Rumor (Takedown)

Rumor (Takedown)
Darwin 2


"Bagaiman kabarmu.. Gisella?."


Gisel memandang datar Darwin yang senantiasa tersenyum bagaikan matahari. Darwin tinggi dan wajahnya tampan apalagi dari keluarga Respaty sehingga membuatnya jadi sorotan.


"Baik."


"Kau semakin cantik."


"Terimakasih atas pujianmu tapi aku tidak membutuhkannya. Apa maumu menghadang jalan ku?."


Gisel melipat kedua tangannya.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Bisakah kau meluangkan waktu untuk ku?."


Gisel berfikir sejenak lalu mengambil ponselnya.


"Aku perlu izin Kelvin untuk itu."


Sebenarnya ini adalah salah satu jalan untuk menolak permintaan pria ini.


"Kelvin.. Aku akan keluar sebentar. Bisa?."


Gisel berharap Kelvin tidak memberikannya izin tapi nyatanya dia memberikannya. Sial sekali Gisel hari ini. Dengan datar Gisel memandang Darwin yang tersenyum cerah.


"Baiklah. Aku akan hati-hati."


"Bagimana?."


"Ayo."


Gisel berjalan duluan dan Darwin mengikutinya dari samping. Seperti pasangan yang sempurna untuk orang awam yang melihatnya.


🏵


Sekarang mereka ada di kafe dekat kantor Kelvin. Darwin duduk di hadapannya dan masih tersenyum cerah. Mereka tinggal menunggu pesanan datang.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tak bisa berlama-lama disini atau Kelvin akan membunuhmu."


Darwin mengeluarkan sebuah undangan dari dalam sakunya. Undangan ini tipis berbentuk lingkaran dihiasi dengan pita merah cantik.


"Aku akan menikah."


Gisel memandang undangan ditangannya dengan datar. Malas untuk membukanya.


"Lalu apa urusannya dengan ku?."


"Aku ingin.. kau datang."


Gisal menopang kepalanya dengan sebelah tanganya.


"Hee.. apa kau yakin?."


"Aku sangat yakin."


Darwin masih tersenyum secerah matahari. Gisel menatapnya datar lalu menormalkan kembali duduknya. Pesanan datang dan mereka tidak bisa berbicara dihadapan pelayan kafe ini.


"Jika aku datang ke acara pernikahanmu, yang ada malah keluargamu mengusirku."


Gisel mengatakannya dengan nada sinis.


"Tidak akan. Aku sudah merundingkannya dengan mereka."


"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong.. siapa calon istrimu?."


"Namanya Anna."


Gisel melirik Darwin sambil meminum jusnya. Anna Sophia Herald. Menarik sekali.


"Ternyata anak tertua keluarga Herald. Sudah lama sekali aku tidak melihat teman masa kecil ku itu."


Senyum Darwin menghilang dan digantikan dengan ekspresi muram. Biar ku beritahu satu hal kepada kalian semua.


Yang membatalkan perjodohan mereka dulu bukanlah Gisel tapi Anna. Waktu itu Anna mengancam akan bunuh diri jika Gisel menikah dengan Darwin. Sehingga demi teman masa kecilnya itu Gisel menanggung malu dan dicoret dari Danuardja.


"Sepertinya kalian begitu menikmati saat-saat aku tidak ada."


Gisel tersenyum mengejek melihat Darwin yang menatapnya dengan sedih.


"Kami dijodohkan."


"Benarkah? Wow. Aku tak pernah menduga akan hal itu. Siapa yang akan bunuh diri kali ini? Anna?."


"Bagaimana kau bisa tau?."


Gisel meminum kembali jusnya dan tangannya dibawah meja mengepal. Wanita jal"ng itu sudah tidak memiliki harga diri hanya untuk Darwin rupanya.


"Hanya menebak."


"Sepertinya kita tidak bisa berbicara lebih panjang lagi karena Kelvin sudah disini."


Darwin bernjak dari duduknya dan membayar tagihan lalu pergi. Setelah kepergian Darwin, tak lama kemudian datanglah Kelvin dengan raut wajah dingin.


"Apa yang dia mau?."


Gisel menyodorkan undangan itu ke Kelvin. Pada awalnya Kelvin tidak mau membukannya tapi karena Gisel diam akhirnya dia membukanya.


"Dia menikah? dengan anak tertua Herald? Sungguh mengecewakan."


Gisel mengangkat sebelah alisnya penasaran dengan perkataan Kelvin.


"Apa maksudmu?."


Pesanan Kelvin datang dan Kelvin meminumnya terlebih dahulu lalu baru menatap Gisel dengan senyum mengejek.


"Wanita itu dulu pernah melemparkan dirinya ke ranjang ku dan menawariku untuk menghangatkan ranjang."


"Kau menerimanya?."


"Aku bukan type laki-laki yang suka wanita jal**g seperti dia."


"Ya. Dia memang jal**g kecil rendahan."


"Apa kau akan datang?."


Gisel menatap Kelvin dan tersenyum licik.


"Tentu saja kita harus datang dan membuat "pesta" tambah meriah."


"Kita?."


"Tsk.. tentu saja kita. Kau mau aku pergi dengan Darwin? lalu menjadi mempelainya setelah menghancurkan acara itu? Baiklah kalau itu maumu."


"Aku hanya bertanya. Kenapa jawaban mu seperti itu. Hati ku sakit mendengarnya."


"Berhentilah berbicara omong kosong."


"Ngomong-ngomong.. apakah kita harus membawa hadiah yang besar nanti sayang?."


Gisel tidak sempat memikirkan hal itu tadi.


"Menurutmu hadiah apa yang harus kita bawa?."


"Berikan saja salah satu koleksi baju mahal mu."


"Tidak! Baju ku terlalu berharga untuk dipakai oleh sampah."


Kelvin tersenyum sedikit setelah melihat wajah menghina Gisel. Wanita ku memang menarik.


"Lupakan itu. Ayo bicara serius kali ini."


🏵


Tak terasa dua hari berlalu dan hari ini adalah hari terakhir Gisel di Indonesia. Mama Kelvin sudah memintanya untuk memperpanjang waktu berliburnya tetapi Gisel menolak dengan dalih tokonya yang sudah lama ia tinggalkan.


Malam ini juga merupakan hari pesta pernikahan Darwin. Seharusnya tadi siang dia melihat pemberkatan mereka tapi dia tidak datang karena terlalu malas dan yang terpenting adalah Kelvin tidur siang dan tak mau diganggu.



Sumber : Pinterest


Gisel sudah siap untuk datang ke acara pernikahan Darwin dan begitu juga dengan Kelvin.



Sumber : Pi**nterest


"Wow. Lihatlah kekasih tampan ku ini."


"Jangan mengejek ku."


"Tsk.."


Baju yang dikenakan oleh Kelvin adalah rancangan kilat Gisel.


"Ayo berangkat."


"Tunggu. Bagaimana dengan hadiahnya?."


"Aku sudah mengirimkannya kesana."


"Ayo pergi."


Dengan semangat 45 Gisel menggandeng Kelvin dan pergi ke gedung tempat acara resepsi pernikahan mereka digelar.


Sesampainnya mereka di gedung resepsi, mereka disuguhi oleh kilatan cahaya para wartawan yang berlomba-lomba mengambil foto mereka. Gisel tersenyum sambil menggandeng lengan Kelvin yang masih berwajah datar.


Sesampainya mereka di salam aula resepsi, mereka kembali menjadi pusat perhatian para tamu. Gisel memasang wajah senyum palsunya dan berjalan menuju pengantin.


Gisel menjadi pusat perhatian karena dia mengenakan baju hitam ke acara pernikahan seseorang. Orang tua Darwin memandang Gisel dengan wajah sulit terbaca.


"Selamat atas pernikahan mu Darwin."


"Terimakasih karena sudah datang bersama Tn.Kelvin."


Gisel tersenyum dan mengurkan tangannya yang sudah ada cincin. Hati Darwin sakit saat melihat ada cincin di tangan Gisel karena dulu waktu mereka bertunangan Gisel menolak memakai cincin pertunangan mereka.



Sumber : Pinterest


Anna yang disebelah Darwin cemburu setelah mereka berdua berinteraksi lama. Dulu dia merebut Darwin dari Gisel karena wanita itu sangat arogan kepadanya.


Dan sekarang dia memiliki Kelvin Frederic yang jika dibandingkan dengan Darwin, tentu saja Kelvin jauh unggul dan tampan. Jangan lupa dia juga kaya.


"Lepas."


Gisel menatap tangannya yang dipaksa berpisah dari tangan Darwin dengan senyum licik.


Gisel menatap Kelvin dan Kelvin akhirnya mengulurkan tangan kepada Darwin. Tentu saja Darwin menerimanya dengan agak canggung.


"Selamat atas pernikahanmu."


"Ya. Terimakasih."


"Hadiah pernikahanmu dari kami sudah ku kirimkan ke alamat rumah mu."


"Tidak usah repot-repot.."


"Darwin.. itu adalah ketulusan kami. Juga Anna adalah teman baik ku dulu."


Anna memandang sinis Gisel dan hanya dibalas senyuman oleh Gisel. Kini giliran mereka harus bersalaman dengan Anna.


"Selamat atas pernikahanmu, Anna Sophia Herald. Ah.. maafkan aku. Aku lupa sekarang namamu Anna Sophia Respaty."


Gisel mengulurkan tangannya ke Anna dan hanya diabaikan. Gisel menarik kembali tangannya.


"Cih.."


Darwin menatap tajam Anna dan menyuruhnya untuk memperbaiki sikapnya.


"Selamat atas pernikahanmu."


Kelvin hanya mengucapkan selamat tanpa mengulurkan tangan. Tangannya terlalu bagus untuk bersalaman dengan Anna.


"Kalau begitu kami akan turun dulu. Semoga kau bahagia dengan usaha mu ini, Anna Sophia Respaty."


Gisel turun dan dituntun dengan hati-hati oleh Kelvin. Hal itu tak luput dari jepretan kamera para wartawan. Mereka berbisik-bisik setelah melihat kelakuan Anna.


Para tamupun juga membicarakan mengenai sikap pengantin yang berani sekali dengan Kelvin. Mereka membicarakan hal buruk yang akan terjadi jika mereka berani menyinggung Kelvin Frederic.


🏵


TBC


🏵