The Queen Of The Ehner Lee Family

The Queen Of The Ehner Lee Family
-


Satu persatu lembar album foto terbuka dan Callista tak hentinya menyimpulkan senyumnya, wajahnya bertambah cantik jika tersenyum seperti itu. Dilihat dari segi mana pun Callista akan bertambah cantik jika tersenyum. Suaranya yang lembut juga tak berhenti mengalun menceritakan setiap lembar foto.


Eonjin fokus dengan foto yang diperlihatkan oleh Callista, namun tidak dengan Taehyung dia lebih fokus keraut wajah Callista yang sangat menyejukan hatinya dan rasa tak rela jika ada yang tahu Callista sekalipun itu atasannya.


Tak terasa hari pun mulai petang, mempersilahkan mentari untuk berganti posisi dengan bulan yang sudah siap menyapa bumi. "Oke selesai" ucap Callista sambil menutup album foto terakhir dan senyumnya masih terlihat sangat jelas menggembang di bibirnya.


"Eonnie? apa boleh aku gunakan telpon eonnie untuk menghubungi eomma?" pinta Eonjin sambil melihat Callista.


"Tapi Eonjin kita harus pulang karena oppa mau ketemu sama rekan kerja oppa" sahut Taehyung lembut pada adiknya itu.


Callista tersenyum kecil "Tidak apa, kamu pulang saja Eonjin aman bersama saya dan lagi kamar saya kedap suara" sambung Callista menyakinkan.


Taehyung menghela nafas lirih, karena dia tidak rela adiknya tinggal bersama orang lain. Namun karena Callista adalah atasan appanya mau tak mau dia harus iyakan permintaannya. "Baiklah kalau gitu dan Eonjin jangan nakal ya!" tegas Taehyung pada adiknya. Eonjin hanya mengangguk senang sambil tak lupa memperlihatkan senyum indahnya.


"Ayo kita antar oppa kamu sampai depan, biar diantar paman supir"


"Ya eonnie ayo!!!" Eonjin semangat dan keluar lebih dulu dari kamar Callista, menyisakan Taehyung dan Callista didalam.


Callista membenahi semua album fotonya dan menaruhnya ketempat semula, Taehyung juga membantu. Tapi didalam sana hanya ada keheningan hingga keluar dari kamar Callista.


"Eonjin? Dengar kata-kata eonnie ya" ucap Taehyung sambil mengusap rambut Eonjin dan berjalan keluar, dimana sudah ada mobil yang menunggu Taehyung. Eonjin melambaikan tangan kecilnya itu pada oppanya yang perlahan masuk kedalam mobil dan Callista melihat tanpa ekspresi tapi hatinya senang karena memiliki teman selain para bodyguard atau maid.


"Yaudah ayo kita masuk dan membantu bibi maid memasak" ucap Callista sambil menuntun Eonjin masuk kedalam.


"Bagaimana dengan menelpon eomma?" tanyanya sambil melihat Callista.


"Paman sudah menelponnya jadi kamu tidak perlu bilang lagi" sambil mengulas senyum hangat dan kedua gadis yang terpaut jauh usianya pergi kedapur, membantu para maid.


Sementara Taehyung saat didalam mobil hanya diam tidak mengeluarkan suara sedikitpun, hingga tibalah dia dirumahnya dan keluar dari mobil yang membawanya. Dia pun bergegas memasuki rumah sederhananya itu.


"Sudah pulang Tae?" suara berat itu mengalun di area ruang makan.


"Ya appa, kalau gitu Tae bebersih dulu ya. Mau ketemu tuan Min" sahut Taehyung dan berjalan ke kamarnya.


Kedua orangtuanya hanya melihat anak sulungnya itu menghilang di balik tangga dan melanjutkan makan malam mereka lagi.


"Oppa, sampai kapan nona Callista di sembunyikan?" tanya ibu Kim pada suaminya.


"Aku juga kurang tahu. Yang jelas keluarga kita sekarang tengah tercekik oleh keluarga Ehner Lee jadi jaga rahasia nona" sambung appa Kim.


Taehyung sedang dibawah shower menikmati setiap sentuhan dari air yang menyapu lembut tubuhnya "Yoongi hyung? baiklah, malam ini pertemuan kita membahas gadis itu" batin Taehyung sambil mematikan aliran shower dan mengenakan handuk yang melilit lingkungan pinggangnya.



Ini adalah pakaian yang dia kenakan, karena bukan pertemuan formal atau lagi di kantor. Taehyung pun masuk kedalam garasi bawah tanahnya dan menekan tombol untuk membuka pintu garasi lalu menaikkan mobil sport merahnya kepermukaan dan mengijak pedal gas.


Rumah Taehyung memang sederhana tapi jauh dibawah rumahnya sangat memanjakan mata kalian dan ya, seperti surga pastinya. Sekarang Taehyung memasuki pusat kota dan mencari caffe biasa dia bertemu dengan hyung-hyungnya dan rekan mudanya.


Kini dia telah memasukin halaman parkir Caffe dan orang yang ada disekitar lingkung itu menatap intens mobil merah yang mulai terbuka memperlihatkan sosok tinggi, tegap dan pastinya tertutup topi yang menutupi separuh wajahnya.


"Tampan"


"Apa dia manusia atau anime yang masuk dunia nyata?"


Atau apapun kata yang bakalan di keluarkan oleh orang-orang saat melihatnya, dia pun melangkah kan kakinya masuk kedalam Caffe itu sambil melepas topinya. Membuat orang yang ada didalam takjub dan ada yang berekspresi biasa saja karena sudah sering melihat Taehyung.


"Tuan, mari saya antar" ucap seorang pelayan yang menghampiri Taehyung dan mereka pun pergi menuju sebuah private room dimana sudah ada tiga pria tampan lainnya. Taehyung sedikit membungkuk dan mengatakan terima kasih lalu masuk kedalam.


"Kenapa lama sekali?" suara itu mengalun dari bilai pria berkulit putih. Yang tak lain adalah Yoongi.


"Baru sampai dirumah" singkat Taehyung dan duduk disebelah sahabatnya Park Jimin.


"Hyung, kau bilang hanya kita berdua? Kenapa kedua manusia ini ikut?" timpal Taehyung.


"Mereka mengikuti ku, katanya agar tahu juga" jelas Yoongi dan Taehyung hanya mengangguk.


"Oke jangan banyak bertele-tele apa hubungan mu dengan pewaris Ehner Lee?" tungkas Taehyung dengan nada sinis.


"Hubungan ku dengannya cinta masa kecil, aku gak yakin dia jika sudah gak ada" tutur Yoongi lembut.


"Kau kekasihnya?" serentak mereka bertiga, Taehyung sedikit kaget dengan kata "cinta masa kecil" apa keluarga mereka menjodohkannya dengan Callista. Ia pun kembali hening dan diam.


"Ani ... hanya saja aku pernah berjanji akan menikah dengan jika dewasa nanti dan ... " Yoongi memotong kalimatnya sambil menggerakkan kepalanya sedikit. "Ya aku memang menyukainya, hanya saja sekarang aku cuma ingin tahu keberadaanya dan apa dia baik-baik saja" sambung Yoongi.


"Dia baik-baik saja" pekik Taehyung tanpa dia sadari, semua mata langsung menuju padanya dan Taehyung sadar apa yang barusan keluar dari bibirnya. "Mungkin saja" tambahnya tanpa menaruh curiga pada tiga rekannya.


"Jadi hyung apa yang akan kau lakukan jika memang dia masih ada?" tanya Jungkook sambil memakan kentang goreng.


"Memeluknya untuk melepas rindu dan sisanya terserah ku" jawabnya singkat.


"Waah kau genit sekali, aku gak menyangka" pungkas Jimin.


Taehyung hanya diam saja, karena jujur ini bukan sakit atau apa hanya saja dia harus menjaga agar tidak ada yang tahu keberadaan Callista karena ini menyangkut keselamatan keluarganya.


Jimin sadar akan rekan sekaligus sahabatnya ini yang diam "Tae? kenapa kau? Gak enak badan?" tanya Jimin memastikan.


"Ya begitulah, lagian logika saja itu kecelakan besar dan gadis itu pasti trauma, jatuh sakit karena dalam sekali tragedi keluarganya tewas" sahut Taehyung dan berdiri. "Aku pamit" dia berlalu meninggalkan ketiga rekannya yang masih menatap punggungnya.


"Ada apa dengannya?" tanya Jungkook dengan mulut penuh.


"Memang begitu jadi gak usah heran" timpal Jimin. "Dan aku kira bakalan wah ternyata masalah hati, menyebalkan. Aku balik deh" sambungnya.


"Gak itu aja Jim, keluarga kami berdua harus menyatu untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam bisnis. Bukan masalah hati aja" jelas Yoongi sambil menenggak win.


"Maksudmu?" tanya Jimin penasaran.


"Hyung apa otakmu hanya setengah? Maksud Yoongi hyung itu jika Yoongi hyung menikah dengan gadis itu maka kedua keluarga akan makin dikenal dunia dan pastinya mereka kami disegani, bukan hanya keluarga Ehner Lee tapi juga keluarga Min seperti Yoongi hyung" jelas Jungkook yang paling dekat dengan Yoongi.


"Jadi seperti menikah karena bisnis semata dan bukan murni dari hati" sambung Yoongi.


Jimin hanya diam mendengar penjelasan dari kedua bilai berwarna pink natural kedua pria yang ada di hadapannya dan setelah selesai mereka berdua menjelaskan maksudnya Jimin mengeluarkan suaranya "Hyung kau tahu rasa sakit?" tanya Jimin dengan suara mengintimidasi.


"Ya aku tahu, ada apa memangnya?"


"Aku harap gadis itu mati daripada harus bertemu denganmu yang hanya menikahinya untuk kekuasan bukan karena ketulusan" celetik Jimin sambil bangkit dan meninggalkan kedua rekannya.


Jungkook dan Yoongi terdiam mendengar kalimat pedas itu dari mulut Jimin yang jarang sekali berbicara seperti itu.


"Ada apa?" jawab Taehyung kepalang dingin tanpa ada kata makian terlebih dahulu seperti biasa.


"Kau dimana?"


"Didalam kemacetan, kenapa?"


"Temui aku di taman kota"


Taehyung hanya berdehem dan langsung memutuskan sambungan telponnya dan memutar balik mobilnya kearah taman yang tak jauh dari tempat dia sekarang. Saat dia sampai, seseorang di sebelah timur tengah melambaikan tangannya menandakan agar Taehyung harus berjalan kesana. Dia pun berjalan kesana dengan tangan kanan masuk kedalam saku celananya.


"Kenapa?" sesaat setelah berdiri dihadapan Jimin dan Jimin memberitahu alasan utama Yoongi bukan hanya karena cinta masa kecil tapi bisnis juga.


"Lantas? Aku harus peduli atau ikut campur masalah ini? Dan lagi Namjoon, Hoseok dan Seokjin hyung mungkin membantunya karena bisnis mereka bekerja sama dengannya. Mau tak mau mereka harus mencari tahu Callista" jelas Taehyung ringkas.


"Ya begitulah kita juga sama Tae" singkat Jimin.


"Gadis itu masih ada" lirih Taehyung yang masih terdengar oleh Jimin. Jimin langsung melotot mendengar ucapan Taehyung.


"Maksudmu apa Tae?"


"Jangan disini" singkat Taehyung dan berjala balik ke mobilnya, Jimin hanya mengikuti Taehyung dengan sejajar.


Mereka berdua kini telah ada didalam mobil Taehyung "Tapi apa kau bisa menjaga ini, aku yakin bisa karena kau sahabat ku" tutur Taehyung lembut sambil memutar setirnya dan beranjak pergi dari taman.


"Aku berjanji dan apa aku pernah ingkar?" tanya Jimin dan Taehyung hanya menggeleng kepalanya pelan.


"Hanya saja ini masalah pekerjaan, aku takut jika lain yang dimulut dan perlakuan" tegas Taehyung.


"Tae, kita sahabatan udah dari kecil jadi jangan menutup apa-apa dari ku" jelas Jimin.


"Ehner Yovanka Callista Lee, dia masih hidup dan Donghee sengaja menutupinya hingga Callista sendiri yang menginginkannya" sambung Taehyung. Jimin langsung terperanga mendengar kalimat yang keluar dari bilai sahabatnya itu.


"Dan appa ku bekerja di tempatnya. Dan satu hal lagi jika ada orang yang tahu keberadaan Callista sebelum masanya maka seluruh keluarga ku, termasuk aku akan mati"


"Berarti suara gadis yang aku dengar itu bukan Eonjin!?"


Taehyung menggeleng kepalanya "Bukan, itu suara Callista. Aku di ajak kesana karena Eonjin ingin ikut" jelas Taehyung.


"Dan bodohnya aku percaya"


"Memang kau bodoh"


"Sialan kau!! Tapi Tae? Gimana bisa?" seketika rasa penasaran Jimin muncul dan Taehyung menceritakan detailnya pada Jimin disepanjang perjalanan.


"Dan kau harus tetap merahasiakan ini Jim" singkat Taehyung yang memasukin mobilnya kearea apartemen Jimin.


"Aku berjanji tapi boleh aku juga bertemu dengannya?" pinta Jimin.


"Akan aku tanya padanya karena para bodyguardnya sangat ... Ya kau tahulah" sambil memberhentikan mobilnya.


Jimin tersenyum dan mengangguk penuh paham "Oke, tapi beritahu aku jika bisa" sahut Jimin sambil beranjak keluar dari mobil Taehyung.


"Malam ini aku menginap di apartemen mu, bosan dirumah kalau gak ada Eonjin" Taehyung pun menyusul keluar dan mereka berdua pun masuk kedalam bersama dengan Taehyung merangkul bahu sahabatnya itu.


Sementara sisi lain Yoongi mendapat telpon dari Seokjin yang berpapasan dengan Donghee. "Yoongi tadi aku berpapasan dengannya tapi dia sendiri tak membawa siapapun" suara Seokjin sesaat Yoongi mengangkat telponnya.


"Kau yakin hyung?"


"Ya dan ada beberapa bodyguard"


"Apa kau dan dia mengikuti acara yang sama? Kalau iya, coba lihat dokumennya dan apa ada tanda tangan gadis itu atau tidak?"


"Sepertinya gak ada, kali ini dia gak menggunakan tanda tangan Callista"


"Humm ... Begitu" Sambil berjalan kebalkon "Baiklah kalau begitu, jika sudah selesai pulanglah hyung"


"Aku belum ingin pulang, disini sangat indah aku memilih berlibur disini saja"


"Terserah kau saja hyung" ucap Yoongi dan mengakhiri telponnya. "Callista, ada dimana kamu sekarang" gumam Yoongi sambil menatap langit yang penuh dengan bintang.


"Apapun yang menghalangi dia harus menjadi milik ku, sekali pun Donghee yang harus ku hadapin" sambungnya sambil memegang erat besi balkon.


"Tae? Apa dia cantik? tanya Jimin sambil membawa dua cup mie.


Taehyung berdehem kecil "Cantik, wajahnya sulit aku jabarkan. Hanya saja dia amat cantik dan pakai kata sangat" jawab Taehyung sambil mengambil salah satu cup mie itu.


"Wahh serius? Aku jadi pengen ketemu sekarang" sambil menyuap mie ke dalam mulutnya.


"Awas kau jatuh cinta padanya" ancam Taehyung dengan menunjukkan sumpitnya kearah Jimin.


"Kenapa? Apa kau menyukainya?"


"Entahlah aku juga gak tahu hal itu"


"Karena baru bertemu dengannya? Halah!! Tae lagu lama, aku taruhan pasti kau sudah mulai menyukainya" ucap Jimin dengan mulut penuh.


Taehyung hanya diam memikirkan perkataan sahabatnya itu, dia merasa tak pantas bersama gadis dari keluarga yang paling disegani diseluruh dunia dan saingannya bukanlah pemuda biasa. Melainkan rekan bisnis dari keluarga Callista, sedangkan dia hanyalah seorang direktur kecil dari agensi kecil bawah naungan perusahan keluarga Min yang bisa saja dengan gampanganya menghancurkan agensinya dengan sekali petikan jari saja.


"Pantaskah orang biasa seperti kita mendapat permata yang amat indah?" tungkas Taehyung.


"Tuhanlah yang menentukan Tae, jangan berkecil hati" hibur Jimin dengan mengusap bahu Taehyung.


"Yang akan dihadap untuk mendapat permata itu gak lah mudah Jim"


" Ya aku tahu Tae, tapi jika kau berusaha dan bersungguh-sungguh dia akan kau dapatkan. Bukan hanya dia tapi hatinya kau akan mendapatkannya. Semua hal akan kalah dengan yang namanya ketulusan cinta"


"Ah sudahlah, kenapa bahas hal itu, belum tentu perasaan ku benarkan? Bisa aja hanya karena kagum karena kecantikannya"


"Hati siapa yang tahu? Tuhan bisa memberi kejutan pada siapapun, kau harus tahu itu"


"Iya iya. Kau ini cerewet sekali seperti wanita saja" ejek Taehyung sambil menampilkan senyum kotaknya.


"Aku berharap kau bisa menjauhkan gadis itu dari Yoongi hyung" batin Jimin sambil menunjukkan senyum manisnya dan mereka pun melanjutkan malam itu dengan bermain game atau menganggu satu sama lain hingga lelah dan tertidur sendiri dengan saling berpelukan.