
Di sepanjang perjalanan hanya ada suara Eonjin yang mengoceh dengan Callista, sampai akhirnya mereka memasuki kawasan hutan. Taehyung yang bingung hanya bisa diam dan menatap Callista yang tengah asik dengan Eonjin.
Ternyata Eonjin juga menyadari kalau mereka memasuk kawasan hutan. "Eonnie? Kenapa kita kesini? Bukannya mau kerumah eonnie?" tanya sambil melihat kearah keluar jendela dan pertanyaan Eonjin itu mewakili Taehyung.
"Ini jalan kerumah eonnie" jawabnya singkat sambil mengulas sesimpul senyum.
Taehyung pun angkat bicara "Kenapa di area seperti ini?" tanya sambil melihat Callista.
"Ya karena ... " Callista diam sejenak "kalian akan tahu"
"Nona ... " panggil bodyguardnya yang menampilkan raut sedikit takut.
"Tak apa? Lagian kan hanya keluarga mereka, bukannya salah satu anggota keluarga mereka bekerja disana? Pasti bakalan dikasih tahu untuk tidak bicara." lanjut Callista tenang.
Bola mata Taehyung langsung membola tak kala mendengar penuturan Callista tadi "Keluarga? Siapa?" batin Taehyung.
Eonjin yang masih kecil dia tak menghiraukan kata-kata Callista tadi dia mulai asik dengan pemandangan hutan yang dihiasi oleh serang cantik yang berterbangan kesana kemari dengan indahnya dan bercengkrama dengan burung-burung disana, seperti saling menyapa satu sama lain. Tak lama nampaklah sebuah villa besar yang berdiri kokoh.
"Eonnie! Eonnie!! Lihat itu!" ucap Eonjin semangat sambil menunjuk Villa besar di tengah hamparan hutan.
"Disana eonnie tinggal" sambung Callista sambil tersenyum.
"Be .. Benarkah?!" kedua kakak beradik itu tak percaya, Callista hanya mengangguk pelan.
Perlahan mobil yang membawa mereka mulai mendekat ke halaman luar bukan halaman yang ada di balik pagar yang menjulang tinggi yang menutupi villa itu. Luas? Itu kata yang tepat untuk menggambarkan sebuah halaman yang seperti memiliki dua lapisan benteng dan disana terlihat beberapa pria yang tengah berjaga di area pagar, dan perlahan gerbang itu terbuka dan kaca mobil Callista mulai turun.
Mereka telah sampai di depan pintu utama villa besar itu dan pintu mobil dibuka, mempersilahkan Callista, Eonjin dan Taehyung turun. Saat mereka turun jajaran maid, bodyguard dan para pelayan berbaris memanjang sampai di depan pintu utama.
Callista keluar dan berjalan masuk semuanya membungkuk memberi hormat dan tiba-tiba Eonji berhenti saat di pertengahan jalan karena melihat seorang yang tak asing baginya dan dia langsung berlari memeluk sosok itu.
"APPA!!!!!" ucap Eonjin dan Taehyung pun kaget melihat appanya berada dibarisan itu.
"Appa? Ternyata appa kerja disini!" sambung Taehyung sambil berjalan kearah appanya.
"Kenapa kalian bisa kesini?"
"Bicaranya didalam saja" tutur bodyguard Callista, karena Callista sudah masuk kedalam dan berganti pakaian dikamarnya.
"Baik tuan" ucap appa Kim dan mereka bertiga mengikuti bodyguard yang jalan didepan mereka.
Saat memasukin hunian Callista, Taehyung tak berhenti melihat arsitektur villa Callista yang berpadu antar Korea dan Eropa sangat kental. Mampu memanjakan mata siapa saja yang masuk kesini dan villa Callista sangat hening tak ada suara apapun yang berarti disini sangat cocok untuk menenangkan pikiran.
Tiba-tiba Callista menuruni satu persatu anak tangga dengan baju yang sudah dia ganti dengan kaos oversize dan sebuah celana training dengan rambut terikat memperlihatkan leher indah nan jenjangnya.
Dia berjalan menuju ruang tamu dimana ada Taehyung, Eonji dan appa Kim. Sesampai diruang itu dia membungkuk dalam dan mengelus senyum manisnya lalu duduk di single sofa.
Saat baru mendudukan bokongnya Eonjin langsung lari dan duduk diatas pangkuan Callista.
"Eonnie, jadi eonnie yang selalu di ceritakan appa" sambil menatap mata Callista. Callista mengangguk pelan sambil mengulas senyum.
"Maaf nona bagaimana bisa anda bertemu mereka?" tanya appa Kim pada Callista dengan nada lembut.
"Takdir mungkin paman" singkat Callista sambil beralih menatap appa Kim.
Tiba-tiba seorang maid datang membawa beberapa cemilan dan minuman lalu meletakkannya di meja dan membungku berlalu pergi.
"Tidak appa!! Eonni membantu ku dari teman-teman yang jahat pada ku" sambung Eonjin.
"Apa?! Anak appa dijahat?" ucap appa Kim dengan mata membola.
"Tapi karena eonnie aku gak dijahati dan punya teman baru appa" jawabnya semangat.
"Syukurlah kalau begitu"
"Paman anda tahukan apa yang harus kamu lakukan?" ucap Callista tiba-tiba yang membuat appa Kim mengangguk paham.
"Baiklah kalau gitu saya tinggal sebentar dan Eonjin kamu disini dengarkan apa yang akan di bilang appa kamu" sambung Callista dan mendudukan Eonjin di sofa yang di duduki tadi.
Taehyung hanya diam tak mampu bicara sepatah kata apapun karena dia mulai terpana melihat Callista dan mulai sadar bahwa gadis yang memiliki ekspresi yang mudah berubah itu sangat anggun, cantik dan elegan.
"Kenapa aku baru sadar dia sangat cantik" batin Taehyung yang melihat Callista mulai menjauhi ruang dimana appa dan adiknya duduk.
"Taehyung, Eonjin" panggil appa Kim pada kedua anaknya.
Taehyung membuyarkan pandangannya dan beralih ke appanya.
"Iya appa?!" serentak kedua anaknya dengan tatapan bingung yang sangat jelas.
"Appa mau kasih tahu pada kalian berdua, jangan beritahu siapapun mengenai nona Callista. Jika ada yang bertanya siapa dia? Bilang dia kerabat jauh kita"
"Kenapa appa?!" potong Taehyung.
"Kamu tahu tragedi kecelakaan pesawat beberapa tahu yang lalu?" ucap appa Kim dan Taehyung mengangguk.
"Yang seluruh penumpangnya tewas saat ingin pulang ke Inggriskan?"
"Ya, nona Callista adalah satu-satunya yang selamat dalam tragedi itu dan karena traumanya dia harus disamarkan dan bahkan banyak orang yang mengira dia sudah tiada tapi bukan karena kecelakaan itu, melainkan karena traumanya pada cahaya dan suara besar" jelas appa Kim pada anak sulungnya.
Netran Taehyung langsung membola mendengar penjelasan appanya dan mengingat kejadian tadi malam yang terjadi "Pantas saja dia ketakutan seperti itu" batin Taehyung sambil mengangguk penuh paham akan penjelasan appanya.
"Jadi appa harap kamu bisa rahasiakan nona Callista dan jangan sampai ada orang yang melihat dia, mengerti?" sambung appa Kim.
"Iya appa, Taehyung mengerti"
"Dan Eonjin, kamu gak maukan eonnie kamu diambil orang atau jadi pusat perhatiankan?" tanya appa Kim pada anak busungnya.
"Nggak appa!! Eonjin gak mau eonnie diambil!!!" tuturnya seperti ingin marah.
"Jadi jangan beritahu pada siapapun mengenai eonnie ya" ucap appa Kim sambil mengulas senyum dan si bungsu pun mengangguk paham.
Tak lama Callista masuk kembali ke ruang tamu dengan 2 anjing besar yang menemani dia.
"Jika ada yang mengetahui keberadaan saya sebelum waktunya resiko akan di tanggung oleh keluarga kalian" ucap Callista dengan raut wajah mengintimidasi dan tatapan tajamnya yang membuat siapa saja yang melihat langsung tunduk tak berani beradu dengan netranya.
Taehyung dan appanya mengangguk mengerti sedangkan Eonjin dia langsung berjalan kearah Callista dan mengusap kedua anjing Callista.
"Baiklah kalau kalian sudah paham, paman Kim mobil untuk mengantar anda pulang sudah siap" suara itu mengalun dari arah belakang Callista yang ternyata bodyguard Callista.
"Terima kasih nona" sambil membungku dalam dan mengulas senyum yang di balas bungkukan juga oleh Callista.
Appa Kim sudah keluar dan pulang, tinggal kedua anaknya yang masih ada didalam kediaman Callista.
"Ingin berjalan-jalan sedikit?" tawar Callista pada Taehyung yang masih setia memandang isi kediaman Callista atau pun Callista yang dia lihat.
"Apa boleh?"
"Tentu, kenapa tidak? Biarkan Eonjin bermain dengan anjing saya". Taehyung mengangguk dan bangkit dari duduknya.
"Eonjin kamu main sama mereka dulu atau ikut sama eonnie dan oppa?" tanya Callista lembut pada Eonjin.
"Lily dan Cece, paman tolong ajak Eonjin main di halaman belakang" perintah Callista yang dibalas angguk dan menuntun Eonjin ketempat bermain di halaman belakang disana lumayan lengkap karena Callista punya taman bermain sendiri yang masih terawat dari kecil hingga sekarang.
"Ayo ikuti saya" ucap Callista sesaat bodyguardnya sudah membawa Eonjin dan berjalan mendahuluin Taehyung.
"Dia dingin, cuek tapi hanya di luar. Apa karena untuk menutupi kekurangnya itu?" batin Taehyung sambil mengikuti Callista di belakang.
Tour dimulai, Callista yang memang jarang bahkan tak pernah mendapat atau mendatangkan orang lain ke tempatnya mulai menjelaskan tentang dirinya yang campuran Inggris Korea dan isi setiap ruangan di villanya.
"Hum ... Nona? Maaf, apa kamu tak merasa kesepian sendiri dirumah sebesar ini?" tanya Taehyung dengan sangat hati-hati.
"Kesepian? Pastinya, tapi saya mengisi waktu saya dengan membaca berkas-berkas kantor, buku, melukis atau memainkan alat musik"
"Selain itu? Pasti kamu ada sedikit merasa bosan"
"Ya, saya kadang bosan" sambil duduk di rooftop yang didesain sangat nyaman. "Tapi saya tak bisa apa-apa, kamu tahu sendirikan". Melihat Eonjin yang tengah lari-lari dengan cerianya dibawah.
Taehyung mengangguk "Aku tahu, tapi kenapa gak coba buat melawannya?"
"Jika saya melawan trauma dan fobia saya yang ada saraf-saraf di otak saya akan mengalami kerusakan dan saya bisa saja hilang ingatan tentang semuanya atau meninggal"
"Lebih baik bukan jika hilang ingatan daripada kamu menderita seperti ini?"
"Tidak, saya tidak ingin ingatan tentang keluarga saya hilang walau sekecil apapun. Karena jika saya hilang ingatan maka tak bisa kembali, baiklah jangan bahas masalah ini saya tak suka"
"Baiklah" Singkat Taehyung sambil menikmati pemandangan dari rooftop yang menyajikan hamparan hutan yang amat luas dan bisa melihat kota Daegu.
Sementara itu di rumah keluarga Kim seorang namja dengan tubuh mungil memanggil Taehyung dengan heboh.
"Taehyung!!" panggilnya sambil masuk kedalam rumah keluarga Kim karena dia sudah menganggap keluarga Kim adalah keluarga keduanya.
"Taehyung tengah pergi, ada nak Jimin?" tanya ibu Kim pada namja yang bernama lengkap Park Jimin.
"Saya ada urusan penting dengannya bi, apa dia membawa ponsel?"
"Sepertinya dia membawanya"
"Baiklah, terima kasih ya bibi" sambil membungku dan pergi. "Kemana dia ya? Tumben masih pagi sudah pergi? Padahal aku minta bantu cari informasi" gumamnya sambil merogoh kantong celananya dan mengambil benda pipih.
Jimin mulai menghubungi Taehyung yang tengah menikmati hembusan angin dan sejuknya hutan.
"Taehyung? Ponselmu berbunyi" ucap Callista yang tengah melukis.
"Ah iya, aku angkat sebentar ya" sambil berjalan menjauh dari Callista. Callista hanya mengangguk dengan sekilas melihat Taehyung karena jujur dia tengah melukis Taehyung.
Taehyung pun mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menganggu kenikmatannya.
"Jimin?" gumamnya sambil menggeser tombol hijau yang bergetar dan meletakan ponselnya sejajar dengan telinga kirinya.
"Yak!! Kim Taehyung!! Dimana kau??" petik Jimin dari dalam ponsel, Taehyung langsung mendatarkan wajahnya.
"Dimana aku? Apa pedulimu pendek?" ketus Taehyung sambil memasukkan tangan kanannya kedalam kantong celana.
"Yak Taehyung!! Dimana sopan santun mu? Aku lebih tua beberapa bulan darimu"
"Hanya beberapa bulan, bukan beberapa tahun" jawab Taehyung kelewatan santai.
"Terserahlah, aku menelponmu karena Yoongi hyung ingin kita mencari sesuatu"
"Sesuatu? Cari saja dengan yang lain. Bukannya aku tengah cuti?"
"Ya aku tahu kau tengah cuti, tapi yang lain juga tengah mencari hal yang sama. Kita di bagi 3 tim dan aku satu tim dengan mu"
"Dasar si tuan Min gila itu seenaknya saja. Apa yang mau dicari?"
"Kau tahukan kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu, menewaskan seluruh penumpangnya?"
"Ya aku tahu kenapa?"
"Kita akan mencari keberadaan pewarisnya, karena perusahaan keluarga Ehner Lee tetap berjalan dengan tanda tangan pewarisnya yang entah masih ada atau tidak?"
Netran Taehyung langsung membola dan membalik tubuhnya melihat Callista yang masih asik melukis. "Tak boleh ada yang tahu sampai pada waktunya" kalimat itu langsung menghiasi kepala Taehyung dan membuatnya diam sejenak.
"Taehyung!!!!!" teriak Jimin dari ponsel.
"Ah ii iya. Humm bisa sajakan itu orang lain" ucap Taehyung sedikit gugup.
"Tak mungkin, data-data dia di beberapa sekolah unggul dan beberapa bulan lalu dia sudah lulus padahal dia itu bisa di bilang seorang MABA"
"Apa fotonya ada?"
"Tidak ada, setiap kami ingin mencari tahu lebih. Berkas atau halaman di internet hilang, bahkan jika kami ke sekolah dimana dia belajar tak ada siswa yang tahu dia"
"Home schooling?"
"Bisa jadi, tapi kenapa di tutupi?"
"Mana ku tahu, apa itu urusan ku?" Ucap Taehyung berusaha menutup keberadaan Callista.
"Setidaknya kau membantu, karena Yoongi hyung tak main-main untuk hal ini!!"
"Apa hubungannya dengan dia?"
"Karena, humm ... Entahlah"
"Kalau tidak ada hubungannya sudah lupakan saja tentang keluarga itu, mungkin saja kaki tangan keluarganya. Berpikiralah simpel" ucap Taehyung yang masih melihat Callista dengan sangat terpana karena hembusan angin rambut Callista yang terikat seperti menari-nari dengan indah.
"Cantiknya!" gumam Taehyung.
"Hah? Cantik? Taehyungie!! Kau sedang bersama wanita sekarang!!" Pekik Jimin.
"Eh ... Humm .. Iii itu!!! Iya sama Eonjin" ucapnya gugup dan langsung melihat Eonjin yang masih bermain di bawah bersama beberapa bodyguard.
Tak lama Callista berdiri dan berjalan kearah Taehyung yang membelakangi Callista.
"Taehyung?" suara lembut Callista mengalun menembus telinga Taehyung dan terdengar oleh Jimin.
Taehyung langsung menoleh kebelakang dan melihat Callista telah berdiri tegak di belakangnya.
"Iya ada apa?" jawab Taehyung tanpa menyebut nama kali ini.
"Saya melukis kamu" singkat Callista sambil memberi hasil lukisannya pada Taehyung. Ia pun menerima lukisan itu dan melihatnya.
Taehyung terperanga melihat hasil lukisan Callista "Wah ini sangat bagus! kamu punya bakat" ucap Taehyung sambil langsung mematikan sambungan telpon.
"Yak Taehyung sialan!! tapi dia sama siapa? suara gadis? ah sudahlah, mungkin pacarnya" gumam Jimin sambil pergi ke kantornya.