
"Kalian ini sahabat dari kapan?" tanya Callista disela-sela acara makan.
Taehyung dan Jimin pun saling pandang "Kita?!" serentak mereka berdua. Callista menangguk.
"Ya kalian jadi siapa? Disini cuma ada saya dan kalian berdua" sambil mengarahkan sendok pada dua pria didepannya.
"Sekolah" ucap Taehyung.
"Eh bukan!!! Astaga kita dari kecil Tae" pekik Jimin.
Taehyung hanya menangguk mengiyakan perkataan sahabatnya itu sambil mengunyah makanan.
"Kalian ini" gumam Callista sambil menggeleng pelan kepalanya.
Hampir dua puluh menit mereka habiskan untuk makan dan sekarang telah selesai. Callista meletakkan kembali piring bekas makanan ke meja dorong dan menaruhnya di luar kamar.
"Kalian ingin melakukan tour room saat malam?" Ucap Callista tiba-tiba yang tengah menutup pintu balkonnya.
"Apa boleh?" tanya Jimin sambil menatap Callista.
Callista mengangguk "Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan, sesuatu yang indah di buat papa" Ujarnya sedikit tersenyum.
"Apa? bukannya aku sudah berkeliling" timpal Taehyung.
"Itu waktu siang dan ini malam oppa" tiba-tiba suara Callista berubah amat lembut dan menyejukkan dari biasanya.
Dua pria di hadapannya kaget mendengar suara Callista yang lebih lembut dari biasanya dan sangat tenang.
"Baiklah" kompak mereka berdua dan Callista berjalan ke lemarinya untuk mengambil baju hangatnya dan mengambil baju hangat papanya untuk dua pria itu.
"Pakailah karena suhunya bakalan seperti musim salju"
Mereka berdua pun mengambil baju hangat itu dan memakainya. "Wangi pria" gumam Taehyung yang ternyata di dengar Callista.
"Itu baju papa jadi wajarkan" sahut Callista.
"Dasar Taehyung bodoh" ucap Jimin sambil tertawa kecil.
Callista membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar peninggalan papa dan mamanya. Taehyung dan Jimin mengikuti Callista dari belakang. Perlahan Callista mulai membuka daun pintu besar itu, menimbulkan bunyi karena pintu itu agak berat.
Tanpa di minta Taehyung dan Jimin membantu membuka pintu itu. Callista yang melihat dua pasang tangan kekar mendorong lembut pintu kamar orangtuanya tersenyum kecil.
Batinnya bergumam "Mirip tangan papa" sambil terus mendorong pintu itu dan akhirnya terbuka, didalam terpajang sangat rapi foto pernikahan orangtuanya, foto keluarga Ehner Lee dan foto Callista yang masih balita dengan bingkai besar tersangkut di dinding kamar.
Mata Taehyung dan Jimin membola tak kala mata mereka tengah room tour, sementara Callista hilang entah kemana.
"Tae? Keluarganya sangat harmonis dan elegan" ucap Jimin saat menjelajah isi kamar itu dan seketika suhu didalam sana berubah dratis menjadi sedingin es.
"Jim, apa kau merasa suhu disini tiba-tiba dingin?" tanya Taehyung memastikan.
"Tidak" sahut Callista yang entah darimana. "Kamar ini memang di desain seperti ini, kar... " belum selesai Callista bicara Jimin memotong, sepertinya Callista kena karma.
"Bagaimana orangtuamu betah disini?" potong Jimin. Callista tersenyum kecil.
"Makanya kamu dengarkan dulu" sahut Callista lembut dan berjalan duduk di sofa yang ada dikamar itu.
"Kamar ini di desain begini karena kamar ini memiliki sensor yang menganalisa siapa yang masuk, jika hanya satu jenis kelamin kamar ini tak sedingin ini tapi jika dua jenis kelamin berbeda masuk sini maka suhunya seperti ini" jelas Callista sambil memainkan jarinya.
Jimin yang memang pikirannya menjalar langsung paham maksud Callista. "Jadi kamar ini untuk memproduksi mu, agar suasana makin terasa dan gairah meningkat"
Callista menangguk pelan diiringi Taehyung yang paham "Dan tidak hanya itu, saya sering kesini karena melihat hologram papa mama saat menimang saya" sahutnya amat lembut sambil menatap kasur besar.
"Maksud mu?" tanya Taehyung sambil melihat Callista.
"Disana akan muncul moment-moment manis saya bersama keluarga, ayo sini!" ajak Callista sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.
Jimin dan Taehyung datang lalu duduk di sebelah Callista. Dan tak lama mereka duduk lampu kamar itu mati, lalu ada cahaya yang keluar dari kasur didepan mereka.
Kasur itu menampilkan manisnya keluarga Ehner Lee dan Taehyung terus fokus ke Callista kecil yang sangat mirip dengan boneka bukan hanya di hologram itu tapi sekarang juga dan Taehyung kadang melihat Callista yang ada disampingnya dan melihat kedepan.
"Tak ada yang berbeda" batin Taehyung sambil menggariskan senyum.
Jimin menikmati hologram itu dengan sangat santai tanpa mengeluarkan suara yang berarti, namun tanpa disadari Callista yang pantang akan gelap mulai menutup matanya karena menggantuk dan membiarkan kepalanya jatuh ke pangkuan Taehyung.
Taehyung pun kaget dan bergegas melihat apa yang menimpah pahanya. "Callista?" gumamnya sambil mengelus lembut kepala Callista tanpa sadarnya.
Mata Taehyung pun hanya melihat Callista yang tidur di pangkuannya. Hingga tak sadar jika hologram didepan sana sudah selesai dan lampu kembali menyala.
Jimin melihat Taehyung yang tengah menatap Callista penuh kasih tersenyum dan membiarkan mereka berdua tanpa meninggalkan mereka.
"Dan aku berharap kau bisa menghan ..." kalimat Taehyung tercela oleh Jimin.
"Jangan begitu, ini urusan dia Tae. Kita tak berhak ikut campur" tukas Jimin sambil menepuk pelan bahu Taehyung.
Taehyung menghela nafas dan mengangguk "Mianhe hyung".
"Ya sudah, ayo kita keluar dari kamar ini aku sungguh tak tahan dan ahh adik kecil berdiri" ucap Jimin prontal sambil menunjuk celananya yang menggembung.
"Ck sialan kau hyung!" cibik Taehyung sembari menggendong Callista keluar dari kamar orangtuanya.
"Kau tahu Tae, ku rasa kamarnya memang benar di desain untuk berhubungan"
"Ya hyung, sudahlah bawa dia kekamarnya" ucap Taehyung yang berjalan ke arah kamar Callista.
Jimin tersenyum jahil saat menelusurin Taehyung karena dia melihat sesuatu yang ingin keluar dari balik celana Taehyung.
Taehyung yang merasa langsung menutup wajah Jimin dengan tangannya. "Sudah jangan lihat-lihat, aku tahu punya ku jauh lebih memuaskan darimu".
"Sialan kau, awas saja" mereka berdua pun tertawa karena pikiran kotor mereka.
Taehyung meletakan Callista lembut di kasur dan menyelimutinya. "Good night nona" ucap Taehyung lembut sambil mengukir senyum.
Mereka keluar dari kamar Callista dan mereka di hadang oleh bodyguardnya "Maaf tuan, anda ingin kemana?" tanya bodyguardnya.
"Pulang" singkat Jimin.
"Tidak diizinkan" tegas bodyguard itu.
"Kenapa? kami berhak pulang" sahut Taehyung.
"Ya, kalian emang berhak pulang. Tapi mata-mata tuan Yoongi bergerak dimalam hari, kami tidak ingin kalian makin masuk kedalam permainan tuan besar Donghee dan nona Callista"
"Jadi kami menginap?" tanya Jimin memastikan.
Bodyguard itu mengangguk "Saya akan tunjukkan kamar kalian, tapi sebelum itu atas nama tuan besar Donghee kami berterima kasih telah mengukir senyum nona Calista" sambil membungkuk hormat.
Mereka berdua bingung. "Bukannya dia selalu mengukir senyum walau kecil?".
"Ya, tapi belakangan ini. Nona banyak mengeluarkan senyum dan kami yakin berkat kalian. Kami mohon jangan buat senyumnya luntur lagi"
"Baiklah kami berusaha agar tak melunturkan senyumnya"
Mereka pun pergi ke kamar tamu dan memberi bungkuk hormat. "Terima kasih sudah mengizinkan kami menginap".
"Ya, sama-sama. Selamat malam"
Bodyguard itu pergi meninggalkan mereka. Dan mereka pun masuk kedalam kamar, merebahkan tubuh mereka pada kasur besar yang tersedia.
"Tae? Aku rasa dia sedikit cocok dengan Yoongi hyung" ucap Jimin tiba-tiba.
"Hum, apa karena Callista lembut dan Yoongi hyung sedikit kasar dan pedas makanya kau bilang cocok?"
"Ya begitulah"
"Aku rasa tidak, sudahlah tidur jangan bahas itu"
"Baiklah"
Mereka pun mulai tidur, tapi tidak dengan Taehyung. Pikirannya tengah berputar-putar, bertanya kenapa dia marah jika ada yang membahas Yoongi cocok dengan Callista.
Dia memijat pelipisnya pelan lalu menutup matanya berusaha untuk tidur, namun nihil dia tetap tak bisa tidur. Dia bangkit dari kasurnya dan berjalan keluar.
"Astaga menyeramkan sekali" gumamnya saat melihat rumah yang kosong dan lampu yang redup karena semua orang sudah tidur, kecuali penjaga diluar rumah.
Taehyung melangkahkan kakinya kekamar Callista dan melihat Callista yang tak berubah banyak posisi tidurnya.
Taehyung tersenyum sambil menarik kursi agar bisa menatap wajah sejuk Callista. Beberapa kali dia mengusap rambut Callista yang sudah jadi candu baginya.
"Lembut dan terawat, semua sangat sempurna" ucap Taehyung yang mulai merasakan kantuk yang menyerang. Dia pun bangkit dan meninggalkan Callista yang tengah tidur.
Saat Taehyung keluar dari kamar Callista, Callista langsung terbangun dan seperti mencari seseorang.
"Hummm ?? Siapa dia?" gumam Callista yang ternyata bermimpi bertemu seorang pria.
"Dia mencium ku?" Callista menghela nafas dan menetralkan degub jantungnya.
"Kenapa aku bermimpi lagi?" ucapnya sambil merebahkan badannya, karena jujur saja sekian lama dia tak pernah bermimpi.