You Are A GHOST!

You Are A GHOST!
3. Reject its existence


Mikasa mencoba untuk menutup matanya rapat dan berusaha untuk tidak menghiraukan keberadaan sosok yang sedari tadi mengamatinya dalam diam diantara kegelapan, gagal! Mikasa tak mampu bermigrasi kealam mimpi membuat ia kembali membuka kelopak mata dan memperlihatkan manik indahnya, ia mengganti posisi tidurnya menjadi duduk dan berusaha menghindari kontak mata langsung dengan sosok hantu Levi yang kini berada disudut kamarnya yang gelap. Ini terlalu aneh untuk Mikasa, mengapa ia terus menerus bisa melihat sosok itu sedang selama ini tak pernah sekalipun Mikasa melihat sosok makhluk astral lainya dan situasi ini benar-benar membuatnya merasa tak nyaman. Juga mengapa sosok hantu Levi mengikuti kemanapun ia pergi? Biarpun Levi adalah sosok laki-laki tampan tetap saja dia adalah hantu. Mikasa pun bangkit dan beranjak dari tempat tidurnya lalu melewati sosok Levi dan keluar dari kamarnya, ia terus berpura-pura jika tak melihat keberadaan Levi disekitarnya.


Mikasa mengetuk pintu kamar Eren, ia yakin jika pemuda itu belum tidur walaupun saat ini malam telah larut. Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Eren yang menatapnya bingung tapi Mikasa mengabaikannya dan menerobos masuk kamar Eren tanpa persetujuan pemuda tersebut.


"Oi Mikasa, kau kenapa?" Eren bingung melihat Mikasa yang merebahkan tubuhnya di kasur miliknya dan membungkus tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher.


"Malam ini aku tidur disini." Gumam Mikasa yang masih mampu didengar oleh telinga Eren.


"Yang benar saja? Aku tidur diamana? Kembalilah kekamarmu!" Eren menarik selimutnya yang menutupi tubuh Mikasa.


"Dikamarku ada hantu."


"Kau jangan membodohiku lagi." Eren meragukan kejujuran Mikasa. Gadis itu membuat Eren menunda game-nya dan itu membuatnya sebal.


"Hantu Levi Ackerman."


PRAKK


Eren tersentak saat salah satu koleksi action figure miliknya tanpa sebab terjatuh hingga patah menjadi dua.


"Eren, dia disini." Ucapan Mikasa membuat Eren mengeluarkan keringat dingin, ingin rasanya Eren tak mempercayainya tapi tubuhnya berkata lain saat bulu kuduknya meremang.


Beberapa barang dikamar Eren mulai berjatuhan membuat sang empu kamar menegang dengan tubuh merinding tak karuan, lalu ia pun melompat keatas kasur dan menutupi sekujur tubuhnya yang gemetar dengan selimut mengabaikan Mikasa disampingnya.


"Aku tak melihat apapun! Aku tak mendengar apapun! Aku tak melihat apapun! Aku tak mendengar apapun!" Rancau Eren membuat Mikasa menggoyangkan tubuh Eren yang gemetar.


"Eren." Panggilan dari Mikasa tak direspon oleh Eren.


Pandangan Mikasa lalu bergulir kearah samping, ia sedikit terkejut saat sosok Levi sudah berada disisinya dan tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Wajah pucat Levi mengernyit seakan merasa tak suka dengan apa yang tengah dilihatnya disaat Mikasa berada dalam satu ranjang bersama Eren membuat aura negatif dalam kamar tersebut terasa semakin mencekam.


"Eren, tenanglah. Dia sudah pergi." Mikasa menepuk-nepuk pelan punggung Eren dengan mata yang masih terpaku pada mata tajam Levi.


Eren sedikit lebih tenang dengan kebohongan Mikasa, pemuda itu sudah tidak merancau lagi dan hanya terdiam tapi masih dalam gulungan selimut tanpa berniat ingin keluar.


"Tak seharusnya kau melakukan ini." Tangan Levi terjulur hendak menyentuh pipi Mikasa tapi ia kecewa saat tangannya hanya menembus wajah gadis itu, sepertinya energinya belum cukup untuk bisa kembali menyentuh gadis itu setelah ia menghabiskan energinya untuk menjatuhkan barang-barang dalam kamar ini agar pemuda labil itu menyadari keberadaan Levi.


Mikasa melirik Eren yang masih terdiam, sepertinya pemuda itu tak mendengar apapun yang hantu itu katakan, tapi mengapa Mikasa bisa mendengar dan melihatnya? Berusaha tak menghiraukan keberadaan si hantu, Mikasa merebahkan tubuhnya disamping Eren dan mulai memejamkan matanya.


*


Pagi itu seekor burung gagak hitam tengah hinggap didahan pohon dekat dengan kamar Eren, suaranya yang lantang sampai ke telinga Mikasa yang kala itu masih terlelap, perlahan gadis itu membuka kelopak matanya ia mengerjap lalu membeliak saat melihat wajah pucat Levi yang begitu dekat dan menatap lurus kearahnya dengan sorot mata penuh kesedihan serta rasa kecewa. Hantu itu merebahkan dirinya disamping Mikasa mereka dalam posisi berhadapan, meskipun Levi tak mampu menyentuh gadis itu saat ini tapi ia merasa senang bisa sedekat ini dengan Mikasa akan tetapi keadaan Mikasa saat ini entah mengapa membuatnya sekaligus merasakan sakit dan tersiksa.


Mikasa merasakan sebuah lengan yang melingkari pinggangnya dan itu bukan lengan Levi melainkan lengan milik Eren, agaknya pemuda itu tak menyadari jika ia tengah tidur sambil memeluk Mikasa yang ia pikir sebagai guling. Kini Mikasa tengah diapit oleh Eren dan sosok hantu Levi membuat Mikasa langsung menyingkirkan lengan Eren dari tubuhnya lalu bangkit dari tidurnya dan membangunkan Eren tanpa memperdulikan kehadiran Levi diantara mereka.


"Eren, bangunlah!" Mikasa menggoyangkan tubuh Eren tapi pemuda itu hanya mengerang.


"Eren."


"Uhmmm... Mikasa, kenapa kau dikamarku?" Eren menggeliat merenggangkan otot-otot tubuhnya, lalu ia mengganti posisi menjadi duduk diatas kasurnya mengucek kedua matanya lalu menatap Mikasa dengan penuh tanda tanya mengapa gadis itu bisa berada dikamarnya sepagi ini. Kemudian kepalanya mulai mengingat kejadian aneh yang dialaminya semalam dan itu nyata setelah ia melihat beberapa barangnya yang masih tergeletak dilantai dan beberapa diantaranya telah rusak, tubuhnya pun kembali gemetar ketakutan.


"Oi, Mikasa. Apa... Hantu itu masih disini?" Eren meringsut mendekati Mikasa.


"Tidak, dia sudah tak ada disini." Mikasa berbohong.


"Baguslah, tak seharusnya dia berada disini. Sepertinya dia itu hantu pengangguran hingga memiliki waktu untuk menjahili kita. Kalau saja dia menampakkan wujudnya akan aku ajak dia berkelahi." Meskipun begitu Eren merasakan jika bulu kuduknya meremang tapi ia berusaha untuk mengabaikannya. Mendengar perkataan Eren membuat Levi yang kala itu sudah berada dibelakang Mikasa mendecih, jika saja dia masih hidup mungkin ia akan menghajar bocah labil ini sampai lumpuh.


"Eren, air liurmu."


*


Kelas terasa hening dan hanya suara gesekan kapur yang menggores papan tulis, Mikasa mengamati sekeliling dan mendapati teman-temannya yang tengah sibuk menyalin catatan pada papan tulis tersebut ke buku mereka lalu pandangan Mikasa jatuh pada sosok Levi yang duduk diatas meja guru dengan menyilangkan kedua kakinya dan menopang dagu dengan kepalan tangannya, mahkluk itu sepertinya tengah fokus dengan tulisan yang terdapat dipapan tulis tersebut seakan ikut memperlajarinya, dan tak ada satupun dari penghuni kelas ini yang menyadari keberadaannya selain Mikasa. Lalu mata tajam itu kembali mengarah ke Mikasa dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya kembali kepapan tulis agar tak terjadi kontak mata dengan si hantu tampan tersebut, Mikasa tidak mengerti mengapa hantu itu terus saja mengikuti kemanapun Mikasa pergi kecuali toilet. Sebisa mungkin Mikasa akan mengacuhkannya dan menganggap sosok Levi tak ada agar hantu itu merasa bosan dan meninggalkan Mikasa, tapi ini sudah lebih dari tiga hari hantu itu terus mengekorinya dan sepertinya tak ada tanda-tanda ia akan pergi.


Bel istirahat berbunyi, Mikasa merapikan bukunya lalu tangannya disambar dan diseret oleh salah satu temannya membuat Mikasa mengikuti langkah lincah temannya itu.


"Kita harus cepat, sebelum antrian semakin banyak." Ucap gadis yang menyeret Mikasa.


"Tapi aku tidak lapar, Sasha." Benar Mikasa saat ini tak merasa lapar dan entah mengapa ia akhir-akhir tak bernafsu untuk makan kecuali saat perutnya benar-benar sudah terasa melilit.


"Temani aku saja."


Akhirnya Mikasa hanya pasrah diseret oleh Sasha, ia pun melirik Levi yang melayang dibelakang punggungnya dan mengekori kemanapun ia pergi. Sasha yang terlampau bersemangat tak sengaja menubruk seseorang membuat buku orang tersebut terjatuh dan saat itu juga Mikasa menyadari sesuatu bila sosok Levi yang mengikutinya bukan hanya dirinya yang melihat, tapi gadis berambut pirang yang kini tengah terbelalak saat melihat sosok yang berada dibalik punggung Mikasa.


"Maafkan aku, Annie." Sasha menyerahkan buku Annie yang terjatuh tadi setelah ia memungutnya. Annie yang kala itu sempat terkejut dengan kehadiran sosok mahluk asing dibelakang Mikasa kembali memasang ekspresi datarnya.


Mikasa pun melirik Levi yang ia pikir sepertinya juga terkejut saat menyadari jika Annie juga bisa melihat wujudnya namun yang Mikasa dapat hanya wajah datar dari hantu itu.


*


"Aku tidak suka tempat ini."


Itulah kata-kata Levi yang mampu didengar Mikasa saat mereka berada dalam perpustakaan, namun Mikasa mengabaikannya dengan tetap fokus menyusuri deretan buku yang tertata rapi disalah satu rak dalam perpustakaan tersebut, lalu Mikasa mengambil sebuah buku dengan sampul berwarna kuning pudar yang berisi tentang sejarah. Mikasa memilih duduk disalah satu bangku didekat jendela untuk menikmati buku tersebut, kemudian perhatiannya tersita oleh suara teriakan Eren yang menyuruh Jean untuk mengoper bola padanya, para teman laki-laki sekelasnya lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahat dengan bermain basket. Mikasa kembali berkutat pada bukunya dan mengabaikan sosok Levi yang duduk didepannya, tapi sesekali mata Mikasa melirik si hantu yang terlihat gelisah dengan menatap sekelilingnya seakan mereka tengah diawasi oleh sesuatu.


"Ada apa?" Mikasa bertanya dengan suara lirih, Untuk pertama kalinya Mikasa mengajak Levi berinteraksi hingga membuat hantu itu menatap Mikasa tak percaya.


"Disini terlalu banyak dari golongan mereka yang memiliki aura negatif, dan sepertinya mereka tak menyukai kehadiran kita disini." Mendengar penuturan Levi membuat Mikasa mengedarkan pandangannya pada setiap sudut perpustakaan, memang benar perpustakaan ini terlihat terang dengan pencahayaan dari lampu maupun sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela namun suasana perpustakaan ini masihlah terlihat magis meskipun beberapa orang berada didalamnya termasuk Mikasa, dan sayangnya Mikasa tak mampu melihat sesuatu yang dimaksud oleh hantu Levi.


"Mungkin mereka hanya tak menyukai kehadiranmu, maka pergilah." Masih dengan suara lirih agar tak ada yang bisa mendengar suara Mikasa selain Levi. Sedang mendengar pengusiran Mikasa terhadapnya membuat Levi hanya terdiam.


Tiba-tiba suara beberapa buku yang terjatuh dari rak perpustakaan membuat suasana sedikit gaduh, buku-buku itu jatuh dengan sendirinya tanpa campur tangan manusia bahkan kembali beberapa buku lainnya mulai ikut terjatuh hingga membuat para siswa yang berada dalam perpustakaan tersebut heran bahkan beberapa dari mereka memilih untuk meninggalkan perpustakaan karena rasa takutnya.


"Mereka mulai berulah." Ucap Levi menatap dingin sosok mahluk besar dengan dipenuhi bulu hitam panjang pada tubuhnya, memiliki tanduk kerbau dikepalanya dan mata semerah darah, sosok mahluk itu menggeram dipojok perpustakaan dimana letak buku-buku itu terjatuh.


Mikasa hanya menatap bingung Levi yang bersikap waspada dengan tatapan membunuh kearah buku-buku itu jatuh, sayangnya Mikasa tak mampu melihat apa yang Levi lihat.


"Mikasa, sebaiknya tinggalkan tempat ini." Peringatan Levi tak membuat Mikasa gentar, malah gadis itu mengabaikannya dan kembali berkutat dengan bukunya.


"Mikasa!"


Mikasa tidak mengerti setelah Levi meneriakkan namanya tiba-tiba tubuhnya melayang dan terhempas pada rak buku disusul dengan jeritan para siswa dan penjaga perpustakaan yang kala itu juga mengalami hal serupa dengan apa yang terjadi pada Mikasa.


Eren menghentikan dribel bolanya saat mendengar suara gaduh yang berasal dari perpustakaan, bahkan salah satu kaca jendela perpustakaan tersebut pecah saat salah satu tubuh siswa menghantamnya.


"Apa yang terjadi?" Gumam Eren melihat kekacauan tersebut.


"Eren, aku tadi melihat Mikasa menuju perpustakaan." Penuturan Jean membuat Eren terbelalak lalu tanpa pikir panjang ia langsung berlari menuju perpustakaan tersebut disusul Jean dibelakangnya.


Eren terkejut saat melihat ruangan perpustakaan yang terlihat kacau dan banyak para siswa yang bergelimpangan didalam perpustakaan tersebut, Eren mencari sosok Mikasa diantara para siswa yang sudah mengerumuni perpustakaan guna mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Eren." Jean memanggil nama Eren, dan saat Eren menoleh kearahnya Eren terbelalak saat melihat Mikasa yang tengah tak sadarkan diri dalam pangkuan Jean dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


"Mikasa." Eren mengecek kondisi tubuh gadis itu dan ia bernafas lega saat mengetahui jantung Mikasa yang masih berdetak tapi hal berikutnya membuat Eren maupun Jean tercengang saat darah yang melumuri tubuh Mikasa mulai menguap dan mulai menghilang secara perlahan.


"Apa ini?"


TBC