
Gisel menatap datar jalanan sambil menopang kepalanya. Gisel dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mendapatkan ceramah dari kakaknya. Setelah cairan infus Gisel habis tentunya.
"Gisel, kau disini berapa lama?."
Gisel menoleh ke kakaknya. Rama Danuardja.
"Hanya satu minggu."
"Kenapa hanya seminggu? Apa kau tak ingin tinggal lebih lama?."
Gisel berfikir sejenak. Untuk apa ia tinggal lama kalau ini bukan rumahnya lagi .
"Gisel memiliki pekerjaan tetap di Jepang."
"Apa kau tak bisa berhenti dari pekerjaan mu di sana dan menetap kembali disini?."
"Tidak. Gisel bisa menetap jika ada cabang disini."
Rama menganggukkan kepalanya.
"Apa pekerjaan mu lebih penting daripada keluarga mu?."
"..."
Dulu tidak. Hanya saja waktu berubah. Sekarang pekerjaan itu penting. Gisel hanya bisa membatin.
Gisel tak menjawab pertanyaan kakaknya dan memilih diam. Rama juga diam saat tak mendapatkan jawaban dari Gisel. Mungkin karena mereka tidak dekat dan juga hubungan mereka juga jauh dari kata saudara.
Mereka sampai di rumah keluarga besar Reza Danuardja (Ayah Gisel). Gisel menatap rumah yang dulu pernah ia tinggali.
"Ayo masuk. Ibu dan Ayah sudah menunggu."
Rama masuk ke dalam rumah duluan dan diikuti Gisel. Pemandangan pertama yang Gisel lihat adalah ibunya. Ibunya menyambut Gisel tepat di depan pintu.
Ibu Gisel langsung memeluk Gisel dengan erat dan menangis dalam pelukan mereka. Gisel tak bisa menangis karena ia sudah berjanji tak akan menangis lagi.
Gisel hanya bisa mengelus lembut punggung ibunya. Menenangkan ibunya yang mungkin sedang dalam masa kekhawatiran yang tinggi karena tadi mendengar dirinya di rumah sakit.
"Ibu..?."
Ibu Gisel melepaskan pelukannya dan tersenyum.
"Maafkan ibu Gisel. Ibu terlalu khawatir dengan keadaan mu."
"Ibu.. Gisel baik-baik saja. Ibu lihat kan.. "
Gisel memutar tubuhnya.
"Tidak ada luka di tubuh Gisel."
Ibu Gisel sekali lagi memeriksa keadaan tubuh Gisel.
"Anak ku memang kuat."
Gisel tersenyum agar ibunya tak khawatir lagi.
"Sebaiknya kalian duduk."
Suara berat dan tegas itu menginstrupsi perbincangan Gisel dan ibunya. Gisel hanya menatap datar ayahnya yang juga menatapnya datar dan tajam.
Ibu Gisel takut jika hari pertama kepulangan anaknya bukannya menjadi suka cita tapi malah menjadi medan perang antar ayah dan anak.
Akhirnya Gisel menurut saat ibunya menyeret Gisel untuk duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan ayahnya.
"Ayah menyuruh mu pulang karena ada sesuatu."
Pasti. Gisel menatap tajam kakaknya yang daritadi juga menatap tajam dirinya. Gisel mengartikan tatapan mata kakaknya sebagai perintah agar Gisel diam dan tak membantah.
"Apa yang ayah inginkan dari Gisel?."
"Menikahlah."
Suasana ruang tamu ini mendadak senyap karena perkataan ayahnya.
"Apa maksud ayah."
Gisel menatap ibu dan ayahnya bergantian. Ibu Gisel menggengam erat tangan Gisel agar tak terpancing emosi.
"April ingin menikah. Tapi tidak baik jika April melangkahi kakaknya."
"Gisel ikhlas jika April menikah duluan."
"Tidak bisa. Kau yang lebih tua daripada April. Maka kau akan menikah lebih dulu daripada April. Ini keputusan ku."
"Gisel gak mau."
"**Gisella!."
"Gisel gak mau Yah. Gisel MENOLAK** untuk MENIKAH."
Gisel berdiri dari duduknya dan meninggikan suaranya.
BRAK
Reza menggebrak meja yang ada di depannya karena terpancing emosi.
"Apa ini perlakuan mu terhadap ayah mu?."
Reza juga ikut berdiri dari duduknya karena marah.
Desi (ibu Gisel) menenangkan Reza yang sedang tersulut emosi.
"Mas.. tenangkan dirimu mas."
Desi berusaha menenangkan suaminya.
"Gisel gak mau menikah."
"Apa karena kau tak memiliki calon sehingga kau menolak menikah?."
Gisel menatap ke arah lain dan tak menjawab pertanyaan ayahnya.
"Hah.."
Reza kembali duduk setelah melihat tatapan istrinya untuk tenang. Gisel juga duduk pada akhirnya karena mendapat tatapan maut dari Rama.
Gisel menatap tajam ayahnya. Memang ini tak sopan tapi rasanya Gisel tetap harus melakukan ini.
"Gisel bisa mencari calon sendiri. Ayah tak usah ikut campur dengan urusan Gisel. Jika Ayah ingin April menikah.. maka nikahkan saja dia. Gisel ikhlas jika April menikah duluan."
"Gisella Danuardja."
Gisel berdiri dari duduknya dan mengambil tas kecilnya.
"Keputusan Gisel tetap sama. Gisel tak mau menikah sekarang. Jika hanya hal ini yang ingin kalian bicarakan.. Gisel pamit."
Gisel pergi meninggalkan keluarganya yang sedang memanggil namanya. Gisel tetap melangkah pergi dari area rumah Danuardja.
Selama menelusuri jalan, Gisel menatap datar pemandangan di depannya. Hingga Gisel tersadar karena rintikan hujan. Segera Gisel keluar dari area kompleks perumahan dan berteduh di post kemanan komplek.
"Eh neng Gisel. Kapan pulangnya neng? kok saya gak lihat neng dateng."
Gisel tersenyum ke arah Pak Doni, satpam komplek.
"Hehe.. Gisel tadi dijemput kakak pak."
"Ealah.. neng mau kemana sekarang? hujan loh neng."
"Gisel mau ke apartemen pak."
"Kok gak ke rumah aja neng?."
Gisel tersenyum.
"Gisel kan hidup mandiri sekarang pak."
"Ohhh gitu. Oh ya neng. Ini bapak punya payung kalau neng emang butuh."
Pak Doni mengambil payung warna hitam yang tersembunyi di sudut dekat meja.
"La nanti pak Doni gimana?."
"Ahh.. neng tenang aja. Bapak mah gampang. Rumah bapak kan deket neng."
Gisel menerima uluran payung pak Doni.
"Terimakasih ya pak."
"Sama-sama neng."
"Kalau gitu Gisel pergi dulu ya pak."
"Iya neng hati-hati."
Gisel segera membuka payung dan melambai ke arah pak Doni. Gisel segera berjalan menelusuri jalan sambil mengapit tasnya ke depan dada agar tak basah karena air hujan.
Tadinya jika Gisel melihat taksi ingin memberhentikannya tapi nyatanya tak ada satupun taksi yang berhenti saat ia melambaikan tangan.
Tak jauh dari tempat berjalan Gisel adpa genangan air dan sialnya Gisel berada tepat disebelah genangan air itu.
Gisel tak sadar jika adpa sebuah mobil yang melaju agak minggir dan..
BYUR
Gisel terpaku sesaat setelah dirinya diguyur air dari samping. Gisel segera melihat keadaan dirinya yang sudah basah hanya saja cuma sebelah.
"YAK!!.."
Gisel berteriak karena kesal dan segera melihat mobil yang berhenti di depanpnya yang mungkin sadar jika baru saja membuat seseorang basah kuyub. Dengan amarah yang menggebu-gebu Gisel menghampiri mobil itu.
"Yak! Keluar!."
Gisel mengetuk kaca mobil dengan tak sabaran. Tak lama keluarlah sang sopir.
"Maafkan saya nona. Saya salah."
"Baguslah kalau anda tau tapi bagaimana kau akan bertanggung jawab dengan pakaian ku yang basah?."
"Saya ganti rugi deh neng. Saya gak tau harus gimana karena saya bersama bos saya. Gak mungkin saya meminta bos saya agar neng bisa ikut dengan kami. Bisa-bisa saya dipecat."
"Lalu bagaimana dengan saya? apartemen saya jauh dan saya jalan kaki."
Sang sopir diam tak tau harus bagaimana. Kaca mobil penumpang turun dan menampilkan sosok pria tampan berwajah dingin.
Gisel membulatkan matanya saat melihat siapa sang bos dari supir ini.
"Masuklah."
Suara datar nan tajam itu membuat sang supir mengkerut.
"Nona.."
Mata Gisel dan Kelvin saling bertatap tajam. Gisel memutuskan kontak mata duluan.
"Kau mau masuk atau tidak?."
Lagi-lagi suara dingin nan tajam Kelvin membuat Gisel tersadar. Segera Gisel masuk ke dalam mobil. Payung yang Gisel bawa di ambil alih oleh sopir.
Tanpa diduga Kelvin mengulurkan jasnya.
"Pakailah. Bra mu kelihatan."
Gisel menatap dadanya dan benar saja branya kelihatan karena Gisel memakai kemeja putih dan tentu saja akan menjadi transparan karena terkena siraman air hujan.
Gisel berdehem dam segera mengambil jas Kelvin dan memakainya.
"Kau mau kemana? biar saya antarkan."
"Ekhem.. antar kan saya ke Apartemen Leo."
"Ke apartemen Leo, pak Yuda."
Kelvin memberikan instruksi kepada supirnya dan mereka segera meluncur ke apartemen Gisel.
🏵
TBC
🏵