
Selama perjalanan menuju apartemen Gisel, mereka semua diam. Tak ada yang memulai pembicaraan.
Pak Yuda yang melihat di kaca spion terkejut saat ada dua mobil yang daritadi terus membuntuti mereka.
"Tuan.. kita dibuntuti."
Kelvin melirik Gisel yang sedang menatapnya.
"Lakukan seperti biasa."
Gisel mengerutkan dahinya tak mengerti dengan pembicaraan mereka.
"Apa kita dalam bahaya?."
"Tidak. Tenanglah dan kencangkan sabuk pengaman mu."
Gisel segera memegang sabuk pengamannya dan memegang pegangan di atasnya. Kelvin juga sama melakukan apa yang dilakukan Gisel.
Yudi ugal-ugalan menyelip mobil-mobil di depannya dengan santai. Tapi ini hujan dan jika Yudi tak hati-hati mereka akan kecelakaan.
"Tuan, nona, pegangan yang kuat."
Yudi membanting setir dan mobil yang mereka tumpangi menabrak mobil di belakang mereka yang mengejar-ngejar mereka.
Tak sampai disitu saja, Yudi juga menabrak mobil di depannya. Gisel menutup matanya dengan rapat dan menguatkan pegangan tangannya.
Dor Dor Dor
Gisel langsung membuka matanya saat mendengar suara tembakan dan salah satu pelurunya menenbus kaca mobil belakang.
Gisel takut? tentu saja tidak. Ia pernah dalam kondisi ini dulu pada saat menjalani pekerjaan yang berhubungan dengan senjata.
Tanpa Gisel duga Kelvin memeluknya dengan erat. Gisel membeku karena kaget dengan perlakuan Kelvin.
"Tenanglah. Aku akan melindungi mu."
Gisel membalas pelukan Kelvin karena mereka diserang puluhan peluru.
"Akh.."
Gisel langsung melihat Kelvin yang meringis kesakitan.
"Kelvin? kenapa?."
"Shit! mereka mengenai ku."
Gisel melihat pundak Kelvin yang mengelurkan darah. Artinya sebuah peluru berhasil menancap di pundak Kelvin.
"Tuan.. bertahanlah. Kita akan segera keluar dari jalur. Berpegangan."
Dan benar saja setelah mengatakan itu Yudi banting setir dan mobil mereka langsung berbelok ke kiri sehingga mobil di belakang mereka yang mengikuti kecelakaan dan tak bisa mengejar mereka.
Gisel melihat ke belakang saat mobil yang mengejar mereka kecelakaan. Gisel bernafas lega sesaat tapi langsung hilang saat ia sadar jika Kelvin memeluknya erat.
"Kelvin?.."
Kelvin tak menjawab dan hanya meringis.
"Pak Yudi! Ke rumah sakit."
"Baik nona."
Yudi mengebut dan tak lama mereka sampai di rumah sakit. Yudi dan Gisel segera membopong Kelvin keluar dari mobil.
"Suster.. tolong."
Tak lama ada dua orang perawat yang membawa brangkar dan segera mereka membaringkan Kelvin.
Mereka segera ke UGD.
Gisel dan Yudi tak bisa masuk karena memang dilarang masuk.
"Nona, saya akan mengurus administrasi dan menghubungi keluarga tuan."
"Ah.. ya pak."
"Tapi.. nona bagaimana? baju nona banyak noda darah."
Gisel menatap kemeja putihnya yang sudah agak kering tapi sedijit basah karena darah.
"Ah.. ini tak papa. Pak Yudi urus saja administrasi Kelvin."
"Baik nona. Saya pergi."
Gisel mengangguk. Gisel duduk di kursi yang tersedia di depan UGD dan mendapatkan tatapan aneh dari beberapa orang. Mungkin karena kemeja Gisel yang ada darahnya menarik perhatian orang.
Tak lama keluar dokter dan brangkar berisi Kelvin yang sudah tak sadarkan diri.
"Keadaan Kelvin dok?."
"Kami harus melakukan operasi untuk mengelurkan peluru yang bersarang di pundak pasien."
"Lakukan dok."
"Kami butuh persetujuan keluarga dan..."
"Lakukan saja apa yang kalian butuhkan untuk Kelvin. Saya akan tanda tangan dimana saja untuk menjamin."
"Baiklah kalau begitu. Mari ikut kami nona."
Gisel mengikuti dokter dan mereka berjalan menuju ruang operasi. Suasana mendadak dingin. Gisel merapatkan jas Kelvin di tubuhnya.
Ada suster yang keluar dari ruang operasi dan berbicara kepada dokter di depannya.
"Nona.. kami kekurangan kantong darah AB untuk pasien. Kami sudah menghubungi PMI terdekat tapi stock kantong darah juga habis."
"Ambil darah ku. Golongan darah saya AB. Saya sehat. Tak mengkonsumsi obat. Tak memiliki alergi apapun kecuali kerang. Sisanya saya sehat."
"Anda yakin nona?."
"Ya."
"Baiklah kalau begitu. Suster, tolong bantu nona ini untuk pengambilan stock darah."
"Baik dok. Mari nona."
🏵
Proses pengambilan darah sudah selesai dan Gisel hanya bisa menunggu di depan ruang operasi. Pak Yudi juga sudah duduk dan menemani Gisel.
Dengan baik hati pak Yudi juga membelikan teh hangat untuk Gisel.
Tak lama datang rombongan keluarga Kelvin. Mama Kelvin lah yang paling panik.
"Pak Yudi.. mana Kelvin?."
"Tuan berada di ruang operasi nyonya."
Mama Kelvin lemas dan segera disanggah oleh suaminya.
"Ma.. tenangkan dirimu. Kelvin pasti baik-baik saja."
"Pa.. Kelvin pa.."
"Ma.."
Gisel menduga jika laki-laki dibelakang kedua orang tua Kelvin adalah saudara Kelvin terlihat dari raut wajahnya mereka sama. Datar dan memiliki tatapan tajam.
"Ah.. nona ini.. siapa ya? kenapa memakai jas anak saya?."
Papa Kelvin menatap Gisel tajam dari atas hingga bawah. Gisel gugup.
"Ah.. saya.."
"Nona Gisel adalah orang yang telah menyelamatkan tuan muda, tuan. Jika saja tuan muda tidak mendapatkan donor darah dari nona Gisel, tuan pasti sudah dalam keadaan kritis."
"Lalu kenapa dia memakai jas Kelvin?."
Gisel dan Yudi saling menatap.
"Kelvin memberikan ini kepada saya sewaktu saya menerima tumpangan dari Kelvin. Saat itu saya sedang kehujanan dan baju saya basah. Sehingga Kelvin yang tak sengaja melihat saya memberikan tumpangan dan meminjamkan jasnya."
"Ah.. begitu rupanya. Terima kasih karena telah menolong anak kami."
Kedua orang tua Kelvin menundukkan kepalanya dan Gisel segera menundukkan kepalanya juga.
"Tapi.. kenapa di kemeja mu ada bercak darah?."
"Ini.. hmm.. darah Kelvin."
Gisel menatap pak Yudi yang juga menatapnya.
"Pak Yudi.. kita memiliki urusan nanti."
"Baik tuan."
Tak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan dokter keluar.
"Dok.. bagaimana keadaan anak saya?."
Gisel berdiri paling belakang dan agak jauh karena ia merasa tak berhak untuk ikut campur.
"Alhamdulillah pasien selamat dan kami juga berhasil mengeluarkan peluru dari pundaknya. Terimakasih juga kepada nona Gisel yang sudah mendonorkan darahnya untuk pasien. Sekarang pasien berada di bawah pengaruh obat bius dan akan sadar dalam waktu 30 menit."
"Tidak ada luka yang seriuskan dok?."
"Tidak ada nyonya. Jangan khawatir. Pasien baik-baik saja. Sekarang pasien akan segera di pindahkan ke ruang inap. Saya permisi dulu."
"Silahkan dok."
Dokter pergi dan tak lama kemudian ada beberapa suster yang mendorong brangkat berisi Kelvin. Gisel hanya bisa menatap dari kejauhan.
Tafinya Gisel ingin pulang karena keluarga Kelvin sudah ada disini tapi Gisel mengurungkan niatnya. Ia tak enak dengan Kelvin. Segera Gisel membuntuti mereka dari belakang.
Keluarga Kelvin masuk ke dalam ruang inap Kelvin. Sedangkan Gisel dan pak Yudi menunggu di depan karena tau posisi mereka.
"Non Gisel.. gak mau pulang dulu?."
Pak Yudi mengulurkan air putih kepada Gisel.
"Saya akan menunggu Kelvin sadar dulu baru pulang."
Gisel menerima air putih dari pak Yudi dan meminumnya.
"Saya gak nyangka non gak shock atas apa yang sudah terjadi tadi."
Gisel tersenyum.
"Kalau cuma seperti itu mah saya gak akan kaget atau shock. Saya sudah terbiasa apalagi dengan suara tembakan."
Pak Yudi menatap Gisel dengan penasaran.
"Lah.."
"Dulu saya pernah menjalani hidup di dunia gelap pak. Saya tau bagaimana rasanya nyawa terancam dan bagaimana rasanya kena tembakan, tapi itu dulu."
Gisel tersenyum. Pak Yudi hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan perkataan Gisel.
"Apa tadi.. sering terjadi?."
"Sering non. Bahkan tuan muda pernah koma karena mobil yang ia kendarai menabrak pembatas jalan karena menghindar seperti tadi."
"Sepertinya pak Yudi berpengalaman dengan hal seperti tadi. Bahkan kita selamat."
"Saya juga seperti non. Pernah masuk dunia seperti itu hingga akhirnya mengabdikan hidup kepada keluarga tuan."
Gisel menatap pintu kamar inap Kelvin.
"Sebenarnya siapa itu.. Kelvin?."
"Saya tak bisa menjawab pertanyaan nona tapi suatu saat nona akan tau sendiri dari mulut tuan muda."
Gisel menatap datar gelas air minum yang ada ditangannya. Mungkin benar jika ia selalu dalam bahaya hari ini tapi juga selalu selamat. Mungkin keberuntungan masih berpihak kepadanya.
🏵
TBC
🏵