The Queen Of The Ehner Lee Family

The Queen Of The Ehner Lee Family
Callista


Pernah terbayang tidak keluarga mu hilang dalam sekejab mata? Pastinya tidak, tapi itulah yang dialami seorang gadis kecil beberapa tahun yang lalu. Lebih tepatnya disaat usianya berumur 8 tahun saat itu dia dan keluarganya tengah menumpangi pesawat pribadi milik mereka untuk menghadiri acara pernikahan client papanya di Negeri Seribu Candi, awal keberangkatan semua lancar-lancar saja sampai akhirnya saat mereka semua ingin kembali ke Inggris. Tiba-tiba pesawat hilang kendali dan menabrakkan badan pesawat kesisi gunung menciptakan suara ledekan yang sangat dahsyat, menghempaskan seluruh anggota keluarganya dengan sangat kejam. Ledakan itu diiringi dengan gelombang panas yang membuat keluarganya menjeri kesakitan, papa, mama, nenek, kakek, om, tante, bibi, paman, para keponakannya dan bahkan sepupunya lenyap seketika karena gelombang panas yang tercipta itu. Pasti kalian bertanya kenapa dia bisa selamat? Dia hanya mengingat sebuah cahaya menangkup tubuh mungilnya masuk kedalam saat dia terlontar keluar dan hampir tertancap patahan batang kayu, cahaya itu juga yang membuat dia tertidur pulas tak mengalami luka sedikit pun dan dia berakhir di rumah sakit. Kira-kira seperti itu penjelasanya.


Saat dia terbangun dari alam sadarnya, bayangan kejadian itu terus menghantuinya sampai-sampai dia tak ingin mendapat cahaya sedikit pun bahkan dia tak ingin mendengar ada suara walau sekecil apapun, sampai keadaannya memulih dan para dokter memperbolehkannya pulang. Namun sayang sesampainya dia dirumah yang bak istana dia di suguhkan flashlight dari kamera wartawan dan suara pertanyaan yang meraung-raung membuatnya kembali menjerit bahkan menangis, sampai akhirnya dia berada di wilayah asing baginya disana ada beberapa maid dan bodyguard papanya.


"Where am I?!" ucap nya sesaat, sambil duduk diranjang yang jelas bukan ranjangnya tapi nyamannya sama. Tiba-tiba pintu ruangan dimana dia tidur terbuka perlahan membuat dia kembali menangis ketakutan hanya karena ada suara decitan, tubuhnya meringkup dengan memeluk lututnya yang masih berbalut selimut tebal. Pria itu terus berjalan membuat sepatunya mengeluarkan nada khas seperti ketukan yang dihasilkan oleh perpaduan tapak kuda yang menghentak pelan ke sebuah papan kayu, dia tak berani melihat pria itu yang sekarang sudah sampai di ranjang sang gadis kecil dan mendudukan bokongnya di tepi ranjang dengan tenang dia mengelus perlahan rambut pendek sang gadis kecil penuh kehangatan itu mampu membuatnya menoleh penuh gemetar dengan bibir yang mulai membiru karena tangis, mata memerah dan hidung yang ikut memerah. Pria itu tersenyum sambil terus mengelus rambut pendek sang gadis kecil dan mengatakan "semua akan membaik nona Callista"


Ya, nama gadis kecil itu Callista dengan nama lengkap Ehner Yovanka Callista Lee dia seorang pewaris tunggal disalah satu perusahaan terbesar dan paling berpengaruh di Inggris,Korea Selatan bahkan hampir seluruh dunia. Sekarang dia tinggal di Daegu bersama kaki tangan papanya yang bernama Shin Dong Hee atau biasa di panggil Uncle Dodo oleh Callista, pria inilah yang membawa Callista pergi dari Inggris dan dia juga yang mampu membuat Callista sedikit lebih tenang dari traumanya dan sedikit menghilangkan fobianya terhadap cahaya, keramaian dan suara keras seperti ledekan. Donghee sudah menganggap Callista sebagai anaknya bahkan Donghee rela tak menikah demi menjaga Callista kecil yang terpuruk selalu mengingat kejadian mengerihkan disetiap tidurnya.


Sekarang Callista sudah masuk usia 20 tahun dan banyak perubahan yang Callista alami tapi ingatannya akan hal itu masih terekam jelas bagaikan Deja Vu yang berputar tak mau pergi, bagaimana pendidikanya? Dia mendapat pendidikan dirumah dengan guru terbaik yang di beri Donghee. Akhir-akhir ini Donghee sering meninggalkan Callista sendiri di villa yang cuma di temani kicauan burung atau suara serangga kala malam mulai muncul.


"Uncle?! Do you want to go again?!" tanya Callista disela-sela sarapan pagi.


"yes, uncle will go again" jawab Donghee sambil sekilas menatap Callista yang sudah dianggap anaknya. "You're fine, if uncle goes again?" Sambung Donghee yang dibalas anggukan dengan suguhan segaris senyum menghiasi wajah manis Callista.


"Uncle? Kenapa kamu tidak menikah?" tanya Callista yang membuat Donghee hampir kesedak makanan.


Donghee langsung meneguk air "humm, Callista jika uncle menikah uncle takut tak ada yang menjaga mu disini" tutur Donghee lembut.


"Disini ada banyak bodyguard dan para maid uncle, fobia dan trauma ku juga sudah hilang" ucap Callista meyakinkan tapi sayang Donghee lebih tahu kalau semua itu belum pulih benar.


"No, uncle lebih tahu mereka sudah hilang atau belum!?" jawab Donghee sambil mengukirkan senyum di wajah bulatnya.


"Uncle tidak percaya?!" tutur Callista dan ya, detik berikutnya Donghee menekan tombol serine yang mengeluarkan suara amat kencang yang langsung membuat Callista berlari memeluk Donghee di ujung meja makan.


"Hiks no, uncle no hiks stop it!!" ucap Callista dengan suara bergetar sambil memeluk erat Donghee, Donghee pun mematikan suara keras itu dan mengelus lembut punggung Callista menenangkan sang gadis yang tadinya meyakinkannya kalau dia akan baik-baik saja. Tapi nyatanya dia masih fobia dan trauma, kejam? Mungkin itu bakalan terucap di hati atau pikiran kalian karena Donghee membuat Callista ketakutan lagi, tapi kalau tidak seperti itu Callista akan bersikeras untuk terus menyuruh Donghee menikah.


"Sorry" lihir Donghee pada Callista yang masih setia mendekap tubuh gempalnya.


"Ya sudah, kamu mau ikut mengantar uncle ke bandara?" tanya Donghee, Callista langsung mendongak melihat Donghee dan uncle itu langsung menghapus aliran air mata Callista. "Ya aku mau ikut uncle" jawab Callista sambil tersenyum.


Tiba-tiba seorang bodyguard menghampiri keduanya "master, the car is ready" ucap bodyguard itu dengan tenang yang dibalas anggukan oleh Donghee. Dan mereka pun berangkat menuju bandara disepanjang jalan Callista hanya diam dengan peredam suara terpasang di telinganya sambil menggenggam kamera yang terus menyimpan foto yang di ambil oleh Callista


"Please take care of my lady, I'm probably back home next month" ucap Donghee kepada beberapa bodyguardnya. "And the maids must always be by his side because these months of rain and thunder will be there every night" sambung Donghee yang dibalas anggukan yakin oleh para bodyguard.


"Uncle kalau sudah sampai sana kirimi aku foto yang menarik ya" tutur Callista yang dibalas anggukan dan belai di pucuk kepalanya.


Batin Donghee sebenarnya tak ingin meninggalkan Callista sendiri di villa terlalu lama karena dia takut Callista kembali ke masa kecil, memang Callista tak sendiri tapi Donghee merasa kurang yakin jika para maid dan bodyguard yang menjaga Callista. Tapi apa dayanya? Dia harus pergi selama 1 bulan untuk memenangkan sebuah tender besar di luar negeri untuk Callista, walau dia tak memintanya untuk memenangkan itu.


3 jam lebih mereka habiskan didalam mobil dengan keheningan atau suara kecil dari Callista yang senantiasa selalu menunjukkan hasil jepretannya pada Donghee yang selalu membuat Donghee berdecak kagum pada Callista yang hasil jepretannya selalu sempurna dan sangat halus seperti gambar yang di hasilkan oleh fotografer profesional.


Sekarang mereka telah sampai di bandara, jangan heran jika saat Callista keluar dia selalu di suguhi pandangan takjub dan bisikan-bisikan kagum yang terlontar dari mulut siapa saja yang melihatnya, dikarenakan dia memiliki tubuh yang profesional, wajah yang layaknya seorang yang memiliki gen vampir di tubuhnya, kaki jenjangnya yang walau tertutup tetap bisa orang lain bayangkan betapa indahnya kaki itu jika terekspos, bibir mungilnya yang membuat setiap orang ingin menyentuhnya, jemari kecil lentik nan halus, dia juga memiliki pangkal hidung yang tegas, rambut panjang yang lembut selalu di hiasi oleh ornamen manis.


Kalau didefinisikan Callista bukan seperti manusia apa umumnya, melainkan layaknya seorang putri dari negeri dongeng yang tersesat masuk ke dunia modren atau lebih tetapnya seperti dewi Yunani. Itulah yang ada di pikiran setiap orang yang melihatnya sekarang dan mereka mulai mengambil foto atau merekam Callista namun sayang, dengan sigap para bodyguard menutup Callista agar tak terekam atau terfoto selehai pun. Jika kalian beranggapan ini berlebihan, mungkin?! Tapi begitulah cara mereka melindungi Callista karena Callista disamarkan keberadaannya semenjak tragedi mengenaskan itu.


"Callista jaga diri baik-baik ya" ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum hangat yang dibalas anggukan halus dan seulas senyum dari sang lawan bicara. "Uncle akan mengirim foto perjalanan uncle sesuai permintaanmu" sambungnya lagi dan perlahan mulai pergi menjauh dari sang gadis.


Saat pria paruh baya itu sudah hilang masuk ke area dalam bandara para bodyguard menuntut sang nona masuk kembali kedalam mobil. Namun, langkah sang dewi Yunani terhenti tak kala melihat ada gadis kecil menangis di bawah pohon sakura dengan meringkup memeluk lututnya. Dia melangkahkan kakinya kearah gadis kecil itu yang diikuti para bodyguardnya, dia berdiri didepan gadis kecil lalu jongkok dan mengelus rambut yang di kepang dua itu.


Gadis kecil itu menatap Callista tak mengerti karena bahasa yang digunakan Callista, ia menghela nafas dan tersenyum hangat "Kenapa menangis?" tanya Callista lagi dan gadis itu langsung memeluk Callista membuatnya hampir jatuh terduduk beruntung dengan kesigapan para bodyguard Callista tak menyentuh tanah yang berhias rumput.


"Miss, are you okey ?!" ucap bodyguard yang menahan tubuh Callista, bukan menjawab Callista hanya mengangguk pelan dan memberi segaris senyum.


"Adik manis kamu kenapa?!"


Dengan bola mata yang masih berlinang bak kilau mutiara dan suara tangis yang gemetar "Apa aku gadis yang nakal?!" tanya sang gadis kecil yang masih memeluk Callista.


"Kenapa kamu berkata begitu?" sambil berdiri dan menggendong gadis kecil itu yang berumur 7 tahun kurang lebih, menuju taman kecil yang di bandara itu dan duduk memangkunya.


"Teman-teman ku yang bilang" ucapnya sambil memainkan jari mungilnya dan menyekat air matanya yang dibantu oleh Callista.


"Apa yang kamu perbuat makanya teman kamu bilang gitu, hum?!"


"Aku hanya mau ikut main, tapi mereka tak mengijinkan ku main"


"Apa rumahmu disekitar sini?!" Tanya Callista dan ia hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang teramat polos.


"Dimana rumahmu?! Kenapa bisa kamu sampai kesini?!" sambung Callista dengan nada lembut namun.


"Daegu, nama ku Kim Eon Jin, eonnie. Sampai disini mengikuti teman ku" Jawaban polos itu mampu membuat bola mata Callista membulat sempurna, begitu juga dengan para bodyguardnya. Bagaimana gadis sekecil ini pergi sejauh ini?.


"Apa kamu tahu jalan pulang?! Atau kamu membawa uang lebih untuk naik bus?!" Dia hanya menggeleng kepalanya sambil menundukkan.


Callista menghirup udara yang tersedia untuk menenangkan pikirannya yang disulut banyak pertanyaan, bagaimana bisa anak kecil bisa sejahat ini? Apa orangtua mereka tak mengajarkan norma-norma? Dan bla ... Bla ... Bla ...


"Kebetulan rumah eonnie searah dengan rumah kamu, eonnie antar ya?" Dia mengadahkan pandangannya melihat raut wajah Callista dengan jelas tanpa terhalang air matanya lagi.


"Gomawo eonnie, siapa nama eonnie?!" Callista menganggukan kepalanya pelan. "Nama eonnie Callista" jawab Callista sambil mengukir senyum.


"Ya sudah, ayo kita pulang pasti orang tuamu tengah khawatir".


"Iya eonnie ayo!!" ucap Eonjin sambil turun dari pangkuan Callista, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu dan pulang.


.


.


.


.


.