat sore hari terasa lebih suram bahkan kilatan cahaya petir disertai gemuruhnya membuat perasaan takut menghinggapi setiap jiwa yang bermukim dilingkup bawah lintasannya. Dengan dibonceng Annie menggunakan motor cub diikuti hantu Levi yang terbang melayang diatasnya kini Mikasa menuju kediaman keluarga Smith, gerimis kecil mulai menerjang setelah mereka  sampai dihalaman rumah salah satu pengajar dimana selama ini mereka menimba ilmu, Mikasa tak menyangka jika guru sejarahnya kini ikut andil dalam situasi diluar nalar yang kini ia alami. Mikasa dan Annie menuruni motor melepas helm  disambut oleh Erwin yang tengah menunggu diteras rumah berdesain Eropa kuno yang tampak menyeramkan dengan aura gelap yang menyelimuti bangunan lama tersebut, baju kedua gadis itu sedikit basah efek dari terpaan gerimis tapi tak membuat mereka kuyup.


"Mungkin kalian bisa sedikit membantu teman kalian yang sedang kebingungan." Erwin mempersilahkan kedua gadis itu memasuki rumahnya.


Nafas Annie langsung tercekat begitu ia memasuki rumah Erwin saat merasakan aura magis begitu kental lalu ia melirik Levi yang melayang disamping Mikasa, hantu itu mengerutkan alis dalam dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu terganggu.


"Cih! Mereka ada dimana-mana, bagaimana bisa alis tebal ini betah tinggal dirumah yang  begitu buruk?" Komentar Levi yang disetujui Annie dalam hati, Mikasa hanya terdiam mendengar ucapan Levi karena ia tak bisa melihat apapun seperti yang dilihat oleh Levi maupun Annie. Namun Mikasa tak memungkiri jika tubuhnya merasakan keganjilan yang tak mengenakkan.


Mereka melewati sebuah lorong yang terdapat banyak foto  tertempel didinding lorong tersebut, pandangan Levi jatuh pada salah satu foto berukuran besar yang tergambar seorang laki-laki paruh baya dengan kacamata frame berbentuk bulat yang bertengger diwajah bengisnya, membuat Levi mendecih ketika ingatan masa lalunya kembali memutari kepalanya.


"Wajah yang tak asing, Zackly Smith." Geraman Levi membuat Mikasa ikut memperhatikan foto yang sedang dipelototi Levi.


"Siapa Zackly?" Pertanyaan Mikasa membuat Erwin yang berjalan didepan berbalik dan menatap Mikasa penuh tanya.


Pandangan Erwin ikut serta memperhatikan foto besar yang sudah puluhan tahun terpasang didinding tersebut, tapi ia tidak mengerti mengapa Mikasa bisa mengetahui nama kakek buyutnya yang jarang diketahui orang dimasa ini?


"Kau tahu tentangnya?" Erwin bertanya pada Mikasa dengan menunjuk foto tersebut.


"Levi bilang Zackly."


"Levi?" Erwin mulai berfikir jika hantu Levi benar ada setelah Mikasa menyebutkan nama kakek buyutnya jika memang Levi adalah orang yang pernah hidup dimasa lalu, dimasa kakek buyutnya masih ada.


"Iya, dan dia bersama kita disini saat ini." Annie yang sedari tadi hanya diam kini mulai ikut andil.


"Terasa sulit dipercaya, aku butuh suatu pembuktian tentang keberadaannya." Erwin memang tak serta merta langsung mempercayainya, ia butuh sesuatu agar ia bisa yakin.


Tiba-tiba tekanan udara disekitar mereka menjadi rendah membuat dada terasa sesak hingga tubuh memberat, lalu kaca pigura yang membingkai foto dari Zackly Smith retak dan  pecah, membuat ketiga manusia itu bergerak menjauh menghindari serpihan kaca yang terpental. Bahkan salah satu serpihan kaca tersebut menggores pipi Erwin hingga membuat laki-laki itu terperangah saat disuguhkan kejadian tak masuk akal didepannya.


"Apa sekarang anda percaya, Sir?" Pertanyaan Mikasa membuat Erwin tersenyum.


"Lumayan, kalau saja aku bisa berinteraksi dengan Levi ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padanya."


"Lalu siapa Zackly?"


"Dia adalah orang yang memerintah untuk mengeksekusi kami." Levi menjawab pertanyaan Mikasa dan itu membuat Mikasa terkejut.


"Begitu ya, jadi leluhur Mr Erwin masih berhubungan dengan kematianmu?" Pertanyaan Annie pada Levi membuat Erwin mengernyit saat ia merasa bodoh, sepertinya disini hanya dia yang tidak dapat melihat sosok Levi.


"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan." Erwin menunjuk dengan ibu jarinya pintu diujung lorong yang terbuat dari kayu mahoni dan membatasi lorong tersebut dengan perpustakaan pribadi milik keluarga Smith.


   Kini Mikasa dan Annie ikut membantu Eren serta Armin mencari buku sejarah yang pernah dibaca oleh Erwin, namun ada metode aneh yang dilakukan oleh Annie, gadis itu mengeluarkan semacam bola besi yang memiliki ekor rantai kecil berukuran tiga puluh centimeter dari dalam tas ransel kecil miliknya, ia melilitkan ujung rantai kejari tengahnya dan membiarkan bola tergantung dibawah telapak tangannya, tentu aksi Annie menarik perhatian teman-temannya juga sang guru. Bola besi itu awalnya terpantul tak beraturan namun beberapa saat kemudian bola itu terdiam, Annie merapalkan sebuah mantra dalam bahasa yang tidak diketahui oleh mereka yang saat ini berada didalam perpustakaan tersebut.


"Radiesthetika." Gumam Armin membuat Eren dan Mikasa mengernyit bingung.


"Apa itu?"


"Annie mencoba berkomunikasi dengan daya batinnya menggunakan sebuah pendulum untuk mencari buku itu." Armin menjawab pertanyaan Eren, ia pernah membaca dibuku tentang ilmu pendulum.


Melihat kesibukan para manusia hidup yang mencari sebuah buku penyingkap tabir diperpustakaan tua tersebut membuat Levi tak ikut serta, ia hanya sibuk memberi tatapan tajam yang sarat akan ancaman pada mahkluk-mahkluk halus penghuni lain diperpustakaan yang jumlahnya tak sedikit. Energinya yang besar memberi kesan pada para mahluk berbagai bentuk dan rupa itu jika ia tak akan kalah, ia memancarkan aura gelap untuk memperingati para mahluk itu untuk tak mengganggu.


Annie mulai melangkah dengan pendulum yang menggantung dibawah telapak tangannya lalu ia berhenti pada sebuah rak deretan keempat dari tujuh rak yang berada ditengah ruangan, ia menoleh kepada teman-temannya yang sedari tadi hanya memperhatikan aksinya.


"Kalian, carilah buku itu disekitar sini." Annie menunjuk rak dihadapannya.


Tak membuang waktu mereka langsung mencari buku itu dengan dibantu Erwin, menyusuri deretan buku lawas itu satu persatu.


"Ketemu!" Ucap Erwin saat ia membuka halaman dari buku tua bersampul hijau olive.


Cahaya kilat memenuhi ruangan perpustakaan dalam sekejap disusul suara gemuruh yang memekakkan telinga, hujan deras kini telah berlangsung disaat buku harian tua yang mereka cari kini berada ditangan Armin, buku itu mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari seorang laki-laki bernama Zackly Smith yang menjabat sebagai komandan militer dieranya, dan beberapa bab buku itu mengisahkan tentang perjalanan sang komandan dalam menangkap kriminal yang begitu meresahkan masyarakat kalangan atas pada masa itu. Kriminal yang dipimpin oleh Levi Ackerman tersebut menjadi momok tersendiri untuk pemerintahan yang kala itu tengah dilanda kekacauan internal karena kekosongan kursi kerajaan, dikarenakan pewaris kerajaan yang tersisa satu-satunya menghilang, dan kabar beredar jika kelompok Levi Ackerman adalah yang bertanggung jawab atas hilangnya calon penguasa. Maka setelah dilakukan sayembara juga pencarian besar-besaran akhirnya para militer yang dipimpin langsung oleh Zackly Smith bisa menangkap Levi dan anak buahnya setelah salah satu dari mereka lebih dulu tertangkap, seorang gadis berambut merah dengan aksen kuncir dua. Melihat salah satu temannya tertangkap membuat Levi dan beberapa rekannya menyerahkan diri hingga mereka dieksekusi mati. Dalam sudut pandang seorang Zackly sebenarnya ia menyayangkan sikap segelintir masyarakat kalangan bawah yang kala itu memprotes keras penghukuman Levi karena bagi mereka Levi layaknya Robin hood yang merampok dan memberikannya pada orang-orang yang tak mampu namun tindakan Levi dan kawanannya tetaplah salah ditambah saat ini kelompok Levi dituduh memberontak dengan menculik satu-satunya pewaris kerajaan. Setelah pengeksekusian para kriminal itu usai sistem pemerintahan diganti era baru dari sistem monarki menjadi demokrasi akibat dari kehilangan pemimpin mereka. Bahkan Zackly juga mengisahkan cara pengeksekusian Levi yang terbilang sulit disaat sang narapidana yang tak bisa mati hingga mereka mengambil keputusan untuk menguburnya hidup-hidup dipemakaman kaum elit yang kini mereka tahu sebagai pemakaman tua. Sengaja Levi dan kawanannya dimakamkan disana yang selalu ada penjagaan dua puluh empat jam, menghindari jika ada masyarakat pro Levi yang menggali makam Levi jika mereka tahu bahwa Levi masih hidup. Armin menutup buku harian tersebut setelah ia selesai dengan kalimat terakhirnya.


"Jadi?" Pertanyaan Erwin memecah keheningan yang melanda mereka setelah beberapa saat Armin selesai membacakan buku harian tersebut.


"Levi tak bisa mati? Apakah saat ini ia juga masih hidup?" Eren berkeringat dingin, jika memang itu benar maka itu adalah sebuah keajaiban.


"Kita tak bisa memastikannya jika kita tak melihat jasadnya secara langsung." Erwin menyahuti.


"Apakah itu artinya kita akan membongkar makam Levi?" Pertanyaan Armin membuat pandangan Mikasa dan Annie mengarah pada Levi yang sedari tadi terdiam.


"Kita harus bertanya kepada sipemilik makam tersebut lebih dulu." Penuturan Mikasa membuat Eren, Armin dan Erwin saling melempar pandangan. Mereka tahu ada Levi diantara mereka namun mereka tak bisa melihatnya.


"Jadi Levi, apa kau bersedia kami membongkar makammu?" Erwin bertanya pada hantu Levi seolah-olah dia melihatnya.  Levi terdiam cukup lama setelah mendengar pertanyaan Erwin lalu ia mengangguk.


"Dia menyetujuinya, kita akan menuju ke pemakaman malam ini juga mengingat jika ini adalah malam yang baik untuk sebuah kebangkitan jika memang Levi masih memiliki harapan untuk hidup, aku sudah menyiapkan semua alat yang dibutuhkan."


"Tapi saat ini diluar hujan deras disertai angin kencang juga petir, kita harus menunggu hujan reda lebih dulu." Ucap Erwin menyahuti Annie.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


   Erwin menepikan mobil sedan hitam metalik miliknya didepan gerbang pemakaman tua, mereka berangkat tepat setelah hujan reda.


"Astaga, ini pertama kalinya aku berkunjung ke pemakaman malam hari. Tapi kenapa suasananya terasa lebih mengerikan?" Ucap Armin saat tangannya mulai gemetar dikala Indra penglihatannya melihat suasana pemakaman tua yang gelap dan sunyi membuatnya terkesan menyeramkan.


"Ramai sekali." Komentar Annie saat ia melihat para arwah penghuni pemakaman memperhatikan mobil yang mereka tumpangi.


"Apanya yang ramai?" Eren menyahuti ucapan Annie.


"Penghuni kuburan!"


"Hah?" Baik Eren maupun Armin sama-sama memekik.


"Sebaiknya kita bergegas." Erwin lebih dulu menuruni mobil dan membuka bagasi untuk mengambil cangkul dan diikuti Eren juga Armin.


"Kalian lama sekali." Ucap Levi yang sedari tadi menunggu didepan gerbang, ia lebih dulu sampai dipemakaman menggunakan teleportasi.


"Jalanan sangat licin seusai hujan, dan kami masih menyayangi nyawa kami." Jawab Annie yang menghampiri Levi bersama Mikasa.


Mereka membuka gerbang dan mulai memasuki area pemakaman, melewati jalanan setapak menuju ke makam Levi yang berada diujung, rerumputan serta tanah kuburan yang basah membuat udara terasa lembab nan dingin membuat Eren dan Armin semakin menempel pada punggung Mikasa, sedang Levi tak melepaskan genggamannya pada tangan Mikasa.


"Mereka terlihat begitu penasaran." Komentar Annie saat melihat para arwah penghuni pemakaman yang saling bergerombol dan bertanya-tanya tentang kedatangannya juga teman-temannya.


"Hei Annie, bisakah kau tak membicarakan para arwah itu? Terdengar seram." Armin menyahuti, sedang Erwin yang berada dibaris paling belakang hanya menggelengkan kepala, ia memang merasa merinding akan tetapi nyalinya tak seciut itu.


"Mereka orang tuamu?" Pertanyaan Annie pada Mikasa membuat semua mata tertuju pada dua makam bersebelahan yang berada disamping jalan setapak yang mereka lalui.


"Annie, jangan bilang kau melihat arwah orang tua Mikasa?" Annie mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Eren padanya.


Mikasa tersenyum lebar saat berhadapan dengan kedua orang tuanya, kini teman-temannya serta Erwin ikut berhenti didepan makam kedua orangtua Mikasa mencoba memahami interaksi yang tak nampak oleh mereka.


"Mikasa, apa yang terjadi? Mengapa kau membawa banyak orang?" Ayah Mikasa bingung dengan apa yang terjadi karena tak biasanya pemakaman itu didatangi sekelompok orang hidup.


"Kami akan melakukan sesuatu, ayah." Jawaban Mikasa pada arwah ayahnya terlihat aneh dimata Eren, Armin dan Erwin seakan Mikasa berbicara sendiri  membuat Eren menyentuh pundak Mikasa khawatir.


"Kau juga bisa melihat mereka?"


"Selama Levi memegang telapak tanganku, aku bisa melihat semua yang ada didalam pemakaman ini." Mikasa menjawab pertanyaan Eren.


"Apakah dia Eren yang kau ceritakan?" Ibu Mikasa menatap Eren lembut, ia ingin berterima kasih pada pemuda itu karena selama ini telah membuat Mikasa memiliki keluarga lagi setelah kepergiannya dan suaminya.


Mikasa meraih tangan Eren berharap energi supranatural Levi yang tersalur padanya bisa juga dirasakan oleh Eren, namun sayangnya semua tak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Mikasa, Eren masih tak mampu melihat wujud arwah orang tua Mikasa.


"Mungkin aku bisa membantu." Annie merapalkan sebuah mantra lalu menggenggam tangan Eren.


Eren terbelalak saat secara perlahan ia melihat sosok kedua orang tua Mikasa yang berdiri tersenyum dihadapannya, dan wajah keduanya yang pucat membuat Eren merasakan takut.


"Kau sudah bisa melihatnya?"


Eren mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Mikasa. Tak hanya itu kini Eren juga bisa melihat sosok laki-laki yang berdiri disamping Mikasa dan menggenggam tangan gadis itu erat. Laki-laki pucat itu menatapnya tajam hingga membuat Eren berkeringat dingin, tapi Eren tahu jika sosok itu adalah Levi dan bahkan saat Eren mengedarkan pandangannya ia ketakutan ketika para arwah penghuni pemakaman yang jumlahnya mencapai ratusan itu tengah menatapnya penuh tanda tanya membuat Eren gemetar disekujur tubuhnya. Eren pun melepaskan tangan Annie hingga membuatnya kembali tak mampu lagi melihat mahkluk-mahkluk mengerikan itu.


"Lebih baik aku tak melihat apapun!" Komentar Eren setelahnya.


Lalu Annie memegang pundak Mikasa juga pada pundak Levi, lalu kembali ia merapalkan sebuah mantra.


"Sekarang kau bisa bersentuhan dengan orang tuamu untuk yang terakhir kali, Mikasa." Ucapan Annie membuat Mikasa berbinar senang dan ia pun langsung menerjang ayah dan ibunya dengan tangan yang masih bertautan dengan tangan Levi.


Kedua orang tua Mikasa merengkuh tubuh putrinya dengan haru, membuat Mikasa tersedu bahagia hingga memunculkan seulas senyum pada bibir Levi juga Annie yang menyaksikan momen tersebut.


Kini mereka telah sampai ketempat makam Levi dan disana mereka disambut Isabel juga Farlan yang memperhatikan dengan raut bingung diwajah pucat mereka.


"Apa yang akan kalian lakukan?" Pertanyaan Isabel membuat Mikasa tersenyum padanya.


"Kami ingin mencari kebenaran."


Jawaban Mikasa masih membuat Isabel tak mengerti.


"Kau terlihat seperti bicara sendiri." komentar Erwin berusaha untuk mencairkan suasana setelah mereka berada diatas makam Levi.


Lalu mereka mulai menggali makam Levi, tekstur tanah yang gembur setelah diguyur hujan lebat membuat mereka lebih mudah melakukan penggalian dan pada kedalaman hampir dua meter mereka mulai menemukan sebuah peti mati yang terbuat dari kayu dan telah lapuk termakan usia, mereka mengangkat peti itu keatas tanah dan membukanya. Mereka terkejut saat melihat jasad Levi yang masih utuh namun kondisinya cukup memprihatinkan terlihat begitu kurus kering dengan yang tersisa hanya tulang dan kulit yang melekat ditubuh itu ditambah rantai yang telah berkarat membelenggu kedua tangan dan kakinya. Erwin memeriksa kondisi jasad Levi lalu menggeleng.


"Aku tak menemukan detak jantung juga nafas pada dirinya." Penuturan Erwin membuat mereka merasa simpatik, namun Mikasa tak serta merta mempercainya. Tidak mungkin hanya berakhir seperti ini, pasti ada maksud dibalik semuanya.


Mikasa melepas tangan arwah Levi yang sedari tadi menggenggam tangannya, hantu itu tak menampilkan ekspresi berlebih. Mikasa berjalan menuju tubuh Levi yang asli dengan mata berkaca-kaca, ia terenyuh. Lalu tangannya terjulur menyentuh pipi jasad Levi yang tirus dan hal diluar nalar terjadi, mata pada jasad Levi terbuka hingga membuat semua tersentak begitu pula dengan arwah Levi, Eren langsung memeluk Mikasa dari belakang dan menarik gadis itu menjauhi jasad Levi. Didetik berikutnya arwah Levi terkejut saat tubuhnya memudar menjadi asap dan perlahan mulai tersedot kedalam tubuh aslinya melalui lubang hidung dan mulut.


"Ini saatnya!" Annie mengambil dari dalam tas miliknya empat stik terbuat dari tembaga lalu menancapkan stik tersebut ketanah mengelilingi jasad Levi menggunakan metode empat penjuru, Utara, barat, selatan dan timur.


"Mikasa, kau ingin Levi kembali hidup?" Annie menoleh pada Mikasa setelah ia mengikatkan benang emas disetiap pangkal stik mengelilingi tubuh Levi. Dan tanpa ragu Mikasa mengangguk.


"Karena Levi membutuhkan banyak darah, dan itu darahmu! Maka kau harus rela kehilangan nyawamu." Ucapan Annie membuat semua terbelalak.


TBC