Rumor (Takedown)

Rumor (Takedown)
Gisel


Bulan bersinar dengan terang malam ini walaupun terkadang tertutup oleh awan. Bintang bertaburan menghiasi langit malam dan mengelilingi bulan sabit.


Seorang wanita cantik memandang langit malam dari atas balkon apartemennya sambil meminum cokelat hangat dalam gelas cup yang ia genggam.


Nama wanita itu adalah Gisel. Gisella Danuardja. Seorang desainer muda usia 25 tahun dan merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara.


"Semua langit sama saja."


Gisel berkata lirih sambil jarinya mengusap bibir cangkir yang ia pegang. Gisel menatap cangkir yang ia bawa dengan datar tetapi dalam ingatannya membawanya ke masa lalu.


Saat itu Gisel baru saja memutuskan tali pertunangan dengan anak keluarga Respati yang membuat ayahnya marah besar dan memutuskan untuk mencoret namanya dari Kartu keluarga.


Gisel tak sedih ataupun menangis histeris ke ayahnya waktu itu, Gisel hanya diam tak menolak keputusan ayahnya.


Saat itu, usia Gisel baru 20 tahun dan benar-benar masa bebas yang membuatnya berpikiran sempit. Itulah rumor yang beredar.


Setelah kejadian itu Gisel menjadi topik pembicaraan dimanapun. Bahkan bisnisnya juga kena imbas.


Gisel memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan berpindah ke Jepang selama 4 tahun.


Setelah menetap di Jepang dan merintis karir kembali sebagai desainer muda, Gisel terpaksa harus kembali ke Indonesia karena paksaan keluarganya.


Besok Gisel harus kembali ke dalam rumah yang sudah lama ia lupakan dan tentu saja itu membuatnya tersenyum.


Gisel segera masuk ke dalam apartemen yang beberapa hari lalu ia beli agar saat ia tiba di Indonesia ada sebuah rumah yang bisa ia tempati.


Kenapa harus membeli apartemen daripada alih-alih tinggal di rumah keluarganya?


Jawabannya simpel.


Gisel muak.


🏵


Gisel sudah bersiap-siap untuk pulang atau lebih tepatnya mengunjungi rumah keluarga Danuardja. Gisel juga sudah menghubungi taksi yang akan membawanya ke sana.


Gisel membawa tas selempang kecil yang muat dompet kecilnya dan beberapa keperluan lainnya. Gisel segera keluar dari area apartemen dan menuju kediaman Danuardja.


Selama perjalanan menuju kediaman Danuardja, Gisel fokus memperhatikan pemandangan didepannya. Kota Jakarta kini sudah berubah sedikit walaupun masih mempertahankan kemacetan.


Tiba-tiba taksi yang ditumpangi Gisel oleng kesamping dan membuat sang sopir banting setir. Gisel yang sigap segera meraih pegangan di atas jendela mobil.


Gisel bisa bernafas lega saat taksi yang ia tumpangi berhenti bergerak. Gisel melihat sopir taksi memegang dada kirinya, mungkin agak trauma.


"Pak, gak papa?."


Gisel memastikan keadaan sang sopir.


"Alhamdulillah neng. Saya gak papa. Gimana sama eneng?."


"Saya juga baik pak. Ayo keluar pak."


"Iya neng."


Gisel dan sang supir keluar dari dalam taksi. Gisel segera melihat bekas benturan yang mengenai taksi dan terkejut melihat belakang taksi sudah penyok.


Gisel menatap tajam mobil di belakang mereka yang depan mobilnya juga penyok. Gisel bisa melihat sang pengendara pinsan.


Jalanan yang ramai membuat keadaan semakin panas dan tak kondusif karena beberapa irang mulai berdatangan.


Gisel merasa kepalanya pusing dan segera duduk. Hanya saja saat ia akan duduk, Gisel sudah pingsan.


Para pengendara yang melihat kejadian itu segera membawa Gisel dan beberapa korban lainnya ke rumah sakit setelah mereka memanggil ambulans.


🏵


Gisel membuka matanya dan langsung mengernyitkan dahinya saat rasa sakit menyerang kepalanya.


Gisel melihat sekitar tempat ia berada sekarang dan sudah pasti ia di rumah sakit. Hanya saja Gisel shock saat tau ua berada di ruang inap VVIP terbukti dengan sepasang sofa ada di depannya dan jangan lupakan ada kulkas kecil juga.


Gisel melihat tangan kananya sudah tertancap jarum infus. Dan baru saja Gisel ingat jika dirinya sendirian disini.


Segera Gisel memencet tombol merah disamping brangkarnya. Tak berapa lama datang seorang dokter dan perawat.


"Nona sudah sadar. Mari saya periksa dulu. Maaf jika saya lancang."


"Iya dok."


Setelah dokter memeriksa keadaan Gisel, mereka segera pergi. Gisel bisa pulang setelah cairan infusnya habis.


Gisel melihat jam di dinding dan menatapnya datar saat jarum jam menunjukkan pukul 17.23 am.


Pasti ia akan dimaki keluarganya jika tak segera datang. Gisel segera mencari ponselnya di nakas yang ada di samping brangkarnya. Segera Gisel menghubungi Ayahnya karena saat membuka ponselnya, ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari ayahnya.


"APA KAU SUDAH GILA TAK DATANG?."


Gisel segera menjauhkan ponselnya dari telinganya saat suara kakaknya menggelegar marah.


"Maafkan aku kak. Sekarang Gisel di rumah sakit."


"Apa? kenapa? Dimana?."


"Gisel tak tau sejak kapan disini hanya saja tadi saat menuju ke rumah, Gisel kecelakaan."


"Dimana kau sekarang?."


Gisel bungkam. Ia tak tau dimana ia sekarang.


"Hmm.. itu.. Gisel tak tau ini dimana."


Setelah mengatakan itu, kakaknya segera mematikan sambungan telepon secara sepihak sebelum Gisel menjawabnya. Gisel hanya bisa menghembuskan nafas lelah.


Segera Gisel mengirimkan lokasi tempat ia berada sekarang. Gisel tak bisa mencantumkan nomor ruangan ini karena ia juga tak tau ini dimana.


Pintu ruang inap Gisel terbuka dan menampilkan sosok tampan berjas hitam. Mata tajamnya menatap Gisel.


"Ternyata kau sudah bangun. Apa ada yang sakit?."


Laki-laki itu mendekat ke Gisel dan duduk di brangkar Gisel. Gisel mengerjabkan beberapa kali matanya dan segera sadar.


"Ehm.. tidak ada. Hanya sakit kepala biasa karena shock saja."


"Hmm."


Suasana kamar ini mendadak sunyi. Gisel memutuskan untuk menghubungi beberapa karyawannya di Jepang untuk memantau perkembangan butiknya selama ia tak ada.


Laki-laki itu masih menatap tajam Gisel dan membuatnya tak nyaman.


Gisel mendongak melihat laki-laki itu dan bingo, mata mereka bertemu. Laki-laki itu memiliki mata hitam pekat yang tajam. Segera Gisel memutuskan kontak mata mereka.


"Maafkan saya tuan... tapi.. ini dimana?."


"Rumah Sakit Bunda I."


"Kamar?."


"VVIP no 23."


"Apa tuan yang membawa ku ke sini?."


"Ya."


"Em.. nama tuan?."


".."


Gisel menelan air ludahnya saat tak mendapatkan jawabannya.


"Kelvin Frederic."


Gisel menganggukan kepalanya saat ia tau nama laki-laki yang sudah menyelamatkan dirinya.


"Terimakasih..  tuan Kelvin karena sudah menyelamatkan diriku."


"Terimakasih kembali karena masih hidup."


"Excuse me?."


Laki-laki di depannya ini tersenyum tipis. Gisel memegang dada kirinya. Jadi Gisel hampir mati tadi? Oh ya tadi kan Gisel kecelakaan.


"Bercanda."


Gisel menatap sengit Kelvin. Tadi itu bercanda? Sungguh lucu.


"Siapa namamu nona?."


Gisel tersenyum dan mengulurkan tangannya. Kelvin hanya menatap uluran tangan Gisel dan segera membalas jabatan tangan Gisel.


"Gisella."


"Setau saya, nama nona tidak mungkin hanya Gisella saja. Pasti ada nama belakangnya."


Gisel terkekeh pelan.


"Gisella Danuardja. Panggil saja Gisel."


"Sepertinya nama mu tak asing."


"Danuardja. Keluarga pengusaha batu bara."


Kelvin menganggukan kepalanya dan segera melepas jabat tangan mereka.


"Apa kau sudah menghubungi keluarga mu?."


"Sudah."


"Kalau begitu saya akan pergi."


Kelvin berdiri dan merapikan jasnya.


"Ah.. terimakasih sekali lagi karena sudah menyelamatkan saya."


"Sama-sama. Saya juga salah."


Kelvin mendadak mencondongkan tubuhnya untuk mendekat ke arah Gisel. Dengan reflek tubuh Gisel mundur hingga Gisel terbaring.


"Semoga saja ini bukanlah akhir dari pertemuan kita."


Setelah mengatakan itu, Kelvin bangkit berdiri dan segera melangkah pergi. Di ambang pintu, Kelvin menoleh ke Gisel dan tersenyum.


Gisel hanya menatap kepergian Kelvin dan merasa memang mereka akan bertemu lagi. Hanya saja tak tau kapan waktu itu akan datang.


🏵


TBC


🏵