The Queen Of The Ehner Lee Family

The Queen Of The Ehner Lee Family
Sweet Home 2


Tak lama Jimin pergi, appa Taehyung pulang dan memasukin rumah dengan wajah yang lelah bercampur rasa takut. "Bagaimana jika Taehyung dan Eonjin tak bisa menjaga keberadaan nona?" batin appa Kim sambil mendudukkan bokongnya kesofa.


Tiba-tiba dari dapur ibu Kim datang berjalan ke arah sofa "Ada apa oppa? kenapa wajahmu seperti itu?" ucap ibu Kim dan mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.


"Tidak ada, hanya sedikit lelah" ujar appa Kim menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.


"Begitu, Taehyung dan Eonjin tengah pergi kemungkinan sore pulang. Mereka mengantar tamu yang ku beritahu tadi malam karena Eonjin ingin berkunjung juga" tutur ibu Kim lembut.


Appa Kim menoleh istrinya itu dan menggenggam lembut jemari sang istri "Tamu yang datang tadi malam, dia adalah atasan ku" ucap appa Kim.


"Atasan?" ibu Kim memiringkan kepalanya dan menyaring kalimat dari sang suami. "Maks ... maksud kamu?? Jadi gadis itu ...."


Appa Kim langsung menyela dan mengangguk kecil "Ya, dan resikonya kamu pernah ku beritahukan jika salah seorang dari bawahannya memberitahu siapa dia sebenarnya?".


"Iya oppa, Donghee tak segan-segan memenjarakan dan memberi hukuman gantung pada siapa saja yang berani membuka keberadaan nona"


Appa Kim hanya mengangguk dan bangkit "Aku ingin mandi, tolong siapkan makanan ya" dan berlalu masuk kekamar.


"pantas saja aku seperti pernah mendengar namanya" gumam ibu Kim dan berlalu kedapur untuk menyiapkan makanan suaminya.


sisi lain Taehyung masih terperanga melihat hasil lukisan Callista yang menggambar dirinya dengan sangat sempurna.


"Callista ini keren!!" Ucap Taehyung sambil terus menatap hasil lukisannya.


"Terima kasih pujiannya" sambil mengulas senyumnya. "Oh ya tadi siapa yang menelpon kamu?".


"Teman kantor, katanya ada pekerjaan lumayan penting. Oh ya boleh aku bawa pulang?" sambil mengangkat kertas lukis.


"Bawa saja, lagian itu hanya iseng saja"


"Terima kasih" singkat Taehyung dan Callista hanya mengangguk pelan dan kembali ke tempat duduknya tadi.


"Apa hubungan Yoongi hyung dengannya? Kenapa dia sangat penting?" batin Taehyung sambil melihat Callista yang duduk dan entah membuat apa lagi gadis itu.


Suasana kembali hening Taehyung masih berada di pikirkannya sendiri mengenai ucapan Jimin tadi dan berusaha mencari tahu apa yang membuat hyungnya itu tertarik pada Callista? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Atau Callista cinta masa kecilnya? Dan banyak lagi pertanyaan yang ada di pikiran Taehyung.


Sementara itu Jimin memasukin Corporation Family Min, dia menyapa seluruh pegawai dan staff disana dengan ramah. Sampai akhirnya, dia memasukin ruang pemilik perusahaan itu.


"Bagaimana Jim? Apa Taehyung mau?" tanya seorang namja dengan kulit berwarna putih porselen tertutup jas rapi dan rambut hitam yang sedikit acak sedang melihat monitornya.


"Mau, tapi dia sedikit bertanya tadi" sambung Jimin sambil mendudukan bokongnya di kursi yang ada didepan meja namja yang bernama Min Yoongi itu.


"Bertanya? Apa yang dia tanyakan?" Dengan memegang beberapa kertas sambil menatap Jimin.


"Dia bertanya apa hubungan hyung dengan pewaris itu?"


"Kalian tak perlu tau ada hubungan apa aku dengannya yang jelas aku hanya ingin tau keberadaanya apa dia masih hidup atau sudah tiada?" Jelas Yoongi.


"Jika hanya itu alasan mu maka Taehyung gak akan mau membantu, kamu tau gimana dia kan? Dia gak akan bantu kalau alasannya seperti itu"


Yoongi diam sejenak karena ucapan Jimin, memang ada benarnya. Taehyung tak akan membantu kalau alasan dasarnya cuma itu.


"Oke, oke aku sendiri yang akan menemuinya nanti karena ini mengenai sesuatu yang berharga"


"Baiklah, terserah kau saja. Lagian dia lagi gak ada di rumahnya"


"Hah?!" Yoongi sedikit kaget namun menetral lagi "Kemana dia? Tumben dia keluar" tanya Yoongi.


"Katanya sih lagi sama Eonjin tapi .... " ucapan Jimin langsung di potong oleh Yoongi.


"Sudah-sudah, aku akan menel ... " Yoongi mendapat karma karena memotong kalimat Jimin, karena tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk. "Masuk!" perintah Yoongi dan masuklah seorang sekretarisnya.


"Maaf pak acara rapat 15 menit lagi dan mereka sudah akan sampai" ucap sang sekretarisnya.


"Baiklah saya akan kesana dan Jimin kirimkan pesan pada Tae saat jam makan siang temui aku di tempat biasa" pinta Yoongi sambil pergi meninggalkan Jimin sendiri.


"Hii, aku ditinggal sendiri" omel Jimin "Dasar sementang perusahaan kami ada di bawahnya jadi seenaknya saja memerintah" sambil pergi beranjak keluar dari ruangan Yoongi.


 


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Sementara itu Callista masuk kedalam rumah dan membantu para maid memasak dan kali ini dia tak menggunakan sarung tangan dalam memegang bahan makan yang akan dia buat. Para maid sedikit takut, karena kalau Callista tergores sedikit saja Donghee akan memarahi mereka habis-habisan walau Callista tak memberitahunya. Tapi karena kejelian Donghee terhadap Callista.


"Nona?" panggil salah satu maidnya dan Callista pun menoleh "Ya ada apa?" singkatanya.


"Nona pakai ini?" sambil menyodorkan sarung tangan pada Callista.


Callista menggeleng pelan sambil tersenyum "Tidak usah, saya harus bisa memegang ini ... " ucapnya dengan menaikkan daging yang lagi dia potong.


"Tapi nona kalau tuan besar tahu kami akan dimarahi"


"Selagi saya tidak tergores, itu tidak mungkin terjadi. Jadi kalian tenang saja dan tetap membantu saya" sambung Callista dan melanjutkan kegiatannya.


Begitu pun para maid yang ikut melakukan kegiatan mereka sambil sesekali memperhatikan Callista yang tengah asik dengan masakannya.


Sisi lain Taehyung sudah ditaman menemani Eonjin bermain dengan 2 anjing besar milik Callista.


"Eonjin? Jangan kencang-kencang larinya nanti jatuh" teriak Taehyung pelan karena melihat adiknya yang tengah berlari dengan salah satu anjing itu.


Eonjin tak menjawab perkataan oppanya itu dia hanya terus berlari dan bermain dengan hewan yang mengejarnya itu, Taehyung memilih duduk di bangku taman yang ada dan seekor lagi mengikutinya, bermanja dengan Taehyung. Selalu minta perutnya di usap-usap.


"Kamu manja sekali, beda dengannya. Lihat dia sangat aktif" ucap Taehyung pada anjing itu yang menggonggong seperti tahu apa yang dia katakan barusan.


Sedangkan bodyguard yang menjaga mereka berdua tampak tenang sambil memperhatikan mereka dengan seksama dan tak lama itu sang bodyguard mendapat panggilan dari atasnya yang tak adalah Donghee.


"Bagaimana keadaan nona?" ucap Donghee saat telponnya langsung diangkat.


"Nona baik-baik saja, sekarang nona tengah memasak sepertinya"


"Apa? kenapa ada kalimat sepertinya? dimana kamu?" pekik Donghee


"Saya tengah mengawasi teman baru nona yang tak lain adalah anak tuan Kim tukang kebun kita"


"Anak tuan Kim?" Donghee diam untuk beberapa saat "Baiklah, kalau gitu selalu kabarkan apapun yang di lakukan nona sebelum saya menelpon" sambung Donghee dan langsung mematikan sambungan telponnya.


Donghee bernafas lega karena teman Callista bukan orang luar yang artinya mereka tahu kalau Callista harus tetap di rahasiakan dan apa akibatnya kalau itu terbongkar.


"Tuan Kim aku tahu kamu selalu menaati aturan dan kali ini anakmu akan ikut dalam masalah ini atau keluarga kalian tak selamat" gumam Donghee sambil membenarkan dasinya dan keluar untuk menemui clientnya.


"Hai Tuan Donghee" sapa seorang namja dengan tinggi semampai dan bahu yang sangat profesional.


"Anda ngapain disini?" tanya Seokjin


"Anda ini, kan anda tahu alasan saya kemari ada apa. Sudah jelas bukan?"


"Tender itu? Bukannya perusahaan yang anda kelola sudah sangat besar dan bahkan siapapun tahu tentang perusahaan anda"


"Ya, saya hanya menjalankan keinginan keluarga Ehner Lee saja" singkat Donghee.


"Begitu, tapi Tuan Donghee kenapa perusahaan Ehner Lee memakai tanda tangan anak mendiang? Bukannya gadis itu juga tiada karena traumanya"


"Maaf sebelumnya itu bukan urusan anda dan tanda tangan itu untuk kepentingan perusahaan dan urusan penting lain" ucap Donghee sambil berjalan menjauh dari Seokjin.


"Sial!! ternyata jawabnya tetap sama! Awas saja akan aku dapatkan buktinya kalau Callista itu masih ada, Yoongi tenang saja" batin Seokjin sambil melihat kepergian Donghee dan lenyap di salah satu ruangan.


 


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


 


"Tuan ayo makan siang, nona sudah selesai memasak" ucap seorang bodyguard yang baru keluar dari dalam rumah dan menghampiri Taehyung.


Taehyung menoleh dan mengangguk sambil bangkit dari duduknya "Baik, saya akan masuk" balas Taehyung sambil mengulas senyum kecil.


Eonjin pun lari terlebih dahulu dan diikuti Taehyung dan 2 bodyguar, sesampai masuk kedalam rumah meja makan sudah penuh dan hanya kosong dua kursi di sebelah kanan Callista yang di peruntukkan buat Taehyung dan Eonjin.


Taehyung sedikit aneh dengan pemandangan yang dia lihat sekarang, sebab bagaimana seorang majikan mau makan bersama dengan para bodyguard dan maidnya? Biasanya mereka akan makan setelag sang majikan selesai makan, namun yang dia lihat sekarang tidak seperti itu.


"Eonjin sini!" panggil Callista sambil membuka kursi yang kosong, Eonjin pun berlaria menuju kursi yang sudah dibuka oleh Callista dan duduk dengan manis.


"Kamu pasti kagetkan? Kenapa mereka bisa makan bersama?" ucap Callista yang seperti tahu pikiran Taehyung.


Taehyung hanya diam dan memilih duduk di samping Eonjin yang menjadi penghalang ditengah dia dan Callista.


"Saya tak memiliki siapapun dan mereka semua sudah saya anggap sebagai keluarga bukan bawahan ataupun seorang pelayan" jelas Callista sambil kembali duduk.


"Ah begitu" sahut Taehyung sambil menganggukkan kepalanya pelan dan melihat beberapa maid yang menaruh nasi, lauk pauk ke piring setiap orang yang ada di meja panjang itu.


Semua hening dan menikmati santap makan siang yang sudah menempati masing-masing piring tak ada suara yang berart kecuali suara dari Eonjin.


Sementara itu Yoongi tengah mengeluarkan sumpah serapannya terhadap Taehyung yang tak kunjung datang ke tempat yang sudah ia pesankan pada Jimin. Ia pun menelpon Jimin dengan setumpuk amarah yang sudah siap keluar saat orang yang pesankan menjawab.


"PARK JIMIN!!!" pekik suara itu sesaat Jimin mengangkat telpon yang masuk dan untungnya dia belum menaruh benda pipi itu ketelinganya kalau tidak? Akan di pastikan gendang telinganya akan hancur mendengar teriakan dari Yoongi.


"Kemana si alien keparat itu!! ini udah lewat 1 jam!!"


"Katanya dia gak bisa menemui mu sekarang hyung, dia masih diluar gak tau kapan kembali" ucap Jimin sambil me-losspeaker-kan panggilannya.


"Apa dia mau aku pecat dari kantor atau gimana sih sialan!!" omel Yoongi dari seberang telpon.


"Mungkin saja, karena kau terus mengoceh tak ada henti hyung" pungkas Jimin.


"Sialan kau!! Akan ku buat perusahaan mu bangkrut!!"


"Ya!! Ya!! Jangan begitu dong!! Kalau gak begini saja, nanti malam kita ketemu sama dia. Ya kemungkinan dia akan pulang" usul Jimin.


"Ah terserah!! Kalau gak bisa juga kau dan dia akan ku buat jadi pengemis, camkan itu!" tegas Yoongi dan langsung mematikan telponnya.


"KIM TAEHYUNG!!!!!!!!!!" teriak Jimin didalam mobil akibat ulah rekannya yang satu itu. "Sialan kau Taehyung, awas saja kau".


Jimin pun mengirim pesan singkat kepada Taehyung "Eh Alien!! Nanti malam kau harus dirumah kalau gak kita berdua akan jadi gembel dibuat oleh Yoongi sialan itu!!" pesan Jimin yang sangat mencerminkan kekesalannya pada Taehyung.


Taehyung masih menikmati makanan manis yang menjadi penutup makan siang mereka.


"Eonnie!!! Ini sangat enak, aku suka. Apa eonnie yang membuatnya?" ucap Eonjin dengan mulut yang penuh.


Callista menggeleng pelan sambil mengelap cream yang sedikit berserak disekitar mulut Eonjin. "Para bibi yang membuatnya" jawab Callista jujur.


"Tapikan Eonnie pintar masak"


"Hanya masak, kalau buat kue eonnie belum bisa Eonjin. Tapi tahap belajar, nanti kalau sudah bisa eonnie akan kasih kamu" sambil mencolek hidung Eonjin.


Taehyung tersenyum melihat kedekatan Eonjin dan Callista sepertinya mereka sudah sangat akrab dan mengenal lama, hingga dia tersadar ada yang bergetar di saku celananya. Dengan segera dia melihatnya.


Dia pun menaikkan satu alisnya "Eh ini benaran Yoongi hyung?" batin Taehyung melihat layar menunjukkan panggilan tak terjawab sebanyak 20 kali dari Yoongi. "Ini lagi si cebol ada apa chatting" sambil membuka isi chattingnya dan membalasnya.


"Ya akan ku usahakan aku pulang" balas Taehyung pada pesan Jimin dan memasukkan kembali ponselnya kedalam sakunya.


"Eonnie? Boleh aku menginap disini??" tanya Eonjin pada Callista.


"Kamu izin dulu sama orangtua kamu baru eonnie iyakan, paham?" Eonjin hanya mengangguk paham dan melukis senyum di wajah kecilnya itu.


"Eonnie .... hummm " Eonjin menunduk sambil memainkan jarinya kecil.


"Iya ada apa Eon-ya?" sambil mengusap rambut Eonjin lembut.


"Boleh aku kekamar Eonnie?"


"Pertanyaan yang eonnie tunggu itu, ayo kekamar eonnie" sambung Callista dan menggandeng tangan mungil itu untuk naik ke anak tangga.


Taehyung hanya bisa mengikut dari belakang dan hanya diam sembari melihat ruangan yang memang tidak ada di lalui "Nona?!" Panggil Taehyung.


"Sudah saya bilang panggil saja nama" sahut Callista sambil membuka pintu kamarnya dan kedua kakak beradik itu terperanga melihat kamar Callista.



"Ayo masuk, maaf ya warna jelek. Habis saya suka warna ini" timpalnya sambil memasuki kamarnya.


"Eonnie, kata eonnie kamar eonnie ada bonekanya? Kenapa ini gak ada?" tanya Eonjin.


"Ada tapi di kamar satu lagi, kamar masa kecil eonnie. kalau kamu menginap nanti akan eonnie tunjukkan, untuk sekarang kesini saja dulu" jawabnya dan duduk di tepi kasur.


"Kamar ini kedap suara?" tanya Taehyung dan Callista hanya mengangguk kecil. "Oh ya mau saya perlihatkan foto-foto saya dulu?" tawar Callista sembari bangkit dan membuka lemarinya. Mengambil beberapa album foto yang lumayan tebal.


Taehyung pun dengan sigap membantu Callista karena dilihat dari segi mana pun, kelihatannya Callista sangat keberatan saat membawa tumpukan album foto itu.


"Terima kasih" singkat Callista sesaat semua album foto itu tergeletak di kasurnya dan mereka bertiga pun mulai membuka satu persatu album foto itu dan melihat Keluarga Callista baik papa, mama atau Callista sendiri.


Setiap gambar yang tercetak memiliki bayangan tersendiri di pikiran Callista seperti sebuah file film yang terputar sendiri saat Callista melihatnya dan itu mampu membuatnya tersenyum bahagia walau seulas senyum.