Rumor (Takedown)

Rumor (Takedown)
Pesta 4


Setelah sesi foto Gisel atau lebih tepatnya pemaksaan karena Gisel jadi bahan rebutan para wanita yang ingin mengenal sosok Madam G yang sangat misterius, Gisel kembali ke sisi Kelvin yang bersama kakaknya.


"Kenapa?."


Gisel memberikan tatapan menusuk ke arah Kelvin.


"Ini semua karenamu."


"Apa lagi?."


"Lupakan. Aku mau pulang."


"Nanti."


Gisel menarik lengan Kelvin ke arahnya dan membuat minuman yang dipegang oleh Kelvin tumpah ke bajunya. Hans melongo melihat tindakan Gisel.


"Apa yang kau lakukan, Gisel?."


"Aku mau pulang."


Kelvin mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar.


"Fine. Ayo pulang."


Kelvin melepaskan jasnya lalu menyampirkannya ke bahu Gisel. Hans hanya bisa tersenyum ramah saat melihat pasangan itu pergi.


"Ini semakin menarik."


Di dalam mobil, Gisel dan Kelvin saling terdiam. Bahkan pak Yudi juga ikutan bungkam karena atmosfer di dalam mobil begitu dingin entah karena apa.


Pak Yudi melirik ke belakang dan menyadari jika mereka diikuti oleh dua mobil atau bahkan tiga mobil.


"Tuan."


Kelvin melirik ke arah Gisel yang masih terdiam dan menganggap jika Gisel tidak tau.


"Lakukan seperti biasa. Gisel.. pegangan."


Gisel yang mengerti akan kondisi mereka saat ini tanpa bertanya langsung memegang sabuk pengaman dan pegangan di atas.


Suara tembakan mulai terdengar dan membuat mereka tidak siap.


"Sialan."


Kelvin mengambil Colt 1911 miliknya yang tersembunyi di bajunya lalu mulai menembakkannya ke arah mobil dibelakangnya.


Setelah balasan dari Kelvin, mobil mereka tambah menjadi pusat sasaran tembakan.


Kelvin mengeluarkan pistol satunya lagi lalu mengulurkannya ke Gisel.


"Lindungi dirimu sendiri."


Gisel hanya menatap datar pistol Colt 1911 di tangan Kelvin.


"Tidak perlu."


"Apa maksudmu dengan tidak perlu? Nyawamu dalam bahaya."


Gisel menyingkap roknya lalu mengambil pistol Glock 20 kesayangannya di pahanya.


Kelvin menatap tak percaya Gisel yang membawa pistol mematikan itu di dalam roknya. Gisel tersenyun picik lalu keluar jendela dan membalas serangan lawan.


Satu pengemudi mobil berhasil Gisel tembak kepalanya dan membuat mereka oleng dan kecelakaan. Gisel kembali ke tempat semula lalu mengisi kembali peluru.


"Kenapa? kau tak mau bergabung dengan ku? Ini sungguh penutup pesta yang bagus."


Kelvin tersenyum miring lalu ikut beegabung dengan "pesta" Gisel dan menyerang mobil lainnya. Gisel menatap pelurunya yang tinggal 3 dan itu yang terakhir.


"Sial. Peluruku tinggal 3."


Kelvin masih dengan semangat menembaki lawannya sampai semua lawannya kalah.


Kelvin duduk kembali dan merapikan bajunya. Gisel menatap Kelvin yang terlihat santai.


"Apa?."


Kelvin membalas tatapan heran Gisel.


"Apa nyawamu sering terancam seperti ini?."


"Ya."


Gisel menganggukkan kepalanya lalu kembali menyembunyikan pistolnya.


Gisel kembali bernafas lega ketika mereka sudah aman. Tapi nyatanya mereka kembali mendapat serangan dari para pengendara motor. Ada sekitar 5 pengendara motor.


Itu bukan pengendara motor karena para penumpang motor mulai menembaki mereka lagi. Pak Yudi yang tidak siap langsung banting setir dan mobil kembali menabrak beberapa orang.


"Sialan."


Gisel berpegangan dengan kuat lalu mengelurkan pistolnya yang tinggal 3 peluru. Dengan tarikan nafas yang dalam Gisel mengarahkan pistolnya ke arah pengemudi motor 1.


Tembakan Gisel mengenai dada leher si pengemudi dan mereka kecelakaan disusul tabrakan mobil dibelakang lainnya.


"Maafkan aku."


Gisel kembali duduk dengan waspada dan melihat Kelvin yang mulai pengeluarkan senapan AK-47 dan memasukkan peluru kedalamnya.


Gisel melongo melihat senapan paling mematikan di dunia buatan Rusia itu dengan perasaan campur aduk.


"Sebenarnya kau itu siapa? Kenapa di mobilmu banyak sekali senjata?."


"Kau tak perlu tau siapa aku dan tutup mulutmu. Mulailah menyerang."


Kelvin mulai menembaki para pengendara satu persatu dan akhirnya mereka semua kalah.


Gisel tidak ikut menembak karena tau Kelvin dapat membunuh mereka tanpa bantuannya. Kelvin duduk kembali dan menyimpan senjatanya ke bawah jok mobil.


"Kau baik-baik saja, pak Yudi?."


"Ya tuan. Aku baik-baik saja."


Gisel lalu melihat pak Yudi yang masih baik-baik saja lalu menghembuskan nafas lega.


"Kembali ke kediaman Frederic."


"Baik tuan."


Kelvin menatap Gisel lalu memasang kembali jasnya ke bahu Gisel.


"Menginaplah malam ini di rumah ku."


"Tapi semua desainku di apartemen. Tidak boleh ada yang mengambil atau merusaknya."


Kelvon berfikir sejenak.


"Kita kembali ke apartemenmu dan ambil semua barang yang perlu kau bawa. Apartemenmu sudah tidak aman lagi jika kau tinggal sendirian."


"Baiklah."


"Ke apartemen Gisel dulu, Pak Yudi."


"Baik tuan."


🏵


Gisel dan Kelvin berjalan menuju apartemen Gisel sedangkan pak Yudi mengganti mobil mereka yang sudah rusak parah.


Gisel membuka pintu apartemennya dan melihat sekitar. Masih sama dan segera Gisel masuk ke dalam kamarnya.


Meja kerjanya masih seperti tadi dan Gisel menganggap tidak ada penyusup.


Segera Gisel merapikan bajunya dan membawa semua desainnya. Tak ketinggalan persediaan isi pelurunya.


Kelvin membantu Gisel membawa barang-barangnya dan mereka langsung menuju ke kediaman Frederic.


Mereka disambut dengan tatapan khawatir seluruh penghuni rumah. Mama Kelvin memeluk Gisel dengan erat.


"Mama kira kamu kenapa-kenapa tadi, Gisel."


Gisel mengusap pelan punggung mama Kelvin.


"Gisel baik-baik saja Ma."


Gisel tersenyum ke arah penghuni rumah lalu melirik ke arah Kelvin meminta tolong.


"Ma.. biarkan Gisel istirahat dulu."


"Baiklah. Maafkan mama. Istirahatlah. Biarkan Kelvin mengantar mu ke kamar."


"Baik, ma."


Gisel mengikuti Kelvin dari belakang dan mereka memasuki sebuah kamar dengan nuasansa warna hitam dan putih.



Sumber : Pinterest


Pemandangan pertama Gisel setelah memasuki kamar ini adalah simpel dan sederhana. Gisel memandang sekeliling dan terpaku saat melihat jejeran baru laki-laki.


"Tunggu... Ini kamar siapa?."


"Kamar ku."


Kelvin melepaskan bajunya dan bertelanjang dada dan memperlihatkan perbannya berdarah. Gisel meringis melihatnya.


"Lalu dimana kamarku?."


Kelvin memandangnya dengan datar.


"Kita akan tidur di kamar ku."


Gisel membalas tatapan wajah datar Kelvin dengan datar juga.


"Kau pasti sedang bercanda."


"Apa wajahku mengatakan aku sedang bercanda?."


Gisel kesal melihat wajah datar nan serius Kelvin. Gisel akhirnya hanya bisa pasrah dan membongkar kopernya.


"Bantu aku dulu."


Kelvin duduk di ranjang dan membuka perbannya sendiri. Gisel menghela nafas lelah lalu beranjak berdiri menghampiri Kelvin yang mulai meringis saat melepaskan perbannya.


"Berhenti. Biar aku bantu."


Gisel mengambil alih untuk melepaskan perban yang lumayan susah karena darah yang sudah mengering.


Gisel berlari ke arah kamar mandi dan mengambil handuk untuk dibasahi dengan air. Gisel menempelkan handuk itu ke bahu Kelvin dan mulai membersihkan darah yang mulai mengering.


"Akh.."


Kelvin meringis ketika Gisel mulai menekan luka di bahu Kelvin. Gisel yang sadar jika dia melukai Kelvin segera mengangkat tangannya dari bahu Kelvin.


"Apa sakit?."


"Sedikit. Pelan-pelan saja."


"Dimana kotak P3K milikmu?."


"Di dalam sana."


Kelvin menunjuk meja di pojok dan segera Gisel mengambil kotak P3K untuk memberikan pertolongan pertama pada luka Kelvin.


Gisel dengan telaten membalut kembali luka Kelvin lalu tersenyum melihat karyanya yang tidak terlalu buruk.


"Akan aku ambilkan makanan untukmu dan kau bisa minum obat itu."


Tanpa menunggu balasan dari Kelvin, Gisel segera menuju pintu kamar Kelvin. Pemandangan pertama setelah pintu terbuka adalah beberapa orang yang sendang menguping ke dalam kamar Kelvin.


"Apa yang kalian lakukan disini?."


🏵


TBC


🏵