The Queen Of The Ehner Lee Family

The Queen Of The Ehner Lee Family
-


Seminggu telah berlalu, Callista dan para bodyguardnya tengah berada di perjalanan mengantar Eonjin pulang dengan beberapa boneka yang ada di sekitar Eonjin. "Apa kamu suka?" tanya Callista sambil menyimpul senyum.


Eonjin mengangguk "Aku suka eonnie dan aku baru tahu boneka punya wangi" tak henti menghirup aroma boneka yang baru di belikan oleh Callista.


"Jaga baik-baik ya, kalau eonnie tidak sempat datang anggap saja mereka adalah eonnie"


"Baik eonnie!!" ucapnya penuh semangat dan senang.


Sementara di rumah keluarga Kim, tengah ada kehebohan karena ulah seorang pemuda yang tidak sengaja menumpahkan selai strawberry yang baru selesai dibuat.


"Jimin-ssi!!!!!! Pabo-ya!!" teriak Taehyung karena baju kantornya terkena selai yang tumpah.


"Ya ampun nak Jimin, kenapa bisa gini?"


"Tadi mau Jimin pindahin, eh tangan Jimin licin makanya jatuh" jelas Jimin sambil nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


"Merepotkan sekali, gara-gara kau. Aku harus ganti baju lagikan" kesal Taehyung dan dia pun pergi masuk kekamarnya, mengganti baju kotornya.


"Maaf Tae, kecelakaan saat makan. Maklum aja hehe"


"Sudah kamu duduk aja nak Jimin biar bibi yang bersihi" ucap ibu Kim sambil mengambil kain lap.


"Eh bi? Udah sini biar Jimin aja, kan ini Jimin yang buat" dengan sigap Jimin langsung mengambil alih kain itu dan membersihkan tumpahan selainya.


Setelah beberapa menit Callista dan Eonjin pun sampai, mereka turun dengan para bodyguard yang membawa paper bag ukuran besar dan sebuah boneka ukuran sedang yang tengah di gendong Eonjin.


"Eomma!!! Eonjin pulang!!" suara imut itu melengking hingga kedalam kediaman keluarga Kim. Eonjin pun membuka pintu rumahnya dengan semangat sambil berlari masuk meninggalkan Callista dan dua bodyguardnya itu.


"Eh? Eonjin udah pulang bi"


"Iya dan lihatlah akan ada yang berlari dari luar kedalam, lebih baik ayo kita menganggunya" jahil ibu Kim. Ibu Kim bersembunyi di bawah meja dapur yang tertutup kain sedangkan Jimin bersembunyi didekat vas ukuran besar.


"Eomma!!! Oppa!!! Appa-ya!!!" teriak Eonjin saat sudah didalam rumah dan ternyata Taehyung dan appanya juga bersembunyi.


Callista memegang bahu Eonjin lembut "Kemana semuanya Eon-ya?" tanya Callista sambil melihat isi rumah yang sunyi senyap.


"Gak tau eonnie, padahalkan appa gak kerja, oppa juga jam segini belum pergi kerja kalau eomma ... hummm di kebun, tapikan gak mungkin gak dengar!!" omel Eonjin sambil memanyunkan bibir mungilnya.


"Coba kamu cek ke kamar oppa kamu sana, biar eonnie cari dia kebelakang dan ahjussi tolong ya" perintah Callista lembut sambil mengulas senyum kecil.


Dan mereka berempat pun memencar mencari namun hanya Eonjin yang teriak-teriak. Maklum saja namanya ini rumahnya. Salah satu bodyguard Callista mengikut Eonjin karena dia masih kecil.


Callista berjalan kehalaman belakang dimana ada kebun strawberry yang tertata dengan rapi dan kelilingi oleh tembok yang berhias tanaman merambat. "Wahh ... ini sangat indah di pandang" gumamnya dengan mata yang masih melihat tataan rapi tumbuhan di depannya.


"Padahal aku pernah kesini, tapi karena tidak melihat jelas. Apa karena tempo hari niat ku hanya mengantar Eonjin pulang?" sambungnya dan kaki jenjangnya mulai melangkah lebih masuk kedalam kebun itu.


Sisi lain Eonjin tengah mengomel-ngomel melihat oppa nya yang sedang bersembunyi di balik pintu "Oppa!! Kenapa gak dengar aku panggil" omelnya.


"Tuan Taehyung, nona dibawah mencari-cari kalian" sahut bodyguard yang mengikuti Eonjin.


"Eh? Callista ikut? Kenapa gak bilang!!" ucapnya panik sambil berlari begitu saja kebawah. "Semoga Jimin hyung belum melihatnya!!" batinnya dengan menyebar pandangan kepenjuru ruangan.


Appa Kim juga tak kalah panik saat mendengar Callista ikut, karena biasanya dia memulangkan orang lain dia tak pernah ikut. Tapi kenapa? Kenapa kali ini ikut? Appa Kim langsung turun dan mencari keberadaan Callista.


"Tae? Ketemu?" tanya appa Kim yang melihat anak sulungnya dan Taehyung menggeleng pelan sambil menghardik bahunya.


Callista masuk dengan membawa keranjang berisi buah anggur dan strawberry yang baru saja ia petik.


"Non ... " kalimat Taehyung langsung di potong oleh Callista. "Panggil nama, sudah berapa kali saya jelaskan?" potongnya lembut sambil berjalan ke arah dapur dan menaruh keranjang penuh buah ke atas meja.


Taehyung hanya diam dan melihat Callista yang duduk dengan tenang sambil menarik satu persatu anggur itu dari tangkainya tanpa ekspresi sedikit pun. Appa Kim menghampiri Callista perlahan dan berdiri disamping nona mudanya itu.


"Nona, kenapa nona tumben ikut?" tanya appa Kim sopan dan penuh kelembutan.


"Saya tak bisa menolak permintaan sahabat kecil saya" singkatnya sambil menoleh ke arah appa Kim.


Ibu Kim yang mendengar suara Callista keluar dari bawah meja dan langsung berdiri disamping suaminya itu, membuat Taehyung sedikit kaget akibat kemunculan ibunya dari bawah sana. Sedangkan Eonjin dan dua bodyguard Callista datang menghampiri. Berdiri di sebelah Taehyung, Jimin pun ikut keluar dari persembunyiannya.


Namun sayang, dia tak bisa melihat dengan jelas wajah ayu sang pewaris itu. Karena pemilik wajah tengah menunduk dan fokus pada buah yang dia kerjakan.


"Sial!! Aku gak bisa melihatnya, rambut panjangnya terlalu menghalangi !!" batin Jimin karena ia berdiri disisi kanan Callista yang terhalang dua bodyguard dan Taehyung.


"Tapi nona, ini bahaya jika ada yang tahu kebenaran tentang anda"


"Selagi tidak ada yang mengetahui wajah saya itu tidak masalah, hanya saja siapa pria disamping Taehyung?" tanya Callista. Padahal dia jelas-jelas tidak melihat kedatangan Jimin.


Semua orang kaget kecuali dua bodyguard-nya karena memang mereka sudah terbiasa dengan tingkat kepekaan Callista. "Dia sahabat ku Lisa" jelas Taehyung yang baru ini memanggilnya dengan panggilan Lisa. Seketika Callista teringat sesuatu yang jauh dari rangkaian ingatan dan sepertinya file lama di dalam otak mulai membuka.


*Gadis kecil tengah menangis kencang karena makanannya diambil"Kembalikan oppa!! itu punya Lisa!!" tangisnya. Seorang anak laki-laki kecil memberi setangkai permen lolipop "Ini oppa ganti buat kamu".


"Saat dewasa nanti oppa akan men ...."


"Janji ya oppa, tapi kalau oppa besar nanti lupa bagaimana?"


"Oppa gak akan lupa, hanya saja kita gak tau disaat besar nanti gimana" sambil menggenggam erat tangan gadis kecil yang ada disampingnya*.


Kenapa ada yang terpotong? Apa itu hal yang tidak penting atau Tuhan memang tidak mengizinkan untuk Callista mengetahuinya? Entahlah.


"Lisa? kamu memanggil saya Lisa?" tanya Callista.


"Agar gak repot jadi aku panggil Lisa aja, apa ada masalah?" ucap Taehyung dengan diakhiri tanda tanya juga.


"Tidak masalah hanya saja aku teringat seseorang. Jadi panggil nama lengkap saya saja" jelas singkat Callista "Bibi, paman apa boleh saya bawa pulang buah-buah ini?" sambil mengangkat mangku isi buah.


"Ah, iya nona silahkan. Apa saya harus menanam itu di kebun nona?" usul appa Kim. Callista mengangguk tanda setuju dan bangkit untuk mencuci buah.


Jimin yang melihat Callista berjalan ke washtafel dengan anggunnya, tak henti memandangi kecantikan seorang manusia dengan wajah yang terpahat apik. "Benarkah dia manusia? Atau dia seorang angel yang jatuh dari langit** ?" batin Jimin.


"Astaga dia ini apa sih? Kenapa bisa tahu kalau di liati? Apa di balik rambut panjangnya itu ada mata?" batin Taehyung yang sedikit tersenyum karena sahabatnya di sentak seorang gadis.


"Ahjussi ayo pulang!! Dan paman terima kasih" Callista membungkuk sambil mengulas segaris senyum. "Dagh ... Eonnie pulang dulu ya" ucap Callista sambil mengusap pipi Eonjin.


"Besok eonnie kesini?" tanya Eonjin. Callista menggeleng kepalanya lembut.


"Wae~~" rengek Eonjin


"Harus ada yang eonnie kerjakan jadi tidak bisa datang" jelas Callista "Paman, bibi, Taehyung dan kamu. Saya pamit" sambil berjalan keluar di susul satu bodyguard disampingnya dan dua di belakangnya.


Mereka berlima hanya mengangguk dan melihat Callista yang sudah tertutup oleh dua tubuh besar bodyguardnya.


"Besok appa mulai bekerja lagi, Eonjin kamu mau apa?" tanya appa Kim membuyarkan pandangan semuanya.


"Gak usaha appa, eonnie udah bawa aku jalan-jalan dan beli mainan" jawab Eonjin sambil menunjuk paper bag yang ada di ruang tengah.


Taehyung, Ibu dan appa Kim menoleh kearah yang ditunjuk oleh Eonjin. "Astaga Eon-ya!! Banyak sekali, bagaimana appa harus membayar itu semua" pekik appa Kim saat melihat semua paper bag dengan brand ternama di setiap bagnya.


"Kata eonnie ini hadiah untuk ku appa" jelas Eonjin "Oppa ayo bantu aku bawa naik kekamar" pinta Eonjin pada Taehyung.


"Tapi lain kali jangan seperti ini lagi ya" suara lembut itu keluar dari bilai ibu Kim sambil mengusap rambut anak bungsunya itu.


"Iya eomma, tapi eonnie bilang Jangan menolak, eonnie tidak suka" jelasnya sambil mempraktekan gerakkan Callista dengan jari telunjuk yang terangkat.


"Hais baiklah, baik. Appa nanti aku saja yang mengganti ini semua dengan mencicil" tungkas Taehyung sambil membawakan semua barang Eonjin dan di bantu Jimin.


"Bagaimana hyung? Cantik bukan?" tanya Taehyung pada Jimin yang ada di sampingnya.


Jimin mengangguk mengiyakan pertanyaan Taehyung itu. "Jaga rahasia ini hyung" ucap Taehyung mengingatkan.


"Pasti, aku akan menjaganya. Ya sudah ayo ke kantor ada rapat penting" timpa Jimin dan menaruh semua paper bag di dalam kamar Eonjin.


Mereka berdua pun melenggang bersama, keluar dari kediaman Kim menuju kantor Yoongi. Sesampai disana mereka di sapa hangat oleh para pegawai Yoongi dan tak jarang juga ada yang memberi bungkukan hormat.


Kini mereka masuk kedalam ruangan Yoongi yang sudah ada beberapa orang lainnya, duduk dengan sangat gagah di sofa yang tersedia.


"Seperti biasa dua rekan kita ini telat lima menit" sindir Namjoon sambil melirik dua pemuda yang berbeda tinggi badan itu.


"Eomma ku lagi repot jadi aku membantunya" sahut Taehyung dengan nada sedikit kesal.


"Sudahlah jangan buat masalah" tegas Yoongi sebagai penengah agar tak berbuntut panjang. Tiba-tiba sekretaris Yoongi masuk "Maaf pak, mereka sudah tiba di ruang rapat" ucapnya.


"Apa kamu yakin sudah semua?" tanya Yoongi tanpa ekspresi.


"Tinggal perwakilan dari perusahan Ehner Lee pak, mereka mengalami kendala karena terjebak macet"


"Terima kasih, keluarlah" perintah Yoongi pelan dan sekretaris pun membungkuk lalu pergi. "Ayo kita sambut yang lain didalam ruang rapat" sambung Yoongi dan beranjak pergi yang diikuti lima orang lainnya di belakang.


"Tae?" panggil Jimin berbisik, Taehyung hanya menoleh dan berdehem. "Kau dengar perwakilan dari keluarga gadis itu" bisik Jimin lagi.


"Ya aku tau memangnya kenapa? Bukannya sudah biasa?" jawab Taehyung santai.


"Aku tau" menampilkan ekspresi datar "hanya saja ...." kalimat Jimin di potong oleh Hoseok.


"Kalian ini jangan berbisik" tegurnya lembut sambil memasukin lift. Jimin dan Taehyung hanya mengangguk pelan, karena mereka sudah biasa.


Keheningan pun tercipta didalam lift enam namja diam tak bersuara yang hanya merapikan dasi, jas atau bahkan tatanan rambut mereka agar terlihat lebih rapi dan terkesan berwibawa. Tidak butuh waktu lama lift pun berhenti dilantai yang diinginkan.


Saat pintu lift terbuka, keluarlah satu persatu pria tampan dan berwibawa. Mereka bagaikan seorang putra mahkota yang masuk kedalam zaman modren ini, wajah mereka terpahat sangat sempurna, otot-otot lengan mereka hampir terciplak walau di tutup dengan jas.


Pintu rapat mulai di buka mempersilahkan Yoongi masuk dan diikuti lima namja lainnya di belakang, semua yang ada didalam ruangan berdiri memberi hormat setengah bungkuk dan enam namja itu membalas seadanya lalu mempersilahkan duduk.


"Kita akan menunggu yang belum datang, dia sedang terjebak macet" ucap Yoongi lembut sambil tersenyum simpul. Dan semua dengan serentak mengatakan "Baik" .


Tidak lama yang ditunggu pun tiba dan memasukin ruangan dengan anggunnya dan sangat penuh wibawa yang memukau, seragam yang dia gunakan sangat rapi. Ketukan yang dihasilkan oleh high-heeled-nya, membuat semua pasang mata langsung tertuju pada wanita yang tengah memasuki ruang. Namun tidak dengan dua pemuda lainnya karena mereka berpikir sama saja yang datang.


"*Wahh cantiknya"


"Sangat anggun dan menawan"


"Perusahaan yang luar biasa, mereka menyimpan banyak permata hidup"


"Ciptaan Tuhan paling sempurna*"


Begitulah reaksi batin orang-orang yang ada di kantor saat melihat wanita itu masuk.


"Maaf atas keterlambatan saya" suara lembut itu mengalun sangat halus dengan bungkukan setengah.


"Wajar saja namanya kota" sahut Yoongi lembut yang sudah berdiri dari kursinya. "Silahkan duduk" perintahnya.


Dia pun menegakkan tubuhnya memperlihatkan wajah cantiknya yang terpoles tipis oleh make-up namun itu sangat terlihat sangat cantik dan menambah aksen segar. Walau sebenarnya tak perlu dipoles juga tidak masalah.


Saat wanita cantik itu ingin melangkahkan kakinya Yoongi menghentikannya "Tunggu dulu, kamu baru ya?" tanya Yoongi yang membuat sepasang pemuda yang dari tadi tidak melihat kedatangan wanita itu langsung menoleh. Mata mereka langsung membola dengan sempurna tak kala siapa yang ada di depan sana.


"Iya saya sekretaris baru tuan Donghee dan menggantikan sekretaris Hyujin Ahn. Nama saya Vanka Kim" jelasnya sambil tersenyum kecil namun sangat manis.


Yoongi hanya menganggu kecil dan menaikkan salah satu alisnya. "Baik, kalau begitu duduklah"


Dia pun melanjutkan jalan menuju kursi yang kosong dan mendudukan bokongan beberapa kursi dari Taehyung dan Jimin.


"Callista!" batin mereka bersamaan sambil menatap intens yang ada didepan sana.


"Kenapa dia? Apa ini sudah waktunya dia keluar? Tapi kenapa menggunakan nama samaran?" batin Taehyung yang masih melihat Callista lekat tanpa berkedip sedikit pun.


Hingga suara Yoongi memecah konsentrasinya dan beralih melihat Yoongi yang tengah mendemostrasikan hasil yang dia kumpulkan atau tentang bagaimana cara membuat bisnis makin berjaya dan meningkatkan kinerja karyawan atau sebagainya. Callista sangat hikmat dan tenang sambil mencatat apa saja yang penting. Sangat tenang.