
"APA!?."
Bukan Gisel yang berteriak tapi para tamu undangan yang berteriak. Mereka merasa seperti melihat adegan film di depan matanya.
Dan yang paling tidak mungkin lagi adalah bos emreka menyukai wanita.
"Aku akan membunuhmu setelah ini."
Hans mendengar bisikan pelan Gisel hanya bisa memalingkan wajah untuk menyembunyikan tawanya. Orang tua Kelvin sedikit terkejut dan menatap Gisel dengan pandangan berharap.
"Cepat terima. Kakiku pegal."
Dengan senyum sedikit dipaksa Kelvin berbisik pada Gisel yang menatapnya dengan senyum palsunya.
"Pfft.."
Semu orang melihat ke arah Hans yang tak bisa lagi melindungi tawanya akhirnya sadar jika dipeehatikan. Dengan gaya sok coolnya, Hans merapikan jasnya dan berwajah datar lagi.
"Maaf.. lanjutkan saja."
Kelvin tidak perduli dengan tawa kakaknya. Dia bisa membalasnya nanti. Sekarang fokusnya adalah Gisel yang masih terdiam.
"Okay."
Dengan suara rendah Gisel menjawab pernyataan "cinta" Kelvin. Akhirnya Kelvin bisa berdiri dan kakinya mulai keram. Gisel membantu Kelvin berdiri dan itu terlihat romantis padahal sepuluh kuku runcing jari Gisel sudah menancap dengan indah di lengan Kelvin yang berwajah datar.
MC yang menyadari jika suasana sangat hening akhirnya mengambil inisiatif untuk menghangatkan suasana lagi.
"Ah.. mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk CEO kita yang baru saja mendapatkan kekasihnya. Kalau boleh kami tau.. siapa nama kekasih Mr.Kelvin ini? Kami sangat ingin tau tentang nama nona cantik ini."
"Gisella."
"Soon will be Gisella Frederic."
Suasana kembali sunyi. Suara hati perempuan yang potek mulai terdengar. Oke itu cuma halusinasi MC saja kawan semua.
"Oke selamat untuk kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Mari kita kembali ke susunan acara. Acara selanjutnya adalah dansa. Silahkan semuanya mulai berbaris di tengah aula yang sudah dipersiapkan oleh panitia acara ini bersama pasangan masing-masing. Tapi sebelum kalian semua terjun untuk berdansa, mari kita saksikan terlebih dahulu dansa pasangan Tuan dan Nyonya Frederic."
Mama dan Papa Kelvin berdansa berdua di tengah aula ini. Semua pasang mata tertuju pada mereka. Pasangan yang sempurna apalagi hari ini juga merupakan ulang tahun pernikahan mereka ke 30 tahun.
Sedangkan Gisel dan Kelvin sudah mojok dan menjauh dari keramaian sambil "berbincang".
"Apa kau ingin mati?."
Gisel sudah mencengkeram jas depan Kelvin dan menatapnya tajam.
"Sayang.. jangan seperti ini. Kita bisa berbicara baik-baik."
"Baik-baik my ***."
"Tidak baik mengumpat sayang."
"Tutup mulutmu! Katakan saja apa yang kau mau dariku?."
Kelvin mencengkeram balik lengan Gisel dengan agak kencang.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku. Tidak ada kebohongan dalam hubungan ini."
"Nonsense! Kita baru kenal beberapa hari dan yang terpenting adalah kita tidak mengenal satu sama lain."
"Kita bisa mulai lagi perkenalan kita. Aku Kelvin Frederic ingin menjadikanmu kekasih ku, Gisella."
Gisel merasa jika tindakan Kelvin mencurigakan.
"Apa maumu sebenarnya?."
"Aku sudah mengatakannya padamu."
"Akh!."
Gisel melepaskan cengkeramannya dari jas Kelvin begitupun Kelvin yang juga melepaskan tangannya.
"Lupakan."
"Tentu, sayang."
"Berhentilah memanggilku SAYANG!."
"Oke honey."
"Jangan Honey. Cukup nama saja."
"Baiklah istriku."
Gisel menatap horor Kelvin. Yang ditatap hanya tersenyum tipis.
"Panggil aku dengan sesukamu."
Gisel meninggalkan Kelvin sendirian dan bergabung dengan para wanita yang tidak menari.
Gisel gampang mengakrabkan diri dengan para tamu undangan. Tapi acara perkenalan mereka semua berubah menjadi ajang gosib.
"Maafkan aku, Gisel. Tapi.. bisakah kau memberitahu kami bagaimana kau bisa bertemu dengan bos kami?."
"Hmm.. aku kecelakaan dan Kelvin menyelamatkan ku. Lalu.. kami sering bertemu tidak sengaja."
Gisel menampilkan senyum paling palsu miliknya untuk para wanita ini.
Gisel mencondongkan dirinya dalam rombongan wanita ini.
"Apa kau tau ada rumor yang beredar di perusahaan ini?."
"Tidak. Aku baru pertama kalinya kesini. Ada apa? Apa aku ketinggalan hal yang menarik?."
Wanita itu melirik kanan dan ke kiri lalu mulai berbicara pelan.
"Ini hanya diantara kita saja. Ada rumor yang beredar jika bos itu adalah Gay!."
Gisel menutup mulutnya tak percaya dengan perkataan wanita itu.
"Really? Itu sudah dipastikan?."
"Sudah. Kau tau kenapa bos punya sekretaris cowok? itu karena dia dalah pacarnya."
Gisel kembali menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa kau yakin? Tapi bukankah itu mustahil? Bos kalian sepertinya tipe laki-laki lurus."
"Gisel.. jangan tertipu dengan wajah tampan bos kami. Siapa tau bos menjadikanmu kekasih agar rumor tentang dirinya gay itu hilang."
Gisel terdiam lalu menormalkan kembali tubuhnya setelah melihat mama Kelvin mendekat.
"Apa yang sedang kalian bicarakan sampai-sampai kalian membuat lingkaran sebesar ini?."
Mama Kelvin tersenyum dan dibalas oleh para penggosip ini.
"Kami hanya penasaran dengan kekasih bos kami, Nyonya besar."
"Aku akan bergabung dengan kalian kalau begitu."
Matilah kalian semua. Giswl hanya tertawa dalam hatinya melihat wajah pucat pasi mereka.
"Apakah kau bukan dari Indonesia?."
Salah seorang wanita mengajukan pertanyaan kepada Gisel.
"Aku dari Indonesia. Hanya saja aku menetap di Jepang. Aku membuka usaha disana."
"Usaha apa? Kalau kami boleh tau."
Gisel mengeluarkan kartu namanya yang hanya ada 5 lembar lalu membagikannya tak lupa untuk mama Kelvin juga.
Para wanita itu langsung menutup mulut mereka dan terkejut setelah membacanya.
"Kau adalah Madam G? Pemilik GL Style yang terkenal di Jepang?."
Gisel hanya tersenyum untuk menanggapi pertanyaan mereka.
"Ya. Aku pemilik GL Style."
Mereka lalu memandang pakaian Gisel dari atas lalu sampai bawah.
"Baju ini.. belum diproduksi bukan?."
Gisel menatap bajunya.
"Ah iya. Aku tadinya hanya akan menjadikannya sebagai koleksi pribadi dan belum ada rencana untuk membuatnya dalam jumlah banyak."
Mereka semua terdiam. Madam G yang terkenal ada dihadapan mereka. Pembuat pakaian para artis Jepang dan sudah internasional. Apalagi lokasi toko hanya ada di Jepang.
"Apakah Madam G tidak ada rencana untuk membuka cabang di Indonesia? Aku adalah penggemar karyamu."
Gisel hanya tertawa kecil.
"Akan aku pikirkan lagi. Aku masih sibuk untuk menangani yang di Jepang. Lain kali temui aku langsung di toko. Nanti akan aku desainkan baju khusus untukmu. Ngomong-ngomong.. siapa namamu nona?."
"Terimakasih Madam G. Aku Farah."
"Madam G.. aku juga penggemar karyamu. Bahkan ketika ada produk yang limited edition kemarin aku kebagian mendapatkannya. Tas itu sungguh bagus."
"Terimakasih, Tari. Kau bisa memesan tas khusus lainnya kalau mau. Aku akan melayanimu sendiri."
"Benarkah? Terimakasih Madam G."
"Jadi.. Gisel adalah pemilik GL Style?."
"Ya ma. Maaf baru bilang."
Mama Kelvin langsung memegang tangannya.
"Mama sering ke toko mu dan selalu saja tak bisa bertemu dengan Madam G. Padahal mama sangat ingin ketemu sama Madam G. Eh ternyata Madam G itu kamu, Gisel."
"Maafkan Gisel ma. Kadang memang susah untuk bertemu Gisel kalau di toko. Jika mama membuat janji sebelumnya, pasti Gisel akan ada di tempat."
"Tidak perlu. Mama udah seneng lihat kamu disini, Madam G."
Gisel hanya tersenyum ketika semua orang mulai memanggilnya Madam G. Karena itu memang namanya disana. Bukan Gisella Danuardja.
🏵
TBC
🏵