
Seorang pria dengan topi jeraminya tengah berdiri nabur penyubur tanaman dihamparan tanah yang tak terlalu luas dan juga tak terlalu kecil, tanah itu di tumbuhi pohon strawberry yang sangat subur dan juga memiliki buah yang lebat. Akibat cuaca panas dia mengeluarkan keringat yang membasahi setiap pahatan wajahnya membuat dia mengeluarkan kesan seksi dan maskulin, tatapan mata elangnya dengan lentikan bulu mata yang tak selayaknya seorang pria memilikinya, hidung yang terpahat dengan sangat apik menduduki titik tengah wajahnya yang layaknya seorang malaikat.
Namun ada suara yang memanggilnya mengganggu aktivitas sorenya itu. "Tae!!! Dimana Eon-ya!!!" suara seorang wanita paruh baya.
"Bukannya dia lagi main sama temannya?!" jawab pria bernama Kim Taehyung sambil berjalan menenteng membawa keranjang isi buahnya.
"Iya eomma tahu! Tapi temannya semua udah pada pulang Tae, pas eomma tanya mereka gak tau" ucap wanita itu yang ternyata ibunya.
"Kalau appa mu tahu gawat Tae, kamu tahukan Eonjin sangat di sayang sama appa" sambungnya lagi sambil mengoyangkan bahu putra sulungnya itu.
"Eomma, tenanglah dulu sebentar lagi mungkin Eonjin pulang" timpal Taehyung sambil menaruh keranjang di meja yang terbuat dari anyaman bambu.
"Tae akan cari dia, kalau appa tanya bilang lagi keluar sama Tae" sambungnya sambil menggenggam tangan ibunya itu dengan lembut. Namun, sebelum langkah keduanya masuk ke rumah sederhana mereka tiba-tiba anak kecil yang mereka cari lari dengan gemasnya kearah mereka dengan menenteng bungkusan makanan.
"Eommaaaa!!!" teriaknya gemas dan terus memeluk sang ibu.
"Eonjin?! Kamu darimana aja sayang? Dari siang sampai sore begini baru pulang?" Ucap sang ibu Kim yang sangat khawatir pada putri kecilnya itu.
"Iya Eon-ya, kamu darimana?!" sambung sang kakak laki-lakinya yang tengah berada di samping sang ibu.
Namun sang gadis kecil enggan menjawab pertanyaan yang di lontarkan kedua orang yang tengah menampilkan raut wajah risaunya, tiba-tiba ada suara yang mengalun lembut menceritakan hal apa yang terjadi pada sang gadis kecil, membuat sepasang bola mata langsung membulat sempurna tak percaya apa yang mereka dengar.
"Eonjin?!" ucap sang ibu sambil menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan sang anak.
"Aku hanya ingin punya teman Eomma" jawabnya polos dengan mata yang mulai berlinang bak kristal.
"Hey, bukannya tadi eonnie sudah bilang jangan menangis?!" Ucap Callista yang masih tertutup hoodie warna abu-abunya, sambil mengelus kepala Eonjin dan dia beralih langsung memeluk pinggang Callista erat.
"Eonnie jangan pulang, eonnie udah janji mau jadi teman ku kan?!"
"Eon-ya, eonnie pasti punya kesibukan lain" ucap Taehyung lembut pada sang adik.
"Tak apa, saya juga tak punya kegiatan yang berarti" timpal Callista sambil membuka tutup hoodienya menampakkan wajah anggun, cantik dan aura yang meneduhkan hati dengan segaris senyum terlukis di wajahnya, seketika sepasang lawan bicara terpana melihat pahat wajah yang sangat sempurna ada dihadapan mereka.
"Dewi" gumam keduanya bersamaan namun tak terdengar karena hampir tak bersuara.
"Maaf, mari kita masuk dan duduk dulu" tawar ibu Kim dan mereka pun masuk kedalam dan duduk di barisan sofa berwarna coklat tua, lalu ibu kim beranjak kedapur membuatkan beberapa gelas minuman untuk disuguhkan ke tamunya itu. "Maaf ya, hanya ini yang saya hidangkan" lanjut ibu Kim sambil menaruh gelas-gelas itu di meja.
"Tidak apa bi, bibi juga tak perlu repot-repot" sambung Callista lembut.
"Maaf noona, siapa namamu?" tanya Taehyung "sepertinya kamu bukan orang sini" sambungnya, karena jujur saja Taehyung sering berkeliling dengan adik bungsunya tapi tak pernah melihat Callista.
"Callista dan maaf umur saya masih 20 tahun, Saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah" tutur Callista lembut.
"Maaf, aku tak tau. Namaku Taehyung dan aku lebih tua 4 tahun darimu" ucapnya sambil tersenyum kecil.
Tiba-tiba Eonjin datang dan langsung memeluk Callista erat "Eonnie menginapkan?!" tanyanya disela-sela pelukan. "Ya, eonnie akan menginap" jawab Callista sambil mengelus rambut Eonjin yang masih lembab.
"Baiklah, kalau begitu besok saya akan menjemput nona lagi" ucap sang Bodyguard, Callista hanya mengangguk pelan. "Kalau begitu saya permisi dulu" pamit sang bodyguard dengan memberi bungkuk hormat lalu pergi menghilang di balik pintu.
"Apa itu bodyguard kamu?" tanya ibu Kim "Ya bi, dia bodyguard saya" jawabnya sambil mengangkat Eonjin agar duduk disebelah.
"Kamu tak masalah menginap dirumah kami ini?"
"Tidak bibi, kenapa harus dipermasalahkan? Toh semua tempat tinggal sama sajakan? yang membedakan hanya sifat si tuan rumah bagaimana cara dia memperlakukan tamunya" jawab Callista
"Begitu, maksud bibi. Rumah bibi sederhana dan fasilitas disini mungkin tak sama dengan yang ada dirumah kamu" jelas ibu Kim lembut.
"Bibi, sama atau tidak itu tergantung tamu. Jika tamunya tidak memilik tata krama dan kesopanan yang baik maka dia mungkin langsung pulang" sambung Callista.
Dua orang yang ada di hadapan Callista takjub mendengar penjelasan yang bahkan tidak akan dipikirkan oleh siapapun didunia ini, mereka hanya terdiam sambil menatap Callista yang mulai asik dengan Eonjin begitu juga sebaliknya Eonjin belum pernah terlihat seceria dari biasanya.
"Eonnie ayo ke kamar ku!! Disana aku punya banyak sekali boneka" ucapnya Eonjin sambil merentangkan tangannya membentuk lingkaran besar.
"Wah benarkah?" jawab Callista sambil sedikit memiringkan kepalanya ke arah Eonjin yang dibalas anggukan olehnya.
"Callista apa kamu ingin mandi?" tanya ibu Kim sambil membereskan gelas-gelas tadi, Callista mengangguk pelan. "Baiklah bibi akan siapkan air hangat untuk kamu mandi dan pakaian ganti" sambung ibu Kim dan berlalu ke dapur.
Sementara itu Eonjin menarik-narik Callista untuk segera masuk ke kamarnya, melihat dan bermain boneka dengannya. Callista menurut dan pergi masuk kekamar Eonjin yang diikuti Taehyung dari belakang.
"Gadis ini gak terlihat seperti orang korea, dia seperti blasteran. Dari namanya juga" batin Taehyung yang mendudukan bokongnya ke kasur Eonjin sambil melihat Callista yang tengah bermain dengan adik bungsunya itu.
Namun saat mereka tengah asik bermain, tiba-tiba ibu Kim memanggil Callista untuk mandi dan berganti pakai. "Callista semua sudah selesai" ucap ibu Kim dan Callista turun dari kasur Eonjin, berjalan kearah ibu Kim "Terima kasih bi, maaf jadi merepotkan" ucap lembutnya sambil mengulas senyum.
"Tidak, bibi yang seharusnya berterima kasih sama kamu kalau tidak mungkin Eonjin belum pulang sekarang"
"Baiklah, sama-sama bibi" balasanya dengan membungkukan sedikit tubuhnya "Bisa kita kekamar mandinya bi" sambungnya lagi yang dibalas anggukan oleh ibu Kim.
"Eonnie nanti kita main lagi ya!!!" teriak Eonjin yang hanya di balas anggukan pelan oleh Callista. Callista dan ibu Kim pun pergi meninggalkan kakak adik itu berdua dikamar.
"Apa kamu suka bermain dengan eonnie?" tanya Taehyung sambil melihat adiknya itu.
"Ya oppa aku suka, eonnie baik! Dia membelikan makanan untuk ku, mengajak ku ke pusat perbelanjaan dan mengijinkan aku naik beberapa permainan disana" jawab Eonjin sangat antusias sambil melompat-lompat kecil di kasur.
"Begitu, sekarang berjanjilah untuk tidak pergi lagi karena kamu sudah punya teman"
"Iya oppa!! Aku berjanji" balas sang adik sambil menaikkan jari kelingking mungilnya dan disambut oleh jari kelingking sang kakak yang lentik, menyatukan sambil mengulas senyum kedua kakak beradik itu.
Sementara itu Callista dan ibu Kim sedang berjalan menuju kamar tamu tiba-tiba sebuah telpon rumah yang bertengger di ruang tamu berbunyi membuat ibu Kim hanya mengantar Callista di depan pintu kamar tamu.
"Maaf ya bibi angkat telpon dulu, semua sudah bibi siapkan" ucapnya sesaat lalu pergi mengangkat telpon itu. Callista hanya mengangguk pelan dan masuk ke kamar tamu.
Sang ibu Kim yang sudah berdiri didepan meja telpon langsung mengangkatnya mendengarkan seseorang berbicara dahulu. "Ah begitu oppa, baiklah karena nona tidak pulang kamu jadi kamu harus disana dulu" ucap ibu Kim sesaat diberi kesempatan bicara pada orang yang menelponnya yang ternyata suaminya.
"Ya oppa, aku akan bilang pada Eonjin kalau kamu pulang besok pagi. Oh ya oppa kita juga kedatangan tamu, besok Eonjin akan cerita" sahut ibu Kim lagi dan detik berikutnya mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Ibu Kim pun melanjutkan langkahnya membuat makan malam, sekarang ia tengah bergulat dengan peralatan dapurnya. Memainkan mereka dengan sangat lihai, memotong dan memasukan bumbu secara lembut dan teratur seperti seorang chef profesional.
Sisi lain Callista tengah membersihkan dirinya selama beberapa menit lalu selesai dan mengenakan baju yang sudah disediakan ibu Kim untuknya.
"Humm, semoga tengah malam nanti tidak ada gemuruh atau suara guntur yang berarti" batin Callista sambil mengenakan baju dan melipat baju kotornya.
"Oke sudah selesai, pasti bibi tengah memasak makan malam" gumam Callista karena mencium aroma yang mengganggu indra penciumannya dan mengganggu perutnya. Ia pun keluar, berjalan kedapur sesampai disana dia melihat ibu Kim yang sangat telaten memasak dan lembut dalam memperlakukan alat-alat dapur.
Callista mendekati ibu Kim "bi, bisa saya ikut membantu?" tanya Callista pelan agar tak mengkagetkan sang ibu Kim yang tengah asik dengan dapurnya. Sang lawan bicarapun langsung menoleh dan melihat Callista yang sudah ada di samping yang tengah memperhatikannya memasak.
"Tidak usah, kamu kan tamu kami. Jadi kamu duduk dan menunggu masakan ini siap ya?!" ucap ibu Kim lembut dan fokus memasak lagi.
"Tapi bi, aku sedikit bosan tidak melakukan apa-apa. Saat dirumah jika Uncle tidak ada aku membantu para bawahan ku dalam melakukan sesuatu" sambung Callista.
"Baiklah kalau itu keinginan kamu, tolong cucikan sayur itu dan potong tapi jangan terlalu kecil" pinta ibu Kim dan Callista menuruti sang tuan rumah. Ia mulai mencuci sayur bayam itu dan memotong. Ibu Kim memperhatikan caranya memotong Callista yang sedikit memperlihatkan rasa jijik saat menyentuh sayur dan pisaunya.
"Callista kenapa memotongnya begitu?!" tanya ibu Kim sambil membenarkan jemari Callista membuat Callista memegang dengan benar sayur dan pisaunya.
"Astaga!! Tangannya halus sekali, apa benar dia sering membantu di rumahnya?" batin ibu Kim sesaat merasakan lembut dan halus pada kulit Callista.
"Maaf bi, saya biasanya di beri sarung tangan plastik saat mengerjakan sesuatu misalnya saat bersentuhan dengan bahan-bahan masakan atau jika saya menyentuh peralatan berkebun." jelas Callista sambil terus melakukan kegiatannya.
"Oh pantas saja" sambung ibu Kim. "Maaf ya bibi" sahut Callista sambil sekilas melihat ibu Kim.
"Ya tak apa, saya paham" ucapnya sambil mengulas segaris senyum.
Dan mereka melanjutkan kegiatan mereka memasak dengan tenang dan damai tanpa pengetahuan mereka, ada sepasang kakak adik yang tengah melihat kegiatan mereka dengan duduk manis dimeja makan menunggu hidangan siap dan tak sabar ingin langsung melahap masakan yang hampir selesai itu.
Beberapa menit kemudian semua telah selesai dan dihidangkan diatas meja, membuat sepasang kakak beradik itu makin tak sabar ingin melahap makanan yang ada dihadapan mereka.
"Mari makan!!!" ucap Eonjin semangat sambil mengangkat kedua tangan dengan gembira. Mereka yang melihat tingkah Eonjin gemas dan hanya bisa menggeleng kepala halus.
"Begini ya rasanya punya adik" sambung Callista sambil membantu ibu Kim menyendok makanan untuk kedua anak ibu Kim dan untuknya sendiri.
"Kamu anak tunggal?!" tanya Taehyung sambil menyodorkan piringnya untuk mendapat makanan.
"Ya saya anak tunggal" ucapnya pelan sambil menyendok makanan untuk Taehyung. Taehyung hanya mengangguk pelan "terima kasih" sahutnya sambil mulai melahap makanannya dengan tenang, begitu juga dengan yang lain.
Perlahan bulan mulai mencapai posisi puncaknya memberitahu bahwa malam sudah mulai larut, Eonjin sudah tidur terlebih dahulu setelah makan malam begitu juga yang lain. Namun, Callista belum juga tidur ia duduk didekat jendela kamar menatap langit yang awalnya cerah perlahan mulai tertutup awan hitam, bulan pun mulai tertutup, kilatan petir yang mulai keluar perlahan diiringi suara lirih gemuruh yang mulai mendekat. Callista pun langsung memasang peredam suara di telinganya agar dia bisa tidur dengan tenang dan damai, namun alam berkata lain.
Hujan mulai turun dengan sangat derasnya mengeluarkan suara dan kilatan yang sangat kencang, bersahutan layaknya sengaja membuat Callista ketakutan. Kini ia pun langsung berlari ke kasurnya meringkup masuk kedalam selimut sembari menutup kepalanya dengan bantal bermaksud agar suara itu tak terdengar, tapi yang ada suara itu hampir terdengar sangat nyaring di telinganya yang bahkan sudah tertutup dengan peredam suara dan bantal. Callista mulai menangis sesegukan, ia ingin menjerit memanggil unclenya namun dia sadar bahwa unclenya tengah dalam perjalanan dinas, sekarang dia hanya mampu dengan sekuat tenangnya menahan suaranya. Sayangnya dia dikalahkan dengan fobia dan traumanya itu! Alhasil dia berteriak histeris sambil menutup telinganya dan meringkup memeluk lututnya dengan tubuh yang bergetar hebat, aliran airmata yang terus mengalir layaknya air terus yang terus tumpah.
"UNCLE!!!!!" Teriak Callista sambil menatap daun pintu, berharap ada yang menolongnya. Karena dia sangat takut dan tak bisa bergerak meninggalkan kasur itu.
Mohon dukungannya ya ヽ(*≧ω≦)ノ