Rumor (Takedown)

Rumor (Takedown)
Darwin


Mereka yang tertangkap basah sedang menguping mulai membubarkan diri satu persatu dengan canggung dan seolah-olah tidak terjadi apapun.


Gisel hanya menatap datar mereka. Gisel lalu melihat Kelvin yang juga sedang memandangnya lalu mengedikkan bahu.


Gisel malas berdebat dan akhirnya memutuskan untuk ke dapur setelah bertanya pada salah satu pelayan di rumah ini.


Sesampainya di dapur, Gisel disambut oleh para koki dan pelayan.


"Ada yang bisa saya bantu, nona Gisel?."


Salah satu koki menanyai Gisel yang tampak kebingungan.


"Ah.. aku ingin membuat bubur untuk Kelvin."


Semua koki saling memandang satu sama lain.


"Maafkan aku nona tapi.. tuan muda Kelvin tidak suka bubur."


Gisel terdiam mendengar jawaban koki tadi.


"Kalau begitu.. akan ku paksa dia makan. Kalian bisa lanjutkan apa yang sedang kalian lakukan. Aku akan membuat bubur itu sendiri."


"Tidak nona! Kami yang akan membuatnya. Nona bisa katakan saja apa yang ingin dimakan."


"Kalau begitu.. buatkan aku bubur biasa saja."


"Baik nona."


Setelah sekitar dua puluh menit Gisel menunggu, akhirnya bubur itu matang. Gisel membawanya ke kamar Kelvin.


Gisel melihat Kelvin yang tidur membelakangi pintu. Gisel menaruh nampan berisi bubur itu ke meja dekat ranjang tidur.


Gisel mengguncang pelan bahu Kelvin dan si empu langsung bangun dengan malas.


"Ada apa?."


Gisel mengambil semangkuk bubur dan menyodorkannya ke Kelvin.


"Makan."


Kelvin melihat mangkuk itu dengan pandangan jijik.


"Aku tidak suka bubur."


"Aku tau."


"Kalau kau tau kenapa masih menyuruh ku makan?."


Gisel menatap sedih Kelvin dan membuat Kelvin merasa bersalah setelah membentaknya. Yah bisa dikatakan bukan bentakan yang kasar tapi Kelvin mengatakannya dengan nada tinggi.


"Kau belum makan sejak siang.. dan perutmu pastinya juga sedang kosong. Aku hanya berfikir jika makan bubur sedikit akan meringankan rasa laparmu. Tapi kalau kau tidak mau.. ya sudahlah."


Gisel menaruh kembali mangkuk buburnya dan segera pergi. Tapi sebelum sempat kaki Gisel melangkah, tangannya dicekal oleh Kelvin.


"Maafkan aku. Akan aku makan.. tapi suapi aku."


Senyum licik Gisel menghiasi wajahnya. Tertanya taktiknya berjalan dengan mulus.


Kelvin memakan bubur itu dengan rasa ingin muntah seketika saat bubur itu ada di mulutnya. Tapi melihat Gisel yang menatapnya dengan tatapan sedih membuatnya terpaksa menelan makanan itu.


Setelah bubur itu habis, Gisel menyuruh Kelvin untuk kembali tidur lagi setelah meminum obatnya. Gisel turun dan memberikan mangkuk itu kepada pelayan.


Gisel kembali ke kamar Kelvin dan merebahkan dirinya disamping sisi Kelvin yang kosong.


"Selamat tidur."


🏵


Gisel merasa jika dia diselimuti oleh hawa panas yang membuatnya sangat gerah. Gisel menggerakkan tubuhnya dan rasanya ada sesuatu yang mengekangnya untuk bergerak.


Gisel membuka matanya dan melihat dada putih berotot di depan matanya. Gisel menajamkan pandangannya dan langsung sadar jika dia berada di dalam pelukan Kelvin.


Gisel segera melepaskan tangan Kelvin yang melingkari tubuhnya. Bukannya lepas malah pelukan itu tambah erat.


Gisel akhirnya pasrah dan menunggu Kelvin bangun. Semakin Gisel menunggu Kelvin bangun semakin tipis kesabarannya.


Gisel menggelitiki dada Kelvin dan si empu hanya mengerang. Urat kesabaran Gisel putus dan segera saja dia menggoyangkan tubuh Kelvin.


"Kelvin! Bangun! Kelvin!."


Kelvin akhirnya bangun dan melihat bahwa dia memeluk Gisel. Jadi itulah alasanya tadi malam dia tidur sangat nyaman karena gulingnya sangat hangat.


"Ah maafkan aku."


Kelvin bangun dan duduk. Gisel merapikan rambutnya yang berantakan dan merapikan baju tidurnya yang tersingkap juga.


Gisel melihat jam dan ternyata sudah pukul 5 pagi.


"Aku akan mandi duluan."


"Mandilah."


🏵


Jam 06.30 WIB, Gisel sudah turun dan membawa map berisi desain yang akan dia kirim ke Jepang.


"Pagi semuanya."


"Pagi Gisel."


Mama Kelvin menyapa Gisel dan memberikannya pelukan hangat.


"Tidurmu nyenyak?."


"Nyenyak, Ma."


"Ayo sarapan."


"Gisel.. mana Kelvin?."


Hans bertanya pada Gisel yang sibuk memeriksa desainnya.


"Ah.. dia mungkin masih merapikan pekerjaannya."


Hans hanya menganggukkan kepalanya dan kembali sibuk dengan ponselnya. Mama Kelvin juga sibuk dengan bagian dapur.


Tak lama kemudian Kelvin turun dan membawa secangkir kopi di tangannya.



Sumber : Pinterest


Kelvin duduk di sebelah Hans dan melihat Gisel yang sibuk menata desainnya.


"Kau akan kemana pagi ini?."


Gisel menatap Kelvin dengan heran.


"Kapan kau duduk disana?."


"Sayang.. kau terlalu fokus dengan kertas di depanmu sampai tak menyadari aku disini? Hatiku sangat sakit mendengarnya."


"Berhentilah berbicara omong kosong."


Hans melongo melihat Gisel dan Kelvin secara bergantian. Ada apa dengan pasangan ini?


"Kau mau kemana sepagi ini?."


"Aku mau ke tempat teman ku."


"Akan ku antar."


"Tidak perlu. Aku akan naik taksi saja."


Kelvin menatap datar Gisel yang masih sibuk dengan kertas desainnya dan tak menatap Kelvin.


"Sayang.. aku disini."


Gisel mengalihkan padangannya dan menatap Kelvin sebal.


"Aku tau."


"Jangan mengabaikan ku."


"Aku melihatmu."


Hans mulai muak dengan pasangan yang mengumbar kemesraan didepannya yang masih melajang.


"Berhentilah kalian. Mataku sakit melihat kemesraan sepagi ini."


Hans meminum kopinya dengan wajah sinis.


"Kakak ipar Hans.. apa yang kau maksud dengan kemesraan?."


Hans tersedak dan kopinya tumpah sedikit. Kelvin menjauhkan kopinya dari jangkauan cipratan kopi dalam mulut kakaknya.


"Jorok."


Hans menatap adiknya dengan horor.


"Kau adik durhaka!."


Kelvin menyesap kopinya dan mengabaikan kakaknya.


"Dan kau! Aku bukan kakak iparmu."


"Belum."


Hans mengelus dadanya karena jawaban yang keluar dari mulut Kelvin membuatnya ingin membunuh Kelvin.


"Sudahlah kalian ini. Ayo sarapan."


🏵


Setelah sarapan, Hans pergi berangkat ke kantor dan Gisel mengikuti Kelvin yang memegang tangannya menuju mobil sport hitam.


"Aku akan pergi sendiri. Kau pergilah bekerja."


"Masuk."


Gisel dipaksa masuk ke dalam mobil dan akhirnya hanya bisa menurut. Kekuatan Gisel tak sebanding dengan Kelvin kalau untuk memberontak.


Alhasil Kelvin mengikuti Gisel seharian ini dan bahkan Gisel berakhir di kantor Kelvin.


"Aku bosan."


Gisel sedang tiduran di sofa kantor Kelvin. Kelvin sedang rapat dan dia sendirian disini.


Dengan tingkat kebosanan yang sudah maksimal, Gisel memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Kelvin dan melihat sekitar.


HF Corp sejak dulu sudah menjadi pusat perhatian dunia karena menguasai industri perkapalan. Jadi Gisel sudah tak asing lagi dengan lingkungan kerja disini.


Semakin jauh Gisel melangkah, semakin dekat Gisel dengan pintu keluar dari perusahaan ini. Banyak karyawan yang menyapanya saat berjalan melewati koridor ini.


Gisel tersenyum membalas sapaan mereka dan tujuannya ada di depan mata sebelum langkah dihadang oleh Darwin.


"Bagaimana kabarmu.. Gisella?."


🏵


TBC


🏵