
Selesai mereka melakukan meeting, semuanya membubarkan diri dengan tenang. Taehyung masih dalam pikirannya sendirinya, di sepanjang jalan dia hanya melamun. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
"Nona" panggil bodyguard Callista lembut sambil memberi beberapa dokumen. "Ini ada beberapa file yang harus nona baca saat dirumah nanti".
"Terima kasih ahjussi, pastikan Taehyung dan temannya itu tidak membuka mulut" tegas Callista dan mereka pun memasuk kedalam mobil dan pergi.
"Hei!!" tegur Jimin sambil menepuk bahu sahabatnya yang dari tadi melamun.
"Jim? Apa yang ada di pikiran mu sekarang?" Jimin hanya menghardik bahu sembari menggelengkan kepalanya.
Taehyung hanya mendengus dengan kening berkerut memikirkan hal yang sangat mengganjal pikiran.
"Wahh.... gadis tadi cantik sekali, suaranya juga sangat lembut" pungkas Jungkook saat memasuki ruangan Yoongi sambil jalan mundur.
"Ya Jung, perusahaan Ehner Lee memang benar-benar penyimpan manusia berlian. Semua pegawainya memiliki bodygoals" sahut Hoseok sambil memutar-mutar bolpoin di jarinya. Kebiasaannya.
"Gak hanya pegawainya, bahkan OB/OG dan security-nya mempunya postur tubuh yang sangat apik" sambung Namjoon yang merangkul Jungkook.
"Benar-benar luar biasa" sahut Yoongi yang baru keluar dari toilet.
"Ya hyung, aku harap perusahaan mereka setuju dengan proposal yang kita ajukan" sambung Jungkook yang baru mendudukan bokongnya.
Yoongi hanya mengangguk dan memeriksa hasil rapat hari ini. Tidak lama dari itu Jimin dan Taehyung masuk kedalam ruangan.
"Darimana saja kalian?" tanya Namjoon yang melihat mereka berdua.
"Dari kantin" jawab Jimin santai dan duduk di samping Namjoon.
"Taehyung hyung!!!!" panggil Jungkook sambil berpindah duduk didekat Taehyung.
Taehyung hanya berdehem dan menoleh ke arah Jungkook. "Hyung, gadis tadi cantikkan?"
"Sangat" jawab Taehyung sedikit tersenyum.
"Aku ingin mengaitnya, ah my heart!!" dengan sedikit drama ala-ala biji kentang.
"Silahkan tak ada yang melarang"
*****
Kini sore telah tiba, Callista baru menapakkan kakinya dirumahnya. "Ah ... aku lelah sekali" eluh sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Nona, air hangat sudah siap" suara itu mengalun dari mulut wanita parubaya.
Callista hanya mengangguk pelan dan bangkit "Bi, malam ini aku ingin makan bubur dan tolong antar ke kamar" sambil melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Baik nona" sahut maid itu dan pergi kedapur.
Callista pun masuk kekamarnya melepas baju formalnya dan menghapus make up-nya lalu beralih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Wajah itu tak asing bagiku" batinnya sembari mengingat wajah lembut Yoongi tadi. "Suaranya. senyumnya juga".
Sisi lain Taehyung masih bersama Jimin, mereka melajukan arah mobil kearah kediaman Callista dengan harapan bisa masuk kesana walau mustahil karena mereka datang bukan atas perintah Callista atau dengannya.
"Tae apa kau ingat betul alamatnya?" tanya Jimin yang sepanjang jalan hanya ada hutan belantara.
Taehyung mengangguk "Ya hyung, memang ini jalannya dan kau akan tercengang".
Jimin hanya berdehem dan keadaan mobil pun kembali hening dengan Taehyung yang fokus dan berharap bisa masuk dan Jimin yang asik dengan matanya yang melihat keasrian hutan.
Sesampai disana mobil Taehyung dihadang dua algojo bersenjata. "Mau apa kalian?" suara itu sangat berat keluar dari bilai itu.
Taehyung ingin keluar dari dalam mobil tapi di tahan oleh Jimin. "Lebih baik putar balik saja" ucap Jimin.
"Tidak hyung, aku penasaran dan takut jika Yoongi hyung tahu siapa dia" sahutnya sembari menyingkirkan tangan Jimin yang berada di bahunya. Jimin hanya menghela nafasnya berat dan membiarkan Taehyung keluar.
"Bertemu tuan putri kalian" ucap Taehyung pada kedua algojo itu.
"Apa dia memerintah mu kesini?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya" bohong Taehyung "Kalau tidak percaya hubungi dia sekarang".
Kedua algojo itu menatap satu sama lain dan menelpon kedalam. Taehyung berharap Tuhan memberinya keberuntungan malam ini.
******
Calista tengah menikmati makan malamnya di balkon kamar dengan rambut yang tergerai dan menari dengan angin malam.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar kamarnya, ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu untuk membukanya. Saat pintu terbuka dua orang namja sudah dalam keadaan lebam, bajunya lusuh karena tanah yang menempel dan satunya lagi baik-baik saja.
Retina Callista langsung membola saat melihat yang di bawah oleh algojo nya.
"Nona mereka penyusup dan berbohong sudah memiliki janji pada nona" ucap salah satunya.
Callista menghela nafas kecil "bawa naik kekasur saya dan ambilkan kotak obat" perintah Callista yang langsung dikerjakan oleh algojonya.
"Dan kamu disini temani dia, saya ingin kedapur meminta bibi memasakan makanan untuk kalian" ucap Callista lembut pada Jimin.
Jimin hanya mengangguk dan menatap punggung indah Callista. "Sangat cantik" batin Jimin mengulas senyum.
Tak lama dia menoleh ke arah sahabatnya yang tengah pingsan karena belagak berani melawan dua algojo tadi.
"Dasar bodoh" cibik Jimin kesal dan memukul pelan kepala Taehyung yang membuat Taehyung meringis.
"Awss ... "
"Masih dan lagi mereka curang dua lawan satu mana bisa begitu"
"Kau yang bodoh, kalau sudah tak diizinkan ya pulang saja" omel Jimin.
"Aku harus memberitahunya kalau tidak ..." Kalimat Taehyung terpotong.
"Kalau tidak kenapa?" suara lembut Callista yang baru masuk dengan membawa meja dorong yang berisi makanan dan disampingnya seorang algojo tadi dengan memegang kotak obat.
"Eh itu ... Humm lebih baik kita bertiga saja" sambung Taehyung tanpa melihat Callista.
Callista memberi isyarat pada algojonya untuk meletakkan kotak obat itu di meja dorong dan pergi.
"Sekarang kita sudah bertiga bicaralah" tegas Callista dengan berjalan mendekat ke kasurnya.
"Tapi Cal ..." belum selesai Jimin bicara Callista memotong lagi.
"Akan saya obati dia jangan khawatir" sambil duduk di samping Taehyung dan mengambil kotak obat, air hangat dari meja dorong lalu diletakkan di meja.
Taehyung dan Jimin hanya berdehem kecil sambil menatap Callista yang tengah mengobati luka Taehyung.
Taehyung agak ragu dan sesekali meneguk salivanya "Katakan saja, saya akan mendengarnya" ucap Callista yang sudah seperti peramal.
"Yoongi" baru kalimat itu yang keluar dari bilai Taehyung Callista memotongnya.
"Dia teman masa kecil"
"Kau suka sekali mencela perkataan orang" dua ungkapan itu beriringan.
"Maaf, akan saya katakan sekali lagi. Dia teman masa kecil dan saya sudah tahu topengnya" jelas Callista sambil menutup luka Taehyung.
Mereka berdua tercengang dan menatap satu sama lain. "Bagaimana kamu tahu?" tanya Taehyung dan menatap Callista.
"Apa kamu ingat saat dirumah tadi? Saat saya bilang tak bisa menginap karena ada urusan" Taehyung dan Jimin mengangguk.
"Uncle menyuruh saya untuk datang ke rapat tadi dan dia memberitahu segalanya. Jadi kalian tenang saja, selama kalian tak buka mulut" jelas Callista.
Mereka berdua pun mengangguk paham. "Lain kali kalau kesini bilang "Saya anak Tuan Kim datang untuk mengobrol dengan nona" dengan begitu kalian diizinkan masuk".
"Kenapa bawa nama appa ku?"
"Hooh kenapa bawa nama appa dia?"
"Karena selain dengan uncle Dodo, paman Kim juga sangat dekat dengan saya"
Mereka berdua membulatkan bibir mereka dan menatap penuh paham.
"Ya sudah kalian pasti belum makan saat kesini"
"Iya begitulah" sahut Jimin.
"Disini atau di balkon? Karena aku juga tengah makan tadi"
"Eh .... Aduh maaf Lisa aku tak tahu" ucap Taehyung sedikit kaget.
"Tak apa, Yaudah bagaimana? Disini atau di balkon?"
"Balkon saja" Serentak mereka berdua.
Callista tersenyum kecil dan mendorong meja itu ke balkon, sementara Jimin memapah Taehyung agar bisa sampai di balkon.
"Ku kira dia akan memarahi kita berdua, ternyata tidak. Baik sekali dia" bisik Jimin.
"Iya, appa ku juga sering cerita pada Eonjin bahwa Lisa jarang menampilkan emosi atau amarahnya"
Callista telah selesai menatap makanan ke meja dan mengalihkan pandangan kepada dua namja yang tengah berbisik ria disana.
"Bisa cepat sedikit? Atau mau pakai kursi roda?"
Mereka berdua menggeleng "Dia berat aku tak sanggup".
"Enak saja kau!!!" pekik Taehyung. "Dia saja yang tak niat membantu ku".
"Bukan gak niat memang kau berat"
Callista hanya menggeleng kepalanya dan memilih duduk menunggu mereka berdua sampai lalu makan malam bersama.
******
Sementara itu Donghee tengah menghubungi salah satu bodyguard yang menjadi kaki tangannya.
"Bagaimana rapat pertama nona? Apa ada kendala?" tanya Donghee.
"Lancar tuan, hanya saja sekarang anak tuan Kim sedang berkunjung membawa anak tuan Park" jelas Bodyguard itu.
"Baiklah, sepertinya aku harus mulai memberi sedikit perenggangan padanya"
"Ya tuan, tapi karena mereka berdua tak memberi alasan yang pasti untuk ketemu dengan nona. Mereka di pukulin tadi" .
"Biarkan saja. Agar mereka tahu bagaimana rasanya kalau jadi penyusup, ya sudah beberapa minggu lagi saya akan pulang jangan beri tahu padanya kalau saya pulang mengerti!"
"Mengerti tuan".
Donghee pun memutus panggilan itu dan kembali melihat layar laptopnya. "Permainan akan dimulai tuan muda MIN YOONGI bersiaplah"